KEHILANGAN^^^ EPS 49 - 60^^^


Eps 49 KEHILANGAN : God's Way

+- KEDIAMAN PEBISNIS BENIGNO...
         Rumah besar dengan fasilitas mewah jelas bisa dilihat disana.Seorang pria setengah baya dengan rambut sudah sedikit beruban nampak asyik menerima telepon,"Aku tahu apa yang harus kulakukan To...good job.Aku akan ke sana.Aku ingin melihat pangeranku.Aku kangen padanya." Wah Benigno mau kemana tuh?Usai bicara dengan Toto,Benigno menghubungi sekretarisnya,"Semua agendaku atur ulang ya.Aku mau menemui putraku.Aku tak mau diganggu sampai aku menghubungimu lagi.Ok?"
         Tentu saja sekjennya yes Boss.Kok sekjen?Oh iya...sekretaris ding.Benigno memandang sebuah lukisan foto yang terpajang di ruangan tengah,"Putraku...Pangeranku...semoga kau akan segera kembali ke rumah ini.Apalah artinya memiliki banyak harta tapi tiada kau disini Nak...Norman...Papa kangen sama kamu...Papa sayang padamu...seperti Papa mencintai Mamamu sampai kini.Kembalilah Nak...kembalilah..."
          Para pembantu segera menyingkir semua,tak berani mengusik sang bisnisman.Memang sering mereka melihat majikannya itu mengajak bicara foto anaknya.Sudah biasa... Wah Benigno perlu diperiksaken nih.Hush!Kita periksa kondisi Evi saja.Gimana dia?

 ↑••↑ RUMAH EVI....
 Evi sedang asyik menyirami tanaman cabe kala ibunya datang,"Intan sudah berangkat Bu?"
 Rita malah memberikan oleh2,"Sudah.Ibu baru kali ini ke bandara.Wah hebat ya.Ibu takjub."
Evi menerima oleh2 ibunya,"Intan pasti seneng dong Bu diajak ke luar negeri sama suaminya?"
Rita malah duduk di lincak,"Ga jadi keluar negeri belum sempat ngurus visa sama paspor.Akhire ke Bali terus ke Lombok sama mana lagi gitu.Ibu ga hafal.Banyak pokoknya."
Evi duduk dekat ibunya,"Kalau nanti Evi nikah ga mewah gpp ya Bu?"
Ibunya malah mesem,"Nikah itu ga harus mewah cah ayu...yang penting itu tercatat secara hukum.Kayaknya kamu dah punya calon nih...Hayo sama siapa?"
Eh pas Evi mau jawab,Irwan datang dengan motornya,"Wah saya ganggu ya?"
          Melihat Evi sumringah,Rita jadi tahu jawaban pertanyaannya tadi.Disambutnya Irwan dengan ramah,"Ga Nak Irwan.Ayo masuk.Tumben nih kemari mau cari siapa ini?"
Irwan dan Evi malah lirik2an,weleh... Rita lalu mendehem,"Ehem...kayaknya nyari Evi ya?"
Evi menyikut Irwan,"Ibu nanya tuh..."
Irwan segera menjawab,"Ehm...saya...saya...juga ingin bicara sama Ibu...he..he.."
Rita malah jadi penasaran apalagi kala Evi segera masuk ke dalam dengan wajah malu2 gitu,"Evi buatin minum ya Bu..."
           Irwan duduk di ruang tamu sederhana tampak nervous gitu dia,Rita tersenyum melihatnya,"Nak Irwan nih mau ngomong apa sama Ibu?Gemeteran gitu..."
 Irwan malah melirik ke dalam,"Ehm...soal putri Ibu..."
Rita menebak,"Soal Intan ya?Maafin anak ibu ya...dia..."
Irwan segera meralat,"Bukan putri ibu yang itu...tapi satunya...he..he..kakaknya..."
Evi didapur ngaduk tehnya pelan2 banget,'Kok malah nyebut nama Intan sih?Irwan gimana sih?'
 Rita jadi kian yakin,"Oh...maksud Nak Irwan,Evi?"
 Irwan manggut2,"Iya bener Bu...Evi...bukan Intan..."
Rita pura2 nggak tahu,"Memang kenapa dengan Evi?"
 Irwan menyatukan jemarinya dengan grogi,"Saya mau melamar putri Ibu itu.Saya mencintainya...Boleh ya Bu?"
Evi yang bawa minuman jadi ikut grogi,'Ibu kok malah lihatin aku sih?'
Rita minta Evi duduk,"Duduk dulu Vi.Nak Irwan ke sini mau nembung kamu cah ayu.Kamu mau tidak sama Nak Irwan?"
 Evi malah merona wajahnya,weleh.... Irwan segera meraih jemari Evi,"Kami saling mencintai Bu...iya kan Vi?"
Evi mengangguk tersipu2,Rita malah bahagia melihatnya,"Ibu restu kalian menikah.Ibu percaya Nak Irwan akan jaga anak ibu dengan baik.Semoga kalian bahagia selalu."
Irwan seneng bin lega dah dapat restu camer,"Terima kasih Bu.Terima kasih..."
          Sampai bersimpuh gitu Irwan dan Evi saking senengnya.Rita malah terharu,'Syukurlah Evi sudah dapat gantinya Nak Reza.Ga nyana ya jodohnya Evi malah mantannya Intan.Aku lega lihat Evi bahagia.'

 ↑○○↑RUMAH ERIE...
          Bila Irwan lagi bahagia dah dapat lampu hijau dari camer.Maka Norman lagi gelisah,ia mampir ke rumah Erie mau pamit ke kota.Erie datang,"Sudah lama nunggu Mas?Maaf tadi aku rewang gitu.Ada pertemuan di rumah Pak Rt,biasa pemilihan ketua RT mas..."
Norman tersenyum,"Ga aku baru aja kok...aku mau pamit aja mau ke kota..."
Erie heran,"Mas mau balik ke kota?Kenapa Mas?Katanya mau menetap di sini?"
Norman pingin jujur tapi takut ga disetujui,"Aku mau nemui temen kok biasa ada job...lumayan uangnya bisa buat bantu renovasi bangunan SD dimana kamu ngajar...biar ga usah belajar di aula..." Erie malah jadi ingat,"Oh iya Mas ....ga usah repot nyari uang buat renovasi SD mas...tadi Kepala Sekolah dapat telpon dari sebuah yayasan...Apa ya tadi nama yayasannya...oh iya Pelita Harapan Bangsa...mereka mau jadi donatur Mas...Malah ketua yayasannya mau kemari buat meninjau langsung...Baik banget ya dia?"
Norman malah mikir,'Yayasan Pelita Harapan Bangsa?Itukan yayasan punya Papaku...dulu Mama yang selalu mengurusnya...bagaimana Papa bisa tahu aku ada disini ya?Dia pasti memata2iku...'
Erie melihat Norman melamun segera bertanya,"Mas ?Mas kenapa?Diem aja?"
Norman tersenyum,"Ehm...aku ikut seneng akhirnya ada bantuan...ehm...kapan ketua yayasan itu akan kemari?"
Erie jawab,"Besok.Pasti orangnya baik banget ya...dermawan sekali."
Norman akhirnya malah pamitan,"Kalau gitu aku pulang dulu ya?Besok saja agak siang aku berangkatnya..."
            ***see you next eps***

Eps 50 KEHILANGAN : The Second Time


 ◆◇ BALI...
          Intan sebenarnya badmood ga jadi keluar negeri.Terlanjur update status pula kalau honey moon ke luar negeri.Wah malu banget dia.Wajahnya manyun kayak baju belum disetrika.Reza malah sibuk sama hpnya.Chattingan sama Frans.
Reza : Biniku bete nih.Gara2 batal ke luar negeri.
Frans : Sama Bro.Calonku juga lagi bete gara2 ga kuajak kemarin.
Reza : Kita senasib bro.Setali tiga uang.
Frans : Iya kita kayak saudara kembar aja ya?
 Reza : Iya ya?Ha...ha..
Frans : Bini bete malah ngakak kamu.Dasar!
Reza lihat Intan memandangnya sinis,"Kamu kenapa?Marah sama aku?Kalau mukamu gitu.Kita balik aja.Aku juga ga masalah ga honey moon.Pusing amat!"
Intan kesal,'Sial nih orang!Ga bisa diatur rupanya.Ga tahu manjain isteri juga.Payah!'
Intan lalu ubah taktik,"Ok...aku ga masalah kita bulan madu di sini.Tapi jangan harap kamu satu kamar sama aku.Juga aku mau kita shopping2,lihat semua tempat yang ada di Bali.Sini mana kartu kredit kamu?"
Reza geleng kepala,"Ternyata dugaanku benar.Kamu mau nikah sama aku sebenarnya karena uang kan?Nih!Silakan belanja sana.!"
Intan ga peduli dan segera mengambil tasnya,"Aku mau shopping dulu.Ayo kamu harus ikuti aku.Kalau ga aku akan telpon mami kamu biar dia nyusul kamu ke sini.Gimana?"
 Reza makin muak sama tingkah Intan,"Bisanya cuma main ngancam.Oke aku akan turuti.Tapi kalau dalam setahun kamu ga hamil,aku akan ceraikan kamu!"
Intan ngekek,"Kita lihat saja!Siapa takut!"
          Weleh itu bulan madu apa masuk neraka ya?Kok malah bahas cerai?Pasangan yang aneh... Lihat pasangan lain aja deh.Oke lihat siapa?Norman deh.

 □■ SD Watu Tresno...
           Pagi telah tiba,seluruh guru sudah diinstruksikan untuk datang lebih pagi karena akan menyambut kedatangan ketua yayasan Pelita Harapan Bangsa yang menjadi donatur renovasi sekolah mereka.Para murid juga tak ketinggalan berjajar rapi kayak mau nyambut Presiden saja.Presiden?Ketinggian jeng.Ya wis Gubernur wae.Nah gitu agak pas.Kalau Cawapres?Weleh politik maning...ups...
         Erie sudah nampak rapi di standnya bertugas membawa kalungan bunga.Norman juga ada ga?Ya iyalah dia kan bantuin ibunya Erie,camer jualan dekat sekolah.Evi juga ada lho biasa ngantar penganan buat dititipin.Irwan jelas bantuin dong nganterin gitu.Malah Irwan punya ide mau jualan di sebelah Norman,buka warung soto murah gitu.Tentu saja didukung sama Ibunya Erie,"Setuju Nak.Nanti es saya bisa laku juga.Kan asyik tuh.Saya juga bisa nitip gorengan disitu.Boleh kan?"
Evi mengangguk,"Tentu Ibu.Kita semua kan teman.Harus saling bantu.Lagian kami masih muda masih harus banyak belajar dari ibu malah.Ya kan Wan?"
Irwan malah asyik lihatin Evi,'Ntar kalau aku dah jadi suaminya Evi.Kami akan saling bantu membesarkan warung soto ini dong.Hmm...kebayang deh indahnya.Evi bikin sotonya aku yang nganterin ke meja2.Romantis habis...'
Evi geleng kepala lihat Irwan malah ngalamun sendiri,"Hmm...kayaknya belum sarapan nih.Ga fokus..."
          Yang lain ketawa mendengarnya.Evi lalu narik Irwan duduk,"Ini ada botok juga nasi.Makan dulu ya...biar bisa konsentrasi kalau ditanya..."
Norman ngekek,"Wuihh...dimanja tuh Bossgenk...enak bener."
Irwan hepi banget diperhatiin sama Evi,"Makanya Bro cepet dilamar tuh mb Erie he.he...masak kalah cepat sama diriku ini?"
 Ibunya Erie menjawab,"Saya sudah kasih lampu hijau Nak Irwan.Erienya aja yang ga pede.Merasa ketuaan gitu kalau dapat Nak Norman."
Irwan nyahut,"Makanya bawa bokap kamu Man,langsung lamar aja jadi mb Erie yakin."
          Saat itulah lewat iring2an mobil mewah.Norman hafal tuh plat mobil punya bokap dia,'Papa dah datang.Aku mau lihat ah mau apa dia kemari.' Irwan heran lihat semuanya,"Ada siapa tuh?Tumben ada mobil halus di sini?Gila tuh mobil harganya selangit lho."
Evi ikut merhatiin,"Ga cuma satu lagi.Ada menteri datang kali."
Seorang bodyguard membuka pintu mobil yang paling bagus,"Tuan Besar silakan."
Seorang pria paruh baya dengan pakaian batik keluar,"Terima kasih."
Langsung deh disambut oleh kepala sekolah,"Selamat datang Pak Benigno.Inilah sekolahan kami.Ini para guru dan wali kelas.Anak2 beri tepuk tangan pada Pak Benigno.Berkat dialah sekolah kita akan menjadi sekolah yang bagus."
 Anak2 segera tepuk tangan dan kalungan bunga juga diberikan.Benigno memandang sekitarnya,'Mana putraku?Kata Toto di sebuah warung es.'
Benigno memandang ke arah dimana warung es Ibunya Erie berada,tampak Norman disana menatap sinis padanya,'Masih saja ga berubah kamu Man.Putra Papa.Tapi papa seneng kamu ga balapan lagi.' Erie heran juga melihat Benigno dan Norman berpandangan,'Kok mereka pandangan gitu ya?Norman wajahnya kok gitu?Sinis gitu.Ntar aku tanya deh.'
          Benigno lalu melihat2 bangunan sekolah,biasa meninjau gitu.Tanya berapa jumlah muridnya,kapan dibangunnya dan masih banyak lagi.Lelah berkeliling iapun berbisik pada kepala sekolah,"Saya lihat di luar sekolah tadi ada yang jualan es.Bagaimana kalau hari ini saya traktir semua minum es.Udaranya panas sekali.Makhlum equinox sekarang."
 Kepala sekolah malah surprise dengernya,"Harusnya kami Pak yang menjamu bp.Kok malah bp sih?"
Benigno tersenyum,"Gpp.Saya sedang senang sekarang."
Erie sumringah,"Saya kenal dengan penjualnya.Biar saya yang pesankan Pak."
Benigno memandang Erie,"Oh ya?Kebetulan sekali."
Erie menjawab,"Ibu saya yang jualan di sana Bp."
Benigno mesem,"Oh pantas kenal.He..he.."
 Erie lalu mencatat pesanan semuanya dan menemui ibunya,"Ibu rejeki nomplok Bu.Pesanan banyak nih!"
           Tentu saja semua segera sibuk membantu ibunya Erie membuatkan pesanan,bahkan Evi dan Irwan juga ikut bantuin.Norman sengaja meminta dirinya yang mengantar pesanan,"Aku saja yang antar Er...Berat lho."
***see you next eps***

Eps 51 KEHILANGAN � The Law

 �♧ RUMAH NENEK PUSPA...
           Feby nampak asyik mengerjakan tugas kuliahnya bersama Eza di ruang tamu.Pria yang kakinya pincang itu nampak bahagia berada dekat Feby,wanita yang menerima dia apa adanya.Feby yang menghadap laptop nampak terpesona melihat Eza membantunya menyusun kalimat demi kalimat,"Kalau karangan ilmiah kalimatnya harus disertai dengan data dong Feby..."
Feby membiarkan laptopnya diambil alih Eza,"Sini coba biar aku yang ketik...Kamu ngemil dulu capek kali sejak tadi didepan laptop terus..."
Feby segera mengambil putu ayu didepannya,"Hmm enaknya...cobain juga dong nih kusuapin...aaa..."
 Eza membuka mulutnya,"Hmm...iya enak harum bau pandan...lagi dong..."
 Nenek Puspa tersenyum senang melihat keduanya makin lengket saja,'Sebaiknya segera kuresmikan saja keduanya...aku ingin Eza ada yang ngurus...biar dia bahagia..'
           Segera hal itu disampaikannya pada Samuel via phone.Samuel juga setuju,"Usai masalah warisan Hamdan selesai,saya akan fokus ke pernikahan Feby dan Eza.Saya janji."
Nenek Puspa seneng banget dan memberitahu menantunya di kota,"Kamu tahu ga,menantuku?Eza,cucuku,ketemu jodoh di sini!"
Tentu saja ibunya Eza girang,"Benarkah Ibu?Kok Eza ga bilang apa2 ya?"
Fero jadi kepo dengar soal Eza,"Kak Eza kenapa Bu?Apa ada masalah didesa?"
 Ibunya jawab,"Kakakmu sekarang punya pacar.Kata nenek bakal serius sampai ke pelaminan.Ga sangka kan?"
 Fero ikut senang,"Wah asyik bakalan punya kakak ipar nih.Gimana model orangnya ya?"
 Ibunya menaruh telponnya,"Kata nenekmu orangnya cantik banget.Dari kota lagi.Cuma ayahnya dulu penduduk di desa Watu Tresno.Jadi bener ya jodoh itu ga jauh2 sebenarnya.Kalau kamu gimana udah punya gandengan baru lagi belum?"
 Fero malah meraih gitar,"Lagi galau nih Bu...soalnya Fero kepikiran sama mantan cewek Fero terus...belum bisa move on.."
Ibunya tersenyum,"Kayak pengirim karangan bunga di balaikota saja,belum bisa move on...pilih pacar itu yang penting hatinya tulus sayang sama kamu.Cinta itu harus ada.Jangan terpaksa.Nyesel nanti."
Fero malah nyanyi,"Bila tiada mendalam rindu yang kurasakan takkan begitu dalam luka yang kurasakan..."
Sang ibu menggeleng2kan kepala melihatnya,'Semoga kedua putraku mendapatkan wanita yang baik semuanya.'
Wah emang baik wanitanya tapi sama orangnya.Walah...alamat bakal rebutan deh kayaknya.Menang siapa ya?

 �♧ SEKOLAHAN DIMANA ERIE MENGAJAR...
Norman membawa satu nampan berisi aneka es buah,"Pesanan datang!"
Erie segera membantunya menyajikan pada para pemesan,"Mari Pak Donatur silakan..."
Ben menjawab sambil melirik putranya,"Panggil saja saya Pak Ben...hmm kelihatannya mantap nih esnya..."
Irwan juga membawa satu nampan es cendol,"Yang minta es cendol,pesanan datang!"
Kali ini Evi yang bantuin menyajikan,"Mari silakan dinikmati esnya..."
Kala Norman bertatap muka dengan ayahnya tampak kilatan di matanya,Erie memperhatikannya dan merasa heran,'Segitu amat Mas Norman natap tuh Pak Ben...apa mereka saling kenal ya?'
Ben tak bisa menahan diri lagi dihampirinya putranya yang nampak sudah kosong nampannya,"Man...bisa kita bicara?"
 Erie kaget mendengarnya,'Kagak salah nih,Norman kan ga memperkenalkan diri kok Pak Ben bisa tahu namanya sih?'
Irwan yang mendengarnya menahan langkah Norman yang nampak ga gubris papanya,"Man...please...kasih kesempatan buat ayahmu..."
 Erie melongo,'Ayah dia bilang?Jadi Pak Ben itu ..'
 Norman menurut dan berkata pada papanya,"Disana saja bicaranya.Lagian Norman juga mau nanya beberapa hal."
          Erie melihat keduanya melangkah menuju halaman sekolah.Ia lalu mendekati Irwan,"Wan,apa Pak Ben itu ayahnya Mas Norman?"
 Irwan mengangguk,"Benar Mb.Hanya saja mereka ga akur.Untuk detilnya tanya Norman saja.Biasa persoalan keluarga."
Evi manggut2,"Pantas Norman ga kelihatan kalau anak orang kaya rupanya ada masalah keluarga ya?"
Erie memandang ke arah ayah dan anak itu berada,'Memang nampak canggung keduanya tapi aku bisa melihat betapa sayangnya Pak Ben pada anaknya.'

 ♧�HALAMAN SEKOLAH...
Norman nampak mengeras rahangnya kala bertanya,"Buat apa papa kemari?"
Ben menatap penug rindu pada putranya itu,"Man...putra papa...Papa kangen sama kamu Man...apa itu ga boleh?"
Norman membuang muka,"Sejak kapan papa jadi peduli sama Norman?Bukannya bisnis papa lebih penting?"
Ben menghela nafas,"Man papa tahu papa bukan papa terbaik tapi papa sayang sama kamu Man...maafkan Papamu ini."
Norman terdiam,Ben mengusap pundak putranya itu,"Papa tahu kamu masih marah sama Papa tapi mau sampai kapan Man?Mari kita mulai lembaran baru.Kembalilah ke rumah Nak...papa kesepian disana."
Norman malah berkata,"Mudah mengucap kata maaf Pa...tapi hati Norman masih sakit ...Norman hanya minta Papa jauhi hidup Norman.Norman ga suka!"
Ben nampak terluka mendengar ucapan putranya apalagi kemudian Norman pergi meninggalkannya,"Man!!Tolong,jangan keraskan hatimu!Papa sayang sama kamu Nak!!Norman!!" Erie jadi iba melihatnya,'Luka apa yang telah membuat jurang diantara mereka ya?'
Irwan hendak mengejar Norman namun Evi menahan lengannya,"Ia butuh sendiri Wan..."
Irwan memandang pada kekasihnya itu,"Aku ga mau Norman kayak aku Vi,baru mengerti semuanya usai ayahku tiada...rasanya nyesek banget Vi..."
Evi malah meremas jemari pria itu,"Aku ada disini untukmu...Aku akan membantumu melewati semuanya sekarang..."
Irwan tersenyum bahagia,"Tidak sia2 aku mengikuti pesan mendiang ayahku,aku bertemu denganmu."
           Erie mendekati Norman,tak ada kata hanya duduk didekatnya saja.Norman malah berkaca2.Norman kenapa ya?
**see you next eps**

KEHILANGAN ◆◇◆Eps 52 : Call For Unity

 ÷×= RUMAH NENEK PUSPA...
           Febby melihat banyak sekali sampur di rumah Nenek Puspa.Iapun bertanya pada Eza,"Kenapa nenekmu punya banyak sampur?Kenapa juga ditaruh di sana?Memang mau ada acara apa?"
Eza tersenyum dan malah mengambil salah satu sampur,"Eyang suka sekali menari.Bahkan sampai kini bakat menari itu diajarkan beliau ke anak2 di desa ini.Ruang pendapa di sana buat melatih mereka menari.Andai kakiku ga cacat mungkin aku akan sangat senang ikut berlatih menari."
Febby malah tersenyum,"Kau tenang saja aku yang akan menari untukmu.Bukankah aku juga telah dianggap bagian keluarga ini?"
 Eza terpana mendengarnya,"Kau bisa menari?"
Samuel yang menjawab pertanyaan itu,"Nak Eza belum tahu ya?Febby ini pernah ikut berbagai lomba menari lho.Kapan2 main ke rumah Om di kota.Pialanya banyak sekali disana."
Febby segera merangkul ayahnya,"Daddy!!Kok ga bilang mau jemput Febby?"
Samuel membelai kepala putrinya,"Ayah mau menemui Nak Irwan sebenarnya.Ada urusan.Bukan mau jemput kamu.Kan kamu udah ada Nak Eza yang pasti bakal nganterin kamu pulang.He..he.." Febby manyun,"Oh Ayah lebih peduli sama anak orang lain ya daripada sama anak sendiri?Hhuhh..." Eza meraih jemari Febby,"Jangan manyun dong.Kita semua tahu kamu itu putri kesayangan bagi ayah kamu.Tak ada yang meragukan itu.Dan sebaliknya kita juga tahu bahwa Irwan adalah anak yatim piatu.Kedua orang tuanya telah tiada.Kurasa ayahmu hanya ingin berbuat baik dengan memperhatikannya.Kau jangan marah ya?"
Eyang Puspa datang,"Itu benar cucuku.Eyang tahu siapa ayah Irwan.Dia meninggal tanpa didampingi putranya itu.Bahkan ibunya Irwan juga tak disampingnya.Keluarga Hamdan sejak dulu memang penuh kemelut.Kasihan Irwan..."
           Eh yang diomong datang bareng Evi pula,mereka membawa oleh2 dari Ibunya Erie berupa es buah dan es cendol.Febby jadi merasa bersalah dan mendekati ayahnya,"Maafkan Febby ya Daddy?Febby ga marah kok kalau Daddy juga perhatian sama anak sahabat Daddy.Justru Febby senang dan sudah menganggap Irwan sebagai kakak Febby."
Samuel terharu mendengar ucapan putri semata wayangnya,"Terima kasih sayang.My Princess...terima kasih mau membantu ayah memenuhi janji ayah ke sahabat ayah."
 Irwan masuk diikuti Evi,"Wah ada Om Samuel rupanya.Kebetulan kita bawa es nih.Siapa mau?" Febby segera angkat tangan,"Aku mau,Kak Irwan!Aku mau!"
          Irwan kaget dipanggil begitu,semua juga terpana namun Eza malah tersenyum mendengarnya.Samuel juga tersenyum haru.Febby mendekati Evi,"Aku sudah anggap kalian berdua sebagai saudar jadi karena kalian lebih tua usianya kupanggil kakak.Kalian ga keberatan kan?"
Irwan segera menggeleng,"Tentu saja tidak.Justru malah senang punya adik sebaik ini."
           Evi juga ikut bahagia dan segera menyajikan es yang mereka bawa dibantu Febby tentunya. Samuel malah berpikir,'Jika nanti Nak Irwan menikah akulah yang akan menjadi walinya.Aku janji Hamdan...anakmu telah kuanggap sebagai putraku sendiri.Aku akan mengurusnya mulai kini.Aku akan mengurus semua keperluannya dan membantunya menjadi orang yang sukses dan memiliki masa depan yang penuh harapan.Aku janji sahabatku.Aku janji padamu.Takkan kubiarkan Irwan menderita.'
Eyang Puspa juga berpikir sama,'Aku akan membantu Evi jika nanti menikah dengan Nak Irwan.Aku akan menyupport dengan apa yang aku bisa.Kasihan anak gadis itu.Dia telah melalui banyak penderitaan dan hinaan.Aku takkan biarkan ia dihina lagi.Aku akan membantunya lagipula buat apa harta yang banyak jika tak kubagi untuk membantu sesama.'
           Wah yang dipikirkan mereka berdua ternyata hampir sama.Irwan dan Evi pasti akan bahagia jika tahu maksud hati keduanya. Untuk apa Samuel mencari Irwan ya?Rupanya masalah warisan.Samuel memberitahu Irwan,"Setelah nanti Nak Reza kembali dari bulan madunya,Om akan segera membacakan wasiat ayahmu.Kau bersiaplah untuk bertemu dengan keluarga ayahmu.Terutama ibu dan kakak tirimu."
Irwan mengangguk,"Iya Paman.Irwan akan datang demi menyukakan hati mendiang ayah Irwan."                 Samuel lega melihat kemantapan Irwan untuk menghadapi segala kemungkinan kembali ke rumah yang pernah memberinya kenangan buruk.Bicara soal buruk,gimana hati Norman ya?Kan lagi badmood soale ketemu papanya.Yuk lihat Norman!

 ○●• DEKAT SD...
           Norman awalnya tak mau membicarakan soal papanya dengan Erie namun Erie diberitahu Irwan soal keretakan hubungan ayah dan anak diantara Norman dan papanya.Konglomerat Benigno. Irwan memilih pergi mengajak Evi kembali rumah Eyang Puspa sekalian mau mengambil uang hasil jualan yang ia titipkan.Erie ikut melepas kepergian Benigno dan diberi kartu nama oleh konglomerat itu,"Saya titip putra saya.Jika ada apa2 tolong hubungi saya.Ini kartu nama saya."
Erie menyimpannya,"Bapak tak perlu khawatir,saya akan menjaga putra bapak."
           Wah kayak sudah dapat restu aja he..he. Norman malah sibuk memecah es batu saat Benigno pamitan.Walau agak kecewa,Benigno lega setidaknya putranya tak perlu balapan dan membahayakan nyawanya demi membantu sekolah itu.Ia lalu masuk ke dalam mobilnya dan menuju hotel yang terletak di pinggir desa,hotel termewah di situ.Ia menelpon Toto,"Aku mau tinggal beberapa hari disini.Aku ingin berada dekat putraku.Kau tetap awasi dia.Kerjamu sudah bagus.Lanjutkan!"
          Wah kayak zaman pilpres he..he..lanjutkan! Sorenya Erie melihat Norman melamun di motornya,"Aku yakin saat ini bukan aku yang kaulamunkan.."
Norman tersenyum datar dan malah menarik nafas dalam2,"Memang kau cenayang,tahu apa yang kupikirkan?"
Erie duduk di sebuah batu besar,"Terkadang kita kurang bersyukur dengan apa yang kita miliki sehingga hati kita merasa hampa...dan kecewa..."
Norman diam namun ia mendengarkan,Erie melanjutkan ucapannya,"Aku dulu juga membenci ayahku.Aku kecewa padanya.Ia meninggalkan ibu dan pergi dengan wanita lain.Ia menyakiti hati ibuku dan hatiku sakit setiap kali orang bertanya,dimana ayahmu..."
Norman memandang Erie yang menyeka air mata di sudut matanya,"Kau tahu kau jauh lebih beruntung dariku.Juga dari Irwan.Ayahmu tidak mengkhianati mamamu dan tidak membiarkanmu terlantar seperti yang kualami.Dan Irwan benar bahwa kau masih sangat beruntung bisa melihat papamu tak bisa seperti dia.Kesempatan untuk itu sudah direnggut darinya."
Norman menahan air mata di kelopak matanya,Erie melihat air mata itu dan meneruskan ucapannya,"Menyimpan amarah dan kepahitan itu kata orang seperti memelihara kanker.Akan menyakiti pada akhirnya.Coba lihat ibuku.Ia melepaskan amarah dan kepahitan hatinya dan menerima ayahku kembali meski dengan kondisi seperti sekarang ini.Tidakkah papamu juga berhak diperlakukan sama,Mas...?Aku sebenarnya sayang padamu Mas...tapi jika Mas Norman tak bisa memaafkan Pak Benigno maka maaf Erie ga bisa menerima Mas..karena menurut Erie Mas Norman masih belum dewasa."
          Erie lalu beranjak pergi.Norman terdiam dan ketika Erie menutup pagar rumahnya,air mata Norman menetes.Ia lalu menghidupkan motornya dan pergi. Erie melihat dari balik jendela,air mata juga menetes di pipinya.Ibunya mendekat,"Kenapa Er?Kau bertengkar dengan Nak Norman?"
Erie menghambur ke pelukan Ibunya,"Apa Erie salah Bu jika ingin melihat ayah dan anak rukun kembali?Erie tidak salah kan Bu?Hikks..hiks..."
Sang ibu mendukung putrinya,"Ibu tahu Nak Norman akan memikirkan ucapanmu Er...percaya pada ibu."
        ◆◆See you next eps◆◆ 

