EPS 51 PAMC : HAPUSKAN RASA
Panas banget
ya? Kebayang buat yang mudik pasti very-very hot out there. Matahari
kayaknya lagi hepi habis ketemu rembulan kemarin. Ini bahas gerhana
matahari hybrid atau another gerhana nih? Dua-duanya saja soalnya kayak
barengan gitu. Ada jenis kebahagiaan yang tak bisa dirasakan oleh orang
lain meski kita kasih tahu juga. Itulah joy. Bahagia yang dari atas.
Rasanya so overwhelming banget. Sampai kadang kita terpaku dan
berkaca-kaca saking bahagia. Itu juga yang dirasakan oleh Afan saat
menuju ibukota negara Bunga, ada rasa bahagia di hatinya yang begitu
meluap. Sampai menarik para pembeli untuk datang membeli hasil panen
mereka sepanjang jalan, "Pemuda ganteng itu siapa Pak? "
Tanya mereka pada Reza, "Putranya ya? Kasep pisan manis pula tingkahnya... "
Reza menoleh ke Afan yang sibuk melayani pembeli, "Oh itu memang anak saya, memang kenapa? "
Mereka
memuji Afan yang ga jaim bantu ayahnya ditengah matahari yang bersinar
begitu terik, "Ya ampun badan seputih itu disuruh panas-panasan kok mau
ya? Memang anak yang berbakti ya. Beruntungnya si bapak dikasih anak
yang baik. Tapi kok saya masih ga oercaya ya kalau itu putra bapak. Maaf
ya ... Mungkin lebih mirip ibunya kali ya. "
Afan datang memberikan uang hasil penjualan, "Sudah habis Pak. Bahkan belum sampai masuk gerbang ibu kota. Ini uangnya Pak. "
Reza menerimanya, "Kamu ga ambil Le? "
Reza
ingat banget dulu anaknya Ahmad pasti udah motong buat pajak jadian eh
pajak jalan sebelum diserahkan ke dia. Namun Afan beda, "Ahmad ga kurang
suatu apa Pak, buat bapak saja. Ahmad cuma minta kita tetap mampir ke
istana ya? "
Reza menepuk pundak putranya, "Tumben kamu ga menomorsatukan uang Nak? "
Afan menjawab, "Uang bapak kan juga buat Ahmad akhirnya. Jadi kenapa harus diminta? "
Reza terharu dan teringat kata-kata pusaran angin saat menitipkan Afan padanya.
.... Dia akan menghibur hatimu... Bawa dia pada Putri Bunga hanya dia yang bisa menyembuhkannya...
Reza mendekati putranya, "Yuk kita ke istana kita harus memberikan ucapan terima kasih kepada Tuan Putri Dira! "
Namun tiba-tiba terdengar suara gemuruh derap kaki kuda, Afan melihat bahaya datang. Bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar