Cerpen ke-4 *** MEMINTA BINTANG UNTUK LANGIT ^^^

Cerpen ke-4 : MEMINTA BINTANG UNTUK LANGIT 
          Sudah larut malam namun Langit masih belum juga tidur.Langit adalah anakku yang kini sudah TK.Aku dekati dia yang sedang asyik melihat film Teletubbies,"Langit ...udah malam tidur yuk!"
 Dia malah menunjuk ke layar hp,"Bu!Lala jatuh!Kayak Langit ya?Jatuh he..he..." Aku memandang iba pada putraku itu,"Lutut Langit masih sakit ya?Sini biar Ibu lihat lututnya." 
Kuraih dia dalam pelukanku,"Lain kali ga usah main keluar ya?Anak2 di sini nakal2.Langit mainnya di sekolah aja ya?"                                                                    Anakku memang agak terlambat pertumbuhannya sehingga tak heran bila dia tak seperti anak seusianya.Kata dokter anakku hiperaktif.Sebenarnya Langit sudah dinyatakan tidak ada dalam rahimku kala mau dilahirkan.Betapa nelangsa aku waktu itu.Mas Irwan,suamiku sampai terduduk lemas mendengarnya.Empat tahun menanti seorang bayi menghiasi rumah kami namun begitu mau dilahirkan malah sudah tak ada.Aku menangis memandang suamiku,"Ga mungkin Mas.Ini ga mungkin.Tuhan sudah berjanji akan memberikan kita anak bukan?"
         Suamiku orang yang bijaksana,ia juga begitu setia mendampingiku bahkan meski aku belum hamil juga,ia tetap mencintaiku.Ia memegang tanganku,"Takdir Vi.Tuhan yang memberi Tuhan juga berhak mengambilnya.Ikhlaskan Vi."
 Aku ingat betul bagaimana aku melihat ke langit2 ruangan rumah sakit waktu itu,"Tidak Mas!Penguasa Langit sudah berjanji memberi kita anak.Aku sudah berdoa berkali2 Mas.Aku selalu bermimpi melihat langit nan indah Mas.Aku tidak melihat bayangan kegelapan.Tidak!" 
Dokter datang,"Maaf ibu harus dikiret.Mari ke ruangan operasi." 
Sepanjang menuju ke sana aku berdoa sambil menangis,kuelus perutku,'Tuhan,jangan ambil putraku.Aku sudah keguguran berkali2,kumohon jangan ambil dia.Berikanlah kehidupan aku mohon.Jangan berikan pada bayiku kematian.Aku minta kehidupan.Hanya dalam nama-Mu aku mohon.' 
Dengan iman aku mengelus perutku lalu berkata,"Kau akan lahir Nak.Kau akan hidup." 
Dokter memeriksa aku sekali lagi memastikan bahwa benar janin di dalam perutku memang sudah tiada namun ia terkejut kala memeriksa perutku dengan alat USG,"Bagaimana bisa?Denyut jantungnya kembali ada!Ajaib!Siapkan peralatan persalinan!!Bayinya masih bisa diselamatkan!!" 
Aku mengucap syukur pada Tuhan,'Akan kuberi nama-Mu jika dia lahir nanti.Aku janji.Terima kasih.'
         Demikianlah akhirnya bayiku lahir,tangannya biru dan ia mengigil karena terlalu lama berada dalam rahimku,segera kupeluk dia.Dokter lega,"Selamat Ibu!Anaknya laki2.Ini keajaiban dari Langit."
 Iya keajaiban dari Sang Penguasa Langit dan Bumi,aku menangis kala jemari kecil bayiku bergerak2.Suamiku datang,"Ini ajaib Vi.Anak kita hidup.Langit memberi kita keajaiban." 
Aku memandang Mas Irwan yang nampak membelai putranya,"Mas namanya Langit saja ya?Dia putih dan lihat tangannya kebiruan.Matanya juga biru seperti bule.Matanya seperti langit yang biru." 
Suamiku setuju,"Iya namanya Langit.Langit Ervan Pratama.Artinya Langit anak pertama Evi dan Irwan.Bagus kan?" 
Aku tersenyum kala Mas Irwan mencium keningku,"Terima kasih sudah bersedia menjadi ibu bagi anak2ku."
       Aku memandang penuh haru padanya,justru akulah yang harus berterima kasih karena dia begitu sabar padaku.Berkali2 membelaku kala orang2 menghinaku karena keguguran terus.Empat tahun bak dalam neraka,namun setelah Langit lahir hatiku damai luar biasa.Walaupun dokter memberitahu bahwa Langit mungkin tak akan sama dengan anak2 lain tapi bagiku yang penting dia hidup.Mas Irwan sayang banget sama Langit.Dia selalu bawa oleh2 kalau pulang kerja.Entah mainan entah makanan.Namun benar kata dokter,Langit berbeda.Dia anti sosial.Dia tak suka bermain seperti anak kebanyakan.Dia pendiam.Belajar ngomong juga baru setahun terakhir ini itupun kadang ga nyambung.Ditanya ini jawabnya itu.Dia suka sekali lihat video Teletubbies.Dia sebenarnya senang bermain tapi dia selalu dijauhi kadang di anggap aneh bahkan pulang sambil menangis,"Ibu!!Langit ga boleh ikut main!!Ibu!!" 
Aku yang sedang menyapu halaman depan kaget,"Langit kok nangis?Kenapa?" Langit malah lari ke kamar terus lihat videonya lagi,"Langit lihat Lala sama Poh aja.Ga ada yang mau main sama Langit."
       Kasihan putraku.Akhirnya kalau dia main aku ikut bersamanya dan memang dia selalu dikucilkan.Dianggap anehlah.Makhlum secara fisik dia sama tapi secara psikis dia masih terlambat.Aku melamun sambil membelai kepala putraku,bunyi motor menyadarkanku,'Mas Irwan pulang.' 
        Kulihat Langit sudah tidur,kuselimuti dia.Lalu aku menuju pintu.Terdengar suamiku memanggilku,"Bu!" 
Sejak punya Langit kami jadi biasa menyebut ibu dan ayah sebagai panggilan agar Langit terbiasa. Aku menjawab,"Iya." 
Mas Irwan memang dapat shift siang jadi pulangnya malam,"Langit sudah tidur?" Aku lihat ia bawa oleh2,"Sudah baru saja.Tadi dia jatuh Yah.Main sama anak tetangga." 
Mas Irwan membelai kepala Langit,"Anak Ayah kasihan pasti sakit ya?Main di dalam rumah saja ya.Ga usah main diluar." 
Kubuatkan kopi kesukaannya,"Kasihan dia Yah.Ga punya teman main.Kalau main diluar paling juga main sendiri." 
Mas Irwan malah bilang gini,"Gimana kalau kita kasih teman main?" 
Aku tahu maksudnya,"Tapi kalau nanti hiperaktif lagi bagaimana ?Ayah nanti akan dihina lagi.Aku masih takut.Temanku yang punya anak kayak Langit juga pilih ga mau punya anak lagi.Dah cukup katanya punya anak berkebutuhan khusus."
 Mas Irwan berganti baju,"Belum tentu sama Bu.Bisa beda.Kita ga boleh pesimis."    
       Aku terus memikirkan ide Mas Irwan.Beberapa hari kemudian suatu malam sembari menunggu suamiku pulang kerja,aku melihat langit bersama putraku,"Bu lihat banyak bintang di langit.Langit yang itu punya banyak teman ya Bu?" 
Aku miris mendengarnya,"Langit yang disini juga akan punya teman sayang." Langit menunjuk ke angkasa,"Langit ingin punya bintang seperti langit disana Bu.Bintangnya banyak.Temannya banyak.Boleh ga minta bintangnya satu?" 
Aku memandang ke atas,"Pasti boleh.Kan Tuhan punya bintang banyak tuh.Yuk kita berdoa minta pada Tuhan."
         Langit memejamkan mata mengikutiku.Aku lalu berdoa,"Tuhan,kami datang pada-Mu.Bukankah Kau Tuhan yang baik.Yang tahu memberi yang baik pada ciptaan-Mu.Tuhan kami meminta berikanlah kepada Langitku bintang ya Tuhan.Supaya ia punya teman ya Tuhan.Seperti langit-Mu yang penuh dengan bintang.Indahkanlah Langitku ya Tuhan,Penguasa Langit dan Bumi." 
Dalam iman aku menutup doaku,"Terima kasih buat bintang yang Kau beri.Terima kasih buat bintang yang indah bersinar.Terima kasih Tuhan.Amin." 
Langit juga berkata,"Amin." 
         Aku kian yakin sejak itu bahwa Langit membutuhkan adik.Akhirnya aku berkata pada Mas Irwan,"Yah...aku ingin punya anak lagi.Aku ingin Langit punya teman main." 
Suamiku meraihku dalam pelukannya,"Akhirnya hatimu terketuk juga." 
         Akhirnya kabar baik datang.Aku hamil lagi.Perutku besar sekali.Suamiku menyiapkan dana buat kelahirannya.Banyak yang mencemooh aku katanya apa aku ga bakalan repot nanti ngurus dua anak aneh.Aku ga dengerin mereka.Biar saja.Tuhan akan memberi yang terbaik.Dia tahu memberi yang terbaik.Lewat Langit Tuhan mengubah sifatku yang dulu emosional menjadi penyabar.Dan aku percaya Tuhan juga sayang pada Langitku.Tuhan menjawab keyakinanku pada-Nya,anak keduaku lahir dengan kondisi normal jiwa dan raga.Lahir dengan cesar di sebuah RS terbaik di kota kami.Berat 3,7 kg.Meski dia agak hitam kayak aku tapi dia satu2nya laki2 di antara bayi2 yang lahir waktu itu.Atas persetujuan suamiku kuberi nama Bintang Aditya.Bukan hanya memberi cahaya kebahagiaan,sejak Bintang lahir keadaan Langit juga mengalami kemajuan.Ia mulai bisa mengikuti pendidikan di sekolah.Walau didampingi guru pendamping namun secara akademis dia diatas rata2.Aku bersyukur pada Tuhan.Bahkan kini setelah 3 tahun berlalu sejak Bintang lahir aku masih terus bersyukur.Melihat Langit main kejar2an dengan Bintang di halaman sekolah sungguh membuat aku terharu.Langit berteriak,"Ayo Bintang!Kejar aku!Ayo!!" 
Bintang dengan tubuh ipel2nya berlari mengejar kakaknya dengan tawa riang,"Kejar!Kejar!!Ha..ha.." 
Guru2 dan anak2 yang lain sampai takjub,"Wah anak2nya ganteng ya Bu.Pinter2 lagi.Gemesin banget."
 Eh yang jawab komentarnya malah suamiku yang baru saja datang dari shift malam,"Siapa dong ayahnya he..he.." 
Aku jadi malu kala suamiku merengkuhku dan berkata,"Terima kasih ya sudah memberiku langit dan bintang yang indah." 
Aku memandangnya,"Terima kasih pada yang empunya langit Yah..." 
Langit dan Bintang seneng banget lihat ayahnya datang menjemput,"Ayah!!Ayah!!"      
Mereka langsung nemplok ayahnya.Tuhan terima kasih.Kau sudah memberi bintang bagi langitku.Kini Langitku punya teman.***The End*** 