Eps 53 KEHILANGAN : Follow After
 ◆◆see you next tiket◆◆

Eps 54 KEHILANGAN : His Goodness

            � TEPI DESA WATU TRESNO...
Norman menjaga jarak dari Toto dan heranlah ia melihat Toto menuju pinggir desa,'Aneh ngapain mas Toto ke pinggir desa ya?Setahuku disana ada hotel.Apa dia menyelidiki kasus tertentu ya?Kepo nih.Ikuti ah!'
Toto sudah ga peduli dengan sekelilingnya karena panik mendengar Benigno pingsan,"Gimana kondisi Tuan Besar?Dokter sudah datang?Bagus.Aku sudah mau sampai kok."
Toto segera memasuki hotel dan menuju kamar Benigno.Norman melihat mobil papanya disana,'Itu kan mobil Papa?Kenapa ada di sini?Bukannya Papa sudah pergi sejak siang tadi?'
Norman menanyakan pada receptionist,"Maaf mbak,apa benar konglomerat Benigno menginap di sini?"
Receptionist ragu menjawab,"Maaf,itu rahasia.Tidak bisa kami beritahukan sembarangan."
Norman berkata,"Tak apa.Saya mengerti saya akan telpon papa saya itu nanyain nomor kamarnya." Wah sang receptionist langsung panik,"Maaf Mas...saya tak tahu kalau mas ini putra beliau.No kamar beliau di kamar 11."
Norman tersenyum,'Akhirnya dapat juga informasinya...'
Norman segera mencari kamar papanya,hingga ia melihat sebuah kamar dijaga bodyguard,'Pasti itu!Lho itu kan Mas Toto?Apa dia kenal papa ya?Aku akan sembunyi dan mencari tahu apa hubungan Mas Toto dan papa...'
Toto berbicara dengan dokter yang memeriksa Benigno,"Bagaimana Dok kondisinya?Perlukah dibawa ke RS segera?"
Dokternya menjawab,"Pak Ben tidak ingin opname.Beliau ingin berada di hotel ini.Sebaiknya hubungi dokter yang biasa menangani beliau.Penyakit ini sudah lama beliau idap.Dan disini tak lengkap fasilitasnya seperti di kota.Saya sarankan hubungi keluarga beliau,untuk membujuknya agar mau dirawat di RS."
Toto berkata,"Itu masalahnya Dok.Pak Ben punya masalah keluarga.Tapi saya akan membujuk putranya.Saya akan berusaha agar Pak Ben mendapatkan perawatan yang seharusnya.Terima kasih Dok.Saya akan segera menghubungi dokter beliau."
Toto mengantar dokter itu,sedang Norman yang mendengar semuanya terpana,'Papa sakit parah?Dan sudah lama?Mengapa aku sampai tidak tahu?Dan ternyata Mas Toto adalah orang suruhan papa.Seharusnya aku sudah curiga.Ia selalu muncul saat aku dalam bahaya.Aku harus melihat papa!!' Norman hendak masuk ke kamar Benigno tapi dihalangi bodyguard,"Hey!!Kamu siapa?Jangan main terobos saja!!"
Toto terkejut kala melihat pria bertopi hendak masuk ke kamar 11,"Lepaskan dia!Dia Tuan Muda!" Para bodyguard segera melepaskan Norman,"Maaf Tuan muda kami tak mengenali Anda."
Toto memandang Norman,"Akhirnya identitasku terbongkar juga..."
 Norman melepas topinya,"Papa sakit apa Mas?"
Toto membuka pintu kamar,"Masuklah Tuan Muda.Biar Tuan Besar yang menceritakan semuanya." Norman masuk dan melihat papanya terbaring,"Papa..."
Benigno tersentak mendengar suara Norman,"Norman...kau bilang apa barusan?"
Norman tak kuasa menahan air matanya,"Papa!!"
Keduanya berpelukan haru,Toto sampai ikut menahan air mata,dan memilih menjauh,'Akhirnya moment ini tiba juga..'
Norman meminta maaf pada papanya,"Papa,kenapa Papa ga bilang kalau Papa sakit parah.Papa ke RS ya?Norman ga mau kehilangan Papa.Maafin Norman ya Pa...Norman tidak tahu kalau sebenarnya Papa sakit..."
Benigno mengusap kepala anaknya,"Ceritanya panjang Man.Mamamu saja tidak Papa kasih tahu.Biar ga cemas.Maafkan Papa ya Man...papa bukan ayah yang baik..."
Norman baru menyadari perkataan Erie,'Benar kata Erie.Aku tak ingin kehilangan Papa.Aku akan berubah sekarang.Makasih ya Er,sudah nasehati aku.Ternyata Papa sangat sayang padaku.'
Malam itu Norman tidur di hotel menjaga Papanya ditemani Toto,tentunya ia menghubungi Irwan dulu,"Boss genk,tolong bilang Eyang sama Mas Bro kalau aku ada urusan.Jadi aku nginap di tempat lain."
Irwan heran,"Man,urusan apa sih?Tumben main rahasia sama aku?"
Norman sebenarnya pingin cerita,"Soal Papaku Wan...nanti aku akan cerita.Tapi sekarang aku harus urus banyak hal.Aku akan baik2 Wan.Tenang saja."
 Irwan tak memaksa,"Baiklah.Jika butuh apa2 kau tahu aku pasti membantu.Jaga dirimu.Semoga hubunganmu dengan papamu juga lekas membaik."
Norman menutup telponnya dan memandang papanya yang mulai mengantuk,"Papa tidur saja.Norman akan tidur di sini,Norman akan jaga Papa sekarang.Seperti yang seharusnya..."
Benigno menggenggam jemari putranya,"Janji sama Papa,kamu ga akan pergi lagi dari Papa ya Man?"
Norman mengangguk,"Norman janji Pa..."
            Benigno tidur sambil menggenggam tangan Norman.Norman menahan haru didadanya,banyak hal telah ia dengar dari Toto dan Papanya.Ternyata banyak hal yang tak seperti ia duga.Malam itu Norman ditemani Toto menjaga Benigno sambil cerita banyak hal.Betapa selama ini papanya selalu memantau keadaannya.Padahal kondisinya tengah sakit dan masih harus mengurus bisnis pula.Wah Norman sudah sadar sekarang.Tapi siapa lagi yang belum sadar ya?

 ♧♧ HOTEL DI BALI...
Intan melempar dengan kesal majalah mode di tangannya,"Aku bosan!Seharian cuma ditemani majalah sama patung."
Reza diam dan memilih chatingan sama Frans,'Nyonyaku ngamuk.Ini bukan bulan madu tapi bulan ngelu.'
Frans jawab,'Siapa suruh datang ke Bali?Disana penuh mitos tahu ga sih?'
 Intan menyetel tv kenceng gitu volumenya,"Breaking news hari ini.Artis yang telah lama mengidap kanker rahim,Julia Perez akhirnya meninggal dunia hari ini.Kembali dunia hiburan Indonesia berduka."
Reza risih juga dengernya,"Tan!Kecilin volumenya!Dasar kayak ga pernah nonton tv aja!"
Intan sebel dan matiin tv-nya langsung,'Mendingan Irwan daripada kak Reza.Dia boring!Garing!Aku bete dianggurin!'
 Intan akhirnya angkat bicara,"Aku ingin pulang."
 Reza sumringah mendengarnya,"Akhirnya!Aku akan pesan tiket sekarang."
Intan tidur dan memunggungi Reza,sedang Reza masih asyik chattingan sama Frans,'Akhirnya aku akan pulang bro!Hore!!'
Frans ngekek,'Kasihan deh lu.Nikah sama Miss Universe he..he..'
Reza balas,'Derita anak mama Bro...'
         **See you next eps**

Eps 55 KEHILANGAN : Driven Back


 ¤¤ RUMAH BESAR KELUARGA HAMDAN...
           Sebuah mobil mewah nampak memasuki halaman rumah,Isda tergopoh2 menyambut siapa yang datang.Ia terpana,"Reza?Kalian sudah selesai honey moonnya?Kenapa ga bilang Mama biar bisa dijemput? "
Reza memeluk mamanya,"Intan pingin cepet balik Ma,kangen Mama katanya.Ya kan sayang?"
Intan pura2 bersikap manis,"Iya Tan...eh Mama..."
Isda melirik menantunya itu,"Gini saja kalian istirahat dulu pasti capek deh.Lihat wajah kamu agak pucat sayang...Mama panggilin dokter ya?"
          Intan malah sibuk mengurusi barang bawaannya.Isda kesal melihatnya,'Wanita itu ternyata juga ga berkelas.Ketahuan banget kini yang dia pedulikan adalah harta saja.Tunggu saja,begitu wasiat itu sudah dibacakan dan harta mas Hamdan sudah kukuasai sepenuhnya aku akan menyingkirkanmu perempuan mata duitan!'
Reza memang kelelahan plus stress,"Terserah Mami deh.Reza mau ke kamar aja."
Isdapun menegur menantunya,"Intan,kamu itu harus tahu satu hal bahwa dengan menjadi menantu di keluarga terhormat dan terpandang seperti di sini maka kelakuan kamu juga harus berubah.Kamu juga harus memperhatikan putra saya.Jangan kamu pikir kamu bisa leluasa disini.Ingat saya masih Nyonya rumah di sini!Ingat itu baik2!"
          Isda melenggang pergi dengan wajah mengintimidasi.Sedangkan Intan menatap tajam pada ibu mertuanya itu,'Aku takkan lupa bahwa kau masih ada di sini tapi itu takkan lama karena aku akan menguasai segalanya.Kau jangan memandang remeh padaku ibu mertua...'
Isda segera menelpon dr.Hayati untuk ke rumahnya,"Usahakan ya dok ya?Saya ga percaya sama dokter yang lain soal kesehatan putra saya.Dokter kan tahu mendiang papanya Reza itu dulu meninggalnya karena serangan jantung jadi saya takut penyakit itu nurun ke Reza."
Hayati akhirnya menyanggupi untuk datang,"Baiklah Nyonya.Saya akan datang."
Isda lega dan menutup telponnya,'Jika saja bukan karena syarat wasiat aku lebih suka Reza menikah dengan dokter Hayati.Dia itu baik dan cantik.Berpendidikan lagi.Dia lebih pantas menjadi isteri Reza.'
          Tak lama dokter Hayati memang datang.Reza memang kurang enak badan dan berbaring di kamarnya.Agak ga enak juga Hayati sebenarnya namun apa daya ia seorang dokter dan sudah menjadi tugasnya untuk memeriksa orang sakit.Intan melihat bagaimana Reza nampak berbinar melihat Hayati datang,'Apa maksud ibu mertuaku memanggil dokter segala?Perempuan lagi.Reza kan cuma kecapekan.Lembek amat sih jadi cowok!Aku jadi kangen Irwan deh...coba saja Irwan kaya seperti Reza.Mungkin aku ga perlu merana seperti sekarang.'
Reza diperiksa Hayati,"Pulang bulan madu kok malah sakit sih?Harusnya seneng dong..."
Reza malah memandang Hayati tak berkedip,'Aku ga sangka makin dilihat dekat makin menawan dia.Cantiknya...'
Weleh...

 ¤> RUMAH EVI...
Rita sedang asyik memetik daun jeruk ketika salah satu tetangganya lewat,"Mbakyu,putrimu bungsu sudah kembali dari luar negeri lho...tadi aku lihat mobilnya lewat.Wah bakal dapat oleh2 nih.Jangan lupa bagi2 ya mbakyu?"
Rita hanya bisa tersenyum,'Intan sudah pulang?Kenapa ga ngasih kabar ya?Bukannya harusnya masih seminggu lagi?Ada apa ya?Moga Intan ga bikin ulah di sana.'
Evi datang diantar Irwan,"Mampir Wan,ada ibu tuh..."
Irwan segera memarkir motornya dan menyalami Rita,"Siang Bu..."
Rita tersenyum padanya,"Oh Nak Irwan,ayo masuk.Makan dulu.Kebetulan ibu buat pecel sambelnya wijen.Ayo!!"
Irwan senang sekali dengan keramahan Rita,"Wah rejeki ga boleh ditolak nih...he..he.."
Evi juga senang jika Irwan makan di rumahnya,'Kasihan selama ini ia mengurus makannya sendiri.Nanti aku akan mengurus segala keperluannya.'
Rita memberitahu kabar soal kembalinya Intan pada Evi,"Katanya adikmu sudah kembali Vi...Ibu mau ke sana sebenarnya tapi kamu tahu kan seperti apa suasana di sana.Ibu ga nyaman berada di sana." Evi memgerti dan juga merasa begitu,"Kalau ibu cemas soal Intan,ibu telpon saja ga harus ke sana kan?"
Rita manggut2,"Kau benar Vi.Kenapa ibu ga mikir gitu ya?"
Irwan mendengar berita kepulangan Reza namun ia tak komentar apapun,'Paman Samuel pasti juga telah mendengar berita ini.'
 Eh hp Irwan bunyi,dari Samuel.Irwan yang sudah selesai makan permisi keluar sebentar,"Maaf saya terima telpon dulu..."
 Evi jadi curiga,'Aneh kenapa harus pakai keluar segala?Emang telpon dari siapa sih?Kenapa harus main rahasia bukannya kami akan menikah?'
Diteras Irwan menerima telponnya,"Besok Paman?Iya...baiklah...Iya,Irwan juga sudah dengar beritanya...iya Paman."
Rita menelpon Intan,"Hello...oh Nak Reza..."
Evi keluar ke teras,Irwan kaget melihat gadis itu nampak diam,"Vi kamu kenapa?"
Evi malah balik nanya,"Kamu ga serius kan sama aku Wan?"
 Irwan panik,"Kok kamu tiba2 nanya gitu Vi?"
Evi kembali balik nanya,"Bukannya sikapmu yang membuatku merasa begitu?"
Wah Irwan jadi heran,"Sikapku?Sikap yang mana Vi yang bikin kamu ragu sama aku?"
Evi malah berdiri hendak balik ke dalam lagi tapi Irwan meraih tangannya,"Kumohon jangan ragu padaku Vi.Aku ini sungguh ingin kau menjadi isteriku Vi..."
 Evi lalu bertanya,"Lalu telpon tadi dari siapa?"
Irwan mengerti kini,"Tadi itu dari Paman Samuel.Sebenarnya aku ingin bicara soal dia ke kamu Vi tapi aku pikir besok adalah waktu yang tepat untuk hal itu.Ini mengenai ayahku Vi.Sini duduk di sini dulu aku akan ceritakan semuanya padamu."
Gimana reaksi Evi kalau tahu Irwan adik tiri Reza?Ke pantun aja ya?
**see you next eps**

Eps 56 KEHILANGAN : Within The Family ( Dalam Keluarga )

       ♡� TERAS RUMAH EVI...
Irwan berdiri dan menatap jalan,"Kau tahu aku ini besar sebagai anak jalanan.Apalagi sejak ibuku tiada.Aku tidak membenci ibuku karena memberiku kehidupan yang sederhana.Tapi yang sebenarnya ...dalam hatiku aku kecewa...aku marah pada ayahku...bukankah harusnya dia ada bersama ibu dalam membesarkan aku?Tapi dimana dia?"
          Evi melihat Irwan berkaca2,ia jadi merasa bersalah namun kala ia hendak mendekati Irwan,Rita datang dan heran melihat keduanya diluar.Irwan sedang membelakangi pintu masuk jadi ia tak melihat calon ibu mertuanya namun Evi segera memberi kode pada ibunya dengan pandangan matanya.Rita mengerti dan segera masuk ke dalam,Evi lega.Rita malah kepikiran Intan,'Kedua putriku sudah menemukan pasangan hidup masing2,meski nak Irwan mungkin akan memberi Evi kehidupan yang sederhana dan tak semewah kehidupan yang diberikan Nak Reza pada Intan namun kenapa aku justru merasa cemas dengan rumah tangga putri bungsuku daripada putri sulungku.Aku bisa melihat cinta untuk Evi dimata Nak Irwan tapi aku tak melihat hal yang sama pada Intan.Nak Reza melakukan semuanya karena keterpaksaan.Ada apa sebenarnya ?Mengapa Nyonya Isda begitu bersikukuh menikahkan Reza dengan putriku.Aku bisa melihat bahwa selama ini ia begitu mengagungkan martabat dan derajat.Ada sesuatu yang membuatnya sampai mau menurunkan harga dirinya dan punya besan dari kalangan yang tak selevel dengannya.'
             Andai saja Rita punya kebiasaan menguping mungkin akan tahu bahwa sebenarnya Irwan dan Reza adalah saudara seayah.Irwan akhirnya mengungkap hal itu pada Evi,"Lalu aku bertemu dengan Om Samuel.Dia adalah Notaris ayah.Dari dialah aku tahu kebenaran tentang ketidakhadiran ayah selama ini dalam hidupku.Ayahku telah tiada tak lama setelah aku dan ibu diusir keluar oleh isteri pertama ayah,Nyonya Isda."
Evi tak menyangka,"Jadi kau adalah putra mendiang Tuan Hamdan?Kau dan Reza..."
Irwan mengangguk,"Iya Vi...ceritanya rumit tapi itulah kenyataannya...aku dan Reza memiliki ayah yang sama.Kami bersaudara."
Evi mendekati Irwan dan mengusap pundak pria yang ia cintai itu,"Kini aku tahu kenapa kau memandangi rumah ayahmu dengan tatapan yang sedih.Rumah itu mengingatkanmu akan mendiang ayahmu.Kau sudah ke makam beliau?"
Irwan menggeleng,"Om Samuel melarangku.Katanya nanti usai pembacaan surat wasiat ayah baru aku boleh ke sana."
Evi heran,'Aneh sekali.Mengapa Om Samuel melarang Irwan ke makam ayahnya sendiri?Apakah beliau takut ada yang tahu bahwa Irwan juga putra Pak Hamdan?'
Irwan meraih jemari Evi,"Aku kemari ke desa ini awalnya karena ingin memenuhi amanat terakhir ayahku juga meminta penjelasan pada Intan soal hubungan kami.Tapi kala aku tahu bahwa ia memilih Reza aku melepaskannya.Aku tak membenci Reza,darah ayah mengalir dalam dirinya.Aku tak mungkin membencinya.Ayah pasti sedih jika melakukannya.Lagipula aku telah menemukanmu...aku tahu apa yang kurasakan pada Intan bukanlah cinta.Aku hanya ingin melindunginya.Tapi padamu beda Vi...aku sedih jika kau memalingkan wajahmu dariku...jika kau mendiamkanku...aku menyembunyikan semua ini karena aku telah berjanji pada Om Samuel untuk mengikuti setiap petunjuknya.Maafkan aku ..."
Evi malah mengusap wajah Irwan,"Aku yang harusnya minta maaf memaksamu melanggar janjimu.Seharusnya aku mempercayaimu.Maafkan aku ya Wan?"
Irwan mengecup tangan Evi,"Terima kasih mau mengerti aku.Mau menerimaku apa adanya..."
Saat itulah Intan datang dan ia kesal melihatnya,"Wow!!Sebuah pemandangan serial India tayang di sini..."
Irwan dan Evi terkejut,"Intan?"
Intan mendekat dengan menenteng beberapa tas,"Aku tak mengira kakakku akan bertingkah serendah ini demi memulihkan reputasinya yang hancur karena gagal menikah dengan pria dari kalangan atas." Irwan hendak marah tapi Evi mencegahnya,"Tidak apa Wan..."
Intan kesal melihat tangan Evi dan Irwan bertaut,"Kakak...kakak...Meskipun kau berusaha sekuat apapun tetap saja kau tak akan bisa mendapatkan seperti yang kudapatkan.Lihat ini!Aku memakai pakaian mahal,perhiasan bahkan aku kemana2 kini diantar mobil.Semua orang kagum padaku.Tapi kau...apa yang akan kaudapatkan bersama mantanku?Ha..ha.."
 Irwan tak tahan lagi,"Kau tahu ?Evi akan mendapatkan apa yang tidak kau dapatkan selama ini dariku...cintaku!Sebenarnya kaulah yang merendahkan dirimu sendiri."
             Mendengar suara Intan,Rita segera keluar.Ia segera mendekati Intan,"Intan?Kau pulang Nak?Kau sehat kan?"
Intan risih,"Ibu aku sebenarnya tidak sudi kemari.Aku hanya ingin menjaga nama ibu mertuaku saja.Ini oleh2!Aku tak mau kalian datang ke rumahku yang mewah dan mengemis minta bagian oleh2!"
Rita kaget mendengarnya,"Intan..."
Evi mengembalikan semua pemberian Intan,"Kami tak butuh semua ini darimu.Kami ini keluargamu Intan!Kami bukan pengemis...Kami akan datang ke rumah mertuamu kapanpun kami mau karena kami adalah anggota keluargamu.Kau harus terima itu!Dan jika kau datang hanya untuk menyakiti hati Ibu sebaiknya lain kali kau pertimbangkan lagi karena aku tak akan tinggal diam melihat kelakuanmu ini!"
Intan menatap Evi dengan marah dan pergi dari sana,"Baiklah!Orang miskin memang tak pantas mendapat barang2 bagus.Huhh!!"
            Rita berlinang air mata melihat kelakuan putri bungsunya.Evi membawa ibunya ke dalam,"Sudahlah Ibu.Jangan terlalu dipikirkan ucapan Intan.Evi akan menjaga ibu."
Irwan menambahi,"Irwan juga Ibu...Irwan sudah menganggap Ibu sebagai ibu Irwan sendiri.Irwan akan menjaga kalian..."
            Rita terhibur melihat mereka.
**See you next eps**


Eps 57 $--KEHILANGAN--$ Marvelled At Him ( Kagum Padanya )

       ◆◆ RUMAH TUAN HAMDAN...
Isda mondar-mandir menanti berita dari anak buahnya yang disuruh memata2i makam Tuan Hamdan,'Mengapa tak ada berita soal anak haram itu?'
Telpon masuk,Isda bergegas mengangkatnya,"Bagaimana apa benar tak ada seorangpun yang ke sana?Berziarah atau apa gitu?"
Anak buahnya menjawab,"Tak ada Nyonya.Sungguh tak ada seorangpun dalam waktu dekat ini yang kemari,Nyonya.Apa tugas saya selesai Nyonya?"
Isda tersenyum,"Bagus!Tugasmu selesai."
Isda lalu menelpon anak buahnya yang lain,"Bagaimana dengan Tuan Notaris kita?Apa dia berangkat dengan seorang pemuda?"
Anak buahnya menjawab,"Tidak Nyonya!Dia pergi bersama putrinya ke rumah Nyonya Puspa.Dia hanya mengantarkan putrinya ke sana lalu sekarang sedang otw ke kediaman Nyonya."
Isda gembira,"Bagus!Terus awasi dia sampai tiba di rumahku.Habis itu kalian berjaga jangan sampai ada orang asing apalagi pemuda masuk ke dalam rumahku!Ingat itu!!"
Isda tersenyum lega,'Berarti Samuel tidak berhasil menemukan anak haram itu.Atau anak haram itu sudah mati karena kemalangan hidup.Harta Hamdan akan menjadi milik anakku seorang.Aku akan bisa menguasai semuanya.Ha..ha..ha..'

 KAMAR REZA DAN INTAN....¤>>>
Intan nampak menelpon ibunya,"Ibu dan kakakku yang tukang gorengan itu harus datang!Ini acara penting!Pakai pakaian yang ga bikin aku malu.Kalian mengerti?!"
Intan menutup telpon dengan senyum liciknya,'Hari ini hari besar.Hari dimana suamiku akan disahkan menjadi pewaris harta mendiang ayah mertuaku yang kaya raya itu.Beruntungnya aku....hi..hi..hi...'
Intan memakai perhiasannya,'Aku sengaja menyuruh ibu dan kakakku datang supaya mereka tahu betapa hebatnya aku bisa menjadi menantu keluarga sekaya ini.Intan gitu loh...'
Reza keluar dari kamar mandi dan melihat pakaiannya sudah disiapkan oleh Intan,'Tumben dia perhatian?Aku kok malah curiga dia baik gini.Dia pasti ada maunya.'
Intan segera membantu suaminya tapi Reza menolak,"Aku bukan anak kecil.Aku bisa pakai bajuku sendiri.Apa yang sedang kaurencanakan?Kenapa kau jadi perhatian padaku?Katakan saja..."
Intan memandang dengan kesal pria jangkung dihadapannya,'Sebenarnya kalau bukan karena kamu bakal jadi pewaris tunggal,aku ga sudi merhatiin kamu.Aku masih kesal melihat kejadian kemarin.'               Intan terbayang bagaimana Irwan memegang jemari Evi dengan mesranya.Penuh cinta dan jelas terlihat betapa berbedanya Irwan memandang ke kakaknya itu.Reza heran isterinya malah melamun,"Hmm...kau memang penuh misteri.Kenapa kau terlihat tidak bahagia?Kau merasa masih kalah dengan orang lain?Oh ya...perlu kau ketahui.Jika dalam setahun kau tidak hamil,aku akan menceraikanmu."
Intan terpana,Reza lalu melangkah pergi keluar dari kamarnya,"Ibumu takkan membiarkan hal itu terjadi!"
Reza tersenyum,"Ibuku menikahkanku denganmu hanya untuk hari ini.Selanjutnya dia sudah berjanji padaku bahwa setelah hari ini semuanya terserah padaku.Jadi bersiaplah..."
 Intan tertegun,'Dia takkan bisa menceraikanku.Dia sudah tidur denganku.Aku takkan melepaskan posisiku.Apalagi setelah hari ini!'

 RUMAH EVI....�♧♧
             Melihat situasi yang kurang kondusif untuk keselamatan Irwan,Samuel sengaja tidak membawa Irwan naik mobilnya.Apalagi ia tahu dari Eza bahwa ia diikuti.Waktu masuk gerbang saja mobilnya juga digeledah oleh anak buah Isda.Tinggal satu masuk akses Irwan ke rumah Isda.Akses besan.Intan mengirimkan mobil untuk menjemput Evi dan ibunya.Kala mobil datang ke rumah Evi,Norman siaga diluar mengawasi kalau ada mata2 Isda.Irwan ada di rumah Evi kala Evi memberitahu lewat telpon,"Kau benar.Intan mengundang kami ke sana."
Irwan menyusup masuk ke dalam bagasi kala Evi mengalihkan perhatian sang sopir dengan menyuruhnya masuk dulu,"Kami masih belum siap.Biasa perempuan kalau dandan lama.Mari masuk dulu.Daripada nunggu diluar.Ke dalam saja.Ada getuk goreng,pisang goreng dan pastinya minuman." Sopirnya jelas kemecer dan jelas ga mau nolak rejeki.Saat si sopir nunggu di dalam,Irwan masuk ke dalam bagasi.


 DEPAN RUMAH ISDA....■□◇
Saat mobil yang menjemput Evi dan ibunya dalam perjalananke rumah Isda,Norman lalu mengecoh anak buah Isda yang didepan gerbang dengan datang ke rumah Isda mengaku kalau dia adalah Irwan,"Saya ini mau ketemu Notaris Samuel.Dia mengundang saya kemari.Saya ini jauh2 dari kota lho."
Mendengar itu mereka segera memberitahu Isda lewat telpon,"Nyonya ada seorang pemuda dari kota datang.Ia mengenal Notaris Samuel malah katanya Notaris yang mengundang dia datang Nyonya." Isda segera menjawab,"Cepat tangkap pemuda itu.Dialah orang yang saya maksud.Jangan sampai lolos!"
Semua yang ditugaskan jaga di gerbang segera mengejar Norman yang bawa motornya dengan gesitnya.Saat gerbang tak dijaga itulah mobil yang membawa Evi,Rita sekaligus Irwan masuk ke dalam rumah Isda.Wah gimana reaksi Isda tahu bahwa anak buahnya salah kejar orang?:
***see you next eps***

Eps 58 CERBUNG KE-3 : KEHILANGAN

          =♧= DAERAH PINGGIRAN DESA...
           Norman terus mengecoh para kaki tangan Nyonya Isda.Sebenarnya Norman hendak menemui Erie untuk meminta maaf sekaligus mau pamitan ia akan membawa ayahnya ke kota.Namun kemudian ia diberitahu soal pembacaan surat wasiat dan ia telah berjanji akan membantu Irwan dalam suka dan duka.Iapun memutuskan untuk membantu Irwan dulu baru kembali ke kota.Ia sampai di dekat hotel dimana ayahnya berada,'Sepertinya aku kembali saja ke hotel.'
 Anak buah Isda mengejar,"Dia masuk ke sana!!Ayo kejar!!"
Namun ketika hendak masuk ke hotel,para pengawal Benigno menghadang mereka,"Kalian siapa?Masuk seenaknya kemari??!!"
Anak buah Isda keder,"Kami punya urusan dengan anak muda yang membawa motor masuk ke sini tadi!!"
Para bodyguard itu melihat ke arah Norman,"Maksud kalian dia??"
 Para anak buah Isda melihat ke arah Norman,"Ya itu dia!!Serahkan dia pada kami!!Maka kalian tidak akan kena masalah di wilayah ini!!"
Pengawal Benigno terkekeh,"Kalian cari mati ya??Kalian tahu siapa dia?!!Dia Tuan Muda kami.Kalian tahu konglomerat Benigno?Dia putra tunggalnya!!!"
Anak buah Isda kaget,"Apa?Itu tidak mungkin!Dia adalah orang yang Boss kami maksud!!"
         Norman hanya memberi kode dari jauh lalu masuk menemui ayahnya.Ia tahu pengawal2 ayahnya akan mengatasi anak buah Isda,'Aku akan memberitahu Irwan kalau tugasku sudah selesai.' ***See you next part*** 

EPS 58 PART2 °•○● KEHILANGAN : Bloodties ( Ikatan darah )

 ▲▼ RUMAH KELUARGA HAMDAN....
          Di ruang keluarga nan mewah sudah duduk sang nyonya rumah di kursi tersendiri.Biasanya mendiang Tuan Hamdan yang biasa duduk di sana.Di sebelah kanannya ada kursi panjang berukir berwarna merah dan disanalah sang putra sulung Reza beserta isteri duduk dengan ekspresi wajah berbeda.Reza nampak pasang wajah boring,'Aku ingin semua segera selesai.Aku tak tahan hidup lebih lama dengan Intan.Jika bukan karena Mami...aku ogah nikah sama dia.'
Sambil melirik isterinya Reza bertanya pada notaris Samuel yang sudah hadir pula di sana,"Kita menunggu siapa lagi Paman?Kenapa tidak segera dimulai saja?"
Eh yang jawab malah sang isteri,"Sabar dong sayang!Kan keluarga aku belum datang.Mereka juga bagian dari keluarga ini bukan?Tunggu bentar lagi ya Paman Notaris yang terhormat?"
Reza membuang muka ke arah mamanya,'Dasar perempuan suka pamer!Sejak kapan dia menganggap keluarganya penting?Heran mami kenapa jiga kelihatannya juga ga tenang...gelisah gitu...liat ke arah hp melulu...ada apa sebenarnya?'
Hp Isda bergetar,"Permisi sebentar..."
Ia berdiri dan masuk ke ruangan lain,"Bagaimana?Apa sudah kalian tangani?"
Wardiman menjawab,"Nyonya,tenang saja kami terus mengawasinya.Dia jauh dari rumah Nyonya.Dia masuk ke hotel di pinggiran desa.Belum keluar sejak tadi.Kami sudah awasi semua akses keluar masuk hotel itu."
 Isda agak heran juga mendengarnya,'Aneh,ngapain anak haram itu malah ke hotel di pinggiran desa?Pembacaan wasiatnya kan di sini?Tapi baguslah berarti hanya Reza yang akan mewarisi semuanya.' Ia lalu memberi perintah,"Tetap awasi anak itu!Jangan biarkan dia menuju kemari!Lakukan apapun untuk menghalanginya menuju kemari..."
          Saat Isda menerima telpon di ruangan lain,mobil yang membawa rombongan keluarga besan datang.Pelayan memberitahu Reza soal kedatangan keluarga Intan,"Tuan Muda,diluar ada keluarga isteri Tuan..."
Reza hendak berdiri eh Intan udah nyahut,"Biar aku saja suamiku sayang.Kamu duduk manis aja di sini.Biar aku yang sambut mereka.Lagian aku yang minta mereka untuk datang..."
 Rezapun duduk lagi,"Whatever...terserah kau saja..."
Samuel sendiri malah memandang lukisan sahabatnya yang tergantung di salah satu dinding,'Akhirnya hari ini aku akan memenuhi amanatmu sobat...'
Sementara itu Evi dan ibunya disambut Intan,"Akhirnya kalian datang juga.Bawa apa itu?"
 Rita menyodorkan kantong plastik yang ia bawa,"Ini ada gorengan buatan kakakmu...biar buat cemilan.Katanya ada acara penting di sini."
Intan malah menepiskan oleh2 itu,"Iihh...emang keluarga suami aku kelas rendahan apa?Makan beginian!Amit2...Udah kubilang jangan bawa apa2 bikin malu tahu...udah ayo masuk!"
Evi terlihat sangat terluka mendengar kata2 adiknya,diambilnya gorengannya dari tangan ibunya,"Gpp kalau mereka ga mau Bu.Usai dari sini Evi akan titipin ke warung aja.Atau kasih ke siapa yang mau makan.Masih banyak orang kelaparan kok di negeri kita ini Bu.Ibu jangan masukkan ke hati ya kata2 Intan."
Rita menyeka air matanya,"Ga cah ayu.Ibumu gpp kok.Kamu bener...pasti masih ada yang mau makan makanan ini...ibu gpp..."
 Intan lalu mengajak mereka masuk ke ruang keluarga,"Udah ga usah didramatisir.Gitu aja mewek!Cepetan ikuti aku.Awas tangannya jangan colak colek.Disini banyak guci antik,itu mahal tahu!"
         Evi malah melirik ke arah lain,satu sosok berdiri disana dibalik pilar marmer menatapnya dengan mata berkaca2 seakan mengerti kesedihannya.Sosok itu kembali bersembunyi kala Intan menatap ke arah Evi,"Ga usah heran lihat barang2 mewah di sini!Lihat aja boleh tapi jangan ngimpi bisa punya rumah semewah ini.Rumah bagus kayak gini itu bukan kelas kalian."
Evi menjawabnya,"Aku kasihan sama rumah ini dihuni oleh orang yang sombong.Jangan bermegah atas milik orang lain,Intan."
 Intan jadi berang dan berkacak pinggang,"Kakak bilang apa?!Milik orang lain?Hey denger yo...buka telinga lebar2...aku ini bakal jadi pemilik semua ini.Karena aku adalah menantu satu2nya di keluarga ini.Ingat:Satu2nya!"
Saat itulah Isda muncul,"Wow!Baru jadi menantu saja lagakmu sudah seperti pemilik rumah saja Intan...."
Intan kaget,"Mami...."
 Isda mendekat,"Jangan panggil aku Mami!Hanya Reza yang boleh memanggilku seperti itu.Panggil aku Ibu Mertua.Kau harus tahu batasanmu menantuku...aku ini masih hidup...aku masih ada di rumah ini...kau jangan lupa batasanmu!"
Isda heran melihat Evi dan Rita,"Buat apa mereka disini?"
Intan menjawab dengan gemetar,"Intan yang undang mereka Ma...eh Ibu Mertua.Soalnya Intan pikir bukannya ini acara keluarga ..."
Samuel muncul dan memandang ke arah Evi dan Evi memberi kode khusus dengan lirikan matanya,"Oh keluarga besan rupanya.Tidak apa2 mereka juga hadir...semua sudah datang sekarang...ayo dimulai saja acaranya."
Isda heran,'Apa maksudnya Samuel dengan semua sudah datang sekarang?'
Isda lalu menyuruh pelayan mengunci pintu utama,"Jangan ijinkan siapapun masuk!Sini kuncinya!Biar aku pegang.Ini acara penting jangan sampai terganggu."
         Sosok yang bersembunyi tadi segera menyelinap menghindari tatapan selidik Isda.Usai memastikan semua aman,Isda menyusul masuk ke ruang keluarga. Siapakah sosok yang bersembunyi itu?
 ***see you next eps***

Eps 59 KEHILANGAN : Know The Law ( Tahu Hukumnya )

              ÷÷÷ RUANG KELUARGA KEDIAMAN HAMDAN...
          Intan dengan high heelsnya yang thak thok2 membawa keluarganya yang menurut dia malu2in itu ke ruang keluarga.Sebuah ruangan dengan kursi ukiran nan artistik dengan harga jutaan.Disuruhnya Evi duduk di paling ujung,"Sana kakak sana aja.Paling ujung itu.Ibu biar sini deket Mas Reza."
Notaris Samuel menahan langkah Evi,"Sini dekat saya saja Nak Evi.Sini kosong kok.Masih muat untuk dua orang malah."
Evi melihat ke Nyonya Isda,yang dilihati malah mlengos,"Huhh!Duduk aja repot."
Reza yang malah koment,"Duduk saja Vi.Anggap aja rumah sendiri.Kamu kan juga anggota keluarga Hamdan."
 Intan malah sibuk sok mesra nempel Reza,'Mau duduk disitu juga gpp.Biar jelas nanti dia denger kalau suami aku bakal jadi the next suksesor pewaris harta keluarga kaya raya di desa ini.Wow...aku sudah ga sabar dengernya!Excited banget pokoknya.Aku ingin lihat gimana reaksi kakakku nan ndesit dan klumprut itu begitu tahu betapa kayanya suami aku.Intan gitu lho!Namanya aja dah berkelas banget.'
Intan senyum2 sendiri bikin Reza heran,"Kamu kesambet ya?Jangan nempel2 gini ah...Risih tahu!" Intan manyun namun kemudian pura2 manggil pembantu,"Mbok!!Mana minumnya!!Dasar kalau kerja leletnya ampyun deh..."
Isda langsung angkat suara ga mau kalah kenceng sama menantunya,"Ehem!!Notaris Samuel segera dimulai saja pembacaannya.Semua sudah hadir.Ga ada yang perlu ditunggu lagi bukan?"
Samuel tersenyum,"Baiklah saya rasa semua sudah hadir.Tak perlu ditunda lagi.Lagipula saya juga ingin menunaikan amanat mendiang sahabat saya.Biar tenang hati saya.Mari kita mulai saja acaranya."
Semua nampak tegang termasuk pembantu soale dia lihat sosok di balik pilar,tapi untunglah sosok itu segera menyuruhnya untuk diam,"Sst!Saya mohon mbok jangan bilang kalau saya disini.Mbok masih ingat saya kan?Yang sering bantuin simbok di kebon?Masih inget?"
Sang pembantu yang memang dah lama kerja sama Isda itu menatap sosok yang bicara dengannya,wajahnya langsung terpana,"Den ini anaknya Neng Inul ya?"
Sosok itu mengangguk,"Sst!Iya...saya kembali untuk memenuhi amanat mendiang ayah."
Sang pembantu memang tahu bahwa Irwan adalah anak Tuan Hamdan,"Tenang Den.Saya ga akan kasih tahu.Saya seneng Den Bagus kembali.Ndara besar sedih banget sejak Ibu aden diusir dari sini." Irwan berkaca2,'Irwan janji akan penuhi semua amanat ayah.Irwan janji...'
 Sementara itu Samuel mulai membuka acara,"Kita semua hadir di sini untuk menjadi saksi pembagian warisan milik mendiang sahabat saya,Hamdan.Saya masih ingat waktu itu hari Selasa,tiba2 Hamdan menelepon saya.Ia meminta saya untuk datang segera menemuinya.Sebelumnya saya minta maaf saya akan sedikit membuka rahasia keluarga sahabat saya itu."
Ia memandang pada Isda,"Nyonya Isda apa Anda tak apa saya ceritakan sedikit tentang masa lalu suami Anda?"
 Isda malah melipat tangan,"Apa itu ada hubungannya dengan surat wasiat?"
Samuel mengiyakan,"Tentu saja.Kebenaran yang tidak penuh bukanlah kebenaran,bukan?Lagipula apa yang mencemaskan Nyonya?"
Isda kesal,"Saya cemas?Saya memiliki semuanya.Apalagi Reza ada di sini.Posisi saya tak perlu dicemaskan.Lanjutkan saja."
          Samuel mengambil kaca matanya,sebenarnya itu hanya akalnya saja untuk memastikan bahwa Irwan benar sudah hadir di sana.Rita malah bingung,'Masa lalu?Apa soal rumor dulu itu ya bahwa Tuan Hamdan pernah punya hubungan sama perempuan lain.Mendiang ayahnya Evi pernah cerita soal itu.Kalau Tuan Hamdan sebenarnya mencintai wanita lain.Aku pikir waktu itu cuma gosip.Tapi dengerin dulu aja.'
Samuel melanjutkan,"Awalnya saya agak tak percaya juga.Tapi ini adalah sebuah kenyataan hidup dari sahabat saya sendiri.Klien lebih tepatnya.Dia menceritakan semuanya pada saya menjelang hari terakhirnya.Bahwa dia,Hamdan,sebenarnya memiliki dua orang putra."
 Reza tak kaget lagi,tapi Intan yang heboh,"Kok bisa?Jadi Mas Reza bukan satu2nya pewaris begitu?" Reza malu banget lihat Intan panik,"Aku aja ga masalah kenapa kamu yang lebay sih?Udah duduk aja dengan manis bisa ga sih?Malu2in tahu ga!"
          Intanpun diem apalagi dipelototi sama Isda,langsung ciut nyalinya.Lagian mau protes juga ga bisa lha wong Tuan Hamdan udah tiada.Mau demo ke kuburan?Ayak ayak ae... Evi hanya diam karena dia tahu siapa yang dimaksud notaris Samuel,'Intan pasti bakal shock kalau tahu bahwa Reza dan Irwan ternyata saudara sedarah.'
 Isda berkata,"Mending langsung saja ke pointnya.Malas saya bahas aib keluarga.Apalagi soal anak haram suami saya.Syukurlah cuma satu hasil selingkuhannya.Amit2!!"
 Irwan meradang mendengarnya,hampir saja ia mau keluar melabrak Isda namun notaris Samuel memberinya kode untuk tetap diam,"Apapun itu kenyataannya sahabat saya sekaligus klien saya mengetahui bahwa kelak akan terjadi masalah mengenai harta warisannya jika ia tak membuat surat wasiat.Sahabat saya mengasihi kedua putranya.Terlepas siapa ibu mereka,keduanya sangat berarti baginya.Ia ingin memastikan keduanya mendapatkan apa yang menjadi hak mereka."
 Intan nampak gusar,'Jika benar Mas Reza bukan satu2nya anak Tuan Hamdan berarti hartanya ga full dong ke Mas Reza.Sial!!'
Reza melirik isterinya,'Benar dugaanku.Dia hanya mengincar hartaku.Mau punya saudara segudang aku juga ga masalah.Namanya juga masih sedarah.Masak ditolak?Harta bagiku bukan segalanya.Yang kuinginkan adalah kasih sayang.Selama ini aku selalu jauh dari rumah.Jika punya saudara pasti rasanya lebih indah.'
Samuel membuka berkasnya,"Demi menghindari sengketa di kemudian hari,Hamdan telah menulis sebuah surat wasiat.Surat ini ditulis langsung dan ditanda tangani oleh Hamdan sendiri dan dihadapan saya selaku notaris.Jadi surat ini memiliki kekuatan hukum.Apa kalian siap mengetahui apa isinya dan siap untuk mematuhinya?"
Reza menjawab paling keras,"Saya siap Om!"
           Samuel mulai membacakan identitas si pemberi wasiat,semua mendengarkan dengan seksama.Isda mencoba menenangkan diri,'Tenang Isda!Tenang!Bocah haram itu sudah tak mungkin datang.Semua akses sudah diblokir.Jikapun dia dapat bagian toh orangnya ga ada.'
Isda kembali menyimak ucapan notaris Samuel,"SURAT WASIAT.Saya yang bertanda tangan dibawah ini,dengan ini menerangkan hal2 sebagai berikut: 1.Bahwa,saya adalah pemilik yang sah atas obyek kekayaan berikut : a.sebidang tanah hak milik dengan sertifikat Hak Milik nomor...." Banyak sekali sertifikat tanah yang dimiliki Hamdan,Intan sampai terpukau,'Gila!Banyak sekali tanahnya.Dimana2 ada.Ini baru tanah belum rumah dan mobil.Belum perusahaan.Wow!'
          ***see you next eps***


Eps 60 KEHILANGAN : Keep His ( Menjaga Miliknya )

      ♧☆♧ KEDIAMAN KELUARGA HAMDAN...
          Masih di ruang keluarga,pintu depan tertutup rapat dikunci malah dari dalam sama yang punya rumah.Semua masih terus mendengarkan daftar kekayaan yang hendak diwariskan.Reza sih dah ga kaget lagi mengetahui banyaknya aset tanah,belum rumah,mobil,bahkan peternakan dan usaha2 kerajinan dan beberapa perusahaan.Ada perusahaan tahu,perusahaan kerupuk,perusahaan kayu,dll.Samuel aja sampai harus jeda minum dulu saat membacakannya.Isda melirik ke arah menantunya yang melongo sambil gumun didekat Reza,'Sekarang dia baru tahu betapa beruntungnya dia mendapat putraku.Awas saja kalau dia ga baik dan malah bikin putraku jadi bete akan kuusir dia dari sini.Tanpa uang sepeserpun!!'
Reza malah merhatiin Evi yang diam saja sambil menyatukan tangan dipangkuannya,'Kenapa dulu aku mudah terbujuk hasutan Mama milih Intan?Coba aku lebih sabar pasti aku akan memilih Evi.Dia jauh lebih baik.Dia bahkan tak silau dengan semua kekayaan yang dibacakan Om Samuel.Entah apa yang ia pikirkan?'
Evi ternyata malah mikir Irwan,'Irwan ternyata anak orang kaya.Apa dia masih mau ya nikah sama aku?Aku kan cuma orang ga punya.Ga sekolah tinggi pula.Aku malu banget berada di sini.'
Rita juga merasa ga nyaman berada di sana dan mendengar betapa banyaknya kekayaan keluarga Hamdan,'Kenapa ga kelar2 baca daftar kekayaannya?Aduh...harta sebegitu banyak tapi kalau belanja saja besanku ini masih nawar sama tukang sayur.Aduh...pelitnya juga terkenal di desa.Pelit bin medit.Moga saja Nak Reza ga nuruni kikirnya.Amit2...kalau sampai nuruni bisa2 Intan kekurangan makan di rumah segede ini.Lagak boleh kaya tapi kelaparan.Moga ga deh...'
Akhirnya Notaris Samuel sampai pada bagian selanjutnya,"Bahwa,harta kekayaan sebagaimana yang tersebut dalam daftar diatas pada saat ini tidak sedang terlibat dalam sengketa hukum apapun."
Isda juga menambahkan,"Saya juga tidak pernah menjadikannya sebagai jaminan jenis hutang apapun.Amit2 punya hutang.Ga level banget!!"
Samuel cuma memandang dah hafal dia betapa suka pamernya Isda,"Bahwa,harta kekayaan sebagaimana yang tersebut di daftar tadi dimaksudkan untuk dihibahkan sebagai wasiat saya kepada nama2 beserta bagiannya masing2 yang saya cantumkan dibawah ini.Tapi..."
Semua heran mendengar ada kata 'tapi',Samuel memandang pada Reza,"Nak Reza tahu kan bahwa mendiang papa Nak Reza memberikan syarat khusus pada Nak Reza selaku putra sulung untuk bisa mendapat bagian warisan?"
 Reza hendak menjawab tapi udah kedahuluan sama Intan yang heboh panik ria,"Syarat?Masak mau mengambil haknya sendiri pakai syarat sih?Ayah macam apa itu?"
Reza menoleh ke isterinya,"Yang ditanya itu aku,bukan kamu.Jadi kamu mending diam saja.Bisa?" Rita malu sekali dengan kelakuan putri bungsunya,"Iya nduk,kamu diem aja.Dengerin aja jangan komentar apa2."
Intan malah mencak,"Nduk..nduk!Emang aku pembantu apa dipanggil nduk!Ibu harus inget ya aku ini nyonya muda di sini.Isteri pewaris harta yang banyak tadi itu.Huhh!!"
 Evi hendak menegur adiknya tapi dihalangi ibunya,"Udah biarin aja.Ibu gpp.Dah biasa."
Reza memandang ke arah Isda,"Mama memang pernah cerita tapi ga terlalu detil.Mungkin sebaiknya Om paparkan lagi syarat dari papa itu sebenarnya kayak apa dan kenapa bisa sampai bersyarat gitu.Reza ingin tahu Om."
Samuel mengambil sebuah surat dan memberikannya pada Reza,"Ini surat untukmu dari papamu.Ini hanya copian karena yang aslinya dipegang oleh mamamu.Om memberikannya pada mamamu usai papamu meninggal.Bacalah di ruangan lain."
Reza menatap mamanya,"Mengapa Mama ga berikan yang asli ke Reza Ma?"
Isda berkilah,"Mama lupa naruhnya dimana udah lama sekali.Maaf sayang..."
 Namun dalam hati Isda meradang,'Suratnya aku remas2 dan kuinjak2 sampai kucel.Aku sebel sama Hamdan.Dia ngasih syarat ke anakku seakan dia ga yakin kalau Reza itu anaknya.'
           Reza berdiri dan membaca surat dari Notaris Samuel di ruangan lain.Tanpa ia sadari sosok lain mengikutinya.Ya Irwan mengikuti langkah Reza,langkah kakaknya itu.Reza membaca surat dari ayahnya sambil menahan tangis,'Papa...aku ga masalah papa punya anak lain,aku ga masalah harta mau dibagi jadi berapa.Aku hanya ingin papa bilang kalau papa sayang sama Reza...itu aja.Selama ini papa yang selalu jenguk Reza di kota.Bawa mainan buat Eza...Eza akan lakukan apapun mau papa...'           ***see you next eps***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar