OLDEST PRINCE PART 21-30


Part 21 ••• OLDEST PRINCE : In Danger ( Dalam Bahaya )
            Memasuki tiket baru nih.Sebuah tiket yang saya pilihkan buat seorang pembaca berinisial R.Lumayan panjang tiket kali ini namun bakal ada cerpen di dalamnya.Saya ingin buat cerpen dengan pairing Vahe.Kenapa ada cerpen di sini?Ya karena ada window 9 di tiket ini.Bagi yang suka Mars ada 2 eps BTM di awal tiket dan juga 2 eps It Was You.Tapi inti tiket ini adalah Kh dan Gala2.Karena banyak angka berulang maka ada 2 bonus yaitu Ddj dan Arjun.Tapi pasti Oldest Prince akan hadir tiap 2 window saya next demi menjaga mood menulis penulise he..he..Ini dia tiket B →4495532-06.Alamat cerpennya akan berjudul dengan awalan B nih.Bahaya...Bholo...Bla..bla..bla.. ••• BENGALI'S PALACE....
Parvati melihat Swara berjalan bersama kakek Prem,iapun bertanya pada pengawal yang berjaga,"Siapa pria yang bersama Dayang Swara itu?"
Pengawal menjawab,"Itu kakek dayang Swara.Perlukah saya panggilkan Yang Mulia?"
Parvati menggeleng,"Tidak perlu."
Parvati ingat pria itu,'Dia dulu yang menjemput Sharmista saat kuusir dari istana.Jadi benar,Swara adalah anak haram Shekar dengan dayang Sharmista.Benar2 memalukan dia berani memasukkan anaknya ke istana.Apa dia pikir,aku tidak akan tahu?Akan kusingkirkan anak itu.Sebelum Shekar benar2 menjadikan dia putri kerajaan.Apa kata dunia jika mereka tahu bahwa putraku pernah punya skandal.Aku harus punya strategi lain yang lebih bagus untuk melenyapkan anak haram itu.Mumpung Shekar tidak ada di Bengali.'
 Parvati lalu menyuruh memanggil prajurit yang ia suruh membawa ular berbisa,"Suruh Digu menemuiku."
           Digu sebenarnya adalah prajurit yang disuruh Rajat untuk membakar mayat gadungan Sanskar,dia adalah mata2 Rajat untuk mengawasi Bengali.Dia menyamar diantara pasukan Bengali tapi sebenarnya dia adalah anak buah Rajat.Digu sangat pintar mengambil hati Parvati.Hampir saja identitasnya diketahui Parvati kala ada luka bakar di tangannya usai kejadian kematian Sanskaar setahun yang lalu.Namun ia bisa berkelit dan mengatakan bahwa luka itu didapatnya karena membantu korban pembakaran rumah2 penduduk oleh musuh.Namun saat bertabrakan dengan Kissan,luka bakar itu terlihat oleh putra mahkota Maheswari yang sedang hilang ingatan itu.Kissan mengawasi setiap prajurit yang dilihatnya,'Tanda luka bakar itu akan menjadi petunjuk bagiku menemukan si pembawa ular itu.' Kala Kissan sedang mengangkuti tanaman,ia melihat Digu diantara kumpulan prajurit,'Tanda luka bakar itu.Itu orangnya.Aku harus mengawasi gerak geriknya.'
Digu nampak dibisiki seorang dayang,"Ibu Suri mencarimu.Cepatlah kau temui beliau."
             Digu mengangguk dan segera pergi,Kissan segera mengikutinya dengan diam2.Di tempat rahasia Parvati memberitahu Digu soal gagalnya rencana pertamanya,"Kau ini bagaimana bisa sampai gagal?Ular berbisamu tak berguna!Sekarang aku punya tugas baru untukmu.Jangan sampai gagal lagi."
Parvati berbisik pada Digu,sehingga Kissan tak bisa mendengarnya,'Apa yang mereka bicarakan?Aku tak bisa mendengarnya dari sini.Aku penasaran kenapa dia begitu membenci Swara?Pria itu berbahaya!Sebaiknya aku lebih baik lagi menjaga Swara.'
 Usai berbicara dengan Digu,Parvati meminta seorang dayang untuk memanggil Swara agar menghadapnya,"Panggil dayang Swara untuk menemuiku.Aku ingin mendengar permainan musiknya."
 Swara sedang bersama kakeknya kala Kissan datang,"Kissan!Ayo kemari.Makan bersama kami.Ini aku buatkan teh untukmu."
Kissan duduk bersama mereka,"Bagaimana kabar Nenek Dida dan Ibu Sharmista,Kek?"
Prem menjawab,"Mereka baik,Nak.Semua titip salam untukmu.Kakek lega kau mendapat pekerjaan di sini.Kakek titip Swara ya.Tadi Swara cerita kalau kau menyelamatkannya dari ular berbisa.Terima kasih ya nak Kissan.Sudah menjaga cucu kakek ini."
 "Kakek ini tak perlu berterima kasih.Justru akulah yang banyak berhutang budi pada kakek.Aku pasti akan menjaga Swara Kek."
Dayang suruhan Parvati datang,"Swara,Ibu Suri memanggilmu."
Mendengar itu,Kakek Prem lalu pamit pulang,"Pergilah Swara!Sekalian kakek juga mau pulang saja.Biar ga kemalaman sampai rumah.Kissan,titip Swara ya."
           Kissan mengantar kakek ke gerbang istana sedang Swara pergi menemui Parvati. Kissan curiga,'Aneh,usai bertemu pria dengan tanda luka itu,Yang Mulia kemudian memanggil Swara.Jangan2 mau mencelakai Swara lagi.Coba kutanya pada kakek siapa tahu beliau tahu misteri dibalik semua ini.'
Sampai dekat gerbang istana,Kissan bertanya pada Kakek Prem,"Tunggu sebentar Kakek.Ada yang ingin Kissan tanyakan."
Kakek Prem heran,"Soal apa Kissan?"
Kissan agak ragu,"Kakek sebelumnya Kissan minta maaf,Kissan dengar dulu ibu Sharmista pernah menjadi dayang di istana ini ya?Mengapa ibu Sharmista pergi dari istana ini Kakek?Apakah ibu Sharmista melakukan kesalahan?"
Prem menatap anak muda di hadapannya,"Entah kenapa tiap kali aku melihatmu aku seperti merasa kau ini bukan orang asing bagiku.Ceritanya sangat panjang nak.Bahkan Swarapun belum tahu semuanya.Namun aku tak bisa ceritakan sekarang.Nanti saja kalau Swara diijinkan pulang dan kau ikut serta dengannya,kakek akan ceritakan apa yang terjadi.Ini menyangkut rahasia keluarga kakek.Sebuah masa lalu yang pahit.Sebenarnya kakek tak ingin datang ke istana ini lagi tapi semua demi memastikan Swara baik2 saja makanya kakek kemari.Tolong bantu kakek menjaga Swara terutama dari..."
Kakek melihat sekitarnya dulu baru melanjutkan ucapannya,"Dari Ibu Suri..terutama disaat Baginda tidak ada di istana seperti sekarang.Sudah ya kakek harus segera pergi.Ingat pesan kakek tadi." Kissan makin heran,'Kakekpun memintaku menjaga Swara dari Yang Mulia Parvati.Aku jadi makin penasaran apa hubungannya dengan ketidakhadiran Baginda ya?Aneh deh...'
Diruangan Parvati,Swara memainkan musik dengan sangat indah,Parvati pura2 menikmatinya,"Indah sekali Swara.Apa ibumu yang mengajarimu?"
Swara merapikan alat musiknya,"Benar,Yang Mulia.Ibulah yang mengajari hamba mengenai musik dan tari."
Parvati lalu mengambil sesuatu,"Aku baru saja mendapat kiriman hadiah dari kerajaan Mumbai berupa kain sutra.Ini ambillah dan berikan pada ibumu.Dia telah mendidikmu dengan baik sehingga bisa menghiburku."
Swara tak menduga diberi hadiah,"Ini untuk ibu hamba?Ini indah sekali Yang Mulia.Terima kasih.Ibu hamba pasti senang sekali menerimanya."
Parvati berkata lagi,"Bukannya kakekmu datang tadi.Jika kau ingin pulang bersamanya tidak apa2.Lagipula masih banyak dayang di istana ini yang bisa menggantikan tugasmu."
Swara kian terpana,"Sungguh Yang Mulia.Hamba boleh pulang ke rumah hamba?"
Parvati mengangguk,"Iya.Ragini juga tidak ada jadi pakailah kesempatan ini untuk pulang.Aku mengijinkannya."
Swara segera bersujud dan pamit untuk bersiap pulang,"Hamba permisi Yang Mulia.Terima kasih untuk semuanya.Terima kasih."
Parvati tersenyum melihat kepergian Swara,'Pergilah!Pergilah untuk selamanya dari hadapanku.' Swara saking senangnya sampai bertabrakan dengan Kissan di jalan,"Auw!"
Kain sari yang ia bawa jatuh,"Kissan?"
Kissan segera mengambil bungkusan yang dibawa Swara,"Apa ini Swara?"
Swara dengan gembira cerita,"Ini hadiah dari Nenek Suri eh Ibu Suri maksudku..."
Kissan makin heran,"Hadiah dari Ibu Suri?"
Swara malah nampak ceria,"Kau tahu.Ibu suri bukan hanya memberiku hadiah kain indah ini tapi juga mengijinkanku pulang,Kissan."
Kissan mengernyitkan dahi,"Bukannya kau baru saja pulang beberapa hari yang lalu?"
Swara malah mendekap kain yang dibawanya,"Coba kau bisa ikut denganku.Aku harus cepat supaya aku bisa mengejar kakek.Kakek pasti belum jauh.Sudah ya Kissan!"
Kissan malah jadi cemas,'Ini aneh.Bukannya biasanya sulit sekali bisa keluar dari istana?Kenapa aku bisa bilang gitu ya?Aduh seakan aku biasa hidup di istana saja.Heran...ups...aku tak boleh membiarkan Swara dijalan sendirian.Bahaya!Mungkin ini memang rencana lain Ibu Suri untuk menyakiti Swara.Tapi bagaimana aku bisa pergi bersamanya ya?'
Kissan menemui tukang kebun utama,kebetulan orangnya sedang membagi tugas buat besok,"Ziki kau ke halaman depan.Malik kau ke kebun belakang.Gopal kau bertugas mencari tanaman di luar istana.Ini daftarnya.Bawalah Kissan bersamamu supaya ia bisa belajar cara memilih tanaman yang baik."
Kissan lega sekali setelah mendengarnya,'Terima kasih Tuhan memberiku jalan untuk bisa menjaga Swara."
Kissan lalu berbisik pada Gopal,"Paman bagaimana jika kita berangkat sekarang saja.Toh tugas kita hari ini sudah selesai.Aku mohon Paman."
Gopal lalu bertanya,"Memang kenapa kau ingin segera berangkat?Apa kau tidak capek?"
Kissan lalu memberitahu,"Swara diijinkan pulang hari ini.Aku hanya ingin mengantarnya pulang dan memastikan dia sampai di rumah dengan selamat Paman.Itu saja."
Gopal mengerti,"Soal cinta rupanya.Tenang saja aku akan membantumu.Akan kubicarakan dengan ketua."
           Kissan lega dan benar Gopal bisa membujuk kepala tukang kebun.Kissan bergegas menemui Swara di kamar para dayang,tapi dijalan ia berpapasan dengan panglima kerajaan yang terpana kala melihat wajahnya,'Orang itu sepertinya aku pernah melihatnya.Astaga!!Dia mirip sekali dengan Pangeran Sanskaar dari Maheswari.'
 Panglima bertanya pada bawahannya,"Siapa orang itu?"
Bawahannya segera memberitahu,"Dia itu tukang kebun yang baru Panglima.Baginda sendiri yang menugaskannya.Dia hebat Panglima,dialah yang menyelamatkan seorang dayang dari ular berbisa.Dia tangkas dalam menggunakan tombak.Bahkan dari yang saya dengar dia bisa mengalahkan para penjahat di pasar seorang diri."
Panglima berpikir,'Baginda sendiri yang menugaskannya?Berarti Baginda sudah bertemu dengannya.Tapi apa Baginda tidak mengenalinya?Aku akan mencari tahu.'
Kissanpun dipanggil oleh Panglima untuk menghadap.Kissan yang terburu2 hendak mengejar Swara terpaksa menemui Panglima kerajaan,'Aduh untuk apa Panglima ingin menemuiku.Gawat!Swara pasti sudah berangkat.Ini gawat!Ah aku akan beritahu Paman Gopal saja agar pergi menemani Swara nanti aku akan menyusul.'
           Swara memang terburu2 karena hendak mengejar kakeknya.Sementara itu Digu menemui sekelompok orang,"Kalian lihat nanti akan ada seorang dayang keluar dari istana.Nah ikuti dia dan bunuh dia.Ingat jangan sampai ada yang melihat.Ini sekantung keping emas jika nanti kalian sudah melenyapkannya aku akan memberi lagi."
 Jelas mereka siap melaksanakannya.Swara dan Gopal akhirnya berangkat dulu.Sementara Kissan menemui Panglima,"Panglima,tukang kebun itu sudah datang."
Panglima menyuruh masuk,"Suruh dia masuk!" Kissan masuk dengan tertunduk,'Apa aku membuat kesalahan ya?Kenapa rasanya aku pernah ke ruangan ini ya?'
           Di meja Panglima ada peta2 dan senjata2 menghiasi seisi ruangan.Kissan tak berani mengangkat mukanya,"Panglima memanggil hamba?"
 Panglima mendekati Kissan dan mengelilinginya,'Dia benar2 mirip Pangeran Sanskaar.Hanya dia lebih kurusan.Mengapa dia tidak mengenaliku?'
Panglima berkata,"Siapa namamu?"
Kissan menjawab,"Kissan Panglima."
Panglima melihat lagi dengan seksama,"Angkat wajahmu dan tatap aku!"
 Kissan menurut,Panglimapun memegang bahu Kissan,"Pangeran...apa kau tidak mengenaliku?" Kissan terpana,"Pangeran?.."
             Apakah Kissan akan tahu siapa dirinya?***see you next part***

Part 22 □□ OLDEST PRINCE : Komitmen Untuk Menjaga
            Biasanya jam segini saya lagi asyik depan tv lihat Madhubala.Tapi kini sudah ga bisa lagi karena di hari libur saya hari Sabtu dan Minggu malah diganti.Sambil nunggu race motogp di Motorland Aragon Spain,saya mau next story kesukaan saya aja.Kabhie Khushi Kabhie Gham....

 □□ MAHESWARI'S PALACE....
           Putri Ragini nampak berjalan bersama Pangeran Laksya menyusuri koridor istana.Pangeran Laksya mencoba memecah kesunyian,"Apa ini pertama kalinya Putri ke mari?"
Ragini tersenyum,"Tidak.Dulu pernah waktu aku kecil diajak Ayah kemari.Aku ingat waktu itu ada dua anak lelaki sedang bermain layang2."
Laksya jadi terkenang masa kecilnya,"Itu aku dan kakakku.Kami memang suka bermain layang2.Setiap kali layang2ku putus maka kakak pasti memberikan miliknya padaku."
Ragini jadi ingat soal kematian Pangeran Sanskar,"Maaf...aku mengingatkanmu pada kakakmu..." Laksya menggeleng,"Tidak apa.Aku memang sejak kecil selalu saja mendapatkan apa yang menjadi milik kakak.Seperti sekarang ini..."
 Ragini heran,"Pangeran sepertinya tak menghendaki penobatan ini ya?"
Laksya mengangguk,"Aku tidak tahu soal pemerintahan,tentang rakyat dan seluk beluknya.Aku merasa seperti saat kecil dulu selalu saja merebut punya kakakku."
Ragini memandang simpati,"Kau tahu kau lebih beruntung dariku.Setidaknya kau tahu bagaimana rasanya punya saudara.Kau bisa punya teman bermain.Lagipula kakakmu sepertinya sangat sayang padamu.Ia pasti tahu bahwa kau tidak merebut apapun darinya.Justru kau menjaga kerajaan ini." Laksya memandang Ragini,"Kau berpikir begitu?Dulu aku pikir kakak itu selalu saja cerewet menasehatiku ini itulah.Mengajak aku berlatih ini itu.Tapi kini aku merindukan semua itu.Kau tahu aku suka sekali mengganggunya,merusak tanamannya.Tapi lihatlah kini hanya dengan melihat hamparan bunga di sepanjang koridor istana saja sudah membuatku teringat padanya.Maaf aku menceritakan ini padamu..."
Ragini justru senang Laksya bisa nyaman curhat padanya,"Tak perlu minta maaf...Justru aku senang jika Pangeran mau cerita padaku..."
 Laksya tersenyum,"Terima kasih,Putri."
Ragini memandangnya,"Panggil saja aku Ragini."
Laksya juga memandangnya,"Kau juga harus memanggilku Laksya saja.Bagaimana?"
 "Setuju."
 "Berteman?"
Ragini menatap pria tampan di hadapannya,'Aku menginginkan lebih dari menjadi temanmu,Laksya.' "Akan aku pikirkan....he..he.."
            Keduanya tampak ceria.Sujata dan Annapoorna melihatnya dan saling tersenyum.Annapoorna berpikir,'Bagus putraku.Kau memang mempesona siapa saja.Bisa kulihat putri Bengali itu terpikat padamu.Jika Bengali dan Maheswari bersatu pastilah kekuasaanmu nanti akan sangat besar Laksya.' Sujata malah berkata,"Sepertinya perjodohan yang sempat dibuat dulu bisa dilanjutkan kembali oleh Pangeran Laksya.Mereka sepertinya memang diciptakan untuk satu sama lain."

 □□ BENGALI...
Swara sudah menanti di dekat gerbang istana,'Mana Kissan?Katanya mau mengantarku pulang.Ah itu Paman Gopal.'
Paman Gopal tergopoh2 mendekat,Swara celingukan mencari Kissan. "Kissan mana Paman?Kok tidak bersama Paman?"
"Kissan dipanggil Panglima.Dia akan menyusul nanti."
 "Ya sudah.Kita berangkat saja dulu.Kakek pasti bisa kita kejar kalau berangkat sekarang.Ayo,Paman!"
Merekapun keluar dari gerbang tanpa menyadari bahwa ada yang mengawasi mereka,"Itu dia dayang yang kumaksud.Cepat ikuti mereka.Sampai di tempat yang sepi culik dayang itu.Lalu habisi dia." Ditempat lain Kissan sedang diinterogasi oleh Panglima kerajaan Bengali,ia bingung dengan semua ucapan Panglima kepadanya. "Panglima saya ini hanya tukang kebun...mengapa menyebut saya Pangeran?"
 Sang panglima merasa heran,"Kau ini benar2 mirip Pangeran Sulung Maheswari.Pangeran Sanskaar...bolehkah kutahu darimana asalmu?"
Kissan malah merasa pusing,'Sanskaar?...Mengapa nama itu seperti tidak asing kudengar...'
Flash back...
"Pangeran Sanskaar ini peta wilayah musuh!"
 "Pangeran Sanskaar...Yang Mulia ingin bertemu dengan Pangeran."
"Sanskaar...putraku..."
Kissan terhuyung,"Hamba tidak tahu asal usul hamba,Panglima..."
Kissan ingat soal bahaya yang mengancam Swara,"Panglima hamba ditemukan oleh keluarga dayang Swara di sungai Kissan,itulah kenapa nama hamba Kissan.Sungguh hamba tidak tahu bagaimana hamba bisa sampai di sungai itu Panglima.Hamba berkata yang sebenarnya Panglima.Hamba kehilangan ingatan hamba."
 Panglima kini mengerti,'Kehilangan ingatan?Aku yakin dia pasti Pangeran Sanskaar.Aku akan mengujinya.'
Panglima menyuruh Kissan menuliskan sesuatu,"Tuliskan di sini kata Maheswari,Sanskaar dan namamu yang sekarang."
Kissan menurut saja menuliskannya,'Meski aku sangat ingin tahu masa laluku tapi keselamatan Swara jauh lebih penting sekarang.Sebaiknya aku menurut saja supaya cepat selesai dan aku bisa menyusul Swara.'
           Melihat cara Kissan menuliskan huruf S yang begitu khas membuat ia yakin bahwa Kissan adalah Pangeran Sanskaar Maheswari.Namun ia tak mau gegabah menyimpulkan,'Aku akan bicarakan hal ini pada Baginda kala beliau kembali dari Maheswari.Jika aku ceroboh justru bisa terjadi kesalahpahaman lagi nanti.Hubungan kedua kerajaan sudah membaik.Akan kupastikan lebih lagi dugaanku ini.Akan kuawasi Kissan.'
Kissan memohon agar dia diijinkan untuk kembali bekerja,"Bolehkah hamba mohon diri?Hamba mendapat tugas dari kepala tukang kebun istana untuk mencari beberapa tanaman di luar istana."                   Panglima mengijinkan,namun kemudian ia menyuruh dua orang pengawal untuk mengikuti Kissan secara diam2. Berhasilkah Kissan mengejar Swara?Moto2 sudah mulai nih...nonton dulu ya ***see you next part***

Part 23 ◆◆ OLDEST PRINCE◆◆Beside Me ( Disampingku )
            Lama ga nulis nih di akun ini.Ada hal yang saya tak sukai di akun sebelumnya makanya daripada bete disana mending saya ganti suasana.Jangan heran jika foto profil saya sering ganti bahkan di wa saja saya juga sering ganti foto profil saya.Tiap kali bete saya akan mengubah sesuatu sebagai tanda bahwa saya tak mau disetir sekitar saya.Bahwa bahagia saya bukan karena keadaan di sekitar saya tapi karena sesuatu yang didalam.Keadaan akan selalu berubah kadang tak terduga dan kadang diluar harapan.Adik saya suatu hari pulang kerja dengan wajah tegang campur agak gimana gitu kayak habis lihat hantu.Kayak ekspresi orang ga nyana gitu dia.Ternyata di tempat kerja terjadi sesuatu yang mengejutkan hatinya.Seorang preman tiba2 masuk ke area kerja dan menganiaya salah satu temannya hingga darah bercucuran dari kepala temannya itu.Begitu banyaknya darah tercecer di lantai sampai kerja saja pada ngewel.Si preman itu ternyata tetangga temannya tadi tapi mereka berselisih karena masalah pagar dan kasus pencurian tv.Demi benda2 mati dia sampai menganiaya orang yang hidup.Dunia ini kian penuh kedurhakaan namun jangan sampai kita menjadi orang2 yang dimurkai Tuhan dengan ikut didalamnya.Milikilah belas kasihan bahkan bukan hanya pada mereka yang baik pada kita saja,belajarlah tetap bersikap baik pada mereka yang mungkin pernah menyakiti kita.Disitulah orang akan melihat Tuhan ada dalam hidup kita.Saat hati kita penuh dengan kasih sayang.Wah lega saya sudah curhat di sini,soalnya sejak beberapa hari ini saya sedih mikirin hal ini.Kok ya ada ya orang2 yang tega menumpahkan darah sesamanya?Bicara soal tega,ada yang tega juga di kisah Oldest Prince.Siapa hayo yang tega mau nyakitin anggota keluarganya sendiri?Nih dia lanjutan kisahnya.Sagare ni sagalisa...ooohhh...

 >>>>DENGAN SWARA<<<<
            Matahari sudah hampir tenggelam kala Swara meninggalkan istana Bengali.Gopal menemaninya sepanjang perjalanan.
 "Kissan nanti akan menyusul,Paman?",sambil menengok ke belakang beberapa kali Swara bertanya pada tukang kebun yang ada di sebelahnya.
Gopal mengerti kekhawatiran Swara,"Iya dia pasti menyusul.Kissan itu selalu berusaha menepati ucapannya."
Mereka akhirnya berhasil mengejar kakek Prem,"Kakek!!"
           Prem sedang mampir di sebuah kedai saat itu.Ia terkejut melihat Swara,"Kenapa kau keluar istana Swara?Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Swara lega bisa mengejar kakeknya,"Aku diberi ijin Nenek Suri Kakek untuk pulang.Lihat aku bahkan diberi sesuatu oleh beliau.Katanya ini buat Ibu."
 Swara menunjukkan kain yang yang diberikan Parvati,"Bagus kan kakek?Ini sutera lho.Yang Mulia Parvati yang memberikannya katanya ini untuk ibuku kakek.Beliau baik bukan?"
Kakek Prem malah terlihat heran,'Apakah Ibu Suri tahu kalau Sharmista adalah ibu dari Swara?Karena kalau iya tak mungkin dia akan bersikap baik pada Sharmista.Aku masih ingat dia mengusir putriku dari istana.'
---Flash back---
Sharmista dipaksa untuk meminum ramuan penggugur kandungan oleh Parvati,"Aku sungguh malu mengetahui putraku telah mencampur darah kebangsawanannya dengan air dari sungai.Kau pasti telah menggoda putraku.Kau bermimpi akan menjadi permaisuri bukan?Tapi aku takkan biarkan Shekar mengetahui kalau kau sedang hamil.Dia sedang pergi berperang.Dan aku takkan biarkan dia mengetahui tentang dirimu.Kau harus gugurkan anak itu!!Dia adalah noda dalam sejarah kebangsawanan keluarga Kerajaan Bengali!!"
 Sharmista tak mau meminumnya,"Tidak!Jangan bunuh anak dalam rahim hamba Yang Mulia.Biarkan hamba pergi.Hamba janji tak akan memberitahu soal anak ini pada Pangeran Shekar." Parvati lalu mengusir Sharmista dari istana bahkan juga mengusir Prem dan Dida dari istana,"Kalian tak perlu lagi melayani di istana.Bawa putrimu yang memalukan ini pergi jauh dari Bengali.Jangan pernah kalian mencoba untuk kembali kemari lagi!!"
          Sejak itu mereka hidup di perbatasan antara Maheswari dan Bengali.Raja Shekar pulang dengan membawa kemenangan dan sangat kecewa karena diberitahu bahwa Sharmista telah pergi dari istana.Ia berusaha mencarinya tapi Parvati mengancamnya,"Kalau kau ingin ibumu ini mati cepat pergilah!!Cari dayang kesayanganmu itu!Dia terus yang kaupikirkan!!Aku tidak mau makan jika kau tidak mau menerima perjodohan dengan Putri Janki.Biar saja ibumu ini mati karena kelaparan!!"
          Tak lama kemudian Pangeran Shekar menikah dengan Putri Janki dan naik tahta.Sementara itu Sharmista hidup dalam hinaan orang karena melahirkan seorang anak tanpa suami.Seorang anak perempuan bernama Swara.Mereka lalu pergi ke tepi sungai Kissan.Sungai yang menjadi batas antara Maheswari dan Bengali.Hanya penduduk di sekitar sungai Kissan yang mau menerima mereka dengan baik.Hingga suatu hari Raja Shekar dan Raja Durga mengukuhkan persahabatan mereka dengan mengadakan festival di sungai Kissan.Saat itulah Raja Shekar yang telah memiliki putri bernama Ragini datang ke sungai Kissan.Putri Ragini terjatuh ke sungai dan diselamatkan oleh Sharmista yang sedang mencuci di tepi sungai.Sharmista tak sangka akan bertemu dengan Shekar lagi.Raja senang sekali bertemu dengan wanita yang ia cintai,"Aku mencarimu kemana2,Sharmista!Kenapa kau pergi dari istana?Kenapa kau tidak menungguku kembali dari medan perang?"
 Saat itulah Swara datang,"Ibu,lihat aku menangkap banyak ikan hari ini.Kakek mengajariku memancing hari ini."
Shekar terpana melihat seorang anak perempuan disamping Sharmista,"Dia anakmu?Kau sudah menikah?"
           Sharmista malah lari karena melihat Parvati di kejauhan datang.Shekar hendak mengejarnya tapi kondisi Ragini memaksanya segera kembali ke istana.Namun sejak itu Shekar menyisir sungai Kissan mencari Sharmista.Dan kemudian ia tahu bahwa Sharmista tak pernah menikah.Raja kemudian mengetahui bahwa Swara adalah putrinya dan hendak mengajaknya ke istana,"Dia putriku Sharmista.Darah dagingku!Aku adalah ayahnya.Dia berhak hidup di istana."
Sharmista memohon agar identitas Swara tetap menjadi rahasia,"Baginda boleh membawanya ke istana tapi sebagai dayang.Selama Ibu Suri tak bisa menerimanya biarkan identitasnya tetap tersembunyi.Hamba mohon Yang Mulia."
            Shekar setuju karena ia tahu betapa kerasnya hati ibunya.Swara sendiri hanya tahu bahwa Raja Shekar sangat sayang padanya bak seorang ayah.
---End flash back---
 Swara heran melihat kakeknya malah melamun,"Kakek?Kakek baik2 saja?Kakek?"
Prem baru sadar kala tiba2 masuklah preman2 ke dalam kedai dan membuat keributan dengan Gopal,"Hey kau minggir!!Ini tempat duduk kami!!Cepat minggir!!"
Gopal lalu mengajak Swara dan kakeknya untuk pergi,"Kita pergi saja dari sini.Tempat ini tidak aman.Ayo!"
Namun preman2 itu melihat Swara,"Wow...cantik sekali gadis itu!Tangkap dia!"
Gopal dan Prem melawan mereka,"Swara cepat lari!!Jangan hiraukan kami!!Cepat!!"
Swara lari,"Tolong!!"
Salah satu dari mereka mengejarnya,"Kau mau lari kemana Manis?"
          Digu lalu datang berlagak bak pahlawan,berpura2 mengalahkan preman yang mengejar Swara.Swara lega dan hendak berterima kasih namun ia terkejut kala Digu menatapnya dengan penuh nafsu,"Kau mau apa?Kenapa kau menatapku begitu?"
 Digu menyeringai,"Kau ini sangat cantik apa kau tahu?Kau seharusnya menjadi seorang putri raja dan bukan berkeliaran di sini.Sayang sekali aku diperintahkan untuk melenyapkanmu.Tapi sepertinya tidak masalah jika aku bersenang2 dulu dengan tubuhmu sebelum melenyapkanmu.He..he.."
Swara ketakutan karena Digu mengancamnya dengan belati,"Berani kau melawan,maka belati akan menembus jantungmu.Jadi sebaiknya kau menurut.Siapa tahu saja aku akan berubah pikiran setelah menikmatimu."
           Swara terus berontak dan meski pergelangan tangannya tersayat belati milik Digu namun ia berhasil lari.Ia terus lari.Digu mengejarnya,'Perempuan sial!Dia berhasil kabur.Sebaiknya kuhabisi saja dia.'
Swara terus berlari,"Kakek!Paman Gopal!!Tolong!!"
Nafasnya terengah2 ditambah luka di tangannya membuatnya mulai sempoyongan,'Sepertinya aku tersesat.Dimana2 tumbuhan dan pepohonan.'
         Terdengar suara ranting diinjak dibelakangnya,Swara segera menoleh. Siapakah yang datang?***see you next part***

Part 24 ♧◆◆ OLDEST PRINCE : Behind ( Di belakang )
           Maaf jika hari Senin dan Selasa saya jarang next tulisan saya.Biasa kecapekan.Pulang kerja sampai rumah hampir jam 6 petang.Belum kalau masih nyuci baju.Jam 8 malam baru kelar.Mata udah 5 watt.Berat dan pinginnya narik selimut bobok manis aja.He..he..kayak lagu.Saya mau ucapin selamat ultah buat semua aja yang lahir di bulan Oktober ini.Moga selalu sehat dan terus naik level baik secara karakter maupun materi.Juga selamat untuk Fildan DA4 udah sukses meraih dua penghargaan di acara Dangdut Award kemarin.Hebat dapat dua di awal dan di akhir kayaknya.Social darling dan penyanyi solo pendatang baru pria terpopuler ya...
           Buat Via Valen juga selamat dah menang.Saya sering denger namanya soalnya teman2 saya suka lagu2nya tapi baru kali ini saya lihat betapa cantiknya Via Valen.Gayanya dan aura bintangnya jelas banget terpancar.Saya suka sekali tata rias dan gaya rambutnya juga pilihan bajunya.Keren2 punya.Apalagi kalau dia menyapa penggemarnya.Panggung langsung hidup kalau Via tampil.Moga makin sukses dan terus berkibar.Saya juga mau sapa para pembaca karya saya.Malam semua...ada yang request Dasi dan Gincu,Debu2 Jalanan,Kehilangan,Aku Orang Tak Punya,Bumipun Turut Menangis dll.Semua akan saya penuhi dalam tiket baru,tiket terpanjang menurut saya.Awalnya saya mau next tiket sesuai urutan soale saya itu orangnya melankolik jadi seneng banget kalau ngerjain segala sesuatu urut.Tapi buat nyenengin pembaca gpp deh kali ini tiketnya mencolot2.Tiket K,spesial buat yang merasa punya inisial KA he..he..Ini kombinasi angkanya 0003733-11-48-12.Tiket ini akan makin panjang karena di tiap dua cerbung akan saya selingi Oldest Prince.Here we go...Hey ha..ha..sawalisi ik ke ladkir... 

 ♧◆ ◇ DI SEBUAH HUTAN DI KERAJAAN BENGALI...
           Bunyi ranting patah dibelakangnya membuat Swara kian ketakutan namun kala melihat ke belakang,sontak ketakutan di wajahnya sirna.Apalagi kala mendengar namanya disebut,"Swara...akhirnya kumenemukanmu..." 
Dengan segera Swara lari mendapatkan sosok di depannya,"Kissan!!" 
           Ya Kissan memang berhasil keluar istana bahkan dipinjami kuda oleh Panglima kerajaan.Melihat keributan di sebuah kedai,ia segera melihat siapa tahu saja Swara disitu.Ternyata malah menemukan Paman Gopal dan Kakek Prem.Ia segera menangani para preman.Lalu diberitahu bahwa Swara lari ke arah hutan.Melihat ceceran darah ia kian khawatir dan mengikuti ke mana tetesan darah itu. "Kau berdarah Swara...apa yang terjadi?"
 Swara yang sebenarnya sejak tadi sudah merasa nanar malah pingsan di pelukan Kissan,"Pria itu membawa belati...dia ...dia..." 
Kissan segera membalut luka di pergelangan tangan Swara dengan kain selendang Swara,'Aku harus hentikan pendarahannya.' 
Saat itulah Digu mendekat dengan belati terhunus siap membunuh Kissan namun kala belati itu mau dihunjamkan seseorang menghalanginya,"Takkan kubiarkan kau melukainya Digu!!" 
            Digu kaget kala belatinya beradu dengan pedang dan seseorang mengenali dirinya.Kissan sendiri juga kaget,"Kau?Kau kan pria dengan luka bakar itu bukan?" 
Digu sendiri malah terperangah melihat wajah Kissan,"Ini tidak mungkin!Kau tak mungkin masih hidup..." 
Orang yang menolong Kissan segera menyuruh Kissan membawa Swara pergi,"Bawa gadis itu!Soal dia biar aku yang tangani!" 
Kissan mengangguk,"Terima kasih sudah menolongku kisanak." 
Kissan membopong tubuh Swara,"Swara kau akan baik2 saja.Aku disini.Aku akan menjagamu." Sementara itu Digu bertarung dengan penolong Kissan,"Kau ini siapa?Bagaimana kau tahu namaku?" Rupanya orang itu adalah suruhan Panglima Kerajaan Bengali yang ditugaskan untuk menjaga Kissan,"Siapa diriku itu tidak penting!Tapi aku tahu siapa kau Digu!Kau ini sudah lama kuawasi!" Digu lalu terhempas ke tanah,'Gawat dia tahu siapa aku.Dayang sialan itu juga dibawa kabur sama pria yang mirip sekali dengan Pangeran Sanskaar.Bagaimana bisa pangeran itu masih hidup?Aku harus lari!' 
            Ia mengambil tanah dan dilemparkannya ke arah wajah prajurit suruhan panglima.Tentu saja si prajurit jadi tak bisa melihat dan kesempatan itu dipakai Digu untuk kabur.Usai membersihkan wajahnya dari tanah,ia segera mengejar Digu. 'Kemana dia?Yang penting adalah keselamatan tukang kebun bernama Kissan itu.Tugasku adalah menjaganya.Sebaiknya aku kembali ke kedai.Dia pasti ke sana.' 
Sementara itu Digu bersembunyi di atas pohon,'Aku tak bisa kembali ke istana Bengali.Ibu Suri pasti akan membunuhku karena gagal menjalankan tugas darinya.Aku akan menemui Tuanku saja dan memberitahukan padanya bahwa Pangeran Sanskaar masih hidup.Benar aku akan menemui Tuanku saja.' 
          Siapakah yang dimaksud dengan Tuan oleh Digu?***see you next part***


Part 25 OLDEST PRINCE : Kesabaran
         Saya punya ponakan yang sangat gemesin namanya Dim2.Rambutnya keriting,matanya besar2,pipinya tembem,dan ada aja tingkahnya yang bikin gemes.Ibunya,kakak saya,orangnya tipe ga bisa diam.Sambil melakukan aktivitas sehari2 selalu saja ada yang dia bicarakan.Kalau ga ada pendengar,dia akan menyanyikan lagu2 terutama tembang2 lawas.Nah Dim2 ga suka kalau lihat ibunya ngobrol sama orang di sekitarnya.Maka diapun akan mengusik pembicaraan dengan mendekat sambil berkata dengan mimik nangis bin ngebet,"Bu,berak Bu!Berak!Berak!"
         Tapi begitu diajak ke kamar mandi dia cuma ingin pantatnya diguyur air sedang dia akan main air.Begitu terus bahkan bisa sampai 10x bolak-balik kamar mandi.Mau kesel ga tega lihat wajah imutnya dia.Memang butuh kesabaran dalam hidup ini.Oke yuk lanjut aja ceritanya.

 KEDAI...
Kakek Prem dan Paman Gopal terkejut kala melihat Kissan datang sambil membopong Swara,"Kakek!Paman!Aku menemukan Swara!"
 Kakek Prem cemas melihat kondisi cucunya,"Nak Kissan apa yang terjadi?Kenapa dengan Swara?" Paman Gopal berkata,"Lebih baik kita membawanya ke tabib.Hari sudah malam.Melanjutkan perjalanan sepertinya beresiko."
Pemilik kedai berkata,"Kalian menginap saja di kedaiku,ada kamar kosong dibelakang.Sementara aku akan panggilkan tabib untuk gadis itu."
          Kissan dan yang lainnya sangat berterima kasih atas kebaikan pemilik Kedai tersebut.Segera Kissan membawa Swara ke kamar yang dimaksud.Dibaringkannya Swara diatas tempat tidur lalu ditungguinya disisi pembaringan.Prem melihatnya,'Sepertinya Nak Kissan sangat sayang pada cucuku.'
Tak lama Swara sadar,"Kissan...Kissan"
          Begitu melihat Kissan,Swara langsung memeluk Kissan dengan erat.Kissan menenangkannya,"Jangan takut Swara !Kami semua ada di sini."
Kakek Prem mendekat,"Iya Swara.Kakek disini.Kau tenang saja."
 Gopal masuk bersama seorang tabib,"Itu dia yang terluka tabib.Cepatlah periksa."
Tabib segera memeriksa luka di pergelangan tangan Swara,"Untung sayatannya tidak terlalu dalam."            Sementara itu dua orang prajurit yang disuruh panglima untuk mengawasi Kissan berjaga di luar kedai.Gopal berkata pada Kissan,"Lebih baik soal tanaman biar aku yang mengerjakan tugas itu,kau temani saja Swara dan kakeknya.Tiga hari lagi kita bertemu di depan istana."
 Kissan setuju dan berterima kasih atas pengertiannya,'Paman Gopal benar.Bisa saja bahaya masih mengancam Swara.' Setelah tabib memberikan obat,ia lalu mohon diri.Pemilik kedai datang membawa makanan,"Kalian semua pasti lapar.Ini sudah kubawakan makan malam untuk kalian." Kakek Prem berterima kasih,"Anda sungguh baik,memberikan kami tumpangan sekaligus makanan.Terima kash."
 Pemilik kedai berkata,"Tak usah sungkan.Ini ucapan terima kasih dari saya.Selama ini preman2 tadi sering mengacaukan kedaiku.Tapi sejak kejadian tadi aku rasa mereka takkan berani membuat ulah lagi."
Kissan membawa makanan untuk Swara,"Bagaimana keadaanmu?Tanganmu masih sakit,biar kusuapi."
Swara terharu dengan perhatian Kissan,"Aku sudah merasa lebih baik.Terima kasih.Kalau tak ada kau entah apa yang akan terjadi padaku,Kissan."
 Kissan mulai menyuapi Swara,"Aku juga tidak tahu apakah aku bisa bertahan hidup saat di sungai waktu itu jika kau dan kakekmu tidak datang menolongku,Swara."
 Swara makan dengan mata berkaca2,matanya tidak lepas dari memandang Kissan,'Dia sungguh pria yang sangat baik.Pasti keluarganya sangat kehilangan dia.'
 Kissan juga memandang Swara,'Betapa aku sangat takut kehilanganmu Swara.Aku harus lebih waspada lagi dalam menjagamu.'
          Prem dan Gopal memperhatikan kedua sejoli itu sambil melempar senyum. Malam itu mereka semua bermalam di sana.Saat hendak menutup jendela,Kissan melihat dua pengawal kiriman panglima.Ia mendekati mereka,"Aku belum berterima kasih pada kalian.Jika tak ada kalian,pasti kami sudah terluka.Aku adalah Kissan.Tukang kebun baru di istana Bengali.Kalian ini sepertinya mengenal pria yang menyerangku tadi.Apakah kalian juga dari istana?"
 Salah satu dari mereka menjawab,"Kau sangat jeli.Kami memang pengawal kerajaan.Kebetulan kami sedang dalam misi rahasia yang tak bisa kami katakan."
 Kissan manggut2,"Mengenai pria dengan luka bakar itu,kau menyebut namanya tadi.Aku pernah melihat dia menemui Ibu Suri.Apa dia pengawal pribadi Ibu Suri?"
 Prajurit itu menggeleng,"Digu memang pengawal pribadi Yang Mulia Parvati tapi sebelumnya dia cuma prajurit biasa.Itulah kenapa dia begitu sombong.Aku akan melaporkan perbuatannya ini pada atasanku nanti."
Kissan lalu kembali ke dalam,'Mengapa Ibu Suri menyuruh orang menyakiti Swara ya?'
Swara masih belum tidur,"Kau kemana Kissan?"
Kissan mendekat,"Aku menemui dua prajurit yang menolong kita tadi.Maaf jika membuatmu cemas.Kau tidurlah,aku akan berjaga di sini."
            Swara melihat Kissan duduk dekat pembaringannya,Kakek Prem dan Paman Gopal tidur di sudut lain.Mengetahui Kissan didekatnya barulah Swara merasa tenang dan akhirnya tidurlah dia.Kissan membetulkan selimutnya,'Tidurlah Swara...aku disini menjagamu.'

 PERBATASAN MUMBAI...
           Seekor kuda dipacu semalaman dan berhenti didepan gerbang sebuah benteng.Pengawal yang berjaga bertanya,"Siapa kau dan ada maksud apa kau kemari?Melihat dari pakaianmu sepertinya kau dari Bengali."
 Pria itu menunjukkan luka bakar di tangannya,"Katakan pada Tuanmu,Digu datang membawa berita penting untuknya."
           Pengawal itu lalu pergi menuju sebuah ruangan dimana seorang pria tengah melihat tarian beberapa orang penari.Begitu dibisiki oleh pengawal itu,pria itu segera mengangkat tangan,musikpun berhenti.Semua penari berhenti meliuk2kan tubuhnya,pria itu berkata,"Malam ini cukup sampai disini.Kalian pergilah.Aku kedatangan tamu penting."
 Mereka segera pergi sambil memberi hormat.Pria tadi berkata pada pengawal yang membisikinya tadi,"Bawa dia menghadapku!"
 Pengawal tadi segera membungkuk,"Baik Tuan."
           Pria yang disebut Tuan tadi mengambil segelas minuman,dan membelakangi pintu masuk.Tak lama Digu masuk,"Tuan...Digu datang memberi hormat padamu."
Sang Tuan malah minum,"Ada apa Digu?Sudah lama kau tak memberi kabar kepadaku.Aku pikir kau sudah lupa pada Tuanmu ini dan sudah mendapat tuan yang baru."
 Digu masih memberi hormat,"Mana mungkin saya melupakan Tuan.Saya tidak akan menggantikan Tuan dengan siapapun.Saya membawa kabar penting untuk Tuan.Ini mengenai rahasia Raja Bengali dan juga mengenai Pangeran Sanskaar."
Pria yang disebut Tuan itu langsung berbalik begitu mendengar nama Sanskaar disebut,"Katakan yang terakhir lebih dulu!Pangeran Sanskaar sudah mati bersama Sahil.Lalu berita apa yang kaupunya kali ini?"
Digu tersenyum dan berdiri,"Pangeran Sanskaar masih hidup Tuan.Dia tidak mati Tuan.Dia kini ada di Bengali.Namun sepertinya dia kehilangan ingatannya.Dan sepertinya panglima mengetahui juga hal ini.Dia mengutus anak buahnya untuk menjaga Pangeran Sanskaar."
Terbelalak mata sang Tuan,"Rupanya dia punya banyak nyawa dan banyak malaikat pelindung juga.Tapi baguslah dengan begini aku bisa memikirkan cara lain untuk merebut Mumbai dari tangan kakakku lagi.Ram takkan lama menduduki tahta.Tahta itu milikku.Aku akan menjadi raja di Mumbai lagi.Annapoorna akan kuperas lagi dan mengenai kerajaan Bengali rahasia apa yang kau ketahui?" Digu mendekat,"Tuan Rajat,ternyata Raja Shekar memiliki putri lain.Putri itu lahir dari seorang dayang.Dan kini putri itu juga menjadi dayang disana.Tuan bisa memakai rahasia ini untuk memeras Ibu Suri."
Rajat heran,"Mengapa bisa?"
 Digu berkata lagi,"Ibu Suri menganggap hal ini sebagai aib keluarga.Ia tak mau ada keturunan campuran di kerajaan."
 Rajat terkekeh,"Kau sungguh pintar Digu.Kau benar2 membawa berita baik untukku.Selamat datang di benteng Rajat ha..ha.."
           Rupanya Rajat adalah tuan yang dimaksud Digu.Rencana apa lagi yang akan dia buat?***see you next part***


Part 26 OLDEST PRINCE : Keep Thyself Pure ( Menjaga kemurnianmu )

            Hari ini saya pulang cepat dari kerjaan karena sakit.Badan saya panas dan suara saya serak.Sejak ayah saya tiada di bulan Okt puluhan tahun lalu,bulan Oktober menjadi bulan krusial bagi saya.Banyak hal berat yang saya lalui di bulan ini.Saya mau ceritakan pengalaman saya di bulan ini .Saya niatnya itu menolong seseorang tapi dia itu malah membuat saya kesal.Selalu saja ingkar janji dan ga ada omongannya.Pantesan namanya dijuluki dengan nama ga jelas gitu.Terkadang kita harus waspada dan mencari tahu dulu siapa orang yang berinteraksi dengan kita.Akhirnya saya memilih puasa.Lelah saya menghadapinya.Apalagi ternyata dia emang banyak hutang dimana2.Pimpinannya saja kesal juga sama dia.Menyesal sudah terlambat.Namun hari ini doa saya dijawab,dia menepati janjinya.Kaget juga saya dan saya berkata pada diri saya,'Cukup sekali ini saja.Seterusnya saya ga akan biarkan hal ini terulang lagi.'Karena itu maka seperti janji saya pada salah satu pembaca bahwa jika yang saya inginkan terjadi maka Ddj akan saya tambah 8 eps.Tapi sekarang kita ke pairing fave saya.Swasan.

 KEDAI...
           Matahari pagi bersinar dengan cerahnya.Sinarnya yang kuning keemasan masuk ke dalam kamar dimana Swara dan yang lainnya tidur.Kissan yang sudah bangun lebih dulu melihat sinar mentari jatuh mengenai wajah Swara.Menyilaukan.Ia segera menutupi sinar itu dengan badannya agar tak mengenai Swara.Swara berguling pelan dan hampir saja jatuh dari pembaringan kalau Kissan tak segera menangkap tubuhnya.Tentu saja Swara terkejut melihat dirinya dalam pelukan Kissan,"Kissan?Apa yang kaulakukan?"
Kissan segera menjawab,"Kau bergerak dan hampir jatuh Swara.Aku menangkapmu."
Swara merona,"Oh...begitu...maaf sudah menuduhmu yang tidak2..."
Kakek Prem mendekati mereka,"Kalian sudah bangun rupanya.Apa kau sudah lebih baik cucuku?" Swara mengangguk,"Iya kakek.Kita bisa melanjutkan perjalanan."
 Gopal juga bangun,"Maaf sepertinya saya tak bisa pergi bersama kalian.Saya harus mencari tanaman untuk taman istana.Kissan kau pergilah bersama mereka.Soal tanaman serahkan pada paman."
Kissan memandang Gopal,"Tapi paman..."
Gopal menepuk bahu pangeran sulung Maheswari itu,"Mereka lebih membutuhkanmu lagipula aku sudah biasa melakukan ini.Kau tenang saja.Temanilah mereka."
           Kissan berterima kasih atas pengertian Gopal.Mereka lalu berpisah.Kissan ikut pulang bersama Kakek Prem dan Swara sedang Gopal pergi melaksanakan tugas dari istana.

 ¤¤ MAHESWARI...
          Kemeriahan nampak dimana2.Jalan2 dihiasi dengan umbul2.Pertanda rakyat Maheswari tengah merayakan moment penting.Dimana2 rakyat membicarakan tentang penobatan Pangeran Laksya sebagai putra mahkota,"Jujur aku lebih suka Pangeran Sanskaar daripada Pangeran Laksya."
Seorang penjual kain juga berpendapat serupa,"Benar.Pangeran Sanskaarlah yang selama ini sering melakukan patroli ke pelosok kerajaan.Mencari apa yang masih dibutuhkan rakyat.Urusan sengketa tanah keluargaku juga selesai karena campur tangan beliau."
Seorang penjual buah menambahi,"Saat banyak kasus pencurian dulu juga Pangeran Sanskaar segera membentuk team khusus untuk menangkap pelakunya.Dia itu tidak memandang bulu."
Seorang penjual makanan juga nimbrung,"Iya.Pangeran Sanskaar juga segera datang ke lokasi tiap ada bencana melanda."
Seorang pedagang juga berkomentar,"Benar Pangeran Sanskaar juga memantau harga2 barang di pasar.Tak membiarkan harga dipermainkan tengkulak."
Seorang anak kecil berteriak2 sambil membawa bendera kecil,"Hidup Pangeran Sanskaar!Hidup Pangeran Sanskaar!!"
 Seorang penjual barang2 pecah belah memperingatkan anak itu,"Hey,bocah!!Yang dinobatkan itu Pangeran Laksya bukan Pangeran Sanskaar.Pangeran Sanskaar itu sudah tiada."
Ibu anak kecil itu berkata,"Jangan salahkan anakku!Dia dulu hampir saja kehilangan nyawa saat sungai Kissan meluap.Untung saja Pangeran Sanskaar datang dan segera menolongnya."
Si anak kecil kembali berteriak,"Hidup Pangeran Sanskaar!!Hidup Pangeran Sanskaar!!"
Rakyat justru nampak banyak yang diam saat Pangeran Laksya diarak keliling negeri,"Ini dia Penerus Tahta Maheswari selanjutnya!!Sambutlah Putra Mahkota yang baru Pangeran Laksya!!Hidup Pangeran Laksya!!"
           Hanya sedikit yang mengelu2kan kedatangan Laksya.Dari atas gajah yang dinaikinya Laksya bisa melihat bahwa rakyat tetap lebih mencintai Pangeran Sanskaar,'Kak Sanskaar memang selalu ada untuk rakyat.Dia selalu turun ke lapangan.Melakukan banyak hal untuk rakyat.Sedang aku...Aku sibuk bersenang2.'
Laksya bertanya pada kusir,"Habis ini kemana paman?"
 Sang kusir menjawab,"Ke perbatasan Yang Mulia."
 Laksya manggut2.

¤¤ PERBATASAN...
Swara melihat keramaian di perbatasan,"Ada apa itu?Ayo kita lihat!"
 Kissan mengikuti mereka,"Mau kemana?"
 Kakek Prem yang menjawab,"Ikut saja,Nak Kissan.Ayo!"
 Akankah Kissan akan bertemu dengan Laksya?***see you next part***


Part 27 OLDEST PRINCE : Known of Him ( Mengetahui Tentangnya )

             Setelah saya sembuh giliran kakak saya yang sakit.Bahkan di kerjaan yang sakit juga giliran.Batuk memang butuh waktu untuk sembuh.Tapi saya senang sekali karena pada saat saya sakit justru hal yang menyedihkan saya diangkat oleh Tuhan.Ceritanya itu dikerjaan saya ada pembuatan SIM kolektif nah ada seorang dari team saya yang belum mengumpulkan uangnya padahal kemarin gajian.Ga ada alasan kalau ga ada uang.Saya mau bantu dia juga ga bisa karena secara kas ga dapat ijin atasan yang kedua saya juga sedang banyak kebutuhan.Bantuan yang bisa saya berikan hanyalah membantu mengurus administrasinya.Dua kali saya menawarkan diri tapi dia malah pergi keluar pabrik.Sampai kemudian ditutup pendaftarannya.Saya merasa kasihan padanya.Di rumah saya terus kepikiran hal itu.Sampai kemudian biaya pembuatan terus naik dan salah satu team batal ikut.Saat itulah orang yang pertama tadi mengambil kuota orang yang batal tadi.Dan hari ini dia bersama puluhan karyawan lainnya menjalani proses selanjutnya.Saya lega sekali melihat dia kini punya SIM.Rasanya kok malah saya yang bahagia.Dalam hidup saya paling ga suka kalau melihat hal yang tidak benar terjadi di sekitar saya.Sedapat mungkin saya itu berusaha membantu apa saja yang saya bisa untuk kebaikan bersama.Namun saya paling ga suka orang memanfaatkan sesamanya.Pinjam ga balik2.Ingkar janji ga kelar2.Berbohong ini itulah.Semua itu hanya merugikan orang lain dan hal seperti itu bukan prinsip hidup saya.
           Baiklah lanjut ke cerita aja dah kangen nulis swasan nih.Sampai kini saya juga masih hunting video eps2 Swaragini yang belum saya lihat.Kemarin lihat Fildan di DA Asia 3 malah ketiduran.Habis lama banget gilirannya.Nyanyi Keramat kayaknya.Moga ga kesenggol aja.Soalnya cuma dia aja yang bikin semangat lihat.Ngomongin soal lihat melihat akan bertemukah Laksya dengan kakak tirinya di perbatasan?Yuk simak aja!

 →☆☆← ISTANA MAHESWARI...
           Raja Durga sengaja tidak menemani putra keduanya diarak keliling negeri.Ia ingin rakyat lebih mengenal putra mahkota kerajaan.Sujata mendekati suaminya yang tengah asyik melihat lukisan pemberian Laksya dulu,"Kanda,apa kanda tidak khawatir dengan keselamatan putra mahkota Laksya?Dia diluar sana kanda.Dinda cemas."
Durga Prasad kagum pada permaisurinya itu,"Dinda ini bukan ibu kandungnya tapi cemasnya melebihi yang melahirkan saja.Lihatlah Annapoorna saja asyik menikmati pesta di sana.Kenapa kau malah kemari?"
          Sujata memandang apa yang sejak tadi dipandang suaminya,lukisan kedua pangeran Maheswari.Sanskaar dan Laksya nampak gagah dengan pakaian kebesaran Maheswari.Air mata akan menetes tiap kali ingat pada buah hatinya,"Sebenarnya pesta ini rasanya bukan seperti pesta kanda.Ada yang kurang menurut dinda.Itulah sebabnya dinda tidak merasa nyaman di sana.Untung ada Putri Ragini menemani Dinda Annapoorna."
 Durga malah jadi ingat pada sahabatnya,"Astaga! Kanda lupa kalau Raja Shekar juga disini.Apa menurutmu kita bisa membahas soal pertalian dua kerajaan?"
Sujata tidak setuju,"Jangan sekarang Kanda.Biar Laksya tidak banyak pikiran.Lagian keduanya biar saling lebih mengenal.Andai saja Sanskaar cepat kembali.Entah kenapa dinda merasa dia tidak jauh dari Maheswari.Semoga dia selalu dilindungi."
Durga menatap lagi lukisan kedua putranya,"Putra sulung kita akan kembali.Dewata akan menuntun langkahnya kemari."
Sujata tersenyum mendengar keyakinan suaminya,'Kanda memang sayang pada putra sulungnya.Aku tahu didalam hatinya tempat untuk putraku Sanskaar takkan bisa digantikan oleh siapapun.Mereka memang sangat dekat.'
 Sementara itu Annapoorna terus mengambil hati Ragini,"Putri Ragini,kau adalah putri tunggal Raja Shekar,apa kau juga mempelajari mengenai pemerintahan?"
Raja Shekar malah yang menjawab pertanyaan itu,"Putri Bengali memang harus belajar banyak hal.Selain belajar tradisi kerajaan seorang putri raja juga harus mengetahui mengenai keadilan dan hukum kerajaan."
Annapoorna kagum,"Wow berarti kau pasti sangat pandai.Apa kau juga kerap menghadiri persidangan2 di kerajaan?"
 Ragini tersenyum,"Ya walau sebenarnya saya lebih menyukai pertunjukan atau bazaar kerajaan daripada menghadiri acara2 yang formil.Kalau Swara malah sangat menyukai berada di dalam persidangan2 dan yang sejenis itu."
Annapoorna heran,"Siapa Swara?Apa dia saudaramu?Setahuku Raja Shekar tidak menikah lagi sejak mendiang ibundamu tiada."
            Raja Shekar terdiam,ingin rasanya ia mengatakan pada dunia bahwa Swara adalah darah dagingnya.Justru Swara lahir dari perempuan yang dicintainya.Ragini dengan polos menjelaskan siapa Swara,"Swara adalah dayang pribadi saya.Tapi dia sudah seperti saudara bagi saya.Dia sebaya dengan saya tapi saya lebih muda darinya.Ayahanda juga sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri.Kasihan Swara dia tidak pernah melihat ayahnya sejak dilahirkan.Dia juga sangat berbakat dalam musik dan tari."
Annapoorna mendengarkannya,'Wajah Raja Shekar jadi berubah sedih tiba2.Sepertinya ada hubungannya dengan dayang bernama Swara ini.Seorang dayang yang sepertinya begitu istimewa.Benarkah dia hanya seorang dayang saja?Kalau nanti Ragini menikah dengan putraku Laksya hubungan yang tidak jelas ini harus disingkirkan.Tak sepatutnya seorang pelayan dianggap bak keluarga.Bisa melunjak nanti.'
 Raja Shekar malah asyik melamun,'Andai ibunda bisa lunak hatinya dan mau menerima Sharmista pasti aku sudah menikahinya dan membawanya ke istana.Menjadikan Swara sebagaimana selayaknya putri seorang raja.Mengapa aku merasa begitu tak berdaya padahal aku seorang raja?Bahkan mengakui putriku sendiri saja aku tak mampu.Maafkan ayahmu ini Swara.Ayah sungguh tak berdaya.'
Raja Durga menepuk pundak sahabatnya,"Kenapa temanku?Kau seperti sedang banyak pikiran.Berbagilah masalahmu denganku jika kau mau.Bukankah kita adalah teman?"
 Shekar memandang sahabatnya yang sempat jauh darinya itu,'Sebaiknya aku meminta pendapat Durga soal ini.Bukankah dia juga pernah mengalami masa sulit dalam hubungan keluarga dulu.Benar,aku akan minta pendapatnya.'
           Raja Shekar lalu mengajak Durga bicara ditempat lain.Curhat antar raja he..he..Kita tengok ke perbatasan dulu lihat keadaan disana.Terpantau ramai lancar atau padat merayap?Weleh....

 □☆□★ PERBATASAN MAHESWARI DAN BENGALI...
          Penduduk kedua kerajaan berbaur jadi satu mengelu2kan arak2an kerajaan yang lewat.Diatas gajah yang sudah terlatih,Laksya nampak gagah melambai2kan tangan pada rakyat yang berdiri di sepanjang jalan yang dilewatinya.Rangkaian bunga menghiasi pakaian kebesarannya.Diantara rakyat yang berjejal2 nampak Kakek Prem dan Swara.Lalu Kissan?Kissan yang semalaman berjaga ngantuk dia.Dia bersandar dibawah sebatang pohon dan tidur.Kasihan kecapekan begadang dia.Swara mengira Kissan didekatnya,"Lihat itu Kissan!Itulah pangeran yang waktu itu marah2 padaku.Dia kini menggantikan posisi kakaknya menjadi putra mahkota.Aku malah penasaran kayak apa wajah kakaknya itu ya?"
Tak ada respon,Swara baru sadar kalau Kissan tak ada di sisinya,"Kissan?Kemana dia?Katanya mau menjagaku?"
Ia bertanya pada kakeknya,"Kakek lihat Kissan?"
Kakek Prem menunjuk ke arah sebatang pohon,"Itu dia!Biarkan saja dia kecapekan semalam kan dia ga tidur.Jagain kamu."
Swara mendekati Kissan,'Kasihan dia.Aku lupa kalau dia sendiri sedang dalam masa pemulihan.Dia kerap terluka karena menjagaku.'
          Laksya sebenarnya lewat dekat pohon dimana Kissan berada namun karena Kissan tertidur dan terhalang oleh banyaknya orang maka ia tak bisa melihat bahwa kakak tirinya ada disana.Ia juga tak melihat Swara,'Sepertinya aku pernah melihat dia.Tapi dimana ya?'
Laksya ingin berhenti tapi panglima kerajaan tak sependapat,"Disini perbatasan Pangeran.Sangat rawan bila kita berhenti di sini.Sebaiknya kita segera kembali ke istana.Baginda pasti sudah menunggu."
Laksya tak jadi turun,"Baiklah.Kita kembali ke istana.Matahari juga sudah tinggi."
          Rombongan Laksya kembali ke istana Maheswari.Sedangkan Swara membelikan Kissan makanan dan membangunkan pria hilang ingatan itu,"Kissan?Kissan ..."
 Kissan tak jua bangun,Swara lalu mendekatkan makanan yang ia beli.Kissan mencium bau makanan dan segera bangun,"Hmm...baunya sedap nian..."
Swara tersenyum,"Kau mau ?Ini memang kubelikan untukmu.Kakek,ayo kita istirahat dulu di sini.Disini teduh.Kita makan dulu kakek."
           Bertiga mereka makan bersama.Kissan makan dengan lahap,"Katanya ada arak2an kerajaan.Mana?"
Swara mengambil minuman,"Kau tidur terus.Akhirnya ga bisa lihat deh.Gajahnya besar dan sangat terlatih."
Kissan malah teringat ucapan Panglima kerajaan Bengali padanya,'Pangeran kerajaan Maheswari?Rasanya ga mungkin aku pangeran Maheswari.Aku bahkan tidak ingat pernah kemari.Mungkin hanya mirip saja.Coba aku ga ketiduran pasti aku bisa lihat seperti apa Putra Mahkota Kerajaan Maheswari itu.'
          Usai makan mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Swara.Sharmista senang sekali melihat Swara datang,"Shona!Ibu merindukanmu sayang!"
Kissan melihat ibu dan anak itu jadi ingat sesuatu,'Apakah aku juga punya ibu yang merindukanku ya?Kenapa aku merasa ada yang pernah memelukku seperti itu.'
Kakek mengajak Kissan masuk,"Ayo Nak Kissan jangan berdiri saja.Kita masuk.Kau pasti mau teh kan?Ayo kita segarkan diri kita di dalam."
Kissan lalu masuk dan disambut oleh Dida,"Kalian kembali!!Kebetulan aku masak enak hari ini.Ayo2 semua duduk sini.Akan kusiapkan makanan untuk kalian."
Swara memberikan kain pemberian Parvati pada ibunya,"Ini kainnya Ibu.Bagus kan?"
           Bukannya senang diberi hadiah,Sharmista malah jadi cemas.Perasaannya sebagai seorang ibu segera memberi peringatan bahwa identitas Swara sepertinya mulai diketahui oleh Ibu Suri.Ia malah bertanya penuh selidik,"Apa untuk ini kamu diijinkan pulang Swara?Apa ada yang mengikuti kamu?Apa dijalan tidak ada yang aneh terjadi Sayang?"
Kissan yang hendak memanggil keduanya untuk masuk jadi heran,'Mengapa Ibu Sharmista seperti curiga bahwa niat Ibu Suri sebenarnya tidak sekedar memberi hadiah saja ya?Apa pernah terjadi sesuatu diantara mereka?'
Swara malah bingung,"Dijalan memang ada orang yang jahat menganggu kami Bu tapi sama sekali ga ada hubungannya sama kain itu Ibu.Mengapa Ibu bertanya begitu?"
Sharmista malah kian cemas,"Jadi benar ada orang jahat yang menganggu perjalanan kalian?Swara,ibu tak mau kau kembali lagi ke istana.Kamu disini saja.Kalau perlu kita pergi dari sini Sayang.Kita cari tempat lain yang aman dan memulai hidup baru."
Swara menolak,"Ibu mengapa ibu malah melarangku bekerja di istana lagi?Raja sangat baik padaku Ibu.Putri Ragini juga.Nenek Suri bahkan memberiku hadiah.Tak ada yang perlu dicemaskan ibu.Ibu tenang saja lagipula..."
Swara melihat Kissan dan menariknya mendekat,"Lagipula ada Kissan menemaniku Ibu.Aku tidak sendirian di sana."
Kissan tahu ada yang disembunyikan oleh ibunya Swara,"Swara,Nenek Dida memanggilmu.Katanya beliau masak kesukaanmu.Coba kau temui dulu."
Swara pergi ke dalam.Kissan mengajak Sharmista duduk,"Ibu,saya memang bukan siapa2 tapi saya tahu kecemasan ibu.Sebenarnya saya juga mengetahui bahwa Ibu Surilah yang menyuruh orang2 jahat itu.Bahkan dia juga yang menyuruh orang melepas ular berbisa agar menggigit Swara." Sharmista kaget mendengarnya,"Ular berbisa?Dia mencoba mencelakai cucunya sendiri?"
Ganti Kissan yang kaget,"Cucunya sendiri?Jadi Swara itu putri Raja Shekar?"
          Sharmista terbelalak tanpa sadar membuka rahasia yang selama ini dipendamnya.Kepada orang asing pula.Apa jawabnya pada Kissan?***see you next part**


Eps 28 ☆☆ OLDEST PRINCE : Killing The Prince ( Bunuh Sang Pangeran )

          Hari Kamis kemarin tanggal 9 Nov 2017 saya berangkat kerja seperti biasa.Namun sejak jalan2 sebagian ditutup buat pengamanan,jadwal bus kota jadi ikut terimbas.Saya mau nebeng manager pekewuh kalau bikin beliau nunggu.Akhirnya saya sama teman beda perusahaan naik sejenis elf.Malah mampir ke sebuah pabrik lain karena ada penumpang khusus.Mendekati area kerja sopir elf tersebut minta maaf karena didepan macet sejak tadi karena ada kecelakaan antara bus Eka dan truk bermuatan kawat besi sampai nubruk rumah selepan dan warung hik.Saya kaget lihat beneran macet cet.Jalur kanan ditutup karena polisi melakukan evakuasi badan bus dan korban yang meninggal.Kernet bus tersebut yang saya tahu dari internet bernama Jasman,usia 50 tahun,terjepit antara badan bus dan reruntuhan rumah.Kejadiannya jam 3 dinihari.Wah jam segitu emang bus2 Surabayanan kenceng2.Teman2 saya yang masuk malam suka cerita gimana ngerinya kalau di jalan raya pas bus2 tersebut lewat.
           Padahal bulan Juli lalu juga kejadian bus Surabayanan pecah ban dan dua orang pengendara motor jadi korban dengan remuk badannya.Yang satu masuk ke kolong mobil Avansa dan satunya tercecer di dekat pembatas jalur.Mengerikan sekali.Saya warning semua yang mau lewat jalan Solo Sragen hati2 di km 12-14.Apalagi km 13.Saya denger badan bus dievakuasi ke ringroad dengan alat berat dan jenazah kernetnya katanya masih didalamnya.Kasihan sekali.Macet sekali sampai saya dicarikan tebengan.Seorang pemuda yang saya ga kenal dengan murah hatinya mau saya tebengi.Dia nanya ada apa kok macet gitu.Lalu saya cerita yang saya tahu terus kita lewat di lokasi kecelakaan wuih ngeri polisi masih disana dan busnya juga ada di sana demikian juga dengan truknya.Usai berterima kasih padanya saya menyeberang dan ketemu factory manager saya nebeng dia.Banyak yang telat hari itu karena macet di lokasi kecelakaan.Kalau mau lihat gambarnya silakan cari di google.Bicara kecelakaan,ada yang mau mencelakai Pangeran Maheswari.Pangeran yang mana ya?Yang sulung apa yang bungsu?Yuk cari tahu!

 ◆◆ BENTENG PERSEMBUNYIAN RAJAT...
           Rajat dan Digu sedang berlatih pedang kala seorang pengawal mendekat dan melaporkan mengenai penobatan Pangeran Laksya sebagai putra mahkota Maheswari.Rajat nampak berpikir sejenak,"Maheswari memiliki putra mahkota baru.Selir Annapoorna pasti sedang bahagia2nya karena akhirnya putra kesayangannya menjadi pewaris tahta."
           Digu memandang ke sekitarnya,para prajurit nampak sibuk berlatih seperti sedang mempersiapkan diri untuk pertempuran besar.Rajat mengikuti arah pandangan Digu,"Aku memang berniat menyerang Bengali apalagi Raja Shekar sedang tidak di tempat.Panglima Bengali tidak begitu mahir dalam militer dan siasat perang.Pangeran Sanskaar yang biasa di medan perang saja bisa masuk dalam perangkapku apalagi dia.Aku yakin Ibu Suri akan berpikir dua kali untuk melawanku.Aku memegang rahasianya."
Digu berkata,"Tapi Pangeran Sulung Maheswari masih hidup Tuanku.Dia ada di istana Bengali.Bagaimana jika sebenarnya dia berencana kembali ke Maheswari,mengambil tahta yang adalah haknya?Apa tidak sebaiknya dia dilenyapkan saja?"
Rajat malah tersenyum licik,"Kau ini harus belajar banyak dariku soal strategi memanfaatkan situasi lawan.Terkadang musuh jauh lebih menguntungkan jika hidup.Jika kita menangkapnya maka kita bisa membuat Raja Durga tunduk pada kita,bukan hanya mendapat Bengali bahkan Maheswari juga akan menjadi kekuasaanku.Ha..ha.."
 Digu heran,"Tuanku tak menganggap keberadaan Pangeran Sanskaar sebagai sebuah ancaman?" Rajat memainkan pedangnya,"Aku tahu betapa sayangnya raja Durga pada putra sulungnya.Demi orang yang disayangi orang akan melakukan apa saja.Kau harus tahu seperti apa musuhmu sebelum menyerangnya.Cari kelemahannya.Jangan asal serang dan bunuh!"
Digu kagum dengan Rajat,"Tuan memang lihai.Digu siap melakukan apa saja untuk Tuan!"
Rajat menyarungkan pedangnya,"Besok kita serang Bengali.Tapi pertama kau harus bisa masuk istana dan menemui Ibu Suri.Aku rasa kau pasti tahu jalan rahasia menuju istana Bengali.Bawa aku masuk ke sana dan kita kuasai Bengali."
Digu segera bersimpuh,"Saya mengerti.Segera saya akan kembali ke Bengali dan menemui Ibu Suri.Tapi jika hamba kembali tanpa mayat dayang itu bagaimana dia akan masih mempercayai saya?" Rajat tertawa,"Itu sangat mudah.Pakai saja cara lamaku.Bunuh saja sembarang gadis dan rusak wajahnya.Selesai kan?"
Digu manggut2,"Tuan memang ahlinya soal mengelabui orang.Kalau begitu saya segera pergi."
Rajat memandang kepergian Digu,"Andai saja Sahil masih ada pasti aku akan lebih kuat lagi.Tapi Pangeran Sanskaar memang luar biasa dia bisa melenyapkan anak buah andalanku.Pangeran Sulung Maheswari itu tak bisa dianggap enteng."

¤¤ ISTANA MAHESWARI...
          Raja Shekar bercengkerama berdua saja dengan sahabatnya,Durga Prasad.Istana Maheswari nampak indah dengan tatanan taman yang apik.Raja Shekar mengaguminya,"Istanamu sungguh indah.Kalau aku tak mengenalmu pasti aku pikir kau memiliki seorang putri yang sangat suka bunga.Lihatlah dimana2 bunga ditanam dengan tatanan yang menawan."
Raja Durga malah nampak sedih,"Itu semua putra sulungku yang melakukannya.Dia sangat suka tanaman dan demi menyukakan hati ibundanya dibuatlah istana seindah mungkin dan penuh aneka bunga dimana2.Bila aku merindukannya aku suka kemari.Dari sini keindahan istana terlihat lebih jelas.Apalagi bila pagi.Sinar mentari akan memantul dari kolam di sana.Indah sekali."
          Raja Shekar memandang ke arah kolam ikan di tengah taman,didalamnya ikan2 berenang aneka warna rupa mereka.Raja Shekar memberi ikan2 itu makanan,"Kita saja begitu peduli pada binatang peliharaan kita.Terlebih pada darah daging kita.Maafkan aku karena demi membantu kerajaanku putra sulungmu tak diketahui keberadaannya sekarang."
Raja Durga nampak merasa aneh mendengar ucapan sahabatnya,"Kau sudah berkali2 meminta maaf mengenai hal itu.Lagipula aku tahu raibnya putraku itu bukanlah kesalahanmu.Seseorang berusaha mencelakainya.Entah mengapa Rajat melakukan hal ini padaku.Aku tak pernah mencari perkara dengannya.Entah dimana dia sekarang.Dia pandai sekali berkelit.Aku tak bisa menuduhnya tanpa bukti.Raja Ram juga kini terbaring sakit.Sepertinya dia disiksa selama ini.Semoga putraku tak mengalami hal buruk.Langit pasti menjaganya."
 Raja Shekar memandang langit,"Aku juga berharap langit akan menjaga putri2ku."
Raja Durga terhenyak,"Putri2?Bukannya kau hanya punya seorang putri?"
Raja Shekar menarik nafas,"Sejak lama aku ingin menceritakan rahasia ini padamu kawan.Tapi selalu saja tertunda.Sebelum aku menikah dengan mendiang ibunya Ragini sebenarnya aku telah jatuh hati pada seorang dayang.Kau ingat kan saat kita di medan perang,aku bilang bahwa seseorang menungguku di Bengali.Dialah yang kumaksud."
Durga Prasad mendengarkan kisah cinta sahabatnya dan bertanya,"Lalu dimana putrimu dari dayang itu sekarang?"
Raja Shekar berkata,"Dia ada di istanaku.Di Bengali menjadi dayang putriku Ragini.Namanya ...." Belum sempat Raja Shekar menyebutkan nama Swara,Permaisuri Sujata datang,"Maaf mengusik percakapan kalian.Putra Mahkota Laksya sudah kembali."
          Raja Shekar tersenyum melihat sahabatnya meminta maaf karena harus menyongsong putra keduanya.Berjalan beriringan mereka bertemu Annapoorna dan Ragini,keduanya nampak ceria siap menyambut kedatangan Laksya.Raja Shekar melihat bagaimana Permaisuri Sujata nampak akrab dengan Laksya,'Andai saja ibu bisa seperti Ratu Sujata menerima Laksya bak mencintai putranya sendiri.Andai saja ibu bisa menerima kehadiran Swara.Pasti istana Bengali akan lebih semarak.'

 ◇◇ RUMAH SWARA...
          Sharmista pura2 mengajak Kissan ke ke kebun belakang untuk mengambil tanaman obat.Sebenarnya ia tak ingin Swara mendengar percakapan mereka.Swara yang mau ikut dilarangnya,"Biar Kissan yang menemani ibu.Kau istirahat saja.Ibu akan mencari tanaman untuk mengobati tanganmu itu."
Kissan berkata,"Kau pasti lelah jalan terus.Aku akan menemani ibumu ke kebun sebentar.Lihat itu Nenek Dida mencarimu."
Swara agak curiga tapi menurut juga akhirnya,"Kissan,jangan lupa aku mau buah mangga.Petikin ya?"
Kissan menjawab,"Beres!"
Swara melihat Kissan mengikuti ibunya,'Aku akan menyusul mereka nanti.He..he..Sudah lama aku ga ke kebun.Aku kan suka manjat pohon.'
 Di kebun,Sharmista cerita soal masa lalunya dan kenapa ibu suri begitu membenci Swara.Kissan kaget juga mengetahui kalau Swara adalah putri Raja Shekar,"Jadi Swara itu masih darah bangsawan Bengali?"
Sharmista meminta Kissan jangan mengatakan hal itu pada Swara,"Swara tidak tahu soal ini.Lebih aman baginya jika dia tidak tahu siapa ayahnya.Tapi ibu minta kau menjaga putri ibu.Dia itu keras kepala.Ibu cemas jika dia kembali ke istana.Kita tak tahu apalagi yang akan dilakukan ibu suri.Sepertinya beliau sudah tahu kalau Swara adalah darah daging Putranya."
          Sharmista meminta Kissan membantunya membujuk agar Swara tidak kembali ke istana.Sharmista hendak kembali ke rumah,"Ibu sudah kumpulkan semua tanaman obatnya.Ibu mau membuat ramuan untuk Swara.Kau tidak kembali?"
Kissan menunjuk ke arah pohon mangga,"Swara ingin makan buah mangga.Saya akan memetiknya.Ibu duluan saja."
Kissan mendekati pohon mangga tapi alangkah terkejutnya ia kala menemukan seseorang di sana.Siapakah orang itu?***See you next part***


Part 29 OLDEST PRINCE : Kebun Yang Tidak Kau Tanami

           Sudah tiga hari ini tiap pulang kerja selalu saja kehujanan.Walau sudah pakai mantol,helm dan payung tetep saja jaket,sepatu dan pakaian saya basah.Namun ditengah semua itu saya selalu terhibur tiap melihat kebun saya.Di sana saya menanam aneka tanaman warung hidup seperti pare,cabe,salak,sere,markisah,jeruk,buah naga juga kangkung.Parenya sedang berbuah.Kalau di tanah sengketa tumbuh pohon mangga dan udah berkali2 buahnya dipanen adik saya dibuat manisan.Bicara soal kebun,siapa sih yang dijumpai Kissan di kebun milik keluarga Swara?Yuk cari tahu.

 ♧◆◇ DEKAT POHON MANGGA...
         Kissan memilih tetap tinggal di kebun karena ingat bahwa Swara berpesan untuk dipetikkan mangga.Iapun melangkah ke arah pohon yang dimaksud.Memang sedang berbuah dengan lebatnya.Namun kala ia tak jauh lagi dari pohonnya yang batangnya besar itu,ia terkejut mendengar isak tangis.Jelas ada seseorang dibalik pohon itu dan ternyata,"Swara?Sejak kapan kau disini?"
         Swara menoleh ke arah Kissan,matanya berlinang air mata.Kissan mendekatinya,"Kau sudah lama disini?Mengapa kau menangis?Apakah kau..."
Swara mengangguk,"Ya Kissan aku mendengar semuanya.Semua yang ibuku katakan padamu dan tidak kepadaku.Bahwa aku ...masih punya ayah.Dan dia ...ada begitu dekat denganku..."
          Swara kembali tergugu.Rasanya ia seperti orang dungu yang baru sadar bahwa dunia itu tidak kotak tapi bulat. Jujur ia kecewa dengan ibunya,"Mengapa aku tak boleh tahu tentang ayah kandungku sendiri?Kau tahu aku selalu ingin seperti anak yang lain dimanja oleh ayahnya,dibelikan mainan dan disayangi dengan penuh kehangatan.Apa salahku Kissan?Katakan padaku!"
          Kissan membiarkan Swara mengungkapkan kepedihan hatinya dulu,ia tahu bahwa keputusan ibu Sharmista mengenai putrinya adalah naluri keibuannya untuk melindungi Swara.Walau dalam prosesnya terkesan tidak adil bagi Swara.Namun ia bisa mengerti betapa pedihnya kehilangan orang terkasih.Ditengah kondisinya yang hilang ingatan,Kissan menyadari betapa hampanya hidup ini tanpa keluarga.Ia juga bisa mengerti perasaan Swara.Dia berhak tahu siapa ayahnya,dia berhak dicintai dan selama ini dia kehilangan figur seorang ayah.Pasti tidak mudah menjalani hari2 tanpa rasa aman melingkupi.Air mata mengalir di pipi Swara.Kissan mengusapnya dengan sapu tangan,"Kadang aku iri dengan kaum wanita,kau tahu kenapa?"
Swara menatapnya sambil menggeleng,"Kenapa?"
 Kissan masih mengusap air mata Swara,"Kalian kaum wanita,bisa dengan bebasnya menangis.Itu sangat natural buat kalian.Tapi kami kaum pria hanya mampu mengekspresikan emosi kami dengan sangat terbatas."
Kissan melihat ke arah langit yang nampak mendung,"Lihatlah bahkan langit ikut sedih melihatmu menangis..."
            Benar saja tak lama gerimispun turun.Swara segera menarik tangan Kissan,"Ayo ikut aku!Aku tahu tempat berteduh."
Tak jauh dari sana ada gubuk tua,Swara biasa membawa makanan untuk kakek atau Dida ke sana bila mereka sedang mengerjakan sesuatu di kebun.Hujan makin lebat.Disertai petir pula.Swara yang ketakutan segera memeluk Kissan,"Aku takut Kissan."
Kissan menenangkannya,"Aku disini Swara...kau tidak sendirian."
 Swara ingat masa kecilnya,"Dulu tiap hujan turun dan bunyi petir terdengar ibu selalu memelukku.Ia menyanyikan lagu untukku sampai aku tertidur."
Kissan berkata,"Ibumu sangat sayang padamu.Kau harus tahu bahwa apapun yang ia lakukan sebenarnya karena sayangnya ia padamu."
Swara masih memeluk Kissan,"Tapi mengapa dia harus menyembunyikan kebenaran mengenai ayahku Kissan?Aku tidak mengerti..."
Kissan mengusap kepala Swara,"Ibumu pernah mengalami hal yang buruk di istana.Dan ia tak mau kau terluka seperti dia.Ibumu tahu kau pasti akan sangat senang mengetahui mengenai ayahmu tapi ayahmu bukan orang biasa Swara.Dia seorang raja."
 Swara mendengarkan,"Maksudmu kehadiranku menyulitkan posisi ayahku sebagai raja di Bengali?" Kissan meraih wajah Swara,"Kau jangan berpikir begitu.Ayahmu,Raja Shekar begitu baik orangnya.Bahkan dia menyayangimu seperti menyanyangi putri Ragini.Tapi ada orang yang belum bisa menerima kehadiranmu sebagai bagian dari keluarga kerajaan.Dan orang itu akan memakai segala cara untuk membuatmu pergi dari istana."
Swara menatap penuh selidik,"Kau sepertinya tahu siapa orangnya Kissan?"
Kissan menghela nafas,"Aku rasa Ibu Suri adalah orangnya Swara,aku menemukan segala bukti mengarah padanya.Kau ingat soal ular di taman waktu itu?"
 Swara mengangguk,"Ibu Suri dibalik semua itu?Tunggu dulu...dia memang secara khusus menyuruh aku pergi ke sana."
Kissan melanjutkan,"Bagi Ibu Suri darah yang mengalir di dirimu tidaklah sepenuhnya bangsawan.Karena ibumu adalah seorang rakyat biasa.Baginya hal itu sulit diterima.Tapi itu hanya pendapatku yang pasti berbahaya untukmu jika tetap berada di istana apalagi disaat Baginda maksudku ayahmu tidak ada di istana."
 Swara terus berpikir,"Jadi orang2 yang menyerang kita saat di perjalanan juga suruhan Nenek Suri?" Kissan mengangguk,"Aku melihat pria dengan luka bakar itu menemui Ibu Suri.Dan kau bukannya baru beberapa hari yang lalu pulang.Rasanya aneh juga menyuruhmu tiba2 untuk pulang."
Swara jadi paham,"Jadi kain sutra itu hanya dalih untuk aku pulang ke rumah.Kenapa Nenekku sendiri begitu membenciku Kissan?Mengapa?"
Kissan menunjuk ke arah kebun,"Lihatlah semak duri di sana.Terkadang jika sebuah ladang dibiarkan akan tumbuh semak duri.Begitupun tanah hati kita jika kita tak hati2 menjaganya maka akan ada semak duri di sana.Kekhawatiran dan ketakutan akan pandangan orang akan membuat kita buta dan kadang melakukan hal yang menyakiti orang lain atau diri sendiri."
Swara menunduk,"Aku tidak menyalahkan ibu lagi setelah tahu tentang nenek suri yang tega hendak menyakitiku.Aku mengerti ketakutan ibu.Aku akan minta maaf pada ibu."
Kissan tersenyum,"Kau tahu kau sungguh beruntung masih punya ayah dan ibu.Sedang aku bahkan aku tak tahu siapa diriku sebenarnya.Kau harus bersyukur masih bisa memanggil ayah pada Raja Shekar dan ibu pada Ibu Sharmista.Hormatilah mereka."
Swara tersenyum dan melepas pelukannya,"Terima kasih Kissan.Kau membuatku mengerti situasi sebenarnya.Ayo kita pulang!Aku ingin memeluk Ibu."
Kissan melihat hujan sudah berhenti,"Pergilah.Aku mau memetik mangga dulu."
 Swara mengangguk,"Baiklah.Petik yang matang2 ya.Sekali lagi terima kasih Kissan!"
 Swara pergi kembali ke rumahnya diiringi tatapan Kissan,'Kau gadis yang baik Swara.Dan ternyata kau adalah seorang putri raja.Sepertinya aku harus mengubur perasaanku.Mana mungkin seorang putri raja bersanding dengan seorang tukang kebun hilang ingatan pula.'
Kissan menuju ke pohon mangga,'Aku akan menjagamu Swara.Terlepas kau membalas perasaanku atau tidak.Itu tidak masalah bagiku karena aku tak menuntut itu darimu.'
Bagaimana reaksi Sharmista mengetahui Swara telah tahu semuanya?***see you next part***


Part 30 OLDEST PRINCE : Using Your Liberty ( Menggunakan Kebebasanmu )

          Suatu hari saya lihat berita yang menayangkan penyerangan lewat udara terhadap sebuah kota di Timur Tengah.Orang2 yang sedang menikmati aktivitas kesehariannya dibuat panik dengan ledakan dan ancaman kematian akibat misil yang dilancarkan ke wilayah mereka.Disitulah saya menyadari betapa kita harus bersyukur atas keamanan yang Tuhan anugerahkan kepada kita.Ga kebayang kalau kita hidup di zaman perang.Kemana2 mencekam,ketakutan dan bayang2 kematian mengancam di setiap sudut.Ngomongin soal penyerangan,Kerajaan Bengali dalam kisah ini juga mau diserang lho.Oleh siapa?Yuk ikuti kelanjutannya!

 ××× TERAS RUMAH SWARA...
          Hujan yang turun dengan lebatnya membuat Sharmista cemas.Ia mondar-mandir sambil melihat keluar,"Ibu,kemana sebenarnya Swara?"
Dida mengangkat bahu,"Dia tidak pamit padaku.Prem apa Swara bilang padamu dia pergi kemana?" Kakek Swara menggeleng,Sharmista kian khawatir apalagi bunyi petir menggelegar,"Kemana kamu Swara?Sebaiknya aku pergi mencarinya."
 Kakek Prem mencegahnya,"Sebaiknya tunggu sampai hujan reda,paling dia pergi menyusul Kissan..."
Sharmista tercekat,"Menyusul ke kebun?Apa dia perginya sejak tadi Ayah?"
Prem menjawab,"Tak lama setelah kau dan Kissan pergi.Tapi aku ga menanyakan mau kemana dia.Aku pikir dia paling menyusul ke kebun."
Sharmista kian gundah hatinya,'Bagaimana jika Swara mendengar semua percakapanku dengan Kissan?'
Hujanpun berhenti dan tak lama Swara datang,"Ibu!!"
Sharmista berdebar2 melihat ekspresi putrinya,namun semua berubah kelegaan kala Swara berlari mendapatkannya dan memeluknya dengan erat,"Ibu,Swara sayang sama Ibu."
          Sharmista meski agak heran menyambut dengan hangat pelukan itu.Baginya apapun kecemasan yang sempat menyelimuti hatinya kini tak beralasan lagi karena pernyataan Swara membuatnya bak diguyur kesejukan tiada tara.
"Kau tahu betapa Ibu sangat sayang padamu,Shona..."bisiknya di telinga Swara.
          Dida dan Prem terharu melihat keduanya berpelukan.Sharmista mengusap wajah putrinya yang jelita,"Kau dari mana?Ibu cemas mengetahui kau tak di rumah."
Swara berkata,"Aku takut Kissan lupa pada pesanku Ibu.Tapi sepertinya ia tidak lupa,lihat itu!"                    Tampak Kissan datang membawa banyak sekali mangga.Semua tersenyum melihat bagaimana perhatiannya Kissan pada Swara.Dida menyenggol suaminya,"Lihat itu!Kau belum pernah semanis itu padaku.Huhh!Kusuruh petik cabe aja banyak alasan."
Kissan lega melihat Swara rukun dengan ibunya,'Syukurlah,Swara tidak marah dengan ibu Sharmista.Tinggal di sini seperti berada di keluarga sendiri.Andai saja Ibu Suri menerima kehadiran Swara pasti semuanya akan lebih indah.'
Ngomongin soal Parvati,yuk tengok macam mana kondisi di istana Bengali.Wah cakap macam mana pula nih?

 >>> ISTANA BENGALI...
         Digu telah sampai di depan gerbang istana Bengali.Ia telah memacu kudanya agar tak membuang waktu.Ia berkata pada penjaga gerbang,"Katakan pada Ibu Suri bahwa Digu sudah kembali."
Parvati memang belum tahu soal kegagalan Digu menghabisi Swara,jadi kala mendengar Digu datang,tanpa curiga ia menyuruhnya masuk. Digu tersenyum,'Baguslah,sepertinya Ibu Suri tidak tahu soal Swara masih hidup.'
          Mengikuti saran Rajat,Digu telah membunuh seorang gadis yang mirip dengan Swara dan membawa kepalanya untuk ditunjukkan pada Parvati.Tentu saja Parvati pikir itu Swara.Dia tersenyum bahagia,"Tak ada lagi noda di garis keturunanku.Karena noda itu sudah aku hapuskan.Kerja bagus Digu.Kau memang selalu membuatku puas.Tapi kenapa lama sekali kau baru memberitahuku?"
 Digu bersimpuh,"Maafkan hamba Yang Mulia,hamba harus memastikan dulu bahwa tak ada saksi yang akan menjadikan perkara ini suatu masalah kelak."
 Parvati berpikir,'Jika anak haram itu lenyap,ibunya pasti mencarinya.Jika dia kemari maka Shekar akan tahu semuanya.Lebih baik kuhabiskan saja sekalian dia.Mumpung Digu masih di sini.'
Digu sendiri malah sedang mencari cara agar bisa membawa masuk para tentara Tuannya,'Kuncinya adalah mendapatkan kepercayaan wanita tua ini.Jika dia percaya padaku maka dia tak akan mempertanyakan apapun yang kulakukan.'
Parvati memandang ke arah Digu,"Aku masih ada tugas untukmu.Kau pasti tahu bahwa aku tak mau putraku tahu soal anak haram ini.Jadi kau habisi saja sekalian ibu dari anak ini.Seisi rumahnya kau bakar saja.Buat seperti kecelakaan.Kau pasti tahu maksudku."
Digu lalu berkata,"Untuk itu Ibu Suri tenang saja.Hamba tinggal bilang pada anak buah hamba.Mereka akan segera bertindak."
Parvati ga peduli apapun lagi,"Terserah kamu mau nyuruh siapa aku tak peduli yang penting bereskan duri dalam daging ini.Cepat selesaikan sebelum Putraku kembali ke Bengali!"
Digu terkekeh dalam hati,'Kebencianmu pada keturunan lain putramu telah membuka celah untuk Tuanku melakukan rencananya.Inilah saatnya untuk menguasai Bengali.'
         Parvati berencana jahat lagi pada keluarga Swara tanpa menyadari bahwa bahaya mengancam kerajaan Bengali.Apakah yang akan terjadi pada Swara dan Bengali nanti?***see you next part***





Tidak ada komentar:

Posting Komentar