CERPEN KE-38 ***AIBKU DIANGKAT^^^

□¤□ CERPEN KE-38 FROM IIS'S COLLECTION :
 AIBKU DIANGKAT
       Hari sudah sore,sudah tiba saatnya jualan pakaian di tepi jalan.Ditemani Nek Ijah,seorang perempuan tua yang terlantar yang kutemukan di tepi jalan.Kasihan Nek Ijah,dia kebingungan gitu.Tega amat keluarganya membiarkan dia di jalanan sendirian.Hampir saja ditabrak kendaraan kalau tak segera kutarik ke tepi.Ya ampun ternyata ga cuma aku orang yang merana di dunia ini.Kuambil jaket tebal juga selimut tebal dan kasur tipis buat alas tidur Nek Ijah nanti.Sebenarnya aku ga tega bawa Nek Ijah ikut jualan tapi Nek Ijah juga ga mau di rumah sendirian.Ia mau selalu didekatku.Akhirnya aku ngalah,"Baiklah Nenek ikut tapi nanti pakai jaket ya...udara di luar kan sangat dingin."
         Nenek Ijah seneng banget,ia segera membantuku menata dagangan yang mau kubawa.Kutaruh semua dalam gerobak,untunglah ga begitu jauh perjalanan ke sana,ke lokasi aku biasa magrok.Sebuah emperan toko di tepi jalan besar,jalan dimana aku dulu nemuin Nek Ijah.Jalan itu ramai dan biasa dilewati bus2 besar bahkan trailer.Banyak pedagang makanan di sekitar situ.Ga perlu susah2 cari makan.Nek Ijah segera membantuku menata dagangan begitu tiba di lokasi.Dekat palang kereta jadinya banyak orang yang suka mampir sambil nunggu kereta lewat.Lumayan hasilnya.Aku jual aneka baju sekolah,hem,kaos,celana hingga kaos kaki.Ada pedagang lain yang baik hati kasih tebengan lampu dan bantu aku nata meja gelaran dan tenda.Aku tetap membayar karena aku ga mau berhutang lagian dia juga keluar tenaga untuk itu.Beginilah susahnya bila tak punya laki2 dalam hidup.Aku ini janda.Tak punya anak lagi.Suamiku pingin banget punya anak dan aku juga dah periksa diriku ke dokter.Awalnya memang ada kistanya di ovariumku.Tapi sudah dioperasi.Rahimku normal.Aku dilarang dokter makan taoge dan kangkung selama kistanya masih ada katanya malah bikin kistanya berkembang.Habis 20 juta buat operasinya.Aku sampai keluar dari kerjaanku demi bisa punya anak.Istirahat pikiran.Aku juga selalu menyediakan waktu untuk puasa memohon kemurahan Tuhan agar membuka kandunganku.Namun malah suamiku selingkuh sama pembantu di rumah majikannya.Suamiku sopir truk di sebuah peternakan sapi.Kerjaannya antar sapi ke pesanan lalu balik ke kandang.Kadang nginep gitu di rumah juragannya.Ga sangka malah selingkuh dia.Bahkan dia membela diri atas perbuatannya,"Lha kamu ga bisa kasih aku anak.Makanya aku selingkuh.Harusnya kamu itu yang introspeksi diri jadi wanita kok mandul!Ga bisa bahagiain suami,ga dipercaya sama Tuhan itu namanya!!"
        Aku tertegun mendengar ucapan suamiku kala itu,sia2 aku menjaga hati selama bertahun2 pernikahan kami.Selalu saja aku yang disalahkan,dia sendiri ga mau periksa ke dokter.Katanya dia itu sehat selalu.Sudah pernah periksa.Ga masalah katanya.Malah katanya aku tuh ga bawa hoki bagi dia.Sejak menikah sama aku kehidupannya kian merosot.Aku usap air mataku,mengenang masa2 bagaimana aku bantu keuangan keluarga sampai jualan aneka makanan kecil dirumah.Dia malah hambur2kan uang buat judi.Aku dah nasehati malah uang hasil jualan dia ambil buat hobbynya itu.Kalau ga dikasih dia akan menceraikan aku,"Kamu tahu ga Mel,aku tuh mau nikah sama kamu karena kupikir kamu bakal dapat bagian sawah dari keluargamu.Eh ternyata cuma dapat sepetak doang!Kupikir aku bakal hidup senang dapat kamu.Malah kamu keluar dari kerjaan.Sial!!"
 Udara malam kian dingin,Nek Ijah menyentuh pundakku,"Mel,ada yang beli itu."
Aku segera mengusap air mata di ujung mataku,"Oh ya sampai ga gagas aku Nek.Nenek istirahat saja di dalam gerobak.Selimutnya dipakai ya?Biar Imel yang layani pembeli."
          Nek Ijah mengangguk dan segera memakai menuju ke sana.Gerobaknya jadi kayak kamar darurat gitu.Kututupi dengan terpal biar hangat.Kubawa bantal juga biar nyaman tidurnya.Kulayani pembelinya,"Cari apa mb?...oh seragam sekolah ya?SD ya ?Sebentar ...."
          Lumayan laku beberapa stel. Aku melihat penjual bakso lewat,"Bang,dua mangkuk ya!"
Aku segera menuju gerobak,"Nek!Ada bakso!Yuk makan dulu.Enak pasti lagian Imel juga bawa nasi kok.Apalagi udaranya kayak gini pasti enak makan yang panas2."
Wah Nek Ijah seneng,"Kamu perhatian ya ...Nenek seneng deket sama kamu."
         Kamipun makan bersama.Aku sayang sama Nek Ijah,mengingatkanku akan ayah ibuku yang telah tiada.Semua saudaraku sudah mikir keluarganya masing2.Sejak bercerai dari suamiku yang tukang judi,aku memilih hidup sendiri.Mantan suamiku jelas sama selingkuhannya.Sudah menikah mereka tapi belum punya anak juga.Aku melihat Nek Ijah makan dengan lahap,"Nenek suka bakso ya?"
Nek Ijah malah cerita,"Dulu aku punya anak angkat yang sangat baik.Dia selalu sayang sama aku.Selalu ngajak jajan bakso.Tapi dia kemudian kerja di luar kota,aku ikut anak2ku sendiri malah disia2.Aku kerap kelaparan,malah kemudian aku ditinggal di jalanan."
Aku heran kok ada yang tega gitu sama ibu kandungnya,"Nenek ikut Imel aja.Imel juga sendirian kok.Tapi ya gini hidupnya sederhana.Gpp ya?"
 Nek Ijah malah membelai wajahku,"Kamu itu kayak anak angkatku,baik orangnya.Nenek seneng ikut kamu,maaf ya ngrepoti dan bebani kamu."
Aku tersenyum padanya,"Gpp Nek.Imel malah seneng kok.Ada yang nemeni.Gpp ya nenek tinggal sama janda kayak Imel.Janda dicerai karena mandul lagi."
Nenek malah juga tersenyum,"Anak yang durhaka malah mendukakan hati,syukuri saja setiap keadaan kita.Tuhan itu selalu memberi rancangan yang baik buat kita.Nenek juga ga mau balik lagi ke anak2 kandung Nenek,makan hati.Semua cuma baik pas ada maunya.Mikir warisan aja.Begitu dah dibagi nenek malah jadi kayak bola dioper sana dioper sini.Andai saja anak angkat Nenek kembali.Biasanya tiap 3 bulan dia datang jenguk Nenek."
Ada pembeli lagi,aku segera ke depan,"Bentar ya Nek..ada yang beli."
        Pembelinya sepasang suami isteri,aku lihat mereka ribut gitu.Ribet nawar dan sangat kasar,"Udah segini aja harganya kalau ga mau ya udah!!Barang ginian aja kok mahal amat!"
Aku coba meredam suasana,"Memang sekarang apa2 naik mb,itu sudah harga pas.Kualitasnya bagus kok..."
 Eh malah yang pria nyeletuk,"Barang pinggir jalan mana ada yang bagus...ihh.."
            Astaga aku tuh rasanya pingin ngusir mereka,ga beli gpp tapi jangan menghina.Eh malah kaget aku kala Nek Ijah kenal sama tuh dua orang,"Kalian??"
Yang wanita kaget,"Ibu?Kok ada di sini bukannya ibu harusnya sama Mas Marno?"
Eh Nek Ijah malah nangis,"Kalian tega ya sama ibu kandungnya sendiri.Ini balasannya kasih sayang ibu selama ini?Setelah dapat warisan semua ga mau ngurus ibu.Ibu ga akan ganggu kalian lagi.Kalian tenang saja."
Bukannya minta maaf malah mereka segera cabut,"Nanti kami akan bilang sama Mas Marno Bu.Kami pergi dulu..."
           Wei...udah ga beli,ngeselin malah ninggalin ibunya tanpa tanya gimana kondisi ibunya.Dunia memang sudah kebalik2.Aku peluk Nek Ijah,"Sabar ya Nek.Udah Nenek sama Imel aja.Kita hidup sepenanggungan.Imel seneng kok ditemeni Nenek.Ayo masuk ke dalam aja.Dingin."
           Kereta lewat dan aku senang memperhatikannya.Jadi ingat mendiang ayah,"Mel,kamu itu kalau menjalani hidup belajar dari kereta.Mereka itu selalu ikuti trek.Ikuti relnya.Kamu jangan keluar dari jalurmu.Teteplah jadi orang yang baik,hidup dengan nilai2 yang baik dan tetep percaya pada kebaikan Tuhan.Niscaya kamu akan bahagia."
            Begitulah nasehat ayahku yang selalu kuingat.Meski hidup sering tak sesuai rencana aku tetap menjalani dengan tabah.Meski sampai kini aku dikenal sebagai perempuan ga bisa punya anak,janda lagi dan jadi gunjingan orang,aku akan tetap bersyukur masih bisa nolong orang,punya penghasilan,bekerja dengan tanganku dan melakukan kebaikan.Aku merawat Nek Ijah dengan riang,seakan menjaga ibu kandungku sendiri.Malah aku manggilnya ibu sekarang.Kalau pagi aku jualan kue leker depan rumah.Kebetulan rumahku deket sekolahan.Anak2 pada suka.Murah lagi.Ibu Ijah bantu bikin adonannya.Aku menikmati hari2ku dengan sukacita.Hingga suatu malam,sebulan setelah kejadian dengan anaknya Bu Ijah.Tiba2 sebuah mobil hitam berhenti didepan tempat aku jualan.Tumben orang kaya mau beli pikirku.Bu Ijah sedang makan di dalam,seorang pria berpakaian rapi,kemeja putih lengan panjang berkulit bersih dan wajahnya penuh wibawa gitu keluar dari mobil itu.Ia membawa hp dan mendekatiku,"Permisi.Mb pernah lihat ibu ini tidak?Kata saudara saya dia terakhir ketemu ibu saya ini di jalan ini."
         Dia menunjukkan hpnya ada foto seorang wanita di sana dan wanita di foto itu adalah Bu Ijah.Aku terpana,begitu juga dia karena kemudian Bu Ijah muncul,"Iswan!!"
Mereka berpelukan gitu,"Ibu!!"
Aku sampai terharu melihatnya,Bu Ijah mengenalkanku dengan pria itu,"Ini anak angkat ibu.Iswan namanya.Iswan ini Imel,dia yang nampung ibu selama ini.Dia itu sangat baik sama ibu."
 Kujabat tangan Mas Iswan,"Imel.Silakan duduk Mas...maaf adanya cuma tikar..."
           Jabatan tangannya hangat dan hatiku berdebar entah kenapa.Mereka lalu ngobrol.Malah sampai aku tutup warung.Mas Iswan juga bantuin aku,"Terima kasih ya sudah menjaga ibu saya.Saya sungguh sangat berhutang budi pada mb."
           Mas Iswan jadi sering main ke rumahku.Nengok ibunya.Rupanya ia dipindahtugaskan ke sini.Ia mengajak ibunya ke rumah dia.Aku sempat dengar pembicaraan mereka,"Ibu ikut Iswan ya?Iswan sengaja minta pindah ke kota ini demi bisa jaga ibu.Iswan dah dengar semua soal ibu yang disia2.Ibu ikut Iswan aja ya?Masak mau merepotkan Mb Imel terus...ya bu ya?"
Ibu Ijah malah nanya,"Nanti ada yang ga suka ibu di rumah kamu?"
Mas Iswan malah ngekek,"Iswan kan belum punya isteri Bu.Iswan pasti akan minta restu ibu kalau mau nikah.Iswan sangat menghargai ibu."
          Aku sedih juga ditinggal Ibu Ijah.Namun kemudian Ibu Ijah sering main ke tempatku malah kalau pagi dia diantar mas Iswan ke rumahku.Kalau malam dia datang sama anak angkatnya itu nemeni aku jualan.Katanya dia khawatir sama aku.Kangen sama aku.Aku malah jadi deket sama Mas Iswan.Hatiku berbunga2 kalau deket dia.Tapi aku sadar aku ga boleh berharap lebih karena aku ini terkenal sebagai perempuan mandul.Aku ga mau mengecewakan siapapun lagi.Berkali2 Mas Iswan mengutarakan isi hatinya padaku tapi aku selalu menolaknya,"Mas,aku ini ga pantas sama Mas...Mas ini layak dapat perempuan yang lebih baik,yang bisa kasih anak...bukan janda kayak aku...aku ga mau Mas nyesel nanti..."
Tapi dia kekeh,"Aku akan nunggu sampai kamu mau Mel...aku akan menunggu..."
          Aku heran sama dia,usiaku tuh mau kepala 4 dah mau lewat masa suburnya.Kekeh aja dia mau nikahi aku.Aku terus menolak dengan halus hingga kemudian aku dengar dia jatuh sakit.Kena DB.Ya ampun,aku panik sekali.Aku cemas bukan main.Nungguin dia di RS.Trombositnya malah turun terus.Aku sampai berdoa pada Tuhan,"Apapun akan kuberikan Tuhan,asal sembuhkan dia.Aku mohon...aku sayang dia.Aku mencintainya...walau aku sadar aku ga pantas mencintainya..."
Ibu Ijah berkata padaku,"Keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan...Iswan itu biasanya ga mudah sakit,tapi kalau sedih dia langsung drop.Tanyalah sama dia apa yang bikin dia sedih..."
Aku menuruti kata Ibu Ijah,namun aku ga sangka Mas Iswan malah melamarku di rumah sakit,"Aku sedih Mel...kamu nolak aku terus.Aku mohon terima lamaranku ya?Please..."
Dokter dan perawat senyum2 ke arahku,"Rupanya trombositnya ga naik2 karena masalah cinta ya?Hmm..."
 Aku malu juga diliatin tapi kemudian aku terima lamaran itu,"Janji ya Mas akan semangat untuk sembuh...janji sama Imel ya?"
       Mas Iswan gembira sekali aku terima lamaran dia.Langsung kondisinya membaik dengan cepat,dokter sampai heran,"Wah ini toh kekuatan cinta...the power of love...he..he.."
Tak lama usai masa penyembuhan dan pemulihan kami menikah.Dan akupun diboyong ke rumah Mas Iswan.Semua tetangga pada heran aku dapat pria mapan,baik dan goodlooking lagi.Tapi aku lebih terpana lagi kala mas Iswan membawaku ke dokter beberapa minggu kemudian.Aku merasa ga enak badan,kupikir masuk angin aja lha kok malah dinyatakan positif hamil,"Ah dokter bercanda ya?"
Dokternya malah heran,"Lho ini bener Bu...saya sudah tes dengan urinenya juga...begini saja tunggu sampai janinnya tumbuh.Baru di USG...lihat apa saya bercanda atau tidak."
Mas Iswan malah hepi banget,"Aku jadi ayah yesss!!Makasih Tuhan!!"
        Aku masih ga percaya,masih deg2an dan keheranan.Aku pikir aku mandul.Lha kok baru beberapa minggu nikah sama Mas Iswan dah hamil.Kok dulu sama mantan suami pertamaku,aku ga hamil2 ya?Tetanggaku juga pada heboh denger aku hamil,"Paling itu kista dikira janin.Apa tumor gitu..."
Namun ibu mertuaku,Bu Ijah menyemangatiku,"Biasa orang itu ga suka lihat orang lain bahagia.Jangan terlalu dipikirkan.Semua adalah karunia Tuhan."
          Perutku kian besar dan diUSG bener ada janinnya.Aku lega.Rasa syukur tak putus kupanjatkan ke hadirat Tuhan atas pemberian-Nya.Walau gitu para tetanggaku masih saja menghembuskan berita miring,"Ada bayinya belum tentu bisa lahir kan dia udah mau kepala 4 itu,usia rawan buat melahirkan.Paling anaknya mongoloid kena down syndrome.Malah ngeri.."
Aku jadi cemas juga tapi Mas Iswan menghiburku,"Jangan banyak pikiran sayang...meskipun apapun kondisi yang terjadi nanti aku akan tetap mencintai kamu dan anak kita...Aku takkan tinggalkan kalian.Jangan cemas ya ibu muda...he..he..mikir itu yang bagus2 aja.Lihat nih foto2 aku.Mikir aja kalau anaknya bakal seganteng ayahnya he..he..kalau laki kalau cewek nih lihat foto kamu...cantik kan?Jangan masukin hal2 yang merusak ketenangan hatimu apalagi lagi hamil.Itu ga baik buat janin.Ok?"
        Aku lebih tenang mendengar ucapan Mas Iswan.Setiap hari aku lebih fokus berdoa dan memikirkan hal yang baik,yang mulia,yang manis dan yang sedap didengar.Aku malah makan terus.Ibu Ijah terus menjagaku.Dan anakku lahir dengan kondisi baik.Tidak down syndrome atau apapun itu.Ia sehat,laki lagi.Jagoan dan ganteng kayak ayahnya.Mas Iswan gembira sekali.Aibku diangkat oleh Tuhan.Aku bisa hamil dan melahirkan anak.Aku ketemu sama mantan suamiku pas di mall,dia kaget lihat perut aku besar dan Mas Iswan gendong anakku,Iswandi yang saat itu sudah 2 tahun usianya,"Imel?Ini beneran kamu?Kamu hamil ?Berapa bulan Mel?"
Aku jawab,"Iya Mas..aku hamil jalan 5 bulan.Anak kedua.Itu anak pertamaku!"
Kukenalkan dia pada Mas Iswan,mereka bersalaman.Aku lalu nanya,"Lha anak mas sudah berapa?Isteri mas mana?"
Eh dia malah menggeleng,"Belum Mel.Isteriku belum hamil sampai sekarang.Malah dia kena kanker serviks.Dia sedang opname sekarang.Aku kemari cari kebutuhan dia buat di RS sekalian belanja keperluan rumah.Maafkan aku ya Mel dulu aku nyebut kamu perempuan mandul.Ternyata akulah yang ga bisa punya anak."
           Aku kaget ya ampun,dia alami banyak hal.Dia lalu bergegas pergi dengan wajah yang jauh lebih pirus dari dulu saat masih menikah denganku.Aku melahirkan anak kedua juga dengan baik meski cesar.Tuhan mengangkat aibku ga tanggung2,aku bahkan dibuat takjub atas perbuatan-Nya.***The End***

CERPEN KE -26 *** CRIME INSIDE^^^

CERPEN KE -26  : CRIME INSIDE
            Dini hari sudah menjelang.Waktu dimana lagi nikmat2nya orang tidur sebenarnya.Namun tidak bagi seorang pria yang bekerja di sebuah restoran fast food.Restoran 4 lantai itu memang menyediakan menu ayam kriuk sebagai menu utama.Selain itu lantai 3 ada kafe.Lantai 4 bisa disewa buat pameran.Lantai 2 nya biasanya buat acara Nobar alias Nonton Bareng bagi para fans klub sepakbola atau bila ada live siaran yang menarik di tv.Disanalah Jona bekerja sudah 5 tahunan sekarang.
            Dulu Jona pernah kerja selama 15 tahun di sebuah restoran fast food terkenal di Jakarta.Namun Bossnya kesandung masalah,colapse kerjaannya.Uang pesangon dibawa kabur sama dia.Buat bersenang2 sama artis ternama katanya.Jona seorang pekerja keras,dia rajin dan mau kerja apa aja.Ia sadar usianya sudah kepala 4 jadi mau cari kerja ga mudah.Kebanyakan batas umur karyawan yang diterima kerja kan 35 tahun.Jadi ia berusaha agar ga mengecewakan atasannya.Biar bisa menghidupi keluarganya.Ia ga mau isterinya kerja.Itu sudah jadi prinsipnya,pria itu memberi nafkah.Dulu saat ketemu isterinya sebelum nikah,isterinya itu kerja jadi kasir di sebuah tempat hiburan ternama.Kalangan artis yang biasa mampir sana.Gaji isterinya seminggu aja sama dengan gajinya selama sebulan.Namun ia tetap berprinsip,"Rin,kalau kamu mau kita nikah kamu harus nurut sama aku.Kamu harus keluar dari kerjaanmu.Biar aku yang kerja banting tulang.Aku ini pria.Itu sudah tugasku menafkahi keluarga.Aku ingin kamu di rumah saja merawat anak2 kita kelak."
            Ririn,nama isterinya akhirnya setuju lagian dia juga hampir kepala 3.Mereka menikah dan kini sudah dikaruniai dua orang jagoan nan gemesin.Jona sayang banget sama kedua buah hatinya.Itulah yang makin bikin dia semangat kerja.Tak jarang ia kerja sampai melebihi standar jam kerja pada umumnya yang 8 jam kerja.Ia bisa kerja sampai 12 hingga 15 jam kerja dengan ga ada hitungan lembur.
            Semua ia lakukan demi tetap dipakai sebagai karyawan di sana.Ia pernah protes sebenarnya kenapa ga ada hitungan lembur namun malah diancam sama pimpinannya,"Kalau ga mau kerja selama itu ya jangan kerja!Lihat itu Pak Kasno juga kerja selama itu."
Jona akhirnya ga pernah protes lagi.Padahal secara posisi Pak Kasno dan dia beda jauh.Pak Kasno kan Kepala Bagian ya jelas gajinya beda sama dia.Kok jam kerjanya disamain?Apa karena dia udah tua ya?
             Anehnya lagi tiap dia libur pasti diadakan meeting.Diapun harus datang ke kerjaan.Mending kalau 1 atau 2 jam aja lamanya eh hampir setengah hari lho meetingnya.Lelah dan ngantuk banget rasanya.Heran dia siapa juga yang bikin jam meeting begitu.Kalau di tempat kerja lamanya dulu kayak gitu ga boleh.Pasti ada uang khusus buat karyawan yang disuruh masuk pas hari liburnya.
Saat meeting kalau ga fokus,pimpinannya,yang namanya Bu Annissa akan melempar dia dengan kertas yang udah digulung2 jadi bola.Dilempar ke arah dia depan semua leader lainnya,"Jona!!Kamu kok ga fokus sih??!!"
            Gimana mau fokus,dia kelelahan tingkat dewa.Udah dapat shift malam eh waktunya tidur disuruh meeting.Ya ngantuk.Semua menertawakannya.Dia tahu mereka pada seneng kalau dia dipermalukan.Semua sikap teman2nya berubah sejak mereka tahu kalau ibu mertuanya beda keyakinan sama dia.Saat ibu mertuanya meninggal,teman2nya datang melayat dan kaget lihat ternyata beda agama ya.Emang dia dan isterinya beda keyakinan.Atasannya langsung,seorang janda namanya Bu Ria langsung jadi berubah sikap sama dia di kerjaan.Tiap ada masalah di kerjaan yang berhubungan sama dia pasti nama isterinya disebut,"Kamu itu kenapa sih pingin cepet pulang?Selesain dulu dong kerjaannya!Pasti isterimu nelpon lagi ya?Suruh dia mandiri dong,belajar naik motor biar bisa ngantar anaknya sekolah.Dasar!"
             Isteri Jona emang ga bisa naik motor namun semua kakak2nya juga sama.Mereka pada ga berani bawa motor di jalan raya.Padahal kalau secara ekonomi mampu beli motor tapi tetep aja pada ga berani bawa di jalanan.Jona cuma batin,'Padahal aku dah 12 jam lebih kerja masak ijjn bentar buat nganter anak sekolah aja ga diijinin sih?Paling cuma setengah jam juga.Kasihan isteriku kan dia masih ngurus anak keduaku.Masih kecil si bungsuku.Ga tega aku.Ririn emang dah biasa mandiri sejak kecil,dia mah ga mau ganggu kerjaan aku.Dia bisa ngantar naik bus atau jalan kaki.Dah biasa dia,akunya yang ga tega.Masak kerja begini lama sih sampai ga punya waktu buat keluarga?Sedih bener...'
            Malah pernah mereka berkomplot dengan bagian crew yaitu Sri dan Nana untuk menjebak dia.Jona emang kecapekan sehingga dia kadang lupa naruh barang.Salah satunya kunci gudang.Sri nemuin kunci itu dan disembunyikannya.Lalu dia memberitahu Ria agar ngadain meeting.Saat itu Jona jelas panik kehilangan kunci tersebut mana dibutuhin lagi barang2nya.Heboh gitu sampai Bu Annisa marah dan akhirnya Jona downgrade jadi crew.
            Gembira sekali mereka melihat isteri Jona sedih memgetahui gaji Jona dipotong ga gaji supervisor lagi.Tri dengan gembira memainkan kunci di tangannya,"Syukurin!Biar nangis darah tuh isterinya!Masak alasan kok anak melulu.Amit2!"
Nana juga ikutan ngekek,"Iya ngeselin sih enak bener dia ga kerja kayak kita ya.Dirumah ngurus anak2.Aku heran ngurus anak aja kok ribet gitu ya?"
            Sri dan Nana emang baru aja nikah tapi belum punya anak juga.Sri akhirnya punya anak dan sejak punya anak dia kerap ga masuk.Anaknya rewel dan suka sakit2an,sampai dia mikir,'Kenapa ya anakku sakit terus?Apa aku kena karma ya dulu aku marahin Mas Jona karena ngurus anaknya.Kini aku tahu betapa repotnya ngurus anak.Anakku opname terus.Pusing aku.'
             Ketika anak Sri sudah sembuh,iapun mengajak komplotannya yaitu Ria,Kasno dan Nana untuk piknik.Makan2 merayakan kesembuhan anaknya.Namun malang menimpa kala mereka asyik bicarain Jona yang kini jadi crew tiba2 ada sepeda motor nyelonong.Langsung Kasno banting stir,namun malang ia ga lihat kalau mereka memasuki area dekat jembatan dimana dibawah ada area jalan lagi yang lebih rendah.Jeep mereka jatuh ke bawah dan matilah tiga teman Sri seketika.Tinggal Sri yang selamat itupun hanya sebentar,usai minta maaf pada Jona yang datang menjenguk di RS,ia menghembuskan nafas terakhirnya,"Maafkan aku ya Mas Jona.Aku dan teman2 kerap berbuat jahat sama Mas.Kita suka mainin jam kerja dan shift Mas.Juga jebak Mas sampai kasus terus.Aku pamit ya Mas...maafkan kami..."
              Jona terpana mendengarnya demikian juga Bu Annisa.Jabatan Jona akhirnya dikembalikan ke posisi semula sebagai spv.Terlebih kini ia tahu semua cerita aslinya.Itulah bila kejahatan ditutupi akhirnya Tuhan turun tangan sendiri.***The End***

CERPEN KE-24 ***KARMA ITU ADA^^^

  CERPEN KE-24 : KARMA ITU ADA
••♧
            Hujan mengguyur deras sore itu,mendung tebal nampak bergayut meniriskan air dari langit.Seorang pria berjaket hitam kulit nampak asyik melamun di ruang tunggu sebuah UGD RS.Seorang wanita mendekatinya,"Kenapa diluar mas?Mb Ginah kondisinya drop lagi.Butuh dibantu lagi dengan alat.Mas Sakti masuk yuk!Mb Ginah butuh Mas."
           Pria itu mengikuti kerabatnya itu masuk kembali ke ruang UGD.Terbaring di sana isterinya.Seorang wanita desa yang dengan setia mendampinginya melewati suka dan duka kehidupan.Seorang wanita yang gemi setiti alias selalu menyisihkan penghasilan suaminya buat kalau ada butuh mendadak.Seorang isteri yang ga pernah merendahkan pekerjaan suaminya yang cuma kuli bangunan.Seorang isteri yang pekerja keras juga.Ikut membantu keuangan keluarga dengan bekerja sebagai pekerja di sebuah home industry makanan.Usai bekerja tak lupa mengurusi keperluan suaminya dengan baik.Sungguh wanita yang baik namun tak sempurna di mata Sakti.Sakti mendamba keturunan.Banyak cara telah mereka tempuh demi mendapat anak.Kata dokter yang bermasalah yang wanita.Vonis itu menghancurkan hati Ginah.Namun pihak keluarga terus menyemangatinya hingga mereka mengangkat seorang anak.Anak pancingan maksudnya.Namun begitu besar ketahuan anak itu berkebutuhan khusus.Sakti malu sekali.Ia ga peduli lagi dengan perkembangan anak itu.Dibiarkannya saja.Kasihan anak itu.Ga mendapat pendidikan sehingga hidup asal hidup.Ginahlah yang memperhatikan kesehariannya dan merawatnya bak ibu pada darah dagingnya sendiri.Hingga suatu hari Ginah mengetahui kalau suaminya selingkuh.Kala itu Sakti merantau ke Bali.Alasannya mau cari uang banyak buat bangun rumah.Namun malah selingkuh,Ginahpun mengejar ke Bali ditemani anaknya yang dianggap idiot oleh suaminya.Sakti bisa dibujuk dan kembali ke rumah.Namun ga berapa lama Ginah mendapati suaminya selingkuh lagi.Merekapun bertengkar.Perkataan Sakti mengguncang jiwa Ginah,"Kamu itu perempuan mandul tahu!Sudah berapa lama kita nikah tapi mana hasilnya?Aku itu ga mungkin mandul,dokter aja bilang masalahnya di kamu.Ya aku cari yang lain."
            Kala Sakti pergi,Ginah depresi dan akhirnya memilih menenggak obat2an sampai overdosis.Anaknya yang idiot yang bernama Nurdin yang menemukan ibunya tergeletak di lantai dengan mulutnya berbusa,"Emak!Emaaak!"
Itulah awal mula kenapa kini Ginah di UGD.Sakti sebenarnya bisa memindahkan isterinya ke RS yang lebih baik penanganannya namun ia eman makai uang tabungannya.Uang yang disisihkan isterinya setiap minggu.Sudah terkumpul sekitar 30 juta.Keluarga Ginah sangat benci pada Sakti yang dianggap lalai menjaga isterinya.Kala Sakti masuk mendekati isterinya,perut isterinya membesar dan tiba2 Ginah muntah2 mengeluarkan cairan berwarna kehijauan.Lalu menghembuskan nafas terakhirnya.Ginah pergi untuk selamanya.Membawa nelangsa hatinya pada Tuhan langsung.Sakti memilih pergi dari rumahnya yang bersebelahan dengan rumah mertuanya.Nurdin lalu dikembalikan ke kerabat kandungnya.Nangis pamannya Nurdin lihat kondisi Nurdin,"Dikembalikan kok ga bisa apa2 anaknya...ga disekolahin ga diajari nulis dan baca...cuma tahu bersepeda dan uang.Elahe le..le.."
            Sakti rupanya dah punya selingkuhan.Banyak malah.Ada pemilik warteg bernama Siti.Janda dengan dua anak.Satunya seorang wanita yang ngakunya S2.Namanya Tutik.Sakti mensurvei dulu rumah keduanya.Wah ia terpesona mengetahui Tutik tinggal di kawasan elit.Masih single lagi.Terbayang olehnya ia akan mewarisi rumah itu karena Tutik cuma punya satu saudara perempuan yang sudah nikah juga.Udah punya rumah sendiri lagi.Dengan modal uang hasil tabungan mendiang isteri pertamanya,Sakti melamar Tutik.Tutik jelas kesengsem lha dia pikir Sakti itu orang berduit.Ngakunya aja kontraktor.Manjain dia dengan beliin sepatu,baju dan tas harga ratusan ribu tiap minggu.5 juta melayang demi hobby shopping dan koleksi Tutik.Ayah Tutik sebenarnya ga setuju karena beda agama.Akhirnya Sakti yang ngalah sampai pindah agama tiga kali.Gila!Susahnya ngurus persyaratan pernikahan sebenarnya sudah menjadi tanda bahwa pernikahan mereka takkan seindah harapan.Apalagi Tutik maunya nikahnya mewah lagi.Di gedung ternama.Habislah uang tabungan Sakti.Tutik bahkan sampai menjual mobil keluarganya.Hujan mengguyur deras kala resepsi dilangsungkan.Tamunya sedikit lagi yang datang jauh dari jumlah undangan yang disebar.Usai menikah Sakti tinggal di rumah isterinya bersama ayah mertuanya yang biasa ia panggil "Papi".Namun akhirnya ia tahu kalau Tutik cuma tamatan D1.Tutik juga kecewa karena ternyata Sakti cuma mandor proyek bukan kontraktor.Pembohong dapat pembohong nih.Penipu ketipu.Si papi ikutan bikin runyam rumah tangga Sakti.Hidup Sakti dengan isteri keduanya tak seindah impiannya.Tak ada isteri yang melayani dia dengan baik.Yang ada malah ia kayak pembantu di rumah elite itu.Mengepel,menyapu,mencuci baju aja masing2.Makan aja catering.Itupun buat bertiga.Ngambil banyak diomelin.Hidupnya nelangsa.Minta teh aja sampai ga berani dia.Tiap minggu isterinya pasti minta uang buat shopping,"Aku dah berusaha terima Mas apa adanya tapi Mas harus kasih aku uang minim 350ribu seminggu buat aku shopping.Kalau ga bisa aku akan anggap Mas hutang sama aku.Titik!"
          Wah Sakti mati2an kerja sampai sakit aja tetep nekad kerja.Badannya sampai kurus.Belum antar jemput isterinya.Isterinya kerja ngakunya manager ternyata kerja di level multimarketing product suplemen kesehatan.Kerjaannya nipu orang.Pantas tega sama suaminya.Sakti kian kecewa kala Tutik tak jua hamil.Baru telat datang bulan aja dah pasang status di fb,"Telat nih ..."
Eh tahunya ga hamil juga.Sakti lalu ke dokter kandungan langganan kakaknya Tutik.Dokternya bilang yang bermasalah prianya.Weleh!Sakti ga percaya,"Ga mungkin!Dulu aku pernah periksa kok.Pasti dokter salah nih!"
          Tutik merasa menang lha dokternya dah dia sogok.Kakak Tutik juga belum dikasih anak sama Yang Kuasa.Dari situ aja dah kelihatan kalau yang bermasalah pada wanitanya.Tutik lalu bawa Sakti menemui dukun.Wah Sakti kian heran,"Mas ini punya ajian Macan Putih.Makanya susah punya anak."
         What??Sakti termangu.Kakeknya emang nurunkan ilmu itu ke dia.Tapi kakeknya anaknya banyak tuh.Sakti malah mikir gini,"Apa ini karma ya?Dulu aku menghamili anak orang tapi aku ga mau tanggung jawab habis itu aku disumpahi sama ayahnya tuh cewek.Katanya aku ga akan pernah bisa punya anak kalau ga mau tanggung jawab.'
Sakti merenung lagi,'Sebaiknya aku ke makam ayah dan ibu.Minta maaf karena aku dulu suka bantah mereka sampai berani sama Bapak.Pernah masuk penjara pula.'
           Sakti memang nakal waktu mudanya.Suka berkelahi,mabuk dan ngelayap ga jelas.Ia pernah dipenjara karena mukul kepala orang dengan gagang besi.Pernah mencuri juga padahal saat itu ia kerja di instansi yang sama dengan ayahnya.Niatnya mau dijadiin pegawai negeri eh malah kabur nyuri barang2 peralatan kantor.Ginah dulu tergiur status pegawai negerinya Sakti.Maka ia ngaku hamil waktu itu biar dinikahi Sakti.Eh malah mandul.Kini Sakti dinyatakan susah punya anak.Ia bingung.Akhirnya Sakti malah kangen sama isteri pertamanya.Ia mimpi Ginah datang dan berkata,"Mas aku minta uangnya...aku minta uangnya..."
Sakti mengunjungi makam isterinya itu,bawa uang gitu walau kecil nilainya lalu dia taruh uang itu di makam isterinya,"Maafkan aku ya Nah...aku ga makai uang itu buat kamu.Aku malah makai itu buat nikah ga lama setelah kamu tiada.Aku kini hidup susah Nah.Isteriku yang sekarang lebih kayak mandor bagi aku.Wajahnya malah cantikkan kamu Nah.Dia juga ga sebaik kamu.Dia ga ngurus aku.Makan aja aku kayak gelandangan Nah nunggu sisa2 dari mertuaku.Sekarang kakiku sakit kata dokter aku disuruh radioterapi 14x.Aku ga bisa kerja.Tapi tetep aja isteriku ga peduli.Malah ayah mertuaku nyuruh aku alih profesi.Aku malah disuruh cari pinjaman uang.Sekarang aja aku kalau makan datang ke rumah adik aku.Disuguhi teh dan dikasih makan aku di sana.Kalau di rumah aku malah disuruh ngosek kamar mandi.Padahal kakiku lagi sakit.Isteriku tega sama suaminya sendiri lha kerjaane aja tega nipu orang.Tahu gini aku nikahnya sam si pemilik warteg aja.Dia jelas bakal sayang sama aku.Kalau ga bisa jadi kuli aku bisa bantu dia di warungnya.Aku nyesel Nah...mbok kamu jemput aku Nah...aku malas hidup lagi.Tapi katanya aku bakal susah matinya soalnya aku punya ajian dari kakek.Kamu inget kan aku pernah kecelakaan sampai ringsek motorku tapi aku gpp.Aneh kan...itulah Nah...aku sekarang nelangsa hidupnya...tiap hari aku kerja kayak rodi kamu tahu...isteriku malu kalau aku pakai baju kuli jadi dia ga bolehin aku masuk rumah kalau bajuku ga rapi.Dia malu punya suami kuli...aku ga kerja dia ngomel minta uang.Aku dah hutang adik aku jutaan Nah...baru kali ini aku sampai minjem uang...Padahal sama kamu aku bisa nabung puluhan juta.Buat uang bensin aja aku ga dikasih Nah sama isteriku malah diejek via status fb dia katanya "Emang enak ga punya duit".Nah..Nah...dia malah tega ngejek suaminya sendiri via medsos.Perempuan kurang ajar pantas dia mrongos.Lha mulutnya ga tatanan.Lebih cantikkan kamu Nah...Kupikir aku dapat putri orang kaya tahunya aku dapat kere tersamar...masak kemarin aku baru tahubkalau ternyata sertifikat rumah dan kendaraan ayah mertuaku dah disekolahkan di bank...ternyata hutangnya banyak banget Nah...aku baru kali ini punya hutang sebanyak ini...Aku ga semangat hidup Nah...aku tunggu kamu jemput aku ya Nah...dimataku kaulah isteri terbaik Nah.."
Arwah Ginah tersenyum di alam kuburnya,"Akhirnya kau memujiku Mas...tenang saja sebentar lagi kita kan bersama lagi."
***The End***

Cerpen ke-7 : Menggapai Impian ^^^

Cerpen ke-7 : Menggapai Impian 
Lahir dalam keluarga besar ternyata membuat aku tak sempat mengenyam pendidikan tinggi.Dengan bekal ijazah SMU aku menapaki masa depanku.Sempat kerja di mall namun kemudian terjadi kerusuhan di kotaku.Mallnya dibakar.Lalu sempat kerja di pabrik garment juga.Namun jauh dan akupun dititipkan pada kerabat yang tinggal dekat situ namun perlakuan mereka sungguh membuat aku tak betah.Masak aku ditempatkan di tempat dimana tak ada pintunya ruangannya.Aku selalu tidur dalam ketakutan.Bayangin aku anak gadis dan aku belum pernah menjalin hubungan dengan pria.Akhirnya aku pilih ikut kakakku katanya bakal ditawari kerja jadi PNS.Namun aku malah jadi pembantu di rumah kakakku sendiri.Pagi2 buta sudah bangun dan menyiapkan sarapan lalu mengantar sekolah ponakanku.Berkali2 aku menagih janji kakakku namun selalu dia berdalih dan menyuruhku sabar.Aku hanya dikasih uang sangat minim tiap bulan.Padahal aku sangat ingin membantu ibuku yang masih mengurusi adikku yang masih sekolah.Kalau begini terus aku malah menyiksa diri.Suatu malam dalam putus asaku aku berdoa pada Tuhan,'Ya Tuhan,aku tak punya impian yang muluk,aku hanya ingin bisa membantu ibuku membiayai sekolah adik2ku.Ada Rizky dan Ridho yang butuh biaya.Kakak2ku sudah punya keluarga sendiri2 jadi mereka kebanyakan ga mau tahu dengan kesusahan ibu.Malah kalau ibu minta uang disuruh jadi pembantu dulu ngapain kek baru dikasih uang.Aku sedih melihatnya.Tega ya mereka sama ibu.Mengapa pernikahan justru membuat mereka begitu ya?Aku harap jika memang aku Kau beri pasangan hidup berikanlah pria yang murah hati,berbakti dan hatinya begitu baik.Tuhan,berikanlah aku petunjuk agar impianku bisa terwujud.Tuntunlah langkahku.Amin.' Esoknya saat mengantar sekolah,aku mampir ke sebuah warung kelontong niatnya mau beli peralatan mandi.Yang jualan ibu2 sudah tua dan ia tinggal sendirian.Kasihan banget.Iseng aku nanya2,eh dia cerita kalau ia punya dua anak.Anak pertama tinggal dekat dia.Sedang anak yang kedua merantau.Kasihan ibu itu.Membuatku teringat pada ibu dan kedua adikku.Sejak itu aku kerap mampir ke rumah ibu itu bahkan bila ia ada kesulitan aku akan datang membantu.Rupanya Tuhan mempertemukan aku dengan ibu itu ada maksudnya.Tak lama aku alami masalah di rumah kakakku.Aku dituduh mencuri uang.Padahal aku tidak melakukannya.Aku tahu pelakunya adalah anak kakakku namun ia tak percaya padaku malah mengusirku.Aku pergi tanpa tujuan dan kakiku membawaku pada rumah ibu pemilik warung dekat sekolah ponakanku.Aku mengetuk pintu rumahnya,"Ibu Halimah!Ibu ini Evi Bu!Ibu!" Tak ada sahutan,aneh.Akupun mendorong sedikit pintunya tak dikunci.Astaga!Aku terkejut melihat Ibu Halimah tergeletak di lantai,"Ibu!!Ibu Halimah!!" Segera aku meminta bantuan warga sekitar dan membawa ibu itu ke RS.Rupanya beliau kena serangan jantung.Anak pertamanya segera menghubungi adiknya minta uang buat biaya berobat sang ibu.Anak kedua sepertinya sangat sayang sama ibunya,"Aku akan segera pulang Kak!" Ibu Halimah akhirnya boleh pulang,aku merawatnya.Ibu Halimah senang sekali dan berangsur pulih dengan cepat.Aku membantu beliau menjaga warung dan juga merawat beliau.Walau ibu Halimah bersikeras akan menggajiku namun aku menolak karena kupikir aku sudah dapat tumpangan gratis dan juga makan.Lagian kupikir Ibu Halimah lebih butuh uang untuk biaya rawat jalan.Namun aku terpana kala mengantar beliau ke rumah anak pertamanya.Anak pertamanya sudah menikah.Namanya Hasto.Isterinya bahkan kerja sebagai perawat di RS terkenal di kotaku.Wah rumahnya bagus nian.Bertingkat dan keramik semua.Beda banget dengan rumah ibunya yang bahkan dinding rumahnya sudah retak2.Sampai di sana aku heran karena aku disuruh pulang jaga rumah ibu Halimah sedang Bu Halimah disuruh tinggal di sana.Aneh ada apa ya?Ibu Halimah berkata padaku,"Biasanya kalau ibu disuruh tinggal di rumah anak ibu yang pertama pertanda anak kedua ibu akan pulang.Anak kedua Ibu sayang sama Ibu.Nanti Ibu kenalkan sama kamu." Ibu Halimah ingin aku menemaninya namun sepertinya anak pertama beliau tak mengharapkan kehadiranku,"Kamu sebaiknya jaga saja rumah ibuku.Jaga warungnya.Awas jangan maling!Kami akan merawat ibu.Dah kamu pulang saja." Aku merasa ada yang disembunyikan oleh anak pertama Bu Halimah.Namun aku cuma orang luar,jadi aku akhirnya kembali ke rumah Bu Halimah.Namun beberapa hari kemudian ibu Halimah kembali dengan diantar seorang pria muda.Ibu Halimah memanggilku,"Evi!!Kenalkan ini putra kedua Ibu.Namanya Irwan." Aku terpana melihatnya,ganteng banget.Kelihatannya juga baik.Aku makin heran kala tak lama kemudian anak pertama Bu Halimah datang dengan tergopoh2,"Wan!!Dengarkan dulu penjelasanku Wan!!Semua yang dikatakan Ibu bohong Wan!" Aku lihat Ibu Halimah nampak marah,"Kamu nuduh Ibu bohong?Kamu yang bohong!Kamu bilang selama ini aku tinggal sama kamu kan?Padahal ga!Kamu dan isteri kamu selalu mendukakan hati Ibu!Kamu hanya ingin Irwan selalu kirim uang kan?Buat ibulah buat berobatlah buat bangun rumahlah..kamu ...kamu.."
 Ibu Halimah pingsan.Irwan segera membawanya ke RS.Aku jelas ikut.Ibu Halimah emosi.Tensinya langsung naik.Tak sengaja aku mendengar percakapan Irwan dan kakaknya,"Tega ya kakak bohongi aku!Jadi selama ini Ibu masih tinggal di rumah lama?Rumah itu sudah retak2 kak dindingnya.Dan ibu tinggal sendirian di sana?Kakak tega ya bohongi aku!Mulai kini aku akan ambil alih perawatan ibu.Aku sudah minta dimutasi ke cabang kota di sini.Aku kecewa sama kakak.Uang yang kukirim setiap bulan untuk ibu ternyata hanya sedikit sekali yang sampai ke ibu.Kasihan Ibu.Aku kecewa punya kakak seperti kak Hasto!" Rupanya begitu ceritanya.Pantas rumah anak pertama Bu Halimah bagus nian ternyata membangunnya pakai uang kiriman adiknya yang sebenarnya uang itu buat ibunya.Kulihat Irwan berkaca2 saat meninggalkan kakaknya.Ternyata bukan hanya di keluargaku saja anak yang ga peduli dengan orang tuanya.Di keluarga Bu Halimah juga sama.Sejak itu Irwan memintaku merawat ibunya selama dia mengurus kepindahannya.Aku jelas melakukan dengan senang hati.Bahkan ia bersikeras menggajiku namun aku menolaknya karena aku sudah menganggap ibu Halimah seperti ibu kandungku sendiri.Aku berjualan makanan ringan di warung Bu Halimah dan hasilnya kukirim ke ibuku.Buat bantu biaya sekolah kedua adikku.Irwan dan aku kian dekat.Bahkan kami kemudian jadi kekasih.Aku jelas sangat bahagia,bagaimana tidak bahagia Irwan pria yang kuidam2kan.Akhirnya Irwan membawa Ibu Halimah pindah rumah.Aku terkejut melihat rumahnya,"Bagus banget Wan!Ini lebih bagus dari punya kakakmu." Irwan meraih tanganku,"Aku ingin kau menjadi Nyonya Rumah di sini.Merawat ibuku dan pastinya mencintaiku dan menjadi ibu bagi anak2ku kelak.Kau mau kan?"
 Aku terharu dan mengangguk,"Iya aku mau."
 Tak lama kemudian aku menikah dengan Irwan.Ia sungguh sangat baik.Ia memperbesar warung ibunya dan mempercayaiku mengelolanya.Ia juga memberikan kepada ibuku uang setiap bulan untuk membantu meringankan biaya sekolah adik2ku.Sungguh aku tak nyana mimpiku menjadi kenyataan.Kebahagiaanku kian lengkap kala aku melahirkan seorang bayi laki2 untuk Irwan.Ibuku juga Ibu mertuaku bahagia sekali dengan kelahiran anakku.Merekalah yang memberi nama.Namanya Ivan Prambudi artinya Inilah anak Evi dan Irwan anak pertama dan pria yang berbudi.***The End*** 

Cerpen ke-6 : ^^^MEMBUKA GERBANG KEMURAHAN

Cerpen ke-6 : MEMBUKA GERBANG KEMURAHAN 
Di sebuah ruang kelas tampak seorang guru SD sedang mengajar,"Anak2 kalian tentu sering dinasehati oleh orang tua kalian bukan.Nah coba nasehat apa yang pernah diberikan oleh mereka pada kalian?Bapak ingin tahu." Seorang anak mengangkat tangan,"Ayah saya sering bilang Pak,hidup itu yang penting punya banyak uang Pak." Sang guru menulis di papan jawaban anak tersebut,"Kalau kamu Yudha,pernah dinasehati apa sama orang tuamu? Anak yang paling tinggi di kelas itu menjawab,"Hidup itu sebuah permainan Pak jadi harus menang terus." Sang guru heran,"Wah kok bisa?" Yudha jawab,"Lha saya jarang ketemu orang tua saya Pak,mereka selalu ngasih saya game buat nemeni saya.Jadi saya pikir mereka mau saya belajar dari game." Yang lain ketawa mendengarnya,"Ha..ha..Yudha lucu..." Sang guru menenangkan kelas,"Sudah!Sudah!Kalau yang lain dinasehati apa sama ayah ibunya?" Di bangku paling belakang seorang anak mengangkat tangannya,"Saya Pak Irwan!!" Guru pun menoleh padanya,"Iya Wardi?" Wardi adalah anak yang paling nakal di kelas,"Tiap hari saya lihat orang tua saya perang terus Pak,jadi mereka menasehati saya bahwa dalam hidup harus ada peperangan Pak.Makanya nama saya War-di.He..he..War itu kan perang Pak.Ga seru kalau ga ada perang Pak.Bener kan teman2?" Anak2 pada nyorakin,"Huuuu...Pantesan kamu suka nakal.Diajarin sih di rumah." Irwan,sang guru kembali menenangkan kelas,"Ternyata orang tua kalian memberi nasehat beda2 ya tapi Bapak akan kasih satu nasehat pada kalian uang memang kita butuhkan tapi jangan sampai kita mencintai uang karena akar segala kejahatan adalah cinta uang.Menang memang menyenangkan namun menanglah dengan cara yang benar.Itulah kemenangan sejati.Dan sedapat mungkin kita harus hidup dalam damai dengan semua orang.Kalian mengerti?" Wardi bertanya,"Kenapa begitu Pak?Kata orang tua saya mata ganti mata gigi ganti gigi." Irwan mendekati anak itu,"Jika mata ganti mata akhirnya nanti semua orang akan menjadi buta Wardi.Terus kalau gigi ganti gigi bisa2 seluruh dunia ompong dong?" Anak2 pada ketawa,"Ha..ha...gimana ya kalau Wardi jadi ompong ha..ha.." Wardi manyun,"Terus kalau ada yang jahat sama kita gimana dong Pak?Masak ga dilawan?" Irwan tersenyum,"Hanya satu yang bisa mengalahkan kejahatan.Kalian tahu apa itu?" Semua menggeleng dengan mata kepo. Irwan melanjutkan,"Kebaikan.Jadi kalau kalian ingin menang dalam hidup ini lakukan kebaikan setiap hari.Karena hanya kebaikan yang bisa mengalahkan kejahatan." Ia lalu mendekati Wardi dan mengusap kepalanya,"Balaslah kejahatan dengan kebaikan.Itulah kemenangan." Wardi dan anak2 yang lain manggut2.Lalu mereka mencatat di buku masing2.Lonceng lalu berbunyi,"Theng!Theng!!" Irwan mengakhiri pelajaran,"Oke,sekarang saatnya kalian istirahat.Ingat jangan melakukan hal yang jahat tapi lakukan apa?" Semua menjawab serentak,"Kebaikan Pak!!" Irwan puas mendengarnya,"Bagus!!Sekarang selamat istirahat." Anak2 berhamburan keluar kelas menuju ke halaman dan ke warung penjaga sekolah.Sementara Irwan menuju ruang guru.Hpnya bunyi sang isteri menelpon,"Ya Vi?" Wanita yang telah melahirkan seorang anak baginya itu menjawab,"Mas,gerbangnya ditutup lagi.Jualan kita mana laku Mas." Irwan menghela nafas mendengarnya,"Aku akan coba bicara dengan Pak Dal.Kamu tunggu kabar dari aku ya?Devran mana?" Sang isteri menjawab,"Lagi tidur Mas.Biasa kalau malam begadang siang tidur." Irwan lalu melangkah menuju rumah penjaga sekolah yang juga buka warung,"Selamat siang Pak Dal.Maaf saya bisa bicara dengan Bapak?" Pak Dal adalah penjaga sekolah sekaligus membuka warung di dalam sekolah.Ia punya tiga orang anak.Kepala sekolah mempercayakan semua urusan kantin dan kebersihan sekolah padanya.Ia juga mendapat gaji rutin setiap bulan.Ditambah usaha warungnya.Semua anak jajan di situ.Ada dua gerbang di sekolah gerbang depan dan gerbang samping.Gerbang depan memang ditutup kalau jam sekolah.Tapi gerbang samping biasanya tidak ditutup atasnya jadi para penduduk yang punya jualan bisa jualan di sana.Lewat rongga2 atau sela2 jeruji gerbangnya.Nah Irwan adalah guru baru di sana.Kebetulan ia mengontrak rumah dekat sekolah dekat gerbang samping itu.Evi,isterinya pinter buat makanan kecil jadi lumayanlah dapat penghasilan tambahan dengan jualan aneka cemilan di dekat gerbang samping itu.Namun sudah beberapa hari ini gerbang itu atasnya ditutup dengan papan sehingga anak2 susah jajan lewat gerbang samping. Irwan menemui Pak Dal namun jawabannya selalu ketus,"Itu hak saya mau nutup apa ga gerbangnya.Ga usah protes!Guru baru aja belagu!" Irwan juga sudah mencoba membicarakan dengan kepala sekolah tapi orangnya ga mau turut campur dan malah seperti menghindar kalau ketemu dia.Irwan hanya bisa mengelus dada,"Saya tidak minta gerbangnya dibuka Pak.Hanya jangan diberi papan atasnya.Jadi biar bisa ada akses buat jualan Pak.Isteri saya menjual makanan sehat Pak.Kami ga pakai bahan aneh2 yang berbahaya." Isterinya Pak Dal juga membujuk suaminya,"Ya udah Pak ngapain sih ditutup juga bagian atas gerbangnya.Toh mereka jualannya kan beda sama kita.Biarin aja kenapa sih?Anggap aja bagi rejeki Pak." Namun tetep aja kekeh si Pak Dalnya,"Ini itu wilayah kekuasaan saya!Semua harus nurut pada pakem saya.Udah sana!Saya banyak pembeli!Ganggu aja!" Irwan melangkah dengan gontai ke ruang guru.Saat di jalan ia dicegat oleh Wardi,"Pak,saya rusak saja gerbangnya gimana?Saya suka jajanan bikinan isteri Bapak.Enak dan murah.Ga kayak di tempatnya Pak Dal.Dah mahal juga kadang dah basi." Irwan jongkok dan menggeleng,"Jangan Wardi.Itu ga baik.Mungkin pintu hati Pak Dal belum terbuka saat ini tapi pasti akan terbuka suatu saat nanti.Terima kasih sudah perhatian pada Bapak.Sudah tanda masuk tuh!Ayo kembali ke kelas." Wardi manggut2 dan lari ke kelas.Irwan menelpon isterinya,"Kita jualan di sekolah lain saja Vi.Kalau ga ya kita usaha lain saja ya?" Evi mengerti,"Ya udah Mas.Rejeki udah ada yang ngatur.Ga cuma di sini aja.Aku akan coba jualan di sekolah lain tapi kasihan Devran kalau gitu Mas.Mending aku jualan seadanya saja di rumah.Yang penting Devran terawat dengan baik.Gpp kan Mas?" Irwan lega isterinya begitu pengertian,"Iya.Nanti kalau libur aku yang jualan.Akan aku titipkan ke warung2 gitu.Gimana?" Evi seneng dengernya,"Iya Mas.Ide bagus itu.Aku setuju.Ga bisa jualan di sini ya bisa jualan lewat nitip di warung2 lain.Ya udah aku urus Devran dulu dia bangun." Irwan bersyukur punya isteri mau hidup susah seneng sama dia.Evi dan dia memang dari keluarga sederhana.Gaji sebagai guru ia cukupkan buat menghidupi keluarganya.Namun biaya hidup makin lama makin tinggi,jadi ia mencoba mencari tambahan penghasilan. Sebenarnya ada peluang tapi ditutup oleh kelakuan penjaga sekolah. Sementara itu sejak menutup gerbang samping dengan papan atasnya,banyak hal terjadi di keluarga Pak Dal.Anak pertamanya diphk dari kerjaannya.Anak keduanya nyari kerja ga dapat2.Anak ke-3nya tiba2 jatuh sakit dan harus opname di RS.Semua membuat Pak Dal pusing.Sampai2 ia ga konsent pas di jalan habis dari RS,hampir saja ia ketabrak mobil kala mengambil dompetnya yang jatuh di jalan.Untunglah Irwan yang kebetulan lewat habis nitip dagangan ke warung2 segera menyelamatkannya,"Awas Pak!!" Pak Dal selamat dan Irwan cuma lecet2 dikit,"Bapak gpp?" Pak Dal terpana melihat siapa yang nolong dia,"Pak Irwan?" Irwan lega Pak Dal gpp,"Hati2 Pak.Di sini jalannya rame.Mari saya antar pulang Pak." Pak Dal tak bisa ngomong apa2 saking malunya yang nolong dia justru orang yang ia perlakukan dengan tidak baik.Ia lalu minta maaf pada Irwan,"Maaf ya Pak.Saya sudah jahat sama Anda.Tapi Anda malah membalas dengan kebaikan.Saya jadi malu." Irwan cuma tersenyum,"Gpp Pak sudah saya maafkan.Oh ya saya pulang dulu ya Pak.Saya permisi." Pak Dal berubah sejak itu,dibukanya papan atas di gerbang samping bahkan ia bersedia menerima titipan dagangan dari isteri Irwan.Evi gembira sekali.Ia bisa jualan dan menjaga Devran.Irwan juga mendapat tambahan penghasilan.Namun bukan hanya mereka yang bahagia,Pak Dal juga mengalami kebaikan.Sejak gerbang samping tak lagi ia segel sehingga bisa terjadi akses jual beli berbagai kebaikan ia alami.Anaknya dapat kerjaan yang no satu dan dua.Yang ketiga juga pulih kesehatannya.Tuhan membuka gerbang kemurahan-Nya kala kita juga membuka gerbang kemurahan pada orang lain.Begitupun kala kita menutup gerbang kemurahan kita pada orang lain,Dia juga menutup gerbang Kemurahan-Nya untuk kita.***The End***

Cerpen ke-5 : ^^^MEMILIH SETIA

Cerpen ke-5 : MEMILIH SETIA 
Aku meraba kalung mutiara di leherku.Kalung dengan jumlah mutiara sebanyak 100 butir itu hadiah pernikahan dari suamiku,Iswan.Dia lebih muda 2 tahun dariku.Di hari jadi pernikahan kami yang ke-3 dia memberiku kalung itu.Dia berkata sambil memakaikannya di leherku,"Kalung ini aku pesan khusus lho dari luar kota.Walau sederhana tapi bermakna bagiku.Kau tahu jumlah mutiara ini ada artinya lho." 
Aku memang suka perhiasan tapi baru kali ini punya kalung dari mutiara,"Oh ya?Apa artinya?" Iswan menyibakkan rambutku,"Angka 100 ini artinya 100 tahun.Aku ingin selalu bersamamu kalau bisa sampai 100 tahun lagi.Atau 100 abad lagi.He..he.." Aku tak berani memandangnya,"Ini indah sekali.Akan selalu kupakai." Ia senang dan meraihku dalam pelukannya,"Aku sangat mencintaimu meski kutahu kau masih belum bisa membalas cintaku.Tapi aku akan setia menantimu." Kasihan suamiku,dulu dia adalah temanku di kantor.Kami bekerja di perusahaan yang sama.Aku mengenalnya sebagai karyawan yang rajin dan ga neko2.Dia bekerja di akunting.Sedang aku di bagian audit.Ruangan kami sama.Kerap aku lembur sampai malam dan dia yang menemaniku.Disitulah kami kian akrab.Hingga aku bertemu dengan Ivan.Seorang konsultan sistem.Ia sungguh mempesona hatiku.Dia setinggi Iswan tapi yang kusuka adalah dia lebih tua usianya dariku.Lebih dewasalah.Karena terpikat pada Ivan aku jadi menjauh dari Iswan.Kami cuma say halo aja di kantor.ternyata juga suka sama aku.Wah bahagia banget aku.Saking bahagianya sampai aku pamer ke Iswan kala Ivan memberiku cincin,"Lihat nih Wan!Bagus kan?Ivan perhatian banget tahu aja aku suka perhiasan.Cantik kan di jariku.Dia bilang mau melamar aku.Kamu datang ya di pernikahan aku?Harus!Awas kalau ga!" Iswan memandangku dengan aneh kala itu seperti tak suka,"Yakin dia orangnya baik Vi?Gimana keluarganya dah kamu kepoin belum?" Aku ngekek,"Dia itu anak baik.Penurut dan sayang sama orang tuanya.Besok aku akan dikenalkan sama mereka." Namun benar kata Iswan ternyata Ivan menyembunyikan sesuatu dariku,dia memang mempertemukanku dengan orang tuanya tapi mereka ga respon baik sama aku.Mereka diam saja.Aneh.Aku pulang dengan tanda tanya besar.Tapi Ivan terus meyakinkanku bahwa ia akan membuat orang tuanya menerima aku.Apa karena dia dari keluarga berada ya sedang aku cuma kelas menengah saja?Aku hanya berpikir simple:Aku kan menikahi Ivan bukan mereka.Yang penting Ivan sayang sama aku.Keanehan kian merebak di hatiku kala yang datang melamar bukan orang tuanya tapi kakaknya,"Lho ayah ibumu kemana?" Ivan bilang ayahnya sedang sakit.Jadi diwakilin ke kakak.Aku agak kecewa juga sih.Namun saat aku ingin nengok dia bilang mereka berobat di Singapore.Oh...jauh sekali.Akhirnya aku siapin undangan dan segala macam.Iswan bahkan kuminta bantu nyebar undangannya.Ga sangka mendekati hari H,tiba2 Ivan datang bersama kakaknya.Menemuiku dan berkata bahwa ia harus terbang ke Singapore karena ayahnya kritis.Kenapa dia ga bilang sebelumnya ya?Kan undangan dah terlanjur disebar.Aku memohon padanya untuk menyelesaikan resepsi dulu baru berangkat tapi dia ga bisa,"Maaf Vi.Aku harus pergi sekarang.Ini menyangkut nyawa ayah aku." Aku marah sekali,"Jadi aku ga penting ya?Pernikahan ini semua ini ga ada artinya ya?Kenapa sih kayaknya kamu sembunyiin sesuatu dari aku?" Akhirnya ia ngaku kalau orang tuanya ga restu sebenarnya dia nikah sama aku.Bahkan mereka ngancam ga akan kasih bagian warisan kalau nekad nikah sama aku.Mereka sudah punya calon anak pejabat tinggi katanya.Aku terluka mendengarnya.Ivan pergi dengan wajah sangat menyesal,aku hanya bisa terduduk lemas di lantai.Pernikahanku kandas.Saat itulah Iswan datang dan meraihku dalam pelukannya,"Sabar ya Vi.Kamu harus sabar." Orang tuaku shock mendengarnya.Ayah bahkan langsung dilarikan ke RS.Berkali2 ayah berkata,"Ayah malu Vi!Malu banget kalau besok kamu batal nikah.Undangan dah disebar tapi mempelainya malah kabur." Iswan yang menemaniku akhirnya memberi solusi,"Om ijinkan saya menjadi pengganti mempelai prianya.Saya sudah mencintai putri Om sejak lama.Tapi tak punya kesempatan mengatakannya.Saya janji akan menjaga putri Om dengan baik.Sepenuh hati saya." Aku terperangah,"Iswan kau gila?" Iswan malah meraih tanganku,"Iya aku sudah tergila2 sama kamu Vi.Daripada besok kamu batal nikah dan seluruh keluarga kamu malu.Bayangkan efeknya buat ayah ibumu.Kumohon biarkan aku menikahimu.Menghindarkanmu orang tuamu dari dipermalukan didepan banyak orang.Kumohon..." Aku melihat harapan di mata kedua orang tuaku,"Tapi Wan aku tidak mencintaimu...bagiku kau sahabat saja..." Ibu mendekatiku,"Cinta akan hadir dengan terbiasa.Itu pepatah ampuh Vi." Iswan tersenyum mendapat restu ibuku bahkan ayah meraihnya dalam dekapan dengan penuh rasa terima kasih,"Kamu anak baik.Om restu kamu dapat putri Om." Aku tak bisa menolak lagi.Meski pernikahanku tetap menjadi perbincangan karena mempelai prianya ganti tapi setidaknya ayah dan ibu tak perlu jatuh harga dirinya karena pembatalan pernikahan.Akupun menikah dengan Iswan.Semua tamu undangan diberi pengertian kalau undangannya salah cetak huruf.Teman2 kantorku juga ga begitu mempermasalahkan karena dengan Iswan aku juga terlihat akrab.Namun akhirnya aku memilih keluar dari kerjaan itu.Aturan perusahaan juga.Ga boleh suami isteri satu kerjaan.Aku lalu kerja di sebuah butik.Pernikahanku belum dikaruniai anak karena aku memang minum pil KB agar jangan punya anak dulu selama aku masih belum bisa melupakan Ivan.Kasihan Iswan dia menahan keinginannya punya anak dalam hatinya.Aku membelai wajahnya yang sedang tidur,'Maafkan aku.Aku berharap aku bisa mencintaimu.Kau sangat baik menjagaku selama ini.' Namun suatu hari aku terpaku kala seseorang memasuki butik dimana aku kerja,"Ivan?" Ivan datang dengan harapan ingin mendapatkan aku kembali katanya,"Ayahku sudah tiada Vi.Warisan juga sudah kudapatkan.Aku juga sudah bercerai dari isteriku.Dia juga sebenarnya ga suka sama aku.Kumohon kamu terima aku lagi.Ya Vi?Kita mulai dari awal lagi.Kali ini sudah tak ada penghalang lagi." Aku menunjukkan cincin pernikahanku,"Aku sudah menikah.Kau terlambat Van." Namun dia tak menyerah,"Apa kau mencintainya Vi?Aku tahu siapa suamimu dia Iswan kan?Kalian kan hanya sahabat saja." Ivan tampaknya tak ingin memaksaku,"Dalam waktu dekat aku akan ke Kanada.Aku akan tinggal di sana untuk waktu yang lama.Besok aku akan datang lagi.Aku tunggu jawabanmu." Malamnya aku resah.Irwan heran,"Kau kenapa sayang?Tak bisa tidur ya.Sini biar kupijat lehermu.Mungkin kau kecapekan." Aku terdiam memandang Irwan,'Meninggalkan Iswan dan pergi dengan Ivan.Aku bingung.Aku masih belum bisa menerima Iswan tapi meninggalkan dia apakah aku juga bisa?Ayahku sudah tiada.Irwanlah yang selama ini menemaniku dimasa sulit itu.Apalagi tak lama ibu juga menyusul ayah.Hatiku kian hancur.Namun Iswan juga yang membangkitkan aku lagi.Kini aku malah meninggalkannya?Tega nian aku.Tapi bukankah Iswan selalu berkata bahwa ia hanya ingin melihat aku bahagia?Dia juga tahu aku tak mencintainya saat kami menikah.Aku bingung sekali.' Esok hari Iswan bersikap berbeda saat pamit mau kerja,dia menciumku dan memelukku lama,"Aku kerja dulu ya.Aku mencintaimu." Aku tiba di butik agak siang karena aku harus mengantar pesanan dulu.Tampak sebuah mobil mewah sudah menunggu,Ivan.Kami bicara di teras butik,"Bagaimana Vi?" Aku menggeleng,"Maaf aku tak bisa...aku mungkin belum mencintai Iswan tapi aku takkan meninggalkan orang yang setia padaku dan berada bersamaku lewati masa2 sukar." Ivan kaget dan mencoba membujukku,"Vi,lihat aku!Lihat mataku!Aku serius kali ini." Aku tepiskan tangannya yang mencoba memegang leherku,saat itulah kalung mutiara di leherku putus.Mutiaranya bertaburan di lantai.Entah kenapa aku langsung teringat pada Iswan,hatiku berdebar penuh kecemasan.Yang kuingat adalah segera mengumpulkan tiap butirnya.Ivan tak kuhiraukan,"Vi sudahlah!Untuk apa kaupunguti barang murahan kayak gitu?Aku bisa membelikanmu kalung berlian kalau kau ikut denganku.Ayo Vi ikut aku kita ke Kanada dan hidup bahagia di sana." Aku memandang marah pada Ivan,"Kau bilang apa ?!Kalung ini bukan barang murahan yang kecil nilainya.Ini sangat berarti bagiku.Ini melebihi apapun yang bisa kau berikan padaku.Kau tahu kenapa?Karena yang memberikan kalung ini adalah orang yang sangat berharga bagiku!Sebaiknya kau pergi sebelum aku minta satpam mengusirmu!" Ivan terpana memandangku,"Kau mencintai Iswan Vi...kau sudah jatuh cinta padanya tanpa kau sadari..." Aku tertegun mendengarnya dan kulanjutkan mengumpulkan butiran mutiara yang bertebaran di lantai.Sambil memunguti tanganku gemetar,entah kenapa.Kata2 Ivan barusan membuatku bertanya,'Aku telah jatuh cinta pada Iswan?' Ivan sudah pergi.Kalungnya juga sudah kukumpulkan semua butirannya.Kumasukkan dalam tasku karena tiba2 hpku bunyi,"Ini mb Evi?" Aku kenal suara itu itu suara teman kerjaku dulu di perusahaan,"Ya Mas Reno?Ada apa ya?" Mas Reno memberitahuku bahwa Iswan kecelakaan saat dalam perjalanan ke bank,"Apa???!!Bagaimana keadaannya?Dimana dia sekarang?" Aku panik mendengarnya dan segera menuju ke RS dimana Iswan di rawat.Dia kritis.Disitulah air mataku menetes dan kusadari betapa aku sangat takut kehilangan dia.Aku bersimpuh di dekat ranjangnya,'Tuhan,jangan ambil dia dariku.Berikan dia umur panjang agar aku bisa membalas cintanya padaku.Aku mencintainya Tuhan.Ampuni aku yang tak menghargai kehadirannya di sisiku selama ini.Aku janji aku akan berubah.Aku akan menghargainya.Aku janji.' Tiap malam kukatakan di telinganya bahwa aku mencintainya.Tiap jam malah aku selalu membisikkannya,"Aku mencintaimu.Bangunlah.Sadarlah kumohon.Bukankah kau mau hidup bersamaku 100 tahun lagi?Kau ingat kalung ini?Kau harus penuhi janjimu menemaniku hingga aku tua.Iswan kau harus hidup.Demi aku.Aku mohon." Akhirnya doaku dijawab,Iswan siuman dan lepas dari masa kritis.Ia tersenyum padaku,"Selama aku tidak sadar aku mendengar bisikan suara berkata,"Aku mencintaimu".Benarkah itu kau yang berbisik padaku Vi?" Aku mengangguk dan memeluknya,"Itu benar Iswan.Aku mencintaimu,aku baru menyadarinya.Maafkan aku.Aku telah menyakitimu tanpa kusadari." Iswan memelukku,"Aku bahagia sekali.Akhirnya cinta terbalas juga." Iswan mendapat dispensasi dari perusahaan agar memulihkan diri dulu.Masa itu bagiku menjadi masa yang indah dimana aku bisa menunjukkan rasa cintaku pada suamiku.Bahkan aku tak lagi minum pil KB.Aku ingin melahirkan anak2 Iswan.Setengah tahun kemudian aku hamil.Iswan bahagia sekali.Ia memanjakanku dan sangat menjagaku.Anak pertama kami lahir di bulan November.Diberi nama Noval.Bagiku nama itu berarti No Ivan lagi,kini aku milik sah Iswan .***The End*** 

Cerpen ke-3 : MELIHAT HATI^^^

Cerpen ke-3 : MELIHAT HATI
 Di sebuah kerajaan nan makmur,tampak sang Putra Mahkota tengah asyik memacu kudanya.Seorang pengawal kepercayaan nampak mendekatinya,"Pangeran,Baginda memanggil Anda." Sang Pangeran segera menyerahkan kudanya pada pengawalnya,"Tolong bawa kudaku kembali ke istal.Aku mau menemui Ayahanda." Sang pengawalpun mematuhi perintah membawa kuda berwarna coklat itu ke kandangnya,'Pangeran pasti bakal menjadi raja yang baik karena meski berkedudukan tinggi tapi selalu saja menghargai siapa saja bahkan menyuruh saja selalu pakai kata 'Tolong'.Pantas rakyat begitu menyayanginya.' Sementara itu Sang Putra Mahkota sudah sampai di hadapan Ayahandanya,"Ananda datang,Ayah.Ada hal penting apakah Ayahanda?" Rupanya Baginda menginginkan sang putra untuk mencari pendamping hidup supaya bisa lekas naik tahta,"Ayah sudah tua Putraku.Ayah ingin menikmati hari tua Ayah dengan tenang.Sudah saatnya kau naik tahta." Pangeranpun meminta waktu,"Ananda akan melakukan perjalanan mencari pendamping Ananda Ayah.Ananda akan melakukan penyamaran.Kiranya Ayah mengijinkannya." Sang Bagindapun merestui,"Bawalah pengawal setiamu itu.Supaya hati Ayah tenang." Sang pangeranpun menurut dan pergilah ia berkelana bersama pengawal setianya.Adi namanya.Wajahnya tak kalah tampan dari Pangerannya.Adi memandang heran pada junjungannya kala mereka bertukar pakaian,"Kamu pakai pakaianku ya.Aku mau lebih leluasa melihat rakyat dengan pakaian sederhana saja." Adi jelas menurut,"Baik Pangeran Irwan." Jelas pakaian Irwan yang dipakai Adi lebih bagus baik secara bahan dan modelnya.Setiap orang akan mengira dialah pangerannya dan Irwanlah pengawalnya. Sementara itu di daerah pinggiran kerajaan tampak berdiri sebuah rumah.Seorang gadis berkulit eksotis nampak sibuk membersihkan rumah mulai dari menyapu,mengepel,memasak wah pokoknya dah kayak pembantu deh.Itupun masih dipanggil2,"Evi!!Sini!!Jahit baju ini!Kabarnya ada pangeran yang berkelana mau mencari pendamping sedang menuju ke daerah sini.Bajuku ini harus sempurna!" Gadis eksotis itupun berlarian naik turun tangga demi menuruti kemauan anak bibinya. Bibinya Evi juga tak kalah heboh,"Evi!!Cepet kau bersihkan halaman!Jangan sampai terlihat tak terawat!Juga cuci baju ini cepat!!" Evi sebenarnya lelah sekali namun ia tak punya waktu untuk istirahat kecuali mereka sudah tidur.Kenapa Evi bertahan di rumah itu?Demi sang ibu yang kondisinya hanya bisa berbaring.Sejak ayahnya tiada karena sakit, ibu Evi tinggal di situ sebagai pembantu di rumah saudaranya sendiri.Semua demi melunasi hutang yang dipinjam demi biaya berobat ayah Evi.Karena kelelahan bekerja,ibu Evi jatuh sakit dan kini Evi yang menggantikannya menjadi pembantu. Kabar kedatangan pangeran menghebohkan para penduduk di pinggiran kerajaan.Semua mengira Adilah pangerannya.Semua mencari muka padanya.Sementara Irwan malah tidak mereka hiraukan.Irwan membawa kudanya menuju sungai.Kudanya haus.Tampak di tepi sungai Evi tengah mencuci baju.Irwan memperhatikannya,'Banyak tempat telah kujelajahi namun tak seorangpun menarik perhatianku.Aku sudah sampai di pinggiran kerajaan.Ayah bahkan sudah mengirim berita mencemaskanku.Menyuruhku cepat kembali.' Saat itulah cucian Evi hanyut ke bawa arus sungai,'Aduh!Gimana nih?Itu baju kesayangan Bibi pula.Aku harus mengambilnya.' Kuda kesayangan Irwan bergerak cepat segera mengejar cucian itu,Evi lega sekali,"Terima kasih ya kuda.Kamu baik banget." Irwan heran melihat interaksi antara kudanya dengan Evi,'Kudaku biasanya ga mudah didekati orang tak dikenal.Tapi kali ini ia langsung akrab dengan orang asing.Gadis itu pasti sangat istimewa.' Irwan mendekati Evi,"Itu kuda saya.Jarang sekali ia membiarkan dirinya didekati orang yang belum ia kenal." Evi berterima kasih,"Saya mengucapkan terima kasih.Tapi maaf saya harus pergi." Irwan malah heran,'Siapa dia?' Keesokan harinya Irwan ke sungai lagi berharap bertemu Evi lagi namun tak ada.Lelah menanti,ia jalan2 menuju keramaian.Disana ia melihat Evi sedang berjalan membawa belanjaan.Diujinya Evi dengan menjatuhkan sekantung uang.Evi menemukannya dan segera mengembalikannya,"Tuan!Tuan!Uang Anda jatuh." Evi kaget kala melihat Irwan,"Anda kan pemilik kuda di tepi sungai kemarin?" Irwan mengangguk,"Benar.Terima kasih sudah mengembalikan uang ini." Evi kembali pergi dengan tergesa,"Sama2 kemarin kan kuda Anda sudah menolong saya." Irwan tersenyum,'Hati yang tulus dan jujur.' Irwan kian terpesona kala melihat Evi memberi pada seorang peminta2.Irwan mengikuti Evi sampai ke rumahnya.Ia tertarik pada gadis itu.Adi dan Irwan lalu datang berkunjung.Tentu saja Shiha dan ibunya menyambut dengan ramah terutama pada Adi.Sementara Adi ditemani Shiha dan ibunya,Irwan menemui Evi,"Hey...bolehkah kutahu siapa namamu?" Evi yang sedang membersihkan halaman kaget juga,"Namaku Evi.Pembantu di sini." Irwanpun kian akrab dengan Evi dan makin jatuh hati padanya.Ia iba melihat bagaimana susahnya hidup Evi di rumah itu,'Kasihan sekali.Tinggal di kamar nan kecil sambil merawat ibunya.Masih diperlakukan dengan buruk pula oleh majikannya. Sementara itu Baginda akhirnya menyusul putranya dan tiba di rumah dimana Evi tinggal.Jelas dengan pasukan pengawal,"Baginda tiba!!" . Wah Shiha dan ibunya mengira akan mendapat anugerah karena telah menyambut Adi dengan ramah.Namun alangkah terkejutnya mereka kala Adi malah sujud dan Baginda bertanya,"Dimana Putra Mahkota?" Irwan malah sibuk membantu Evi bekerja di dapur,"Ini aku dapat kayu bakarnya.Banyak kan?" Evi tersenyum gembira,"Terima kasih ya.Kerjaanku cepat selesai dengan bantuanmu.Aku jadi punya banyak waktu merawat ibuku.Kamu baik banget." Evi heran melihat banyak pengawal istana di depan,"Ada apa ya?" Makin heran lagi kala melihat Baginda segera memeluk Irwan,"Putraku!Ayah mencemaskanmu." Evi kaget,"Putra?Dia Pangeran?" Shiha menyuruh Evi pergi,"Sudah!Kamu ke sungai saja sana mencuci baju!" Irwan mencegahnya,"Tunggu!" Evipun meminta maaf,"Maafkan saya Pangeran.Saya tidak tahu kalau ..." Irwan mendekati Evi,"Tidak apa2.Aku memang sengaja menyamar.Aku ingin memperkenalkanmu pada Ayahku." Bagindapun tahu,"Jadi kau sudah menemukan pengantinmu Putraku?" Irwan mengangguk dan meraih tangan Evi,"Maukah kau menjadi pengantinku?Tinggal di istana sebagai isteriku?" Evi terpana tapi Ibunya Shiha sewot,"Dia itu pembantu disini,Pangeran.Tidak layak untuk Pangeran.Saya tidak ijinkan dia pergi sebab dia punya hutang pada kami." Baginda berang,"Akan kulunasi hutangnya.Beserta bunga2nya.Lancang sekali sikapmu!" Akhirnya Evi diboyong ke istana tentu saja dibawa pula ibunya bahkan sang ibu mendapat perawatan tabib istana dengan intensif.Evi dan Irwanpun menikah sedangkan Shiha dan ibunya dihukum oleh Raja karena kejahatan hatinya.Tak lama kemudian Irwanpun naik tahta.Bersama Evi dan anak2 mereka ia memerintah dengan bijaksana dan disayangi oleh rakyat.***The End*** 

CERPEN PERDANA : PIRING SENG^^^.

|||| PIRING SENG.... 
Aku pulang kerja jam 5 sore.Hari ini aku puasa.Sudah jadi kebiasaan aku untuk puasa sehari tiap minggu.Biasanya sih hari Senin biar aku ga bad mood menghadapi dunia nan sibuk.Jangan sampai aku terkena sindrom "I hate Monday ".Bagiku tiap hari adalah sebuah karunia dan kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.Aku melangkah menuju parkiran sambil menenteng helm,biasa mau nebeng temen.Ronald demikian nama temanku,dia mekanik di perusahaan dimana aku bekerja.Banyak yang ga suka sama dia karena banyak yang bilang dia itu begini dan begitu.Tapi aku melihat satu saja yaitu dia mau aku tebengi dan dia setia menanti meski aku ga bilang mau nebeng dia.Aku ga butuh orang sempurna untuk jadi temanku.Yang aku doakan selalu adalah orang yang baiklah yang menjadi temanku.Hpku bergetar,ada sms.Dari Mr.Goodman alias Ronald.Dia bilang,"Mb tunggu bentar ya aku lagi dipanggil sama Head Of Departemen." Aku balas,"Iya Nald..Gpp.Aku akan tunggu." Sambil menunggu di bawah pohon bambu kulihat sebuah rumah penduduk dekat situ.Seorang remaja putri nampak ribut sama ibunya sambil melempar sebuah piring seng keluar ke arah halaman kebetulan dekat aku duduk,"Bu!Piring jelek kaya gini aja masih dipakai.Udah berlubang tuh.Buang aja!Miskin amat sih kita makan aja pakai piring seng berlubang lagi.Amit2!" Sang ibu nampak sedih melihat kelakuan putrinya,"Sri,jangan dibuang piringnya.Itu piring kenangan dari mendiang bapakmu." Gadis belia itu malah memakai head set,"Kenangan espret!!Berisik tahu kalau jatuh ke lantai.Udah dibuang aja.Atau dijual rongsong aja!" Aku ambil piringnya dan kukembalika pada sang ibu,"Maaf ini piring milik ibu ya?" Sang ibu mengusap air mata di pipinya,"Makasih ya Nak.Piring ini berharga banget buat ibu." Aku memberikan tissue padanya,"Setiap orang memiliki persepsi berbeda terhadap suatu benda atau suatu hal.Mungkin putri Ibu belum tahu makna dibalik piring seng ini.Tapi saya malah jadi ingin tahu ada apa sih keistimewaan piring ini?" Putri Ibu itu duduk di lantai depan rumahnya seraya memakai head setnya dan nampak asyik mendengarkan musik soalnya sambil goyang2 gitu kepalanya.Aku lalu di ajak ibu tadi duduk di tempat aku menunggu tadi.Kami duduk sambil ngobrol.Anehnya anak gadisnya juga pindah duduknya dekat aku sambil lihatin hpnya,dia cuma senyum aja lalu duduk.Samar kudengar bunyi musiknya.Korean wave.Hmm...demam Korea ya. Sambil menunggu Rohmat aku mendengarkan sang ibu cerita,"Suami ibu sebenarnya anak orang kaya namun karena dia memilih menikah sama ibu maka dia diusir dari keluarganya.Kami hidup terlunta2.Sampai kemudian dia jadi kuli kasar kerja di bangunan.Gaji pertama dia beliin ibu piring seng itu.Kami dulu kerap makan dengan piring plastik tapi sering ibu lapisi dengan daun jati atau daun pisang sebab baunya kadang ga sedep.Biasa peralatan plastik murahan bukan yang kayak zaman sekarang bagus2." Aku tersenyum mendengarnya,"Iya saya juga kadang malas bawa bekal karena suka berubah aromanya kalau di wadah plastik.Baunya jadi aneh." Sang ibu melanjutkan,"Melihat itu maka suami ibu beliin piring seng buat ibu." Aku heran juga,"Kenapa ga beli dua ibu?Kok cuma satu?" Sang ibu memandang ke langit,"Suami ibu itu kan terbiasa makan pakai piring beling Nak.Namanya juga anak orang kaya.Ibu dulu pembantu di rumah dia.Ibu hapal dia suka makai piring duralex yang kacanya warnanya agak ungu itu.Sekarang sudah jarang bisa nemu yang kayak gitu.Piring langka." Aku manggut2,"Oh pantas belinya cuma satu.Kenapa ga beli piring duralex itu aja ?" Sang ibu memandang putrinya,"Ibu sedang hamil Sri waktu itu.Jadi uang gaji suami ibu buat biaya kelahiran.Lagian sejak menikah sama ibu suami ibu ga pilih2 lagi mau makan pakai apa.Ibu sendiri kebiasaan pas jadi pembantu di rumah suami ibu dulu kalau makan pasti pakai piring seng.Malah piring seng pula yang menjadi awal benih cinta kami bersemi." Aku kepo,"Oh ya kok bisa?" Ibu itu bernostalgia,"Ibu waktu itu grogi jadi pembantu di rumah gedongan eh malah jatuhin piring seng.Rame gitu suaranya.Suami ibu ketawa dan bantu ngambilin.Bertemu pandang deh...he..he..Namun ibu diam2 kumpulin uang buat beli piring kesukaan suami ibu.Akhirnya dapat.Ibu kasih pas ulang tahunnya.Dia seneng banget." Wah jujur aku ga sangka sebuah piring bisa bermakna dalam bagi seseorang.Aku menoleh ke Sri,kenapa tak kudengar lagi ya suara musik koreanya?Tapi dia masih pakai headset.Mungkin ganti lihat apa kali ya... Sang ibu nampak menerawang,"Sekarang suami ibu sudah tiada karena penyakit jantung.Ibu selalu mengenang dia.Piring seng itu kenangan indah buat ibu.Membuat ibu kuat menjalani hari2 ibu membesarkan putri Ibu.Banyak pria ingin melamar ibu namun ibu menolak.Semua karena ibu sangat mencintai bapaknya Sri.Meski piringnya sudah lubang dan usang sekalipun takkan pernah ibu jual.Apalagi ibu buang.Bagi ibu itu adalah tanda cinta dari mendiang suami ibu." Aku berkaca2 mendengarnya,teringat aku pada mendiang ibuku sukanya juga piring seng.Aku juga sampai ketularan.Bahkan aku sampai minta kakak beliin spesial buat aku kalau lihat ada yang jual.Akhirnya dapat.Aku jadi ingin pulang deh... Kulihat Ronald datang mendekat,"Ibu saya pamit ya.Temen saya sudah datang.Bukan cuma ibu yang suka piring seng.Saya juga.Oh ya kenalkan nama saya Linda." Sang ibu tersenyum menyalamiku dengan hangat,"Kalau nunggu lama mampir rumah Ibu Nak.Oh ya nama saya Darmi." Anak gadis ibu Darmi itu ikut berdiri dan menyalamiku,aku heran juga.Ronald mendekatiku,"Maaf lama ya mb.Heran tuh kenapa begitu jam pulang malah baru manggil Pak Head of itu.Kebiasaan buruk." Aku memakai helmku,"Gpp.Makhlum urusannya kan banyak.Baru inget kali." Ronald menggerutu,"Ingetnya dia itu apa setelah jam kerja selesai ya.Ga mikir apa kalau aku juga dinanti keluargaku.." Weleh ....aku juga heran.Aku pamitan sama Ibu Darmi dan Sri,"Mari..." Mereka tersenyum melambaikan tangan ke arahku.Dari jauh kulihat Sri tiba2 memeluk ibunya sambil menangis kayaknya.Sepertinya dia mendengarkan percakapan aku dan ibunya.Sampai rumah aku segera mandi dengan air hangat,biar asmaku ga kambuh.Sembari mencuci baju aku melihat ke rak,"Lho mb mana piring sengku?" Kakakku keluar dari kamar diikuti bodyguard kecilnya namanya Damas.Anak keduanya yang baru berumur 3 tahun.Di tangan ponakanku nan ipel2 itu piring sengku.Horok...kok malah dipegang Damas?Aku berjongkok depan Damas,"Ini dia yang nyembunyiin piring Tante.Si Tembem ini.Pasti buat main lagi ya?" Damas segera memberikannya padaku,"Punya tante.." Aku gemes sama dia,"Ntar beli lagi ya?Yang banyak.Biar rame rumahnya.He..he.." Aku tersenyum dan segera mencuci piring itu.Usai mencuci baju,kunikmati makan malamku di sebuah kursi panjang depan kamarku sambil memandang piring seng di tanganku.Mulai sekarang aku akan lebih menghargai piring ini.*The End* 

CERPEN KE-35 : NEW YEAR ^^^


÷ CERPEN KE-35  : NEW YEAR 
          Seorang pria pedagang tempe nampak sedang sibuk membuat tempe.Kedelai2 ia masukkan dalam bungkusan daun pisang lalu dilapis kertas dan diikat.Ibunya memperhatikan putra sulungnya itu,"Banyak banget kamu bikin tempenya Bambang?"
Bambang yang sudah kepala 3 itu menjawab,"Ini kan musim liburan Bu.Menjelang tahun baru pasti pasar ramai Bu.Bambang sengaja bikin banyak biar untung kita berlipat Bu.Lumayan buat biaya hidup dan bisa buat adik2 Bu."
Sang ibu bangga pada putranya itu,"Kamu itu memang anak ibu yang baik.Kalau ga ada kamu,ibu ga tahu gimana bisa nyekolahin adik2 kamu sejak bapakmu tiada.Kamu bahkan sampai belum nikah demi bantu ibu cari uang.Ibu ini SD saja ga lulus.Tahunya cuma masak,nyuci dan bikin kristikan.Untung Ibu dianugerahi anak sebaik kamu.Ibu bersyukur banget."
Bambang mendekati ibunya yang berkaca2,"Sudah menjadi kewajiban Bambang Bu sebagai anak paling tua.Lagian Bapak udah tiada,Bambang kasihan lihat ibu nyari uang sendiri.Soal nikah kalau sudah tiba waktunya pasti Bambang akan nikah Bu.Bambang ga mau asal nikah.Bambang mau cari perempuan yang mau diajak susah seneng Bu.Ga cuma seneng2 aja."
Sang ibu malah mendoakan,"Moga saja di tahun yang baru kamu ketemu jodohmu ya.Ibu juga ingin lihat kamu bahagia.Kamu pantas bahagia juga."
Bambang tersenyum,"Amin.Ya udah Bu.Bambang mau cari daun pisang dulu di kebun.Sekalian buat ibu kalau mau bikin penganan naga sari."
Sang ibu terharu sekali dengan karakter putranya itu,'Pakne2 anakmu lanang ini apik tenan bocahe.Ngemong sama adik2nya dan selalu mendahulukan mereka daripada urusannya sendiri.'                  Bambang sebenarnya punya wajah lumayan ganteng walau agak sawo mateng kulitnya.Makhlum kadang juga jadi buruh sawah.Kerja apa saja ia lakukan demi ibu dan adik2nya bisa hidup layak.Adik2nya juga rajin belajar dan sayang sama kakaknya itu.Bambang cuma tamat SMP.Makhlum saat ayahnya tiada saat ia masih duduk di kelas 2 SMP.Melihat ibunya kembang kempis cari uang akhirnya ia milih ga melanjutkan ke sekolah menengah atas.Ia pilih kerja saja.Nerusin usaha bapaknya jualan tempe di pasar.Tibalah saatnya jualan,kemarin2 ia laku keras.Makanya ia buat banyak terus.Namun pagi itu ia lihat tempenya belum jadi masih kedelai,"Kok belum jadi sih?Aduh...gimana nih?"
Sang ibu bertanya,"Kenapa kamu Nak?Resah gitu."
Bambang membuka beberapa tempe,"Tempenya belum jadi Bu.Aneh biasanya sudah jadi.Padahal semalam aku dah berdoa agar daganganku hari ini laris.Lha kok malah belum jadi."
 Sang ibu menepuk bahu anaknya itu,"Sudah jangan patah semangat.Siapa tahu nanti jadi.Bawa saja ke pasar."
Bambang menurut pada nasehat ibunya,"Iya Bu.Semoga saja nanti jadi.Jadi bisa dijual.Padahal kali ini aku bikinnya dua kali dari yang kemarin lho.Semangat!Bambang semangat!"
Adik2nya ikut nyemangati,"Iya kak cemungud!Ganbatte!"
       Menaiki motor plethuknya Bambang menuju pasar.Melewati sebuah warung makan ia mampir bentar setor tempe belum jadi.Memang warung itu langganan dia,seorang gadis manis menyambutnya,"Kok wajahnya gitu Mas?Lagi sedih ya?Apa belum sempat sarapan?Sini makan dulu.Aku ambilin."
 Bambang dipaksa duduk,"Tahu aja kamu Lastri kalau perutku kosong."
       Lastri adalah anak pemilik warung,sebenarnya ia suka sama Bambang.Cuma ia pendam dalam hati.Ia tahu Bambang pria yang baik dan pekerja keras.Bertanggung jawab dan ngemong orangnya.Makin kenal makin sayang ia sama Bambang.Bambang juga sebenarnya suka sama Lastri tapi dia ga pede mau mengungkapkan isi hatinya.Ia cuma penjual tempe dan buruh kasar mana mungkin orang tua Lastri mau nyerahin putri mereka yang terkenal cantik itu ke dia.Ia hanya bisa melepas rindu dengan mampir ke warungnya Lastri.Lastri sampai hafal apa saja kesukaan Bambang.Tanpa bilangpun ia sudah tahu.Siangnya ia ngirim makan siang buat Bambang,kadang sampai dikecrohi sama penjual yang lain,"Tuh calon isterimu dah kirim makanan.Udah dilamar aja!"          Lastri tersipu malu sedang Bambang malah lagi galau karena sampai siang tempenya juga belum jadi.Penjual tempe yang lain sudah pada laku dan malah sudah mau habis.Ia satupun belum ada yang laku.Lha belum jadi.Lastri menghiburnya,"Tenang Mas.Sore pasti sudah jadi.Sore kan pembelinya juga banyak.Lagian kadang ada yang suka tempe setengah jadi lho.Sekarang makan dulu."
         Bambangpun berjualan sampai sore tapi saat ia intip lagi tempe2nya masih belum jadi juga.Mana pembeli mulai jarang lagi.Ia terus menanti siapa tahu saja masih ada pembeli.Hingga ia melihat seorang ibu2 pergi ke penjual tempe satu lalu ke yang lain dan akhirnya sampai ke dia,"Mas punya tempe belum jadi nggak?Saya cari sana sini ga ada yang punya.Mas punya ga?"
Wah Bambang langsung ngintip tempenya lagi,'Syukurlah masih belum jadi.'
Bambang bertanya,"Saya ada Bu.Mau beli berapa?"
Alangkah terkejutnya Bambang kala sang pembeli jawab,"Mas ada berapa?Saya beli semua deh." Bambang kaget,"Semua Bu?Mau buat apa Bu beli sebanyak itu?"
Pembelinya cerita,"Saya itu mau ke luar kota.Nah keluarga saya suka banget tempe.Makhlum keluarga besar Mas.Saya borong semua tempenya."
Bambang termangu tak percaya,saking gembiranya ia sampai megang tangan Lastri curhat,"Ya ampun Lastri...kamu bener...ada yang suka tempe belum jadi.Aku hampir putus asa tadi.Makasih ya...sudah nyemangati aku."
Lastri melirik pria yang ia sukai itu,"Masak cuma makasih aja...."
Salah satu pengunjung warung nyeletuk,"Diajak malam tahun barunan dong Mas pacarnya itu.Ga tanggap amat..."
 Eh ibunya Lastri datang,"Mau ajak Lastri jalan2 lihat kembang api ya?"
Bambang dag dig dug,"Memang boleh Bu?"
Pemilik warung tahu putrinya emang suka sama Bambang lalu dia mengangguk,"Kalau Lastri mau gpp..."
Wah Lastri seneng banget,"Aku mau Mas...maksudku aku dah lama pingin lihat kembang api.He..he.."
Bambang bagai dapat durian runtuh,"Ntar malam aku jemput ya.Gpp to pakai motor bututku?"
 Lastri ga masalah,"Gpp mas.Yang penting kan yang punya motor he .he.."
Wah semua pengunjung warung langsung bersuit2,"Wah ditunggu undangannya ya...ai..ai.." Bambangpun pulang dengan wajah ceria sampai ibunya heran,"Kamu kenapa berseri2 gitu mukanya?Nemu uang di jalan?Atau tempenya jadi dan laku?"
Bambang bersimpuh dekat kaki ibunya,"Tempenya masih belum jadi Bu tapi laku habis.Diborong semuanya.Untung tempenya belum jadi hi..hi..."
Adiknya mendekat,"Kayaknya masih ada yang lain deh...wajah Kakak hepi banget.Hayo ada apa?" Bambang tersipu,"Ehm...Bambang nanti mau malam tahun barunan Bu...he..he.."
Adiknya yang lain nimbrung,"Sama siapa hayo?Sama cewek ya?"
Bambang malu dan ngacir ke dapur,"Kalian ntar juga tahu..."
Sang ibu tersenyum,'Akhirnya aku akan punya menantu juga.'
      Malam tahun baru tiba.Bambang sudah siap dengan motor bututnya.Sudah rapi dan wangi.Adiknya sampai jebres2 saking wanginya.Weleh... Malam itu Bambang menyatakan cintanya pada Lastri.Lastri malu2 tapi mau.Weleh...Berdua mereka menikmati malam pergantian tahun.Lihat kembang api,makan jagung bakar,niup terompet dan pastinya gandengan tangan terus. Dan beberapa bulan kemudian mereka menikah.Lastri dan ibu mertuanya buka warung makan.Laris manis.Bila ada tempe yang ga laku atau busuk maka dibuat sayur tumpang dan justru sangat diminati pembeli.Malah jadi menu andalan warung.Bambang akhirnya jualan tempe di warung itu.Buka usaha gorengan juga.Mendoannya sangat enak.Selalu dicari pembeli.Di akhir tahun saat malam tahun baru Lastri melahirkan seorang anak buat Bambang.Kebahagiaan Bambang bertambah.Malam tahun baru selalu diperingati oleh keluarga Bambang sebagai malam spesial.Happy new year ! Ngomongin tempe,di rumah pas lagi masak tumpang nih.Jadi laper...cerbungnya ntar ya....jeda dulu.***see you