Part 21 ••• OLDEST PRINCE : In
Danger ( Dalam Bahaya )
Memasuki tiket baru
nih.Sebuah tiket yang saya pilihkan buat seorang pembaca berinisial R.Lumayan panjang
tiket kali ini namun bakal ada cerpen di dalamnya.Saya ingin buat cerpen dengan
pairing Vahe.Kenapa ada cerpen di sini?Ya karena ada window 9 di tiket ini.Bagi
yang suka Mars ada 2 eps BTM di awal tiket dan juga 2 eps It Was You.Tapi inti
tiket ini adalah Kh dan Gala2.Karena banyak angka berulang maka ada 2 bonus
yaitu Ddj dan Arjun.Tapi pasti Oldest Prince akan hadir tiap 2 window saya next
demi menjaga mood menulis penulise he..he..Ini dia tiket B →4495532-06.Alamat
cerpennya akan berjudul dengan awalan B nih.Bahaya...Bholo...Bla..bla..bla..
••• BENGALI'S PALACE....
Parvati melihat Swara berjalan bersama kakek Prem,iapun bertanya
pada pengawal yang berjaga,"Siapa pria yang bersama Dayang Swara
itu?"
Pengawal menjawab,"Itu kakek dayang Swara.Perlukah saya
panggilkan Yang Mulia?"
Parvati menggeleng,"Tidak perlu."
Parvati ingat pria itu,'Dia dulu yang menjemput Sharmista saat
kuusir dari istana.Jadi benar,Swara adalah anak haram Shekar dengan dayang
Sharmista.Benar2 memalukan dia berani memasukkan anaknya ke istana.Apa dia
pikir,aku tidak akan tahu?Akan kusingkirkan anak itu.Sebelum Shekar benar2
menjadikan dia putri kerajaan.Apa kata dunia jika mereka tahu bahwa putraku
pernah punya skandal.Aku harus punya strategi lain yang lebih bagus untuk melenyapkan
anak haram itu.Mumpung Shekar tidak ada di Bengali.'
Parvati lalu menyuruh memanggil prajurit yang ia suruh membawa
ular berbisa,"Suruh Digu menemuiku."
Digu sebenarnya adalah
prajurit yang disuruh Rajat untuk membakar mayat gadungan Sanskar,dia adalah
mata2 Rajat untuk mengawasi Bengali.Dia menyamar diantara pasukan Bengali tapi
sebenarnya dia adalah anak buah Rajat.Digu sangat pintar mengambil hati
Parvati.Hampir saja identitasnya diketahui Parvati kala ada luka bakar di
tangannya usai kejadian kematian Sanskaar setahun yang lalu.Namun ia bisa
berkelit dan mengatakan bahwa luka itu didapatnya karena membantu korban
pembakaran rumah2 penduduk oleh musuh.Namun saat bertabrakan dengan Kissan,luka
bakar itu terlihat oleh putra mahkota Maheswari yang sedang hilang ingatan
itu.Kissan mengawasi setiap prajurit yang dilihatnya,'Tanda luka bakar itu akan
menjadi petunjuk bagiku menemukan si pembawa ular itu.' Kala Kissan sedang
mengangkuti tanaman,ia melihat Digu diantara kumpulan prajurit,'Tanda luka
bakar itu.Itu orangnya.Aku harus mengawasi gerak geriknya.'
Digu nampak dibisiki seorang dayang,"Ibu Suri
mencarimu.Cepatlah kau temui beliau."
Digu mengangguk dan
segera pergi,Kissan segera mengikutinya dengan diam2.Di tempat rahasia Parvati
memberitahu Digu soal gagalnya rencana pertamanya,"Kau ini bagaimana bisa
sampai gagal?Ular berbisamu tak berguna!Sekarang aku punya tugas baru
untukmu.Jangan sampai gagal lagi."
Parvati berbisik pada Digu,sehingga Kissan tak bisa
mendengarnya,'Apa yang mereka bicarakan?Aku tak bisa mendengarnya dari sini.Aku
penasaran kenapa dia begitu membenci Swara?Pria itu berbahaya!Sebaiknya aku
lebih baik lagi menjaga Swara.'
Usai berbicara dengan Digu,Parvati meminta seorang dayang untuk
memanggil Swara agar menghadapnya,"Panggil dayang Swara untuk
menemuiku.Aku ingin mendengar permainan musiknya."
Swara sedang bersama kakeknya kala Kissan datang,"Kissan!Ayo
kemari.Makan bersama kami.Ini aku buatkan teh untukmu."
Kissan duduk bersama mereka,"Bagaimana kabar Nenek Dida dan
Ibu Sharmista,Kek?"
Prem menjawab,"Mereka baik,Nak.Semua titip salam
untukmu.Kakek lega kau mendapat pekerjaan di sini.Kakek titip Swara ya.Tadi
Swara cerita kalau kau menyelamatkannya dari ular berbisa.Terima kasih ya nak
Kissan.Sudah menjaga cucu kakek ini."
"Kakek ini tak perlu berterima kasih.Justru akulah yang
banyak berhutang budi pada kakek.Aku pasti akan menjaga Swara Kek."
Dayang suruhan Parvati datang,"Swara,Ibu Suri
memanggilmu."
Mendengar itu,Kakek Prem lalu pamit pulang,"Pergilah Swara!Sekalian
kakek juga mau pulang saja.Biar ga kemalaman sampai rumah.Kissan,titip Swara
ya."
Kissan mengantar kakek
ke gerbang istana sedang Swara pergi menemui Parvati. Kissan curiga,'Aneh,usai
bertemu pria dengan tanda luka itu,Yang Mulia kemudian memanggil Swara.Jangan2
mau mencelakai Swara lagi.Coba kutanya pada kakek siapa tahu beliau tahu
misteri dibalik semua ini.'
Sampai dekat gerbang istana,Kissan bertanya pada Kakek
Prem,"Tunggu sebentar Kakek.Ada yang ingin Kissan tanyakan."
Kakek Prem heran,"Soal apa Kissan?"
Kissan agak ragu,"Kakek sebelumnya Kissan minta maaf,Kissan
dengar dulu ibu Sharmista pernah menjadi dayang di istana ini ya?Mengapa ibu
Sharmista pergi dari istana ini Kakek?Apakah ibu Sharmista melakukan
kesalahan?"
Prem menatap anak muda di hadapannya,"Entah kenapa tiap kali
aku melihatmu aku seperti merasa kau ini bukan orang asing bagiku.Ceritanya
sangat panjang nak.Bahkan Swarapun belum tahu semuanya.Namun aku tak bisa
ceritakan sekarang.Nanti saja kalau Swara diijinkan pulang dan kau ikut serta
dengannya,kakek akan ceritakan apa yang terjadi.Ini menyangkut rahasia keluarga
kakek.Sebuah masa lalu yang pahit.Sebenarnya kakek tak ingin datang ke istana
ini lagi tapi semua demi memastikan Swara baik2 saja makanya kakek kemari.Tolong
bantu kakek menjaga Swara terutama dari..."
Kakek melihat sekitarnya dulu baru melanjutkan
ucapannya,"Dari Ibu Suri..terutama disaat Baginda tidak ada di istana
seperti sekarang.Sudah ya kakek harus segera pergi.Ingat pesan kakek
tadi." Kissan makin heran,'Kakekpun memintaku menjaga Swara dari Yang
Mulia Parvati.Aku jadi makin penasaran apa hubungannya dengan ketidakhadiran
Baginda ya?Aneh deh...'
Diruangan Parvati,Swara memainkan musik dengan sangat
indah,Parvati pura2 menikmatinya,"Indah sekali Swara.Apa ibumu yang
mengajarimu?"
Swara merapikan alat musiknya,"Benar,Yang Mulia.Ibulah yang
mengajari hamba mengenai musik dan tari."
Parvati lalu mengambil sesuatu,"Aku baru saja mendapat
kiriman hadiah dari kerajaan Mumbai berupa kain sutra.Ini ambillah dan berikan
pada ibumu.Dia telah mendidikmu dengan baik sehingga bisa menghiburku."
Swara tak menduga diberi hadiah,"Ini untuk ibu hamba?Ini
indah sekali Yang Mulia.Terima kasih.Ibu hamba pasti senang sekali
menerimanya."
Parvati berkata lagi,"Bukannya kakekmu datang tadi.Jika kau
ingin pulang bersamanya tidak apa2.Lagipula masih banyak dayang di istana ini
yang bisa menggantikan tugasmu."
Swara kian terpana,"Sungguh Yang Mulia.Hamba boleh pulang ke
rumah hamba?"
Parvati mengangguk,"Iya.Ragini juga tidak ada jadi pakailah
kesempatan ini untuk pulang.Aku mengijinkannya."
Swara segera bersujud dan pamit untuk bersiap pulang,"Hamba
permisi Yang Mulia.Terima kasih untuk semuanya.Terima kasih."
Parvati tersenyum melihat kepergian Swara,'Pergilah!Pergilah untuk
selamanya dari hadapanku.' Swara saking senangnya sampai bertabrakan dengan
Kissan di jalan,"Auw!"
Kain sari yang ia bawa jatuh,"Kissan?"
Kissan segera mengambil bungkusan yang dibawa Swara,"Apa ini
Swara?"
Swara dengan gembira cerita,"Ini hadiah dari Nenek Suri eh
Ibu Suri maksudku..."
Kissan makin heran,"Hadiah dari Ibu Suri?"
Swara malah nampak ceria,"Kau tahu.Ibu suri bukan hanya
memberiku hadiah kain indah ini tapi juga mengijinkanku pulang,Kissan."
Kissan mengernyitkan dahi,"Bukannya kau baru saja pulang
beberapa hari yang lalu?"
Swara malah mendekap kain yang dibawanya,"Coba kau bisa ikut
denganku.Aku harus cepat supaya aku bisa mengejar kakek.Kakek pasti belum
jauh.Sudah ya Kissan!"
Kissan malah jadi cemas,'Ini aneh.Bukannya biasanya sulit sekali
bisa keluar dari istana?Kenapa aku bisa bilang gitu ya?Aduh seakan aku biasa
hidup di istana saja.Heran...ups...aku tak boleh membiarkan Swara dijalan
sendirian.Bahaya!Mungkin ini memang rencana lain Ibu Suri untuk menyakiti
Swara.Tapi bagaimana aku bisa pergi bersamanya ya?'
Kissan menemui tukang kebun utama,kebetulan orangnya sedang
membagi tugas buat besok,"Ziki kau ke halaman depan.Malik kau ke kebun
belakang.Gopal kau bertugas mencari tanaman di luar istana.Ini
daftarnya.Bawalah Kissan bersamamu supaya ia bisa belajar cara memilih tanaman
yang baik."
Kissan lega sekali setelah mendengarnya,'Terima kasih Tuhan
memberiku jalan untuk bisa menjaga Swara."
Kissan lalu berbisik pada Gopal,"Paman bagaimana jika kita
berangkat sekarang saja.Toh tugas kita hari ini sudah selesai.Aku mohon
Paman."
Gopal lalu bertanya,"Memang kenapa kau ingin segera
berangkat?Apa kau tidak capek?"
Kissan lalu memberitahu,"Swara diijinkan pulang hari ini.Aku
hanya ingin mengantarnya pulang dan memastikan dia sampai di rumah dengan selamat
Paman.Itu saja."
Gopal mengerti,"Soal cinta rupanya.Tenang saja aku akan
membantumu.Akan kubicarakan dengan ketua."
Kissan lega dan benar
Gopal bisa membujuk kepala tukang kebun.Kissan bergegas menemui Swara di kamar
para dayang,tapi dijalan ia berpapasan dengan panglima kerajaan yang terpana
kala melihat wajahnya,'Orang itu sepertinya aku pernah melihatnya.Astaga!!Dia
mirip sekali dengan Pangeran Sanskaar dari Maheswari.'
Panglima bertanya pada bawahannya,"Siapa orang itu?"
Bawahannya segera memberitahu,"Dia itu tukang kebun yang baru
Panglima.Baginda sendiri yang menugaskannya.Dia hebat Panglima,dialah yang
menyelamatkan seorang dayang dari ular berbisa.Dia tangkas dalam menggunakan
tombak.Bahkan dari yang saya dengar dia bisa mengalahkan para penjahat di pasar
seorang diri."
Panglima berpikir,'Baginda sendiri yang menugaskannya?Berarti
Baginda sudah bertemu dengannya.Tapi apa Baginda tidak mengenalinya?Aku akan
mencari tahu.'
Kissanpun dipanggil oleh Panglima untuk menghadap.Kissan yang
terburu2 hendak mengejar Swara terpaksa menemui Panglima kerajaan,'Aduh untuk
apa Panglima ingin menemuiku.Gawat!Swara pasti sudah berangkat.Ini gawat!Ah aku
akan beritahu Paman Gopal saja agar pergi menemani Swara nanti aku akan
menyusul.'
Swara memang terburu2
karena hendak mengejar kakeknya.Sementara itu Digu menemui sekelompok
orang,"Kalian lihat nanti akan ada seorang dayang keluar dari istana.Nah
ikuti dia dan bunuh dia.Ingat jangan sampai ada yang melihat.Ini sekantung
keping emas jika nanti kalian sudah melenyapkannya aku akan memberi lagi."
Jelas mereka siap melaksanakannya.Swara dan Gopal akhirnya
berangkat dulu.Sementara Kissan menemui Panglima,"Panglima,tukang kebun
itu sudah datang."
Panglima menyuruh masuk,"Suruh dia masuk!" Kissan masuk
dengan tertunduk,'Apa aku membuat kesalahan ya?Kenapa rasanya aku pernah ke
ruangan ini ya?'
Di meja Panglima ada
peta2 dan senjata2 menghiasi seisi ruangan.Kissan tak berani mengangkat
mukanya,"Panglima memanggil hamba?"
Panglima mendekati Kissan dan mengelilinginya,'Dia benar2 mirip
Pangeran Sanskaar.Hanya dia lebih kurusan.Mengapa dia tidak mengenaliku?'
Panglima berkata,"Siapa namamu?"
Kissan menjawab,"Kissan Panglima."
Panglima melihat lagi dengan seksama,"Angkat wajahmu dan
tatap aku!"
Kissan menurut,Panglimapun memegang bahu
Kissan,"Pangeran...apa kau tidak mengenaliku?" Kissan
terpana,"Pangeran?.."
Apakah Kissan akan tahu
siapa dirinya?***see you next part***
Part 22 □□ OLDEST PRINCE : Komitmen
Untuk Menjaga
Biasanya jam segini saya
lagi asyik depan tv lihat Madhubala.Tapi kini sudah ga bisa lagi karena di hari
libur saya hari Sabtu dan Minggu malah diganti.Sambil nunggu race motogp di
Motorland Aragon Spain,saya mau next story kesukaan saya aja.Kabhie Khushi
Kabhie Gham....
□□ MAHESWARI'S PALACE....
Putri Ragini nampak
berjalan bersama Pangeran Laksya menyusuri koridor istana.Pangeran Laksya
mencoba memecah kesunyian,"Apa ini pertama kalinya Putri ke mari?"
Ragini tersenyum,"Tidak.Dulu pernah waktu aku kecil diajak
Ayah kemari.Aku ingat waktu itu ada dua anak lelaki sedang bermain
layang2."
Laksya jadi terkenang masa kecilnya,"Itu aku dan kakakku.Kami
memang suka bermain layang2.Setiap kali layang2ku putus maka kakak pasti
memberikan miliknya padaku."
Ragini jadi ingat soal kematian Pangeran Sanskar,"Maaf...aku
mengingatkanmu pada kakakmu..." Laksya menggeleng,"Tidak apa.Aku
memang sejak kecil selalu saja mendapatkan apa yang menjadi milik kakak.Seperti
sekarang ini..."
Ragini heran,"Pangeran sepertinya tak menghendaki penobatan
ini ya?"
Laksya mengangguk,"Aku tidak tahu soal pemerintahan,tentang
rakyat dan seluk beluknya.Aku merasa seperti saat kecil dulu selalu saja
merebut punya kakakku."
Ragini memandang simpati,"Kau tahu kau lebih beruntung
dariku.Setidaknya kau tahu bagaimana rasanya punya saudara.Kau bisa punya teman
bermain.Lagipula kakakmu sepertinya sangat sayang padamu.Ia pasti tahu bahwa
kau tidak merebut apapun darinya.Justru kau menjaga kerajaan ini." Laksya
memandang Ragini,"Kau berpikir begitu?Dulu aku pikir kakak itu selalu saja
cerewet menasehatiku ini itulah.Mengajak aku berlatih ini itu.Tapi kini aku
merindukan semua itu.Kau tahu aku suka sekali mengganggunya,merusak
tanamannya.Tapi lihatlah kini hanya dengan melihat hamparan bunga di sepanjang
koridor istana saja sudah membuatku teringat padanya.Maaf aku menceritakan ini
padamu..."
Ragini justru senang Laksya bisa nyaman curhat padanya,"Tak
perlu minta maaf...Justru aku senang jika Pangeran mau cerita padaku..."
Laksya tersenyum,"Terima kasih,Putri."
Ragini memandangnya,"Panggil saja aku Ragini."
Laksya juga memandangnya,"Kau juga harus memanggilku Laksya
saja.Bagaimana?"
"Setuju."
"Berteman?"
Ragini menatap pria tampan di hadapannya,'Aku menginginkan lebih
dari menjadi temanmu,Laksya.' "Akan aku pikirkan....he..he.."
Keduanya tampak
ceria.Sujata dan Annapoorna melihatnya dan saling tersenyum.Annapoorna
berpikir,'Bagus putraku.Kau memang mempesona siapa saja.Bisa kulihat putri
Bengali itu terpikat padamu.Jika Bengali dan Maheswari bersatu pastilah
kekuasaanmu nanti akan sangat besar Laksya.' Sujata malah
berkata,"Sepertinya perjodohan yang sempat dibuat dulu bisa dilanjutkan
kembali oleh Pangeran Laksya.Mereka sepertinya memang diciptakan untuk satu
sama lain."
□□ BENGALI...
Swara sudah menanti di dekat gerbang istana,'Mana Kissan?Katanya
mau mengantarku pulang.Ah itu Paman Gopal.'
Paman Gopal tergopoh2 mendekat,Swara celingukan mencari Kissan.
"Kissan mana Paman?Kok tidak bersama Paman?"
"Kissan dipanggil Panglima.Dia akan menyusul nanti."
"Ya sudah.Kita berangkat saja dulu.Kakek pasti bisa kita
kejar kalau berangkat sekarang.Ayo,Paman!"
Merekapun keluar dari gerbang tanpa menyadari bahwa ada yang
mengawasi mereka,"Itu dia dayang yang kumaksud.Cepat ikuti mereka.Sampai
di tempat yang sepi culik dayang itu.Lalu habisi dia." Ditempat lain
Kissan sedang diinterogasi oleh Panglima kerajaan Bengali,ia bingung dengan
semua ucapan Panglima kepadanya. "Panglima saya ini hanya tukang
kebun...mengapa menyebut saya Pangeran?"
Sang panglima merasa heran,"Kau ini benar2 mirip Pangeran
Sulung Maheswari.Pangeran Sanskaar...bolehkah kutahu darimana asalmu?"
Kissan malah merasa pusing,'Sanskaar?...Mengapa nama itu seperti
tidak asing kudengar...'
Flash back...
"Pangeran Sanskaar ini peta wilayah musuh!"
"Pangeran Sanskaar...Yang Mulia ingin bertemu dengan
Pangeran."
"Sanskaar...putraku..."
Kissan terhuyung,"Hamba tidak tahu asal usul
hamba,Panglima..."
Kissan ingat soal bahaya yang mengancam Swara,"Panglima hamba
ditemukan oleh keluarga dayang Swara di sungai Kissan,itulah kenapa nama hamba
Kissan.Sungguh hamba tidak tahu bagaimana hamba bisa sampai di sungai itu
Panglima.Hamba berkata yang sebenarnya Panglima.Hamba kehilangan ingatan
hamba."
Panglima kini mengerti,'Kehilangan ingatan?Aku yakin dia pasti Pangeran
Sanskaar.Aku akan mengujinya.'
Panglima menyuruh Kissan menuliskan sesuatu,"Tuliskan di sini
kata Maheswari,Sanskaar dan namamu yang sekarang."
Kissan menurut saja menuliskannya,'Meski aku sangat ingin tahu
masa laluku tapi keselamatan Swara jauh lebih penting sekarang.Sebaiknya aku
menurut saja supaya cepat selesai dan aku bisa menyusul Swara.'
Melihat cara Kissan
menuliskan huruf S yang begitu khas membuat ia yakin bahwa Kissan adalah
Pangeran Sanskaar Maheswari.Namun ia tak mau gegabah menyimpulkan,'Aku akan
bicarakan hal ini pada Baginda kala beliau kembali dari Maheswari.Jika aku
ceroboh justru bisa terjadi kesalahpahaman lagi nanti.Hubungan kedua kerajaan
sudah membaik.Akan kupastikan lebih lagi dugaanku ini.Akan kuawasi Kissan.'
Kissan memohon agar dia diijinkan untuk kembali
bekerja,"Bolehkah hamba mohon diri?Hamba mendapat tugas dari kepala tukang
kebun istana untuk mencari beberapa tanaman di luar istana."
Panglima
mengijinkan,namun kemudian ia menyuruh dua orang pengawal untuk mengikuti
Kissan secara diam2. Berhasilkah Kissan mengejar Swara?Moto2 sudah mulai
nih...nonton dulu ya ***see you next part***
Part 23 ◆◆ OLDEST PRINCE◆◆Beside Me
( Disampingku )
Lama ga nulis nih di
akun ini.Ada hal yang saya tak sukai di akun sebelumnya makanya daripada bete
disana mending saya ganti suasana.Jangan heran jika foto profil saya sering
ganti bahkan di wa saja saya juga sering ganti foto profil saya.Tiap kali bete
saya akan mengubah sesuatu sebagai tanda bahwa saya tak mau disetir sekitar
saya.Bahwa bahagia saya bukan karena keadaan di sekitar saya tapi karena
sesuatu yang didalam.Keadaan akan selalu berubah kadang tak terduga dan kadang
diluar harapan.Adik saya suatu hari pulang kerja dengan wajah tegang campur
agak gimana gitu kayak habis lihat hantu.Kayak ekspresi orang ga nyana gitu
dia.Ternyata di tempat kerja terjadi sesuatu yang mengejutkan hatinya.Seorang
preman tiba2 masuk ke area kerja dan menganiaya salah satu temannya hingga
darah bercucuran dari kepala temannya itu.Begitu banyaknya darah tercecer di
lantai sampai kerja saja pada ngewel.Si preman itu ternyata tetangga temannya
tadi tapi mereka berselisih karena masalah pagar dan kasus pencurian tv.Demi
benda2 mati dia sampai menganiaya orang yang hidup.Dunia ini kian penuh
kedurhakaan namun jangan sampai kita menjadi orang2 yang dimurkai Tuhan dengan
ikut didalamnya.Milikilah belas kasihan bahkan bukan hanya pada mereka yang
baik pada kita saja,belajarlah tetap bersikap baik pada mereka yang mungkin
pernah menyakiti kita.Disitulah orang akan melihat Tuhan ada dalam hidup
kita.Saat hati kita penuh dengan kasih sayang.Wah lega saya sudah curhat di
sini,soalnya sejak beberapa hari ini saya sedih mikirin hal ini.Kok ya ada ya
orang2 yang tega menumpahkan darah sesamanya?Bicara soal tega,ada yang tega juga
di kisah Oldest Prince.Siapa hayo yang tega mau nyakitin anggota keluarganya
sendiri?Nih dia lanjutan kisahnya.Sagare ni sagalisa...ooohhh...
>>>>DENGAN SWARA<<<<
Matahari sudah hampir
tenggelam kala Swara meninggalkan istana Bengali.Gopal menemaninya sepanjang
perjalanan.
"Kissan nanti akan menyusul,Paman?",sambil menengok ke
belakang beberapa kali Swara bertanya pada tukang kebun yang ada di sebelahnya.
Gopal mengerti kekhawatiran Swara,"Iya dia pasti
menyusul.Kissan itu selalu berusaha menepati ucapannya."
Mereka akhirnya berhasil mengejar kakek Prem,"Kakek!!"
Prem sedang mampir di
sebuah kedai saat itu.Ia terkejut melihat Swara,"Kenapa kau keluar istana
Swara?Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Swara lega bisa mengejar kakeknya,"Aku diberi ijin Nenek Suri
Kakek untuk pulang.Lihat aku bahkan diberi sesuatu oleh beliau.Katanya ini buat
Ibu."
Swara menunjukkan kain yang yang diberikan Parvati,"Bagus kan
kakek?Ini sutera lho.Yang Mulia Parvati yang memberikannya katanya ini untuk
ibuku kakek.Beliau baik bukan?"
Kakek Prem malah terlihat heran,'Apakah Ibu Suri tahu kalau
Sharmista adalah ibu dari Swara?Karena kalau iya tak mungkin dia akan bersikap
baik pada Sharmista.Aku masih ingat dia mengusir putriku dari istana.'
---Flash back---
Sharmista dipaksa untuk meminum ramuan penggugur kandungan oleh
Parvati,"Aku sungguh malu mengetahui putraku telah mencampur darah
kebangsawanannya dengan air dari sungai.Kau pasti telah menggoda putraku.Kau
bermimpi akan menjadi permaisuri bukan?Tapi aku takkan biarkan Shekar
mengetahui kalau kau sedang hamil.Dia sedang pergi berperang.Dan aku takkan
biarkan dia mengetahui tentang dirimu.Kau harus gugurkan anak itu!!Dia adalah
noda dalam sejarah kebangsawanan keluarga Kerajaan Bengali!!"
Sharmista tak mau meminumnya,"Tidak!Jangan bunuh anak dalam
rahim hamba Yang Mulia.Biarkan hamba pergi.Hamba janji tak akan memberitahu
soal anak ini pada Pangeran Shekar." Parvati lalu mengusir Sharmista dari
istana bahkan juga mengusir Prem dan Dida dari istana,"Kalian tak perlu
lagi melayani di istana.Bawa putrimu yang memalukan ini pergi jauh dari
Bengali.Jangan pernah kalian mencoba untuk kembali kemari lagi!!"
Sejak itu mereka hidup
di perbatasan antara Maheswari dan Bengali.Raja Shekar pulang dengan membawa kemenangan
dan sangat kecewa karena diberitahu bahwa Sharmista telah pergi dari istana.Ia
berusaha mencarinya tapi Parvati mengancamnya,"Kalau kau ingin ibumu ini
mati cepat pergilah!!Cari dayang kesayanganmu itu!Dia terus yang
kaupikirkan!!Aku tidak mau makan jika kau tidak mau menerima perjodohan dengan
Putri Janki.Biar saja ibumu ini mati karena kelaparan!!"
Tak lama kemudian
Pangeran Shekar menikah dengan Putri Janki dan naik tahta.Sementara itu
Sharmista hidup dalam hinaan orang karena melahirkan seorang anak tanpa
suami.Seorang anak perempuan bernama Swara.Mereka lalu pergi ke tepi sungai
Kissan.Sungai yang menjadi batas antara Maheswari dan Bengali.Hanya penduduk di
sekitar sungai Kissan yang mau menerima mereka dengan baik.Hingga suatu hari
Raja Shekar dan Raja Durga mengukuhkan persahabatan mereka dengan mengadakan
festival di sungai Kissan.Saat itulah Raja Shekar yang telah memiliki putri
bernama Ragini datang ke sungai Kissan.Putri Ragini terjatuh ke sungai dan
diselamatkan oleh Sharmista yang sedang mencuci di tepi sungai.Sharmista tak
sangka akan bertemu dengan Shekar lagi.Raja senang sekali bertemu dengan wanita
yang ia cintai,"Aku mencarimu kemana2,Sharmista!Kenapa kau pergi dari
istana?Kenapa kau tidak menungguku kembali dari medan perang?"
Saat itulah Swara datang,"Ibu,lihat aku menangkap banyak ikan
hari ini.Kakek mengajariku memancing hari ini."
Shekar terpana melihat seorang anak perempuan disamping
Sharmista,"Dia anakmu?Kau sudah menikah?"
Sharmista malah lari
karena melihat Parvati di kejauhan datang.Shekar hendak mengejarnya tapi
kondisi Ragini memaksanya segera kembali ke istana.Namun sejak itu Shekar
menyisir sungai Kissan mencari Sharmista.Dan kemudian ia tahu bahwa Sharmista
tak pernah menikah.Raja kemudian mengetahui bahwa Swara adalah putrinya dan
hendak mengajaknya ke istana,"Dia putriku Sharmista.Darah dagingku!Aku
adalah ayahnya.Dia berhak hidup di istana."
Sharmista memohon agar identitas Swara tetap menjadi
rahasia,"Baginda boleh membawanya ke istana tapi sebagai dayang.Selama Ibu
Suri tak bisa menerimanya biarkan identitasnya tetap tersembunyi.Hamba mohon
Yang Mulia."
Shekar setuju karena ia
tahu betapa kerasnya hati ibunya.Swara sendiri hanya tahu bahwa Raja Shekar
sangat sayang padanya bak seorang ayah.
---End flash back---
Swara heran melihat kakeknya malah melamun,"Kakek?Kakek baik2
saja?Kakek?"
Prem baru sadar kala tiba2 masuklah preman2 ke dalam kedai dan
membuat keributan dengan Gopal,"Hey kau minggir!!Ini tempat duduk
kami!!Cepat minggir!!"
Gopal lalu mengajak Swara dan kakeknya untuk pergi,"Kita
pergi saja dari sini.Tempat ini tidak aman.Ayo!"
Namun preman2 itu melihat Swara,"Wow...cantik sekali gadis
itu!Tangkap dia!"
Gopal dan Prem melawan mereka,"Swara cepat lari!!Jangan
hiraukan kami!!Cepat!!"
Swara lari,"Tolong!!"
Salah satu dari mereka mengejarnya,"Kau mau lari kemana
Manis?"
Digu lalu datang
berlagak bak pahlawan,berpura2 mengalahkan preman yang mengejar Swara.Swara
lega dan hendak berterima kasih namun ia terkejut kala Digu menatapnya dengan
penuh nafsu,"Kau mau apa?Kenapa kau menatapku begitu?"
Digu menyeringai,"Kau ini sangat cantik apa kau tahu?Kau
seharusnya menjadi seorang putri raja dan bukan berkeliaran di sini.Sayang
sekali aku diperintahkan untuk melenyapkanmu.Tapi sepertinya tidak masalah jika
aku bersenang2 dulu dengan tubuhmu sebelum melenyapkanmu.He..he.."
Swara ketakutan karena Digu mengancamnya dengan
belati,"Berani kau melawan,maka belati akan menembus jantungmu.Jadi
sebaiknya kau menurut.Siapa tahu saja aku akan berubah pikiran setelah
menikmatimu."
Swara terus berontak dan
meski pergelangan tangannya tersayat belati milik Digu namun ia berhasil
lari.Ia terus lari.Digu mengejarnya,'Perempuan sial!Dia berhasil
kabur.Sebaiknya kuhabisi saja dia.'
Swara terus berlari,"Kakek!Paman Gopal!!Tolong!!"
Nafasnya terengah2 ditambah luka di tangannya membuatnya mulai
sempoyongan,'Sepertinya aku tersesat.Dimana2 tumbuhan dan pepohonan.'
Terdengar suara ranting
diinjak dibelakangnya,Swara segera menoleh. Siapakah yang datang?***see you
next part***
Part 24 ♧◆◆ OLDEST PRINCE : Behind (
Di belakang )
Maaf jika hari Senin dan
Selasa saya jarang next tulisan saya.Biasa kecapekan.Pulang kerja sampai rumah
hampir jam 6 petang.Belum kalau masih nyuci baju.Jam 8 malam baru kelar.Mata
udah 5 watt.Berat dan pinginnya narik selimut bobok manis aja.He..he..kayak
lagu.Saya mau ucapin selamat ultah buat semua aja yang lahir di bulan Oktober
ini.Moga selalu sehat dan terus naik level baik secara karakter maupun
materi.Juga selamat untuk Fildan DA4 udah sukses meraih dua penghargaan di
acara Dangdut Award kemarin.Hebat dapat dua di awal dan di akhir
kayaknya.Social darling dan penyanyi solo pendatang baru pria terpopuler ya...
Buat Via Valen juga
selamat dah menang.Saya sering denger namanya soalnya teman2 saya suka lagu2nya
tapi baru kali ini saya lihat betapa cantiknya Via Valen.Gayanya dan aura
bintangnya jelas banget terpancar.Saya suka sekali tata rias dan gaya rambutnya
juga pilihan bajunya.Keren2 punya.Apalagi kalau dia menyapa
penggemarnya.Panggung langsung hidup kalau Via tampil.Moga makin sukses dan
terus berkibar.Saya juga mau sapa para pembaca karya saya.Malam semua...ada
yang request Dasi dan Gincu,Debu2 Jalanan,Kehilangan,Aku Orang Tak
Punya,Bumipun Turut Menangis dll.Semua akan saya penuhi dalam tiket baru,tiket
terpanjang menurut saya.Awalnya saya mau next tiket sesuai urutan soale saya
itu orangnya melankolik jadi seneng banget kalau ngerjain segala sesuatu
urut.Tapi buat nyenengin pembaca gpp deh kali ini tiketnya mencolot2.Tiket
K,spesial buat yang merasa punya inisial KA he..he..Ini kombinasi angkanya
0003733-11-48-12.Tiket ini akan makin panjang karena di tiap dua cerbung akan
saya selingi Oldest Prince.Here we go...Hey ha..ha..sawalisi ik ke
ladkir...
♧◆ ◇ DI SEBUAH HUTAN DI KERAJAAN BENGALI...
Bunyi ranting patah
dibelakangnya membuat Swara kian ketakutan namun kala melihat ke
belakang,sontak ketakutan di wajahnya sirna.Apalagi kala mendengar namanya
disebut,"Swara...akhirnya kumenemukanmu..."
Dengan segera Swara lari mendapatkan sosok di
depannya,"Kissan!!"
Ya Kissan memang
berhasil keluar istana bahkan dipinjami kuda oleh Panglima kerajaan.Melihat keributan
di sebuah kedai,ia segera melihat siapa tahu saja Swara disitu.Ternyata malah
menemukan Paman Gopal dan Kakek Prem.Ia segera menangani para preman.Lalu
diberitahu bahwa Swara lari ke arah hutan.Melihat ceceran darah ia kian
khawatir dan mengikuti ke mana tetesan darah itu. "Kau berdarah
Swara...apa yang terjadi?"
Swara yang sebenarnya sejak tadi sudah merasa nanar malah pingsan
di pelukan Kissan,"Pria itu membawa belati...dia ...dia..."
Kissan segera membalut luka di pergelangan tangan Swara dengan
kain selendang Swara,'Aku harus hentikan pendarahannya.'
Saat itulah Digu mendekat dengan belati terhunus siap membunuh
Kissan namun kala belati itu mau dihunjamkan seseorang
menghalanginya,"Takkan kubiarkan kau melukainya Digu!!"
Digu kaget kala
belatinya beradu dengan pedang dan seseorang mengenali dirinya.Kissan sendiri
juga kaget,"Kau?Kau kan pria dengan luka bakar itu bukan?"
Digu sendiri malah terperangah melihat wajah Kissan,"Ini
tidak mungkin!Kau tak mungkin masih hidup..."
Orang yang menolong Kissan segera menyuruh Kissan membawa Swara
pergi,"Bawa gadis itu!Soal dia biar aku yang tangani!"
Kissan mengangguk,"Terima kasih sudah menolongku
kisanak."
Kissan membopong tubuh Swara,"Swara kau akan baik2 saja.Aku
disini.Aku akan menjagamu." Sementara itu Digu bertarung dengan penolong
Kissan,"Kau ini siapa?Bagaimana kau tahu namaku?" Rupanya orang itu
adalah suruhan Panglima Kerajaan Bengali yang ditugaskan untuk menjaga
Kissan,"Siapa diriku itu tidak penting!Tapi aku tahu siapa kau Digu!Kau
ini sudah lama kuawasi!" Digu lalu terhempas ke tanah,'Gawat dia tahu
siapa aku.Dayang sialan itu juga dibawa kabur sama pria yang mirip sekali
dengan Pangeran Sanskaar.Bagaimana bisa pangeran itu masih hidup?Aku harus
lari!'
Ia mengambil tanah dan
dilemparkannya ke arah wajah prajurit suruhan panglima.Tentu saja si prajurit
jadi tak bisa melihat dan kesempatan itu dipakai Digu untuk kabur.Usai
membersihkan wajahnya dari tanah,ia segera mengejar Digu. 'Kemana dia?Yang
penting adalah keselamatan tukang kebun bernama Kissan itu.Tugasku adalah
menjaganya.Sebaiknya aku kembali ke kedai.Dia pasti ke sana.'
Sementara itu Digu bersembunyi di atas pohon,'Aku tak bisa kembali
ke istana Bengali.Ibu Suri pasti akan membunuhku karena gagal menjalankan tugas
darinya.Aku akan menemui Tuanku saja dan memberitahukan padanya bahwa Pangeran
Sanskaar masih hidup.Benar aku akan menemui Tuanku saja.'
Siapakah yang dimaksud
dengan Tuan oleh Digu?***see you next part***
Part 25 OLDEST PRINCE : Kesabaran
Saya punya ponakan yang sangat gemesin namanya Dim2.Rambutnya
keriting,matanya besar2,pipinya tembem,dan ada aja tingkahnya yang bikin
gemes.Ibunya,kakak saya,orangnya tipe ga bisa diam.Sambil melakukan aktivitas
sehari2 selalu saja ada yang dia bicarakan.Kalau ga ada pendengar,dia akan
menyanyikan lagu2 terutama tembang2 lawas.Nah Dim2 ga suka kalau lihat ibunya
ngobrol sama orang di sekitarnya.Maka diapun akan mengusik pembicaraan dengan
mendekat sambil berkata dengan mimik nangis bin ngebet,"Bu,berak
Bu!Berak!Berak!"
Tapi begitu diajak ke kamar mandi dia cuma ingin pantatnya diguyur
air sedang dia akan main air.Begitu terus bahkan bisa sampai 10x bolak-balik
kamar mandi.Mau kesel ga tega lihat wajah imutnya dia.Memang butuh kesabaran
dalam hidup ini.Oke yuk lanjut aja ceritanya.
》KEDAI...
Kakek Prem dan Paman Gopal terkejut kala melihat Kissan datang
sambil membopong Swara,"Kakek!Paman!Aku menemukan Swara!"
Kakek Prem cemas
melihat kondisi cucunya,"Nak Kissan apa yang terjadi?Kenapa dengan
Swara?" Paman Gopal berkata,"Lebih baik kita membawanya ke tabib.Hari
sudah malam.Melanjutkan perjalanan sepertinya beresiko."
Pemilik kedai berkata,"Kalian menginap saja di kedaiku,ada
kamar kosong dibelakang.Sementara aku akan panggilkan tabib untuk gadis
itu."
Kissan dan yang lainnya sangat berterima kasih atas kebaikan
pemilik Kedai tersebut.Segera Kissan membawa Swara ke kamar yang
dimaksud.Dibaringkannya Swara diatas tempat tidur lalu ditungguinya disisi
pembaringan.Prem melihatnya,'Sepertinya Nak Kissan sangat sayang pada cucuku.'
Tak lama Swara sadar,"Kissan...Kissan"
Begitu melihat Kissan,Swara langsung memeluk Kissan dengan
erat.Kissan menenangkannya,"Jangan takut Swara !Kami semua ada di
sini."
Kakek Prem mendekat,"Iya Swara.Kakek disini.Kau tenang
saja."
Gopal masuk
bersama seorang tabib,"Itu dia yang terluka tabib.Cepatlah periksa."
Tabib segera memeriksa luka di pergelangan tangan
Swara,"Untung sayatannya tidak terlalu dalam."
Sementara itu dua orang prajurit yang disuruh panglima
untuk mengawasi Kissan berjaga di luar kedai.Gopal berkata pada
Kissan,"Lebih baik soal tanaman biar aku yang mengerjakan tugas itu,kau
temani saja Swara dan kakeknya.Tiga hari lagi kita bertemu di depan
istana."
Kissan setuju
dan berterima kasih atas pengertiannya,'Paman Gopal benar.Bisa saja bahaya
masih mengancam Swara.' Setelah tabib memberikan obat,ia lalu mohon
diri.Pemilik kedai datang membawa makanan,"Kalian semua pasti lapar.Ini
sudah kubawakan makan malam untuk kalian." Kakek Prem berterima
kasih,"Anda sungguh baik,memberikan kami tumpangan sekaligus
makanan.Terima kash."
Pemilik kedai
berkata,"Tak usah sungkan.Ini ucapan terima kasih dari saya.Selama ini
preman2 tadi sering mengacaukan kedaiku.Tapi sejak kejadian tadi aku rasa
mereka takkan berani membuat ulah lagi."
Kissan membawa makanan untuk Swara,"Bagaimana
keadaanmu?Tanganmu masih sakit,biar kusuapi."
Swara terharu dengan perhatian Kissan,"Aku sudah merasa lebih
baik.Terima kasih.Kalau tak ada kau entah apa yang akan terjadi
padaku,Kissan."
Kissan mulai
menyuapi Swara,"Aku juga tidak tahu apakah aku bisa bertahan hidup saat di
sungai waktu itu jika kau dan kakekmu tidak datang menolongku,Swara."
Swara makan
dengan mata berkaca2,matanya tidak lepas dari memandang Kissan,'Dia sungguh
pria yang sangat baik.Pasti keluarganya sangat kehilangan dia.'
Kissan juga
memandang Swara,'Betapa aku sangat takut kehilanganmu Swara.Aku harus lebih
waspada lagi dalam menjagamu.'
Prem dan Gopal memperhatikan kedua sejoli itu sambil melempar
senyum. Malam itu mereka semua bermalam di sana.Saat hendak menutup
jendela,Kissan melihat dua pengawal kiriman panglima.Ia mendekati
mereka,"Aku belum berterima kasih pada kalian.Jika tak ada kalian,pasti
kami sudah terluka.Aku adalah Kissan.Tukang kebun baru di istana Bengali.Kalian
ini sepertinya mengenal pria yang menyerangku tadi.Apakah kalian juga dari
istana?"
Salah satu dari
mereka menjawab,"Kau sangat jeli.Kami memang pengawal kerajaan.Kebetulan
kami sedang dalam misi rahasia yang tak bisa kami katakan."
Kissan
manggut2,"Mengenai pria dengan luka bakar itu,kau menyebut namanya
tadi.Aku pernah melihat dia menemui Ibu Suri.Apa dia pengawal pribadi Ibu
Suri?"
Prajurit itu
menggeleng,"Digu memang pengawal pribadi Yang Mulia Parvati tapi
sebelumnya dia cuma prajurit biasa.Itulah kenapa dia begitu sombong.Aku akan
melaporkan perbuatannya ini pada atasanku nanti."
Kissan lalu kembali ke dalam,'Mengapa Ibu Suri menyuruh orang
menyakiti Swara ya?'
Swara masih belum tidur,"Kau kemana Kissan?"
Kissan mendekat,"Aku menemui dua prajurit yang menolong kita
tadi.Maaf jika membuatmu cemas.Kau tidurlah,aku akan berjaga di sini."
Swara melihat Kissan duduk dekat pembaringannya,Kakek Prem
dan Paman Gopal tidur di sudut lain.Mengetahui Kissan didekatnya barulah Swara
merasa tenang dan akhirnya tidurlah dia.Kissan membetulkan selimutnya,'Tidurlah
Swara...aku disini menjagamu.'
PERBATASAN
MUMBAI...
Seekor kuda dipacu semalaman dan berhenti didepan gerbang
sebuah benteng.Pengawal yang berjaga bertanya,"Siapa kau dan ada maksud
apa kau kemari?Melihat dari pakaianmu sepertinya kau dari Bengali."
Pria itu
menunjukkan luka bakar di tangannya,"Katakan pada Tuanmu,Digu datang
membawa berita penting untuknya."
Pengawal itu lalu pergi menuju sebuah ruangan dimana
seorang pria tengah melihat tarian beberapa orang penari.Begitu dibisiki oleh
pengawal itu,pria itu segera mengangkat tangan,musikpun berhenti.Semua penari
berhenti meliuk2kan tubuhnya,pria itu berkata,"Malam ini cukup sampai
disini.Kalian pergilah.Aku kedatangan tamu penting."
Mereka segera
pergi sambil memberi hormat.Pria tadi berkata pada pengawal yang membisikinya
tadi,"Bawa dia menghadapku!"
Pengawal tadi
segera membungkuk,"Baik Tuan."
Pria yang disebut Tuan tadi mengambil segelas minuman,dan
membelakangi pintu masuk.Tak lama Digu masuk,"Tuan...Digu datang memberi
hormat padamu."
Sang Tuan malah minum,"Ada apa Digu?Sudah lama kau tak
memberi kabar kepadaku.Aku pikir kau sudah lupa pada Tuanmu ini dan sudah
mendapat tuan yang baru."
Digu masih
memberi hormat,"Mana mungkin saya melupakan Tuan.Saya tidak akan
menggantikan Tuan dengan siapapun.Saya membawa kabar penting untuk Tuan.Ini
mengenai rahasia Raja Bengali dan juga mengenai Pangeran Sanskaar."
Pria yang disebut Tuan itu langsung berbalik begitu mendengar nama
Sanskaar disebut,"Katakan yang terakhir lebih dulu!Pangeran Sanskaar sudah
mati bersama Sahil.Lalu berita apa yang kaupunya kali ini?"
Digu tersenyum dan berdiri,"Pangeran Sanskaar masih hidup
Tuan.Dia tidak mati Tuan.Dia kini ada di Bengali.Namun sepertinya dia
kehilangan ingatannya.Dan sepertinya panglima mengetahui juga hal ini.Dia
mengutus anak buahnya untuk menjaga Pangeran Sanskaar."
Terbelalak mata sang Tuan,"Rupanya dia punya banyak nyawa dan
banyak malaikat pelindung juga.Tapi baguslah dengan begini aku bisa memikirkan
cara lain untuk merebut Mumbai dari tangan kakakku lagi.Ram takkan lama
menduduki tahta.Tahta itu milikku.Aku akan menjadi raja di Mumbai
lagi.Annapoorna akan kuperas lagi dan mengenai kerajaan Bengali rahasia apa
yang kau ketahui?" Digu mendekat,"Tuan Rajat,ternyata Raja Shekar memiliki
putri lain.Putri itu lahir dari seorang dayang.Dan kini putri itu juga menjadi
dayang disana.Tuan bisa memakai rahasia ini untuk memeras Ibu Suri."
Rajat heran,"Mengapa bisa?"
Digu berkata
lagi,"Ibu Suri menganggap hal ini sebagai aib keluarga.Ia tak mau ada keturunan
campuran di kerajaan."
Rajat
terkekeh,"Kau sungguh pintar Digu.Kau benar2 membawa berita baik
untukku.Selamat datang di benteng Rajat ha..ha.."
Rupanya Rajat adalah tuan yang dimaksud Digu.Rencana apa
lagi yang akan dia buat?***see you next part***
Part 26 OLDEST
PRINCE : Keep Thyself Pure ( Menjaga kemurnianmu )
Hari ini saya pulang cepat dari kerjaan karena sakit.Badan
saya panas dan suara saya serak.Sejak ayah saya tiada di bulan Okt puluhan
tahun lalu,bulan Oktober menjadi bulan krusial bagi saya.Banyak hal berat yang
saya lalui di bulan ini.Saya mau ceritakan pengalaman saya di bulan ini .Saya
niatnya itu menolong seseorang tapi dia itu malah membuat saya kesal.Selalu
saja ingkar janji dan ga ada omongannya.Pantesan namanya dijuluki dengan nama
ga jelas gitu.Terkadang kita harus waspada dan mencari tahu dulu siapa orang
yang berinteraksi dengan kita.Akhirnya saya memilih puasa.Lelah saya menghadapinya.Apalagi
ternyata dia emang banyak hutang dimana2.Pimpinannya saja kesal juga sama
dia.Menyesal sudah terlambat.Namun hari ini doa saya dijawab,dia menepati
janjinya.Kaget juga saya dan saya berkata pada diri saya,'Cukup sekali ini
saja.Seterusnya saya ga akan biarkan hal ini terulang lagi.'Karena itu maka
seperti janji saya pada salah satu pembaca bahwa jika yang saya inginkan
terjadi maka Ddj akan saya tambah 8 eps.Tapi sekarang kita ke pairing fave
saya.Swasan.
KEDAI...
Matahari pagi bersinar dengan cerahnya.Sinarnya yang kuning
keemasan masuk ke dalam kamar dimana Swara dan yang lainnya tidur.Kissan yang
sudah bangun lebih dulu melihat sinar mentari jatuh mengenai wajah
Swara.Menyilaukan.Ia segera menutupi sinar itu dengan badannya agar tak
mengenai Swara.Swara berguling pelan dan hampir saja jatuh dari pembaringan
kalau Kissan tak segera menangkap tubuhnya.Tentu saja Swara terkejut melihat
dirinya dalam pelukan Kissan,"Kissan?Apa yang kaulakukan?"
Kissan segera menjawab,"Kau bergerak dan hampir jatuh
Swara.Aku menangkapmu."
Swara merona,"Oh...begitu...maaf sudah menuduhmu yang
tidak2..."
Kakek Prem mendekati mereka,"Kalian sudah bangun rupanya.Apa
kau sudah lebih baik cucuku?" Swara mengangguk,"Iya kakek.Kita bisa
melanjutkan perjalanan."
Gopal juga
bangun,"Maaf sepertinya saya tak bisa pergi bersama kalian.Saya harus
mencari tanaman untuk taman istana.Kissan kau pergilah bersama mereka.Soal
tanaman serahkan pada paman."
Kissan memandang Gopal,"Tapi paman..."
Gopal menepuk bahu pangeran sulung Maheswari itu,"Mereka
lebih membutuhkanmu lagipula aku sudah biasa melakukan ini.Kau tenang
saja.Temanilah mereka."
Kissan berterima kasih atas pengertian Gopal.Mereka lalu
berpisah.Kissan ikut pulang bersama Kakek Prem dan Swara sedang Gopal pergi
melaksanakan tugas dari istana.
¤¤ MAHESWARI...
Kemeriahan nampak dimana2.Jalan2 dihiasi dengan umbul2.Pertanda
rakyat Maheswari tengah merayakan moment penting.Dimana2 rakyat membicarakan
tentang penobatan Pangeran Laksya sebagai putra mahkota,"Jujur aku lebih
suka Pangeran Sanskaar daripada Pangeran Laksya."
Seorang penjual kain juga berpendapat serupa,"Benar.Pangeran
Sanskaarlah yang selama ini sering melakukan patroli ke pelosok
kerajaan.Mencari apa yang masih dibutuhkan rakyat.Urusan sengketa tanah
keluargaku juga selesai karena campur tangan beliau."
Seorang penjual buah menambahi,"Saat banyak kasus pencurian
dulu juga Pangeran Sanskaar segera membentuk team khusus untuk menangkap
pelakunya.Dia itu tidak memandang bulu."
Seorang penjual makanan juga nimbrung,"Iya.Pangeran Sanskaar
juga segera datang ke lokasi tiap ada bencana melanda."
Seorang pedagang juga berkomentar,"Benar Pangeran Sanskaar
juga memantau harga2 barang di pasar.Tak membiarkan harga dipermainkan
tengkulak."
Seorang anak kecil berteriak2 sambil membawa bendera
kecil,"Hidup Pangeran Sanskaar!Hidup Pangeran Sanskaar!!"
Seorang penjual
barang2 pecah belah memperingatkan anak itu,"Hey,bocah!!Yang dinobatkan
itu Pangeran Laksya bukan Pangeran Sanskaar.Pangeran Sanskaar itu sudah
tiada."
Ibu anak kecil itu berkata,"Jangan salahkan anakku!Dia dulu
hampir saja kehilangan nyawa saat sungai Kissan meluap.Untung saja Pangeran
Sanskaar datang dan segera menolongnya."
Si anak kecil kembali berteriak,"Hidup Pangeran Sanskaar!!Hidup
Pangeran Sanskaar!!"
Rakyat justru nampak banyak yang diam saat Pangeran Laksya diarak
keliling negeri,"Ini dia Penerus Tahta Maheswari selanjutnya!!Sambutlah
Putra Mahkota yang baru Pangeran Laksya!!Hidup Pangeran Laksya!!"
Hanya sedikit yang mengelu2kan kedatangan Laksya.Dari atas
gajah yang dinaikinya Laksya bisa melihat bahwa rakyat tetap lebih mencintai
Pangeran Sanskaar,'Kak Sanskaar memang selalu ada untuk rakyat.Dia selalu turun
ke lapangan.Melakukan banyak hal untuk rakyat.Sedang aku...Aku sibuk
bersenang2.'
Laksya bertanya pada kusir,"Habis ini kemana paman?"
Sang kusir
menjawab,"Ke perbatasan Yang Mulia."
Laksya manggut2.
¤¤ PERBATASAN...
Swara melihat keramaian di perbatasan,"Ada apa itu?Ayo kita
lihat!"
Kissan mengikuti
mereka,"Mau kemana?"
Kakek Prem yang
menjawab,"Ikut saja,Nak Kissan.Ayo!"
Akankah Kissan
akan bertemu dengan Laksya?***see you next part***
Part 27
OLDEST PRINCE : Known of Him ( Mengetahui Tentangnya )
Setelah saya sembuh giliran kakak saya yang sakit.Bahkan di
kerjaan yang sakit juga giliran.Batuk memang butuh waktu untuk sembuh.Tapi saya
senang sekali karena pada saat saya sakit justru hal yang menyedihkan saya
diangkat oleh Tuhan.Ceritanya itu dikerjaan saya ada pembuatan SIM kolektif nah
ada seorang dari team saya yang belum mengumpulkan uangnya padahal kemarin
gajian.Ga ada alasan kalau ga ada uang.Saya mau bantu dia juga ga bisa karena
secara kas ga dapat ijin atasan yang kedua saya juga sedang banyak kebutuhan.Bantuan
yang bisa saya berikan hanyalah membantu mengurus administrasinya.Dua kali saya
menawarkan diri tapi dia malah pergi keluar pabrik.Sampai kemudian ditutup
pendaftarannya.Saya merasa kasihan padanya.Di rumah saya terus kepikiran hal
itu.Sampai kemudian biaya pembuatan terus naik dan salah satu team batal
ikut.Saat itulah orang yang pertama tadi mengambil kuota orang yang batal
tadi.Dan hari ini dia bersama puluhan karyawan lainnya menjalani proses
selanjutnya.Saya lega sekali melihat dia kini punya SIM.Rasanya kok malah saya
yang bahagia.Dalam hidup saya paling ga suka kalau melihat hal yang tidak benar
terjadi di sekitar saya.Sedapat mungkin saya itu berusaha membantu apa saja
yang saya bisa untuk kebaikan bersama.Namun saya paling ga suka orang memanfaatkan
sesamanya.Pinjam ga balik2.Ingkar janji ga kelar2.Berbohong ini itulah.Semua
itu hanya merugikan orang lain dan hal seperti itu bukan prinsip hidup saya.
Baiklah lanjut ke cerita aja dah kangen nulis swasan
nih.Sampai kini saya juga masih hunting video eps2 Swaragini yang belum saya
lihat.Kemarin lihat Fildan di DA Asia 3 malah ketiduran.Habis lama banget
gilirannya.Nyanyi Keramat kayaknya.Moga ga kesenggol aja.Soalnya cuma dia aja
yang bikin semangat lihat.Ngomongin soal lihat melihat akan bertemukah Laksya
dengan kakak tirinya di perbatasan?Yuk simak aja!
→☆☆← ISTANA
MAHESWARI...
Raja Durga sengaja tidak menemani putra keduanya diarak
keliling negeri.Ia ingin rakyat lebih mengenal putra mahkota kerajaan.Sujata
mendekati suaminya yang tengah asyik melihat lukisan pemberian Laksya
dulu,"Kanda,apa kanda tidak khawatir dengan keselamatan putra mahkota
Laksya?Dia diluar sana kanda.Dinda cemas."
Durga Prasad kagum pada permaisurinya itu,"Dinda ini bukan
ibu kandungnya tapi cemasnya melebihi yang melahirkan saja.Lihatlah Annapoorna
saja asyik menikmati pesta di sana.Kenapa kau malah kemari?"
Sujata memandang apa yang sejak tadi dipandang suaminya,lukisan
kedua pangeran Maheswari.Sanskaar dan Laksya nampak gagah dengan pakaian
kebesaran Maheswari.Air mata akan menetes tiap kali ingat pada buah
hatinya,"Sebenarnya pesta ini rasanya bukan seperti pesta kanda.Ada yang
kurang menurut dinda.Itulah sebabnya dinda tidak merasa nyaman di sana.Untung
ada Putri Ragini menemani Dinda Annapoorna."
Durga malah jadi
ingat pada sahabatnya,"Astaga! Kanda lupa kalau Raja Shekar juga
disini.Apa menurutmu kita bisa membahas soal pertalian dua kerajaan?"
Sujata tidak setuju,"Jangan sekarang Kanda.Biar Laksya tidak
banyak pikiran.Lagian keduanya biar saling lebih mengenal.Andai saja Sanskaar
cepat kembali.Entah kenapa dinda merasa dia tidak jauh dari Maheswari.Semoga
dia selalu dilindungi."
Durga menatap lagi lukisan kedua putranya,"Putra sulung kita
akan kembali.Dewata akan menuntun langkahnya kemari."
Sujata tersenyum mendengar keyakinan suaminya,'Kanda memang sayang
pada putra sulungnya.Aku tahu didalam hatinya tempat untuk putraku Sanskaar
takkan bisa digantikan oleh siapapun.Mereka memang sangat dekat.'
Sementara itu
Annapoorna terus mengambil hati Ragini,"Putri Ragini,kau adalah putri
tunggal Raja Shekar,apa kau juga mempelajari mengenai pemerintahan?"
Raja Shekar malah yang menjawab pertanyaan itu,"Putri Bengali
memang harus belajar banyak hal.Selain belajar tradisi kerajaan seorang putri
raja juga harus mengetahui mengenai keadilan dan hukum kerajaan."
Annapoorna kagum,"Wow berarti kau pasti sangat pandai.Apa kau
juga kerap menghadiri persidangan2 di kerajaan?"
Ragini
tersenyum,"Ya walau sebenarnya saya lebih menyukai pertunjukan atau bazaar
kerajaan daripada menghadiri acara2 yang formil.Kalau Swara malah sangat
menyukai berada di dalam persidangan2 dan yang sejenis itu."
Annapoorna heran,"Siapa Swara?Apa dia saudaramu?Setahuku Raja
Shekar tidak menikah lagi sejak mendiang ibundamu tiada."
Raja Shekar terdiam,ingin rasanya ia mengatakan pada dunia
bahwa Swara adalah darah dagingnya.Justru Swara lahir dari perempuan yang
dicintainya.Ragini dengan polos menjelaskan siapa Swara,"Swara adalah
dayang pribadi saya.Tapi dia sudah seperti saudara bagi saya.Dia sebaya dengan
saya tapi saya lebih muda darinya.Ayahanda juga sudah menganggapnya sebagai
putrinya sendiri.Kasihan Swara dia tidak pernah melihat ayahnya sejak
dilahirkan.Dia juga sangat berbakat dalam musik dan tari."
Annapoorna mendengarkannya,'Wajah Raja Shekar jadi berubah sedih
tiba2.Sepertinya ada hubungannya dengan dayang bernama Swara ini.Seorang dayang
yang sepertinya begitu istimewa.Benarkah dia hanya seorang dayang saja?Kalau
nanti Ragini menikah dengan putraku Laksya hubungan yang tidak jelas ini harus
disingkirkan.Tak sepatutnya seorang pelayan dianggap bak keluarga.Bisa melunjak
nanti.'
Raja Shekar
malah asyik melamun,'Andai ibunda bisa lunak hatinya dan mau menerima Sharmista
pasti aku sudah menikahinya dan membawanya ke istana.Menjadikan Swara
sebagaimana selayaknya putri seorang raja.Mengapa aku merasa begitu tak berdaya
padahal aku seorang raja?Bahkan mengakui putriku sendiri saja aku tak
mampu.Maafkan ayahmu ini Swara.Ayah sungguh tak berdaya.'
Raja Durga menepuk pundak sahabatnya,"Kenapa temanku?Kau
seperti sedang banyak pikiran.Berbagilah masalahmu denganku jika kau
mau.Bukankah kita adalah teman?"
Shekar memandang
sahabatnya yang sempat jauh darinya itu,'Sebaiknya aku meminta pendapat Durga
soal ini.Bukankah dia juga pernah mengalami masa sulit dalam hubungan keluarga
dulu.Benar,aku akan minta pendapatnya.'
Raja Shekar lalu mengajak Durga bicara ditempat lain.Curhat
antar raja he..he..Kita tengok ke perbatasan dulu lihat keadaan disana.Terpantau
ramai lancar atau padat merayap?Weleh....
□☆□★ PERBATASAN
MAHESWARI DAN BENGALI...
Penduduk kedua kerajaan berbaur jadi satu mengelu2kan arak2an
kerajaan yang lewat.Diatas gajah yang sudah terlatih,Laksya nampak gagah
melambai2kan tangan pada rakyat yang berdiri di sepanjang jalan yang
dilewatinya.Rangkaian bunga menghiasi pakaian kebesarannya.Diantara rakyat yang
berjejal2 nampak Kakek Prem dan Swara.Lalu Kissan?Kissan yang semalaman berjaga
ngantuk dia.Dia bersandar dibawah sebatang pohon dan tidur.Kasihan kecapekan
begadang dia.Swara mengira Kissan didekatnya,"Lihat itu Kissan!Itulah
pangeran yang waktu itu marah2 padaku.Dia kini menggantikan posisi kakaknya
menjadi putra mahkota.Aku malah penasaran kayak apa wajah kakaknya itu ya?"
Tak ada respon,Swara baru sadar kalau Kissan tak ada di
sisinya,"Kissan?Kemana dia?Katanya mau menjagaku?"
Ia bertanya pada kakeknya,"Kakek lihat Kissan?"
Kakek Prem menunjuk ke arah sebatang pohon,"Itu dia!Biarkan
saja dia kecapekan semalam kan dia ga tidur.Jagain kamu."
Swara mendekati Kissan,'Kasihan dia.Aku lupa kalau dia sendiri
sedang dalam masa pemulihan.Dia kerap terluka karena menjagaku.'
Laksya sebenarnya lewat dekat pohon dimana Kissan berada namun
karena Kissan tertidur dan terhalang oleh banyaknya orang maka ia tak bisa
melihat bahwa kakak tirinya ada disana.Ia juga tak melihat Swara,'Sepertinya
aku pernah melihat dia.Tapi dimana ya?'
Laksya ingin berhenti tapi panglima kerajaan tak
sependapat,"Disini perbatasan Pangeran.Sangat rawan bila kita berhenti di
sini.Sebaiknya kita segera kembali ke istana.Baginda pasti sudah
menunggu."
Laksya tak jadi turun,"Baiklah.Kita kembali ke
istana.Matahari juga sudah tinggi."
Rombongan Laksya kembali ke istana Maheswari.Sedangkan Swara
membelikan Kissan makanan dan membangunkan pria hilang ingatan
itu,"Kissan?Kissan ..."
Kissan tak jua
bangun,Swara lalu mendekatkan makanan yang ia beli.Kissan mencium bau makanan
dan segera bangun,"Hmm...baunya sedap nian..."
Swara tersenyum,"Kau mau ?Ini memang kubelikan
untukmu.Kakek,ayo kita istirahat dulu di sini.Disini teduh.Kita makan dulu
kakek."
Bertiga mereka makan bersama.Kissan makan dengan
lahap,"Katanya ada arak2an kerajaan.Mana?"
Swara mengambil minuman,"Kau tidur terus.Akhirnya ga bisa
lihat deh.Gajahnya besar dan sangat terlatih."
Kissan malah teringat ucapan Panglima kerajaan Bengali
padanya,'Pangeran kerajaan Maheswari?Rasanya ga mungkin aku pangeran
Maheswari.Aku bahkan tidak ingat pernah kemari.Mungkin hanya mirip saja.Coba
aku ga ketiduran pasti aku bisa lihat seperti apa Putra Mahkota Kerajaan
Maheswari itu.'
Usai makan mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Swara.Sharmista
senang sekali melihat Swara datang,"Shona!Ibu merindukanmu sayang!"
Kissan melihat ibu dan anak itu jadi ingat sesuatu,'Apakah aku
juga punya ibu yang merindukanku ya?Kenapa aku merasa ada yang pernah memelukku
seperti itu.'
Kakek mengajak Kissan masuk,"Ayo Nak Kissan jangan berdiri
saja.Kita masuk.Kau pasti mau teh kan?Ayo kita segarkan diri kita di dalam."
Kissan lalu masuk dan disambut oleh Dida,"Kalian
kembali!!Kebetulan aku masak enak hari ini.Ayo2 semua duduk sini.Akan kusiapkan
makanan untuk kalian."
Swara memberikan kain pemberian Parvati pada ibunya,"Ini
kainnya Ibu.Bagus kan?"
Bukannya senang diberi hadiah,Sharmista malah jadi
cemas.Perasaannya sebagai seorang ibu segera memberi peringatan bahwa identitas
Swara sepertinya mulai diketahui oleh Ibu Suri.Ia malah bertanya penuh
selidik,"Apa untuk ini kamu diijinkan pulang Swara?Apa ada yang mengikuti
kamu?Apa dijalan tidak ada yang aneh terjadi Sayang?"
Kissan yang hendak memanggil keduanya untuk masuk jadi
heran,'Mengapa Ibu Sharmista seperti curiga bahwa niat Ibu Suri sebenarnya
tidak sekedar memberi hadiah saja ya?Apa pernah terjadi sesuatu diantara
mereka?'
Swara malah bingung,"Dijalan memang ada orang yang jahat
menganggu kami Bu tapi sama sekali ga ada hubungannya sama kain itu Ibu.Mengapa
Ibu bertanya begitu?"
Sharmista malah kian cemas,"Jadi benar ada orang jahat yang
menganggu perjalanan kalian?Swara,ibu tak mau kau kembali lagi ke istana.Kamu
disini saja.Kalau perlu kita pergi dari sini Sayang.Kita cari tempat lain yang
aman dan memulai hidup baru."
Swara menolak,"Ibu mengapa ibu malah melarangku bekerja di
istana lagi?Raja sangat baik padaku Ibu.Putri Ragini juga.Nenek Suri bahkan
memberiku hadiah.Tak ada yang perlu dicemaskan ibu.Ibu tenang saja
lagipula..."
Swara melihat Kissan dan menariknya mendekat,"Lagipula ada
Kissan menemaniku Ibu.Aku tidak sendirian di sana."
Kissan tahu ada yang disembunyikan oleh ibunya
Swara,"Swara,Nenek Dida memanggilmu.Katanya beliau masak kesukaanmu.Coba
kau temui dulu."
Swara pergi ke dalam.Kissan mengajak Sharmista
duduk,"Ibu,saya memang bukan siapa2 tapi saya tahu kecemasan
ibu.Sebenarnya saya juga mengetahui bahwa Ibu Surilah yang menyuruh orang2
jahat itu.Bahkan dia juga yang menyuruh orang melepas ular berbisa agar
menggigit Swara." Sharmista kaget mendengarnya,"Ular berbisa?Dia
mencoba mencelakai cucunya sendiri?"
Ganti Kissan yang kaget,"Cucunya sendiri?Jadi Swara itu putri
Raja Shekar?"
Sharmista terbelalak tanpa sadar membuka rahasia yang selama ini
dipendamnya.Kepada orang asing pula.Apa jawabnya pada Kissan?***see you next
part**
Eps 28 ☆☆
OLDEST PRINCE : Killing The Prince ( Bunuh Sang Pangeran )
Hari Kamis kemarin tanggal 9 Nov 2017 saya berangkat kerja seperti
biasa.Namun sejak jalan2 sebagian ditutup buat pengamanan,jadwal bus kota jadi
ikut terimbas.Saya mau nebeng manager pekewuh kalau bikin beliau
nunggu.Akhirnya saya sama teman beda perusahaan naik sejenis elf.Malah mampir
ke sebuah pabrik lain karena ada penumpang khusus.Mendekati area kerja sopir
elf tersebut minta maaf karena didepan macet sejak tadi karena ada kecelakaan
antara bus Eka dan truk bermuatan kawat besi sampai nubruk rumah selepan dan
warung hik.Saya kaget lihat beneran macet cet.Jalur kanan ditutup karena polisi
melakukan evakuasi badan bus dan korban yang meninggal.Kernet bus tersebut yang
saya tahu dari internet bernama Jasman,usia 50 tahun,terjepit antara badan bus
dan reruntuhan rumah.Kejadiannya jam 3 dinihari.Wah jam segitu emang bus2
Surabayanan kenceng2.Teman2 saya yang masuk malam suka cerita gimana ngerinya
kalau di jalan raya pas bus2 tersebut lewat.
Padahal bulan Juli lalu juga kejadian bus Surabayanan pecah
ban dan dua orang pengendara motor jadi korban dengan remuk badannya.Yang satu
masuk ke kolong mobil Avansa dan satunya tercecer di dekat pembatas
jalur.Mengerikan sekali.Saya warning semua yang mau lewat jalan Solo Sragen
hati2 di km 12-14.Apalagi km 13.Saya denger badan bus dievakuasi ke ringroad
dengan alat berat dan jenazah kernetnya katanya masih didalamnya.Kasihan
sekali.Macet sekali sampai saya dicarikan tebengan.Seorang pemuda yang saya ga
kenal dengan murah hatinya mau saya tebengi.Dia nanya ada apa kok macet
gitu.Lalu saya cerita yang saya tahu terus kita lewat di lokasi kecelakaan wuih
ngeri polisi masih disana dan busnya juga ada di sana demikian juga dengan
truknya.Usai berterima kasih padanya saya menyeberang dan ketemu factory manager
saya nebeng dia.Banyak yang telat hari itu karena macet di lokasi
kecelakaan.Kalau mau lihat gambarnya silakan cari di google.Bicara
kecelakaan,ada yang mau mencelakai Pangeran Maheswari.Pangeran yang mana
ya?Yang sulung apa yang bungsu?Yuk cari tahu!
◆◆ BENTENG
PERSEMBUNYIAN RAJAT...
Rajat dan Digu sedang berlatih pedang kala seorang pengawal
mendekat dan melaporkan mengenai penobatan Pangeran Laksya sebagai putra
mahkota Maheswari.Rajat nampak berpikir sejenak,"Maheswari memiliki putra
mahkota baru.Selir Annapoorna pasti sedang bahagia2nya karena akhirnya putra
kesayangannya menjadi pewaris tahta."
Digu memandang ke sekitarnya,para prajurit nampak sibuk
berlatih seperti sedang mempersiapkan diri untuk pertempuran besar.Rajat
mengikuti arah pandangan Digu,"Aku memang berniat menyerang Bengali
apalagi Raja Shekar sedang tidak di tempat.Panglima Bengali tidak begitu mahir
dalam militer dan siasat perang.Pangeran Sanskaar yang biasa di medan perang
saja bisa masuk dalam perangkapku apalagi dia.Aku yakin Ibu Suri akan berpikir
dua kali untuk melawanku.Aku memegang rahasianya."
Digu berkata,"Tapi Pangeran Sulung Maheswari masih hidup
Tuanku.Dia ada di istana Bengali.Bagaimana jika sebenarnya dia berencana
kembali ke Maheswari,mengambil tahta yang adalah haknya?Apa tidak sebaiknya dia
dilenyapkan saja?"
Rajat malah tersenyum licik,"Kau ini harus belajar banyak
dariku soal strategi memanfaatkan situasi lawan.Terkadang musuh jauh lebih
menguntungkan jika hidup.Jika kita menangkapnya maka kita bisa membuat Raja
Durga tunduk pada kita,bukan hanya mendapat Bengali bahkan Maheswari juga akan
menjadi kekuasaanku.Ha..ha.."
Digu
heran,"Tuanku tak menganggap keberadaan Pangeran Sanskaar sebagai sebuah
ancaman?" Rajat memainkan pedangnya,"Aku tahu betapa sayangnya raja
Durga pada putra sulungnya.Demi orang yang disayangi orang akan melakukan apa
saja.Kau harus tahu seperti apa musuhmu sebelum menyerangnya.Cari
kelemahannya.Jangan asal serang dan bunuh!"
Digu kagum dengan Rajat,"Tuan memang lihai.Digu siap
melakukan apa saja untuk Tuan!"
Rajat menyarungkan pedangnya,"Besok kita serang Bengali.Tapi
pertama kau harus bisa masuk istana dan menemui Ibu Suri.Aku rasa kau pasti
tahu jalan rahasia menuju istana Bengali.Bawa aku masuk ke sana dan kita kuasai
Bengali."
Digu segera bersimpuh,"Saya mengerti.Segera saya akan kembali
ke Bengali dan menemui Ibu Suri.Tapi jika hamba kembali tanpa mayat dayang itu
bagaimana dia akan masih mempercayai saya?" Rajat tertawa,"Itu sangat
mudah.Pakai saja cara lamaku.Bunuh saja sembarang gadis dan rusak
wajahnya.Selesai kan?"
Digu manggut2,"Tuan memang ahlinya soal mengelabui
orang.Kalau begitu saya segera pergi."
Rajat memandang kepergian Digu,"Andai saja Sahil masih ada
pasti aku akan lebih kuat lagi.Tapi Pangeran Sanskaar memang luar biasa dia
bisa melenyapkan anak buah andalanku.Pangeran Sulung Maheswari itu tak bisa
dianggap enteng."
¤¤ ISTANA MAHESWARI...
Raja Shekar bercengkerama berdua saja dengan sahabatnya,Durga
Prasad.Istana Maheswari nampak indah dengan tatanan taman yang apik.Raja Shekar
mengaguminya,"Istanamu sungguh indah.Kalau aku tak mengenalmu pasti aku
pikir kau memiliki seorang putri yang sangat suka bunga.Lihatlah dimana2 bunga
ditanam dengan tatanan yang menawan."
Raja Durga malah nampak sedih,"Itu semua putra sulungku yang
melakukannya.Dia sangat suka tanaman dan demi menyukakan hati ibundanya
dibuatlah istana seindah mungkin dan penuh aneka bunga dimana2.Bila aku
merindukannya aku suka kemari.Dari sini keindahan istana terlihat lebih jelas.Apalagi
bila pagi.Sinar mentari akan memantul dari kolam di sana.Indah sekali."
Raja Shekar memandang ke arah kolam ikan di tengah
taman,didalamnya ikan2 berenang aneka warna rupa mereka.Raja Shekar memberi
ikan2 itu makanan,"Kita saja begitu peduli pada binatang peliharaan
kita.Terlebih pada darah daging kita.Maafkan aku karena demi membantu
kerajaanku putra sulungmu tak diketahui keberadaannya sekarang."
Raja Durga nampak merasa aneh mendengar ucapan
sahabatnya,"Kau sudah berkali2 meminta maaf mengenai hal itu.Lagipula aku
tahu raibnya putraku itu bukanlah kesalahanmu.Seseorang berusaha
mencelakainya.Entah mengapa Rajat melakukan hal ini padaku.Aku tak pernah
mencari perkara dengannya.Entah dimana dia sekarang.Dia pandai sekali
berkelit.Aku tak bisa menuduhnya tanpa bukti.Raja Ram juga kini terbaring
sakit.Sepertinya dia disiksa selama ini.Semoga putraku tak mengalami hal
buruk.Langit pasti menjaganya."
Raja Shekar
memandang langit,"Aku juga berharap langit akan menjaga putri2ku."
Raja Durga terhenyak,"Putri2?Bukannya kau hanya punya seorang
putri?"
Raja Shekar menarik nafas,"Sejak lama aku ingin menceritakan
rahasia ini padamu kawan.Tapi selalu saja tertunda.Sebelum aku menikah dengan
mendiang ibunya Ragini sebenarnya aku telah jatuh hati pada seorang dayang.Kau
ingat kan saat kita di medan perang,aku bilang bahwa seseorang menungguku di
Bengali.Dialah yang kumaksud."
Durga Prasad mendengarkan kisah cinta sahabatnya dan
bertanya,"Lalu dimana putrimu dari dayang itu sekarang?"
Raja Shekar berkata,"Dia ada di istanaku.Di Bengali menjadi
dayang putriku Ragini.Namanya ...." Belum sempat Raja Shekar menyebutkan
nama Swara,Permaisuri Sujata datang,"Maaf mengusik percakapan kalian.Putra
Mahkota Laksya sudah kembali."
Raja Shekar tersenyum melihat sahabatnya meminta maaf karena harus
menyongsong putra keduanya.Berjalan beriringan mereka bertemu Annapoorna dan
Ragini,keduanya nampak ceria siap menyambut kedatangan Laksya.Raja Shekar
melihat bagaimana Permaisuri Sujata nampak akrab dengan Laksya,'Andai saja ibu
bisa seperti Ratu Sujata menerima Laksya bak mencintai putranya sendiri.Andai
saja ibu bisa menerima kehadiran Swara.Pasti istana Bengali akan lebih
semarak.'
◇◇ RUMAH SWARA...
Sharmista pura2 mengajak Kissan ke ke kebun belakang untuk
mengambil tanaman obat.Sebenarnya ia tak ingin Swara mendengar percakapan
mereka.Swara yang mau ikut dilarangnya,"Biar Kissan yang menemani ibu.Kau
istirahat saja.Ibu akan mencari tanaman untuk mengobati tanganmu itu."
Kissan berkata,"Kau pasti lelah jalan terus.Aku akan menemani
ibumu ke kebun sebentar.Lihat itu Nenek Dida mencarimu."
Swara agak curiga tapi menurut juga akhirnya,"Kissan,jangan
lupa aku mau buah mangga.Petikin ya?"
Kissan menjawab,"Beres!"
Swara melihat Kissan mengikuti ibunya,'Aku akan menyusul mereka
nanti.He..he..Sudah lama aku ga ke kebun.Aku kan suka manjat pohon.'
Di
kebun,Sharmista cerita soal masa lalunya dan kenapa ibu suri begitu membenci
Swara.Kissan kaget juga mengetahui kalau Swara adalah putri Raja
Shekar,"Jadi Swara itu masih darah bangsawan Bengali?"
Sharmista meminta Kissan jangan mengatakan hal itu pada
Swara,"Swara tidak tahu soal ini.Lebih aman baginya jika dia tidak tahu
siapa ayahnya.Tapi ibu minta kau menjaga putri ibu.Dia itu keras kepala.Ibu
cemas jika dia kembali ke istana.Kita tak tahu apalagi yang akan dilakukan ibu
suri.Sepertinya beliau sudah tahu kalau Swara adalah darah daging
Putranya."
Sharmista meminta Kissan membantunya membujuk agar Swara tidak
kembali ke istana.Sharmista hendak kembali ke rumah,"Ibu sudah kumpulkan
semua tanaman obatnya.Ibu mau membuat ramuan untuk Swara.Kau tidak
kembali?"
Kissan menunjuk ke arah pohon mangga,"Swara ingin makan buah
mangga.Saya akan memetiknya.Ibu duluan saja."
Kissan mendekati pohon mangga tapi alangkah terkejutnya ia kala
menemukan seseorang di sana.Siapakah orang itu?***See you next part***
Part 29
OLDEST PRINCE : Kebun Yang Tidak Kau Tanami
Sudah tiga hari ini tiap pulang kerja selalu saja
kehujanan.Walau sudah pakai mantol,helm dan payung tetep saja jaket,sepatu dan
pakaian saya basah.Namun ditengah semua itu saya selalu terhibur tiap melihat
kebun saya.Di sana saya menanam aneka tanaman warung hidup seperti
pare,cabe,salak,sere,markisah,jeruk,buah naga juga kangkung.Parenya sedang berbuah.Kalau
di tanah sengketa tumbuh pohon mangga dan udah berkali2 buahnya dipanen adik
saya dibuat manisan.Bicara soal kebun,siapa sih yang dijumpai Kissan di kebun
milik keluarga Swara?Yuk cari tahu.
♧◆◇ DEKAT POHON
MANGGA...
Kissan memilih tetap tinggal di kebun karena ingat bahwa Swara
berpesan untuk dipetikkan mangga.Iapun melangkah ke arah pohon yang
dimaksud.Memang sedang berbuah dengan lebatnya.Namun kala ia tak jauh lagi dari
pohonnya yang batangnya besar itu,ia terkejut mendengar isak tangis.Jelas ada
seseorang dibalik pohon itu dan ternyata,"Swara?Sejak kapan kau
disini?"
Swara menoleh ke arah Kissan,matanya berlinang air mata.Kissan
mendekatinya,"Kau sudah lama disini?Mengapa kau menangis?Apakah
kau..."
Swara mengangguk,"Ya Kissan aku mendengar semuanya.Semua yang
ibuku katakan padamu dan tidak kepadaku.Bahwa aku ...masih punya ayah.Dan dia
...ada begitu dekat denganku..."
Swara kembali tergugu.Rasanya ia seperti orang dungu yang baru
sadar bahwa dunia itu tidak kotak tapi bulat. Jujur ia kecewa dengan
ibunya,"Mengapa aku tak boleh tahu tentang ayah kandungku sendiri?Kau tahu
aku selalu ingin seperti anak yang lain dimanja oleh ayahnya,dibelikan mainan
dan disayangi dengan penuh kehangatan.Apa salahku Kissan?Katakan padaku!"
Kissan membiarkan Swara mengungkapkan kepedihan hatinya dulu,ia
tahu bahwa keputusan ibu Sharmista mengenai putrinya adalah naluri keibuannya
untuk melindungi Swara.Walau dalam prosesnya terkesan tidak adil bagi
Swara.Namun ia bisa mengerti betapa pedihnya kehilangan orang terkasih.Ditengah
kondisinya yang hilang ingatan,Kissan menyadari betapa hampanya hidup ini tanpa
keluarga.Ia juga bisa mengerti perasaan Swara.Dia berhak tahu siapa ayahnya,dia
berhak dicintai dan selama ini dia kehilangan figur seorang ayah.Pasti tidak
mudah menjalani hari2 tanpa rasa aman melingkupi.Air mata mengalir di pipi
Swara.Kissan mengusapnya dengan sapu tangan,"Kadang aku iri dengan kaum
wanita,kau tahu kenapa?"
Swara menatapnya sambil menggeleng,"Kenapa?"
Kissan masih
mengusap air mata Swara,"Kalian kaum wanita,bisa dengan bebasnya
menangis.Itu sangat natural buat kalian.Tapi kami kaum pria hanya mampu
mengekspresikan emosi kami dengan sangat terbatas."
Kissan melihat ke arah langit yang nampak mendung,"Lihatlah
bahkan langit ikut sedih melihatmu menangis..."
Benar saja tak lama gerimispun turun.Swara segera menarik
tangan Kissan,"Ayo ikut aku!Aku tahu tempat berteduh."
Tak jauh dari sana ada gubuk tua,Swara biasa membawa makanan untuk
kakek atau Dida ke sana bila mereka sedang mengerjakan sesuatu di kebun.Hujan
makin lebat.Disertai petir pula.Swara yang ketakutan segera memeluk
Kissan,"Aku takut Kissan."
Kissan menenangkannya,"Aku disini Swara...kau tidak
sendirian."
Swara ingat masa
kecilnya,"Dulu tiap hujan turun dan bunyi petir terdengar ibu selalu
memelukku.Ia menyanyikan lagu untukku sampai aku tertidur."
Kissan berkata,"Ibumu sangat sayang padamu.Kau harus tahu
bahwa apapun yang ia lakukan sebenarnya karena sayangnya ia padamu."
Swara masih memeluk Kissan,"Tapi mengapa dia harus
menyembunyikan kebenaran mengenai ayahku Kissan?Aku tidak mengerti..."
Kissan mengusap kepala Swara,"Ibumu pernah mengalami hal yang
buruk di istana.Dan ia tak mau kau terluka seperti dia.Ibumu tahu kau pasti
akan sangat senang mengetahui mengenai ayahmu tapi ayahmu bukan orang biasa
Swara.Dia seorang raja."
Swara
mendengarkan,"Maksudmu kehadiranku menyulitkan posisi ayahku sebagai raja
di Bengali?" Kissan meraih wajah Swara,"Kau jangan berpikir
begitu.Ayahmu,Raja Shekar begitu baik orangnya.Bahkan dia menyayangimu seperti
menyanyangi putri Ragini.Tapi ada orang yang belum bisa menerima kehadiranmu
sebagai bagian dari keluarga kerajaan.Dan orang itu akan memakai segala cara
untuk membuatmu pergi dari istana."
Swara menatap penuh selidik,"Kau sepertinya tahu siapa
orangnya Kissan?"
Kissan menghela nafas,"Aku rasa Ibu Suri adalah orangnya
Swara,aku menemukan segala bukti mengarah padanya.Kau ingat soal ular di taman
waktu itu?"
Swara
mengangguk,"Ibu Suri dibalik semua itu?Tunggu dulu...dia memang secara
khusus menyuruh aku pergi ke sana."
Kissan melanjutkan,"Bagi Ibu Suri darah yang mengalir di
dirimu tidaklah sepenuhnya bangsawan.Karena ibumu adalah seorang rakyat
biasa.Baginya hal itu sulit diterima.Tapi itu hanya pendapatku yang pasti
berbahaya untukmu jika tetap berada di istana apalagi disaat Baginda maksudku
ayahmu tidak ada di istana."
Swara terus
berpikir,"Jadi orang2 yang menyerang kita saat di perjalanan juga suruhan
Nenek Suri?" Kissan mengangguk,"Aku melihat pria dengan luka bakar
itu menemui Ibu Suri.Dan kau bukannya baru beberapa hari yang lalu
pulang.Rasanya aneh juga menyuruhmu tiba2 untuk pulang."
Swara jadi paham,"Jadi kain sutra itu hanya dalih untuk aku
pulang ke rumah.Kenapa Nenekku sendiri begitu membenciku Kissan?Mengapa?"
Kissan menunjuk ke arah kebun,"Lihatlah semak duri di
sana.Terkadang jika sebuah ladang dibiarkan akan tumbuh semak duri.Begitupun
tanah hati kita jika kita tak hati2 menjaganya maka akan ada semak duri di
sana.Kekhawatiran dan ketakutan akan pandangan orang akan membuat kita buta dan
kadang melakukan hal yang menyakiti orang lain atau diri sendiri."
Swara menunduk,"Aku tidak menyalahkan ibu lagi setelah tahu
tentang nenek suri yang tega hendak menyakitiku.Aku mengerti ketakutan ibu.Aku
akan minta maaf pada ibu."
Kissan tersenyum,"Kau tahu kau sungguh beruntung masih punya
ayah dan ibu.Sedang aku bahkan aku tak tahu siapa diriku sebenarnya.Kau harus
bersyukur masih bisa memanggil ayah pada Raja Shekar dan ibu pada Ibu
Sharmista.Hormatilah mereka."
Swara tersenyum dan melepas pelukannya,"Terima kasih
Kissan.Kau membuatku mengerti situasi sebenarnya.Ayo kita pulang!Aku ingin
memeluk Ibu."
Kissan melihat hujan sudah berhenti,"Pergilah.Aku mau memetik
mangga dulu."
Swara
mengangguk,"Baiklah.Petik yang matang2 ya.Sekali lagi terima kasih
Kissan!"
Swara pergi
kembali ke rumahnya diiringi tatapan Kissan,'Kau gadis yang baik Swara.Dan
ternyata kau adalah seorang putri raja.Sepertinya aku harus mengubur
perasaanku.Mana mungkin seorang putri raja bersanding dengan seorang tukang
kebun hilang ingatan pula.'
Kissan menuju ke pohon mangga,'Aku akan menjagamu Swara.Terlepas
kau membalas perasaanku atau tidak.Itu tidak masalah bagiku karena aku tak
menuntut itu darimu.'
Bagaimana reaksi Sharmista mengetahui Swara telah tahu
semuanya?***see you next part***
Part 30 》OLDEST PRINCE : Using Your Liberty ( Menggunakan Kebebasanmu )
Suatu hari saya lihat berita yang menayangkan penyerangan lewat
udara terhadap sebuah kota di Timur Tengah.Orang2 yang sedang menikmati
aktivitas kesehariannya dibuat panik dengan ledakan dan ancaman kematian akibat
misil yang dilancarkan ke wilayah mereka.Disitulah saya menyadari betapa kita
harus bersyukur atas keamanan yang Tuhan anugerahkan kepada kita.Ga kebayang
kalau kita hidup di zaman perang.Kemana2 mencekam,ketakutan dan bayang2
kematian mengancam di setiap sudut.Ngomongin soal penyerangan,Kerajaan Bengali
dalam kisah ini juga mau diserang lho.Oleh siapa?Yuk ikuti kelanjutannya!
××× TERAS RUMAH
SWARA...
Hujan yang turun dengan lebatnya membuat Sharmista cemas.Ia
mondar-mandir sambil melihat keluar,"Ibu,kemana sebenarnya Swara?"
Dida mengangkat bahu,"Dia tidak pamit padaku.Prem apa Swara
bilang padamu dia pergi kemana?" Kakek Swara menggeleng,Sharmista kian
khawatir apalagi bunyi petir menggelegar,"Kemana kamu Swara?Sebaiknya aku
pergi mencarinya."
Kakek Prem
mencegahnya,"Sebaiknya tunggu sampai hujan reda,paling dia pergi menyusul
Kissan..."
Sharmista tercekat,"Menyusul ke kebun?Apa dia perginya sejak
tadi Ayah?"
Prem menjawab,"Tak lama setelah kau dan Kissan pergi.Tapi aku
ga menanyakan mau kemana dia.Aku pikir dia paling menyusul ke kebun."
Sharmista kian gundah hatinya,'Bagaimana jika Swara mendengar
semua percakapanku dengan Kissan?'
Hujanpun berhenti dan tak lama Swara datang,"Ibu!!"
Sharmista berdebar2 melihat ekspresi putrinya,namun semua berubah
kelegaan kala Swara berlari mendapatkannya dan memeluknya dengan
erat,"Ibu,Swara sayang sama Ibu."
Sharmista meski agak heran menyambut dengan hangat pelukan
itu.Baginya apapun kecemasan yang sempat menyelimuti hatinya kini tak beralasan
lagi karena pernyataan Swara membuatnya bak diguyur kesejukan tiada tara.
"Kau tahu betapa Ibu sangat sayang padamu,Shona..."bisiknya
di telinga Swara.
Dida dan Prem terharu melihat keduanya berpelukan.Sharmista
mengusap wajah putrinya yang jelita,"Kau dari mana?Ibu cemas mengetahui
kau tak di rumah."
Swara berkata,"Aku takut Kissan lupa pada pesanku Ibu.Tapi
sepertinya ia tidak lupa,lihat itu!"
Tampak Kissan datang membawa banyak sekali
mangga.Semua tersenyum melihat bagaimana perhatiannya Kissan pada Swara.Dida
menyenggol suaminya,"Lihat itu!Kau belum pernah semanis itu
padaku.Huhh!Kusuruh petik cabe aja banyak alasan."
Kissan lega melihat Swara rukun dengan ibunya,'Syukurlah,Swara
tidak marah dengan ibu Sharmista.Tinggal di sini seperti berada di keluarga
sendiri.Andai saja Ibu Suri menerima kehadiran Swara pasti semuanya akan lebih
indah.'
Ngomongin soal Parvati,yuk tengok macam mana kondisi di istana
Bengali.Wah cakap macam mana pula nih?
>>>
ISTANA BENGALI...
Digu telah sampai di depan gerbang istana Bengali.Ia telah memacu
kudanya agar tak membuang waktu.Ia berkata pada penjaga gerbang,"Katakan
pada Ibu Suri bahwa Digu sudah kembali."
Parvati memang belum tahu soal kegagalan Digu menghabisi
Swara,jadi kala mendengar Digu datang,tanpa curiga ia menyuruhnya masuk. Digu
tersenyum,'Baguslah,sepertinya Ibu Suri tidak tahu soal Swara masih hidup.'
Mengikuti saran Rajat,Digu telah membunuh seorang gadis yang mirip
dengan Swara dan membawa kepalanya untuk ditunjukkan pada Parvati.Tentu saja
Parvati pikir itu Swara.Dia tersenyum bahagia,"Tak ada lagi noda di garis
keturunanku.Karena noda itu sudah aku hapuskan.Kerja bagus Digu.Kau memang
selalu membuatku puas.Tapi kenapa lama sekali kau baru memberitahuku?"
Digu
bersimpuh,"Maafkan hamba Yang Mulia,hamba harus memastikan dulu bahwa tak
ada saksi yang akan menjadikan perkara ini suatu masalah kelak."
Parvati
berpikir,'Jika anak haram itu lenyap,ibunya pasti mencarinya.Jika dia kemari
maka Shekar akan tahu semuanya.Lebih baik kuhabiskan saja sekalian dia.Mumpung
Digu masih di sini.'
Digu sendiri malah sedang mencari cara agar bisa membawa masuk
para tentara Tuannya,'Kuncinya adalah mendapatkan kepercayaan wanita tua
ini.Jika dia percaya padaku maka dia tak akan mempertanyakan apapun yang
kulakukan.'
Parvati memandang ke arah Digu,"Aku masih ada tugas
untukmu.Kau pasti tahu bahwa aku tak mau putraku tahu soal anak haram ini.Jadi
kau habisi saja sekalian ibu dari anak ini.Seisi rumahnya kau bakar saja.Buat
seperti kecelakaan.Kau pasti tahu maksudku."
Digu lalu berkata,"Untuk itu Ibu Suri tenang saja.Hamba
tinggal bilang pada anak buah hamba.Mereka akan segera bertindak."
Parvati ga peduli apapun lagi,"Terserah kamu mau nyuruh siapa
aku tak peduli yang penting bereskan duri dalam daging ini.Cepat selesaikan
sebelum Putraku kembali ke Bengali!"
Digu terkekeh dalam hati,'Kebencianmu pada keturunan lain putramu
telah membuka celah untuk Tuanku melakukan rencananya.Inilah saatnya untuk
menguasai Bengali.'
Parvati berencana jahat lagi pada keluarga Swara tanpa menyadari
bahwa bahaya mengancam kerajaan Bengali.Apakah yang akan terjadi pada Swara dan
Bengali nanti?***see you next part***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar