Cerbung ke-5 》》
Haruskah Berakhir _ Lirik Lagu Dangdut Ridho Rhoma
Judul Lagu : Haruskah Berakhir
Penyanyi : Ridho Rhoma
Lirik Lagu :
Putik yang sedang berbungaharum yang sedang mewangi
haruskah gugur kebumi
Hati yang sedang bahagia
cinta yang sedang bersemi
haruskah berakhir kini
Baru saja kureguk manis madu cinta
kini harus kutelan pahitnya juada
Kalau harus berpisah mengapa berjumpa
awal bahagia berakhir merana
Bukan karena salahmu bukan karena salahku
tapi kita tiada bahagia
Putik yang sedang berbunga
harum yang sedang mewangi
haruskah gugur kebumi
Hati yang sedang bahagia
cinta yang sedang bersemi
haruskah berakhir kini
Baru saja kureguk manis madu cinta
kini harus kutelan pahitnya juada
◆◆◆HARUSKAH BERAKHIR◆◆◆
Ketika Cinta Harus Memilih
Diantara Dua Hati Yang Terpilih
Diantara Mereka Yang Kekasih
Siapakah Yang Harus Tersisih
Pemeran Utama :REI = Reza - Evi - Irwan DA2.
// Putik yang sedang berbunga...//
[Evi Point of View]
Ibarat bunga aku sedang indah2nya
Mempesona siapapun yang memandangnya
Namun tak pernah kusangka
Namun tak pernah kusangka
Akan ada dua pria yang kucinta
Pria pertama bagiku adalah cinta pertama
Dia memberi sentuhan nada cinta
Aku begitu terpesona kepadanya
Kupikir aku takkan bahagia bila tak ada dia
Pria kedua adalah pilihan orang tua
Dia tenang dan tak banyak bicara
Namun dia orang yang menepati janjinya
Dia berjanji akan membuatku bahagia
Meski harus menelan pahitnya jua
Dialah yang membuka mataku tentang arti cinta
Dia membawaku mencari pria yang kucinta
Semua demi agar aku bahagia
Namun saat aku menemukan pria pertama
Mengapa hatiku tak ingin meninggalkan pria kedua
Dia mengorbankan segalanya
Perasaannya,harga dirinya bahkan nama baiknya
Tuhan mengapa Kau bawaku dalam dilema
Diantara mereka siapakah yang sebenarnya kucinta
Inilah sebuah pengembaraan cinta
Seorang Evi Masamba
//Haruskah gugur ke bumi...//
[ Reza point of view ]
Awalnya kedatanganku ke sini
Hanyalah untuk belajar seni
Tak kusangka malah bertemu Evi
Gadis yang sangat kucintai
Dia sangat menarik hati
Benar2 memukau hati
Tawa lepasnya membuatku iri
Senyum manisnya terbawa mimpi
Rambut indahnya tersisir rapi
Melambai disibak angin sepoi2
Bagiku dia cinta sejati
Akan kuseberangi air dan api
Asal bisa mendapatkan Evi
Disetiap laguku dialah inspirasi
Disetiap nada dialah denting hati
Wahai Tuhan buatlah dia mengerti
Betapa dia sangat kucintai
Tuhan bawalah dia kembali
Kembali pada hamba-Mu ini
Inilah doa Reza,pria yang mencintai Evi
// Haruskah berakhir kini....//
[ Irwan point of view ]
Melihat dia pertama kali
Seakan waktu berhenti
Seakan duniaku berseri
Menemukan tambatan hati
Oh dia cantik sekali
Akupun langsung jatuh hati
Hatiku yang biasanya sunyi
Kini penuh dengan kupu2 bernyanyi
Hidupku kini penuh pelangi
Tak sabar aku menanti
Menjadikan dia sebagai isteri
Namun akhirnya kusadari
Bahwa cinta tak harus memiliki
Walau secara hukum dia sudah kumiliki
Namun hatinya bukanlah buat diri ini
Ia tidak bahagia dan bersedih hati
Aku ingat bahwa aku telah berjanji
Kan membuat dia bahagia di dunia ini
Kuambil keputusan ini
Membawa dia pergi ke luar negeri
Mencari pria yang ia cintai
Meski hatiku hancur tak terperi
Meski cintaku harus kandas lebih dini
Meski rasanya sakit sekali
Mengoyak jiwa dan sanubari
Suatu hari nanti
Aku akan berteriak memanggil:Eviiii!
Dari atas jembatan ini
Meski penuh kepedihan di hati
Namun aku bahagia sekali
Karena aku telah memenuhi janji
Janji seorang suami pada isteri
Janji seorang Irwan pada Evi
Membuat dia bahagia di dunia ini
Aku mencintaimu Evi
Meski aku harus melepasmu pergi
Ingatlah suamimu ini Evi
Meskipun hanya di dalam mimpi
Oke sudah punya jagoan kan?Sebagai perkenalan cukup segini dulu yach.
Walau singkat saya harap pembaca akan suka dan sudah punya gambaran.
***see you next eps***
Eps Perdana ○♡● HARUSKAH BERAKHIR
○♡● HARUSKAH BERAKHIR○♡● Eps 1○♡● With Him = Dengan Dia
// Putik yang sedang berbunga...harum yang sedang mewangi...//Evi Pov.
Melihat hamparan bunga nan indah di sepanjang jalan menuju bandara,aku merasa
tak ingin pergi meninggalkan Indonesia.Aku menatap ke luar,aku tak ingin memandang pria yang ada di sebelahku.Aku menghela nafas.Hidupku benar2 sudah hancur dan makin parah dengan mengikuti niat pria di sampingku saat ini.Bagiku dia pria asing,walau kami sudah menikah secara hukum tapi aku tak pernah menganggap dia sebagai suamiku.
Bahkan aku tak mau disentuh oleh dia di malam pertama kami.
Aku ingat dia mencoba menyentuhku malam itu tapi penolakanku membuatnya mengurungkan niatnya.Aku masih ingat betapa terlukanya dia malam itu.Gimana ga terluka,setiap pengantin pasti mendambakan malam pertama tapi justru dia mendapatkan penolakan dariku.Wajahnya langsung tampak gimana gitu melihatku.
Sebenarnya aku tak ingin melakukan itu padanya.Tapi aku tak bisa menyerahkan diriku pada pria yang tak kucintai.Aku melihat kami sudah sampai bandara.Ingat bandara,aku ingat saat pertama bertemu Reza.Reza adalah pria yang telah mencuri hatiku.Dia tinggi dan terlihat dewasa.Berbeda sekali dengan pria yang kunikahi.Dia tingginya sama denganku.
Wajahnya memang tampan tapi dia terlalu diam.Kadang aku takut melihatnya.
Entah apa yang dipikirkannya dengan mengajakku pergi ke luar negeri tiba2.Orang rumah mengira kami pergi berbulan madu.Namun andai mereka tahu apa yang terjadi di antara kami,pasti mereka akan membuang jauh2 kata itu dari daftar alasan.Aku sendiri juga heran dan ga ngerti apa maksud pria yang menyandang status suamiku itu.Aneh.Tahu2 aja dia ngajak aku pergi.Apa karena surat2 Reza yach?
Aku mengikuti langkahnya dengan malas.Sejak Reza pergi dari hidupku,aku sudah
tak pernah lagi tersenyum.Dandan saja males.Biasanya aku paling suka tampil cantik apalagi soal pakaian wah aku suka banget baju warna merah.Seperti aku warna merah itu energik dan penuh semangat.Namun sekarang aku adalah Evi yang berbeda.Evi dengan kehidupan kelamnya.
Bukan lagi Evi yang ceria,penuh tawa,penuh binar bahagia atau yang suka bersenandung.Entah sudah hilang kali sisi Evi yang dulu.Pria yang bersamaku menyuruhku duduk sementara dia mengurus tiket dan atributnya.Aku menurut saja.Aku memandang punggungnya,agak luruh.Sepertinya bukan cuma aku yang tak menikmati perjalanan,dia juga.Aku sebenarnya kasihan juga terhadapnya.Dia berhak dicintai sama seperti manusia lainnya.
Apa aku sudah keterlaluan ya sama dia?Aku melihat dia sudah kembali,kali ini dia
bawa minuman di tangannya.
"Aku belikan minuman.Kamu pasti haus.Minumlah."kata pria itu kepadaku.
Aku mengambil gelas yang ia sodorkan padaku,tanpa ucapan apapun.Meski tanpa itu aku bisa melihat ia senang saat aku menerima minuman yang ia sodorkan.Aku meminum dengan pelan,jelas ia berusaha bersikap layaknya seorang suami yang perhatian
dan sayang pada isterinya.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah orang2 yang lalu lalang,semua sibuk sendiri.
Seperti aku sibuk dengan khayalanku tentang Reza.Kembali nama itu muncul di benakku.
Nama itu telah menguasai hati dan pikiranku.Dimana kamu Reza?Tidakkah kau melihat betapa nelangsanya hidupku kini.Menikah dengan pria yang tidak kucintai.Aku tahu suamiku pria yang terkenal baik.Siapa yang tak kenal Irwan Krisdiyanto.Pengacara handal dan ternama.
Banyak kasus yang dimenangkannya.Namun tidak dalam kasusku.Yang memenangkan hatiku adalah Reza bukan Irwan.Jika bukan karena ayah,aku pasti sudah bahagia dengan Reza sekarang.Menikmati indahnya mahligai kehidupan berumah tangga.
Kenapa ayah tak merestui hubungan kami?Apa karena ayah berteman baik dengan ayahnya Irwan?Mungkin juga.
Ada yang bilang mereka sahabat yang sangat dekat.Tapi persahabatan yang menghancurkan kehidupanku.Aku kesal dengan ayah.Aku kesal dengan keluargaku.
Aku juga kesal dengan Irwan,kenapa ia menerima saja dijodohkan denganku?Aku benci hidupku!Aku ini bukan lagi bunga yang cantik dan mewangi.Hidupku sudah seperti sampah,berbau dan tidak berarti lagi.Aku sudah tidak peduli.Tidak ada artinya lagi hidupku ini.
// Hati yang sedang bahagia...cinta yang sedang bersemi,haruskah berakhir ini...//Irwan pov.
Siapa orang yang tak ingin bahagia?Orang miskin atau kaya pasti ingin bahagia.Orang berpendidikan tinggi atau rendah juga mendamba bahagia.Orang kota maupun orang desa juga sama2 ingin hidupnya bahagia.Orang kulit hitam ataupun putih atau apapun juga tentulah punya keinginan hidupnya bahagia.Lalu apa salah jika aku juga ingin bahagia?Apa arti bahagia bagiku?
Aku sudah menikah dengan wanita yang kucintai.Bukankah harusnya aku bahagia?
Aku juga mendapat restu dari ayah dan keluarga mempelaiku.Aku juga punya pekerjaan dan prestasi kerja yang patut dibanggakan.Aku meminum minumanku dengan harapan mendapatkan sedikit kesejukan.Aku ada di bandara sekarang menunggu jam keberangkatan pesawat.
Kata petugas bandara pesawat kami delay 1 jam.Sepertinya ada masalah dengan cuaca.Aku mencuri pandang ke arah isteriku.Bukan,dia belum menjadi isteriku yang sesungguhnya.Dia hanya menyandang legalitas status sebagai wanita yang menikah denganku.Namanya Evi.Ia cantik dan suaranya sangat merdu.
Aku ingat saat pertama melihatnya di pesta pernikahan salah satu kerabat keluarga.Ia tengah menyanyi waktu itu.Dengan gaun berwarna biru ia melantunkan lagu yang sangat indah.Aku ingat sekali saat itu ia begitu memukau sangat memukau malah.Gaun panjang dan lenggok tubuhnya membuat jantungku dag dig dug.Aku bagai tersihir.Alangkah indahnya suara dan paras wajahnya.
Matanya yang besar dan tajam seakan menembus kedalaman hatiku.
Aku bertanya pada adikku,Lesti,"Itu siapa?"
Dengan wajah berbinar bahagia adikku menjawab,"Kak Irwan suka ya sama dia?Namanya Evi kak.Kak Evi juga pasti suka sama kakak.Kakak aku kan baik orangnya."
Aku ingat saat itu langsung berkata pada Lesti,"Tapi kakak ga bisa nyanyi kayak
dia.Apa kamu yakin dia bakal suka sama kakak?"
Lesti memandangku dan tersenyum menenangkan hatiku,"Kak Irwan,mungkin kakak ga bisa nyanyi tapi aku yakin kakak akan membuat kak Evi bahagia.Lesti bisa lihat mata kakak saat memandang kak Evi.Kakak menyukai dia bukan?Hayo ngaku!"
Aku tersipu dan mencubit pipi adikku itu,"Kamu ini godain kakak ya?Dasar!"
Lesti tertawa,"Akhirnya kakak aku yang serius ini jatuh cinta juga.Senang sekali mendengarnya.Semoga kalian sampai ke pelaminan."
Jika ingat saat itu aku harusnya tersenyum bahagia saat ini.Bagaimana tidak,
disebelahku kini gadis yang mencuri hatiku itu telah menyandang status sebagai
isteriku.Ya aku dan Evi telah menikah.Orang tua kami ternyata teman baik dan
mereka sepakat mempererat hubungan dengan menjadi besan.Walau aku sempat dites juga sama ayahnya Evi,Ayah Hamdan.Ayah Hamdan terkenal sebagai penyanyi legendaris.
Bahkan ia membuka sekolah vokal untuk semua kalangan.Termasuk dari luar negeri.
Ia menyuruhku menyanyi waktu itu.Aku ingat menyanyi lagu yang aku tahu:
/Baru saja kureguk manis madu cinta...kini harus kutelan pahitnya juada.../
Ayah Hamdan tertawa melihatku saat itu.Aku langsung mengambil tissue karena keringatan.Keringat karena nervous.Jelas mereka tahu aku bukan penyanyi,aku ini pengacara eh disuruh nyanyi.Mana bisa?Ayah Hamdan bertukar pandang dengan isterinya,Bunda Rita dan mereka saling tersenyum.Wah pasti jelek banget nih suaraku...pikirku saat itu.
Ayah Hamdan lalu mendekatiku dan menepuk pundakku,"Suaramu memang perlu dilatih lagi tapi aku merasakan kejujuran di dalam suaramu Nak.Aku percaya kau akan membuat putriku bahagia.Aku merestuimu Nak."
Lega sekali aku waktu itu,serasa diguyur air.Makcless gitu.Pasti Ayah aku pasti membuat putri Ayah bahagia.Janjiku dalam hati.Ya sebuah janji yang kuucapkan juga saat prosesi pernikahan.Sebuah janji yang benar2 kucamkan dalam hati.Membuat isteriku bahagia di dunia ini.Kini aku seorang suami.Suami dari seorang wanita yang sangat kucintai.Demi dia bahagia aku melakukan perjalanan ini.Aku memandang sekali lagi pada isteriku,pandangannya sayu.Wajahnya lesu.Tidak kulihat binar bahagia seorang wanita yang baru saja menikah.Aku tersenyum getir.
Pernikahan kami diujung tanduk.Baru beberapa hari menikah aku sudah tahu kalau isteriku menikah denganku karena terpaksa.Apalagi saat kulihat ia tengah asyik membaca surat dari seseorang yang bernama Reza.Aku bisa menerima apapun kecuali satu
hal :kebohongan.Bila kutahu ia tak mencintaiku pasti sudah kubatalkan niatku
melamar dia.Aku memejamkan mataku.Apalah daya semua sudah terjadi.
Awalnya aku sangat terluka mengetahuinya.Benar2 terluka.Cintaku yang tulus tak berarti apapun di mata wanita yang sangat kucintai.Sebelum kami hancur karena meneruskan berlayar di perahu yang sama,aku akan menepati janjiku padanya.Setidaknya aku tidak disebut sebagai pembohong di pernikahanku sendiri.
Evi,aku akan membuatmu bahagia.Aku tahu kau tidak bahagia bersamaku.
Aku memang mencintaimu.Sangat mencintaimu.Tapi cinta itu dua arah.Apalah arti cintaku jika kau tak bahagia bersamaku.Aku akan membuatmu bahagia meski itu bukan denganku tapi dengan dia.Aku tahu hatimu penuh dengan cinta terhadapnya.Jantungmu berdetak hanya untuk dia.Nafasmu hanya berhembus untuk dia.Kau hanya memikirkan dia
setiap saat.Evi,aku seorang pengacara.
Kami para praktisi hukum,tahu benar arti sebuah sumpah.Sebuah ikrar ataupun janji.Tenanglah Evi.Aku pasti memenuhi janjiku.Aku kan bawa kau pada dia.Pada Reza.
Pada pria yang kaucintai.Daripada melihatmu mati pelan2 sebagai isteriku lebih baik aku
melihat tersenyum bahagia meski bukan denganku tapi dengan dia.Kumohon jangan melihatku sebagai orang jahat.Aku bukan musuhmu.Aku terlalu mencintaimu hingga ini kulakukan.Aku mendengar panggilan untuk kami.Akupun memandang berdiri dari dudukku dan memandang Evi,"Ayo kita bersiap.Pesawatnya sudah tiba.Kita akan ke Turki."
Evi terkesiap mendengar nama negara itu disebut,pastilah itu tempat dimana Reza berasal.Aku mengangguk.Evi berdiri dan mengikutiku.Turki here we come.Goodbye Indonesia and goodbye my love story.
//Kalau harus berpisah mengapa berjumpa awal bahagia berakhir merana...
Bukan karena salahmu bukan karena salahku
Tapi kita tiada bahagia...//
Eps satu pov nya baru dua orang dulu yach.Yang Reza mungkin eps selanjutnya.Bagaimana nanti perjalanan mereka ke Turki?***see you next eps***
HARUSKAH BERAKHIR //EPS 2
■ HA•RUS•KAH □ BER•AK•HIR ■■ Eps 2 ■ Knowest Me = Mengenalku ■
■ Hargai Diriku ■ Armada ■
//Seringkali kau merendahkanku...Melihat dengan sebelah matamu...Aku bukan siapa-siapa...//Reza pov.
•Aku di bandara Turki sekarang,bersiap menuju Perancis.Ada job nyanyi di sana.
Aku memakai head setku sambil menunggu jam keberangkatan pesawatku.Aku suka sekali musik.Ayahku orang Indonesia sedangkan ibuku orang Turki.Ayahlah yang mengajariku soal musik.Ayah...Reza kangen ayah.Ya...ayahku sudah tiada.Namun bagiku beliau tetap hidup dalam hatiku.Seperti saat ini aku mendengarkan lagu dari negeri tempat asal beliau,Indonesia.
/Selalu saja kau anggap ku lemah...Merasa hebat dengan yang kau punya....
Kau sombongkan itu semua.../
Aku besar di Turki tepatnya di kota Dubai.Kota yang terkenal dengan arsitekturnya
dan kemegahan bangunan2nya.Siapapun yang mengunjungi Turki pasti ingin ke Dubai.Dubai memang menakjubkan.Namun yang kupikirkan saat ini justru bukan keindahan Dubai namun seraut wajah cantik yang kutinggalkan di Indonesia sana.
Aku melihat banyak wanita cantik di Turki tapi hatiku selalu teringat pada Evi,ya
namanya Evi.Dia putri bungsu guru vokalku di Indonesia.
Ayah Hamdan demikian aku biasa memanggilnya.Orangnya sederhana tapi penuh wibawa.Aku segan pada beliau.Apalagi pada isteri beliau,Bunda Rita.Mereka begitu ramah menyambutku waktu itu.Kemampuan vokalku meningkat drastis sejak dilatih oleh beliau.
Beliau bilang aku ini punya ciri khas dalam bernyanyi.Aku tuh suaranya arabic.Iya sih banyak yang bilang begitu.Namun semua berubah saat aku jatuh hati pada putri bungsunya,Evi.
Bagaimana tidak jatuh hati,Evi itu sangat mempesona.Awal jumpa sih sombong gitu dia.Sok jual mahal.Ga mau kenalan.Apalagi dia kesal karena kamarnya kupakai.
Kamar Evi paling bagus dibandingkan kamar2 lain di rumah megah Ayah Hamdan.
Ayah Hamdan sangat terkenal,melegendalah istilah kerennya.Dari hasil nyanyi dan menjadi guru vokal beliau berhasil menghidupi keluarganya bahkan adik2nya hidup atas dukungannya.Beliau memang dermawan dan sangat menghargai hubungan persaudaraan dan persahabatan.
Namun aku tak habis pikir kenapa beliau menentang habis2an hubunganku dengan Evi.Bukankah beliau menyukaiku dan mengatakan bahwa aku murid kesayangan dan kebanggan beliau?Lalu kenapa tidak merestui kami,Evi juga jelas2 mencintaiku.
Aku menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan.Kasihan Evi kudengar ia sempat mencoba bunuh diri setelah aku diusir dari sana.Sebenarnya aku kurang apa sih?
/Coba kau lihat dirimu dahulu..Sebelum kau nilai kurangnya diriku.../
Aku terus berpikir sepanjang jalan saat pulang ke Turki dulu.Aku ini salah apa?
Kenapa aku dan Evi harus berpisah?Aku ingat kata2 ayah Evi waktu itu,-Nak,aku sudah tak punya apa2 untuk aku ajarkan padamu.Vokalmu sudah bagus.Sekarang saatnya kau kembali ke tempat asalmu.-Aku mencoba bicara soal hubungan asmaraku dengan Evi tapi beliau malah membuang muka tak mau memandangku.Wajahnya menunjukkan kemarahan dan itu membuatku sedikit takut juga.Aku tak pernah berbuat yang tak sopan atau melanggar norma terhadap Evi.
Walau kami saling cinta dan aku berasal dari luar negeri,blasteran tepatnya,namun
kami menjunjung tinggi budaya Timur.Lagian Evi itu bukan gadis yang gampang dibujuk,dia gadis keras kepala.Teguh pendiriannya.Sekali A ya A.Susah bisa mengubah pendapat apalagi perasaannya.Tapi justru itu yang kusuka dari dia.Evi...kamu bagaimana sekarang?Kenapa tak satupun suratku kamu balas?Evi...semoga kau selalu sehat dan bahagia.Walaupun aku berharap kau ada di sini saat ini.
Aku melangkah menuju toilet.Seorang pria berjas putih menabrakku,"Maaf."
Aku mendongak terkejut mendengar ia berbahasa Indonesia,"You are from Indonesia?"
Pria itu menjawab,"Yes.You can speak with Indonesia language?"
Aku tersenyum dan mengambilkan benda2nya yang jatuh,"Tentu.Saya pernah tinggal di Indonesia."
Pria itu memakai cincin pernikahan di jarinya,ia tampaknya pria yang baik.
Namun aku melihat kesedihan di matanya,"Saya baru kali ini ke Turki."
Aku mencoba bersikap ramah,"Bulan madu yach?Kulihat kamu sudah menikah sepertinya."
Ia melihat ke arah cincin pernikahannya dengan sendu,"Iya.Saya kesini dengan wanita yang saya cintai."
Aneh kenapa ia tidak menyebut isteri saja kan simple,"Wah kau sangat mencintai
isterimu yach...mana dia?"
Pria itu menunjuk ke arah toilet wanita,"Disana.Saya menunggunya di sini.Takut ia kenapa2."
Panggilan untuk pesawatku terdengar,"Wah isterimu beruntung punya suami sebaik dirimu,maaf pesawat saya akan segera berangkat.Saya ke toilet dulu."
Akupun meninggalkannya dan masuk ke toilet pria.Keluar dari sana aku tak melihat
dia lagi,pasti sudah pergi dengan isterinya.Pria yang tulus,kataku dalam hati.Wah belum kenalan tadi.Aku pasti senang punya sahabat seperti dia.Kudoakan semoga ia berbahagia dengan isterinya.Aku melangkah menuju boarding,siap berangkat menuju negara mode,Perancis.Perancis wait for me.Turki,goodbye.
//Apa salahnya hargai diriku...sebelum kau nilai siapa diriku...//Irwan pov.
//Apa salahnya hargai diriku...sebelum kau nilai siapa diriku...//Irwan pov.
Selama penerbangan,Evi tidak bicara apapun denganku.Setiap kali kuajak bicara ia hanya menggeleng atau mengangguk saja.Tanpa kata terucap dari bibirnya.Aku malah mencemaskannya.Ia duduk dekat jendela.Pandangannya tertuju ke sana.Begitu marahkah ia padaku sehingga tak sudi memandangku?
/Seringkali (sering kali) kau merendahkanku (kau merendahkanku)...melihat dengan sebelah matamu...Aku bukan siapa-siapa.../
Apa dia kesal karena aku tak bicara dulu soal perjalanan ini kepada dia?Evi,andai kau tahu pergumulanku saat memutuskan hal ini.Ini tidak mudah buat aku Vi.Coba pikir,pria mana yang mau mengantarkan isterinya pada pria lain?Ayahku sendiri sampai heran dengan keputusanku.
Ayah sempat menentang niatku itu,"Kau ini pengacara terkenal Irwan,mau ditaruh
dimana muka ayah bila kau malah merelakan isterimu kepada pria lain?Tidak!Ayah tidak setuju!!Ayah akan labrak Hamdan soal anak perempuannya itu!Jika ayah tahu begini,ayah takkan lakukan perjodohan ini,takkan!!"
Aku ingat aku melihat betapa marahnya ayahku waktu itu,harga dirinya pasti terluka.Terlebih aku,Ayah.Aku bahkan tak punya semangat hidup lagi.Cintaku bertepuk sebelah tangan.Namun jika aku mengembalikan Evi pada orang tuanya,itu sama saja aku membunuh dia.Orang tuanya pasti sangat malu dan menyalahkannya.Betapa mereka akan jadi gunjingan banyak orang.Tidak.Aku tak akan mengembalikan Evi pada orang tuanya,
aku akan mengembalikan dia pada kebahagiaannya,pada pria yang ia cintai.
Toh sama2 kami tidak bersatu,tapi setidaknya Evi mendapatkan kebahagiaannya.Setidaknya dunianya tidak hancur sepertiku.Cukup aku saja yang akan menghadapi gunjingan orang,aku akan menanggung kemarahan orang tua Evi nanti,bahkan aku rela jika karirku sebagai pengacara ikut hancur karenanya.Aku hanya ingin melihat wanita yang kucintai hidup bahagia,tersenyum ceria seperti saat pertama kumelihatnya.
/Coba kau lihat dirimu dahulu...sebelum kau nilai kurangnya diriku...
Apa salahnya hargai diriku...sebelum kau nilai siapa diriku.../
Aku mendekati ayahku,"Ayah,sebagai pencari keadilan kita harus melihat
kasus ini dari berbagai sisi.Jangan hanya melihat dari satu pihak saja.Aku juga bersalah dalam hal ini Ayah,aku tidak mencari tahu dahulu soal hati Evi.Apakah ia sudah mencintai orang lain atau tidak?Aku begitu dibutakan oleh cintaku sehingga aku lupa bahwa Evi
bukan barang,dia punya perasaan dia berhak mencintai juga.Cinta itu tak bisa dipaksa Ayah.Kita juga bersalah dalam hal ini Ayah.Jadi restuilah anakmu ini Ayah,setidaknya biarkan aku memenangkan kasusku ini.Biarkanlah aku memenuhi janjiku padanya Ayah,bukankah sumpah sangat dijunjung tinggi dalam pengadilan?Jangan biarkan aku menjadi pecundang Ayah,memang hasilnya akan menyakitiku tapi setidaknya aku bangga karena aku berhasil memenuhi perkataanku.Bukankah itu sebuah kehormatan Ayah?"
Ayah menatapku penuh kekaguman,"Kau memang lebih muda dariku tapi kau jauh
lebih hebat dariku Nak.Pergilah Ayah merestuimu.Ingatlah,ayah akan selalu menyambutmu dengan bangga di rumah ini.Kau memang pria yang baik,putraku.
Ayah kagum padamu."
Ayah memelukku dan melepasku pergi dengan restunya.
Seorang pramugari memberikan layanan makan,aku melihat isteriku,"Makanlah,
kau belum makan apapun sejak pagi.Aku mohon makanlah demi pria yang
kaucintai itu.Kita akan menemukannya.Aku janji padamu."
Evi memandangku dengan heran,seakan ingin mengatakan banyak hal kepadaku dengan tatapannya namun ia melihat bahwa banyak orang disekitar kami lalu ia kembali memandang makanan di hadapannya.
Aku membujuk lagi,"Yang ini enak.Cobalah!Makanlah walau hanya sedikit."
Ia menurut dan mulai makan meski dengan pelan.Aku tersenyum,melihat dia mau
makan saja aku sudah begitu bahagia.Aku memang aneh sepertinya.
Perjalanan yang lama,membuat Evi tertidur.Aku lihat kepalanya oleng ke sana sini.Kusandarkan kepalanya di bahuku.Tuhan,andai saja waktu berhenti.Aku sudah sangat bahagia.Merasakan ia menyandarkan dirinya padaku saja,aku sudah serasa melayang ke langit ke-7.Aku takkan pernah melupakan moment ini.
Akhirnya kami sampai di Turki.Evi nampak kaget saat menyadari bahwa sejak tadi ia
tidur di pundakku.Begitu kikuknya ia sampai ia bilang mau ke toilet dulu dengan buru2.Aku mengejarnya menuju toilet bandara Turki,namun ia begitu cepat melangkah dan sudah masuk ke toilet wanita.Saat itulah aku menabrak seorang pria.
Ia tinggi dan tampan.Aku minta maaf padanya.Ternyata ia mengerti ucapanku.
Sepertinya ia orang yang baik.Kami bercakap2 sebentar.Aku belum sempat menanyakan namanya karena ia harus segera ke toilet.Begitu ia masuk toilet,Evi keluar dari toilet wanita.Aku segera mengajaknya pergi dari bandara.Pasti ia sudah tak sabar ingin bertemu pria yang ia cintai.Kamipun pergi meninggalkan bandara Turki.Turki,here we come.
Wah mereka sebenarnya sudah berada di satu tempat lho.Irwan bahkan sudah berbicara dengan Reza.Namun Irwan tak tahu kalau itu Reza.Bagaimanakah kisah mereka
selanjutnya?***see you next eps***
HARUSKAH BERAKHIR ▼ Eps 3
HARUSKAH BERAKHIR ▼ Eps 3
▼▼ HARUSKAH BERAKHIR ▼▼▼▼ EPS 3 ▼▼▼▼ Singing Men = Penyanyi2 Pria ▼▼
▼▼ Goodbye / Selamat Tinggal ▼▼ by.Air Supplay ▼▼
// I can see the pain living in your eyes ~ Aku dapat melihat penderitaan di matamu
And I know how hard you try-Dan aku tahu betapa sulitnya kau mencobanya...// Evi pov
Aku mencoba tidak terlalu banyak berinteraksi dengan pria yang menyandang status suamiku saat dalam pesawat menuju Turki.Aku bukan tak menghargainya,itu bukan sifat
asliku.Aku hanya malas dan lelah dengan semua yang kualami.Aku merasa lapar tapi aku tak ada nafsu makan.Bila hatiku sedang bad mood aku memang ga doyan makan.
Ibuku hafal dengan kebiasaanku itu.Ibu....mengapa kau biarkan putrimu ini menikah dengan pria yang tidak dicintainya?Mengapa ibu?
Aku menatap jendela,sengaja aku duduk di pojok dekat jendela biar bisa melihat
awan.Aku suka lihat awan,apalagi kalau lagi sedih atau jauh dari orang yang kusayangi.Hanya nama Reza yang terus berkutat dalam benakku.Kenapa dia meninggalkanku sendirian?Kenapa dia tidak memperjuangkanku?Apa aku tidak layak diperjuangkan?Atau aku salah mengira dia benar2 tulus mencintaiku?
Mengapa dia bisa meninggalkan Indonesia tanpa bilang apapun padaku?
Ya aku ingat dia menatapku lekat2 malam itu dari luar rumah.Aku yang berada di balkon jadi heran dan merasakan firasat yang aneh.Rasa sunyi yang tiba2 mencekam.
Matanya penuh kepedihan dan ketakberdayaan.Ia juga membawa kopernya.
Apa yang terjadi antara dia dan ayah?Kenapa ayah biarkan murid terbaiknya pergi di
malam hari pula?Mengapa ayah?Apa salah Reza ayah?Apakah salah jika kami
saling mencintai?Jika cinta adalah dosa maka mengapa Tuhan melengkapi manusia dengan perasaan?Aku terkejut karena Irwan,ya...suamiku...menyentuh lenganku dan membujukku untuk makan.Aku memandang matanya,kenapa matanya sama dengan mata Reza di malam itu.Sama2 menyimpan kesedihan.Apakah semua pria yang didekatku akan dipenuhi kesedihan?
Apa aku menyebar virus kesedihan?Aku melihat makanan yang diberikan pramugari
kepada kami.Sepertinya enak tapi aku sedang ga selera.Kudiamkan saja,hanya
kupandangi seakan berdoa semoga ada racun didalamnya sehingga aku mati bila memakannya.Mati....Aku memang ga takut mati.Kepergian Reza malam itu membuatku kehilangan gairah hidup.Apalagi saat kutahu aku dijodohkan dengan pria yang tidak kucintai.Aku pun nekad.Aku mencoba mengakhiri hidupku.
Kuiris nadiku lalu kubiarkan darahnya mengubah warna kolam di rumahku
menjadi merah.Seperti warna baju favoritku.Merah darah.Coba saja aku mati waktu itu pasti aku ga perlu menikah dengan pria di sebelahku saat ini.Aku bukan membencinya.Aku hanya tak ingin melibatkan orang lain dalam kemelut cintaku.Bagiku dia itu juga korban sepertiku.Dia pasti juga tak mencintaiku.Tapi entahlah...caranya memperhatikanku
dan memandangku kadang begitu penuh kesedihan.
Ia kembali membujukku untuk menyentuh makananku.Aku ingin marah padanya dan menyuruhnya berhenti mempedulikanku.Aku bukan anak2!Aku lelah dengan kebaikannya dan perhatiannya.Kenapa ia tak menceraikanku saja?Bukankah dia pengacara hebat?Pasti mudah baginya mengurus perceraian kami.Toh ia tahu aku tidak mencintainya,aku menikah dengannya karena orang tuaku.Dan yang paling membuatku tak habis pikir adalah untuk apa ia membawaku ke Turki?Apa ia ingin menyatukanku dengan Reza?Lalu apa untungnya buat dia?
Dia bisa saja membiarkanku pergi sendiri ke negeri 1001 malam itu.Untuk apa pula ia menemaniku?Ingin menjadi pahlawan begitu?Pria yang aneh!Aku ingin bertanya
banyak hal padanya.Hatinya itu terbuat dari apa?Pria langka.Aku menatapnya lagi,ia heran dan malah lebih terlihat cemas menurutku.Aku hampir saja mengatakan isi hatiku padanya,
namun saat melihat sekeliling kami,aku urungkan niatku.Nanti saja kalau pas kami cuma berdua saja.
Kulihat makanannya juga belum disentuh.Apa ia menungguku?Ge-er amat aku.
Aku jadi iba melihatnya,akhirnya aku makan juga meski dengan pelan.Alias kupaksakan.Biar dia makan juga.Ia nampak lega melihat aku makan.Kayak menang undian saja.Aneh!Kok masih ada manusia seaneh dia?Seharusnya aku malu,aku ini isterinya harusnya aku yang merhatiin dia.Ngurus makannya,pakaiannya semuanya.Tapi malah kebalik kayaknya.Aku pusing memikirkannya.Hingga tak menyadari kalau aku telah menghabiskan makananku.Daripada ditanyai terus sama si pria langka mending kuhabiskan saja.Perut kenyang membuatku ngantuk.Aku tertidur dan bermimpi tentang Reza.
//You deserve to have so much more~Kau pantas mendapatkan yang jauh lebih baik..I can feel your heart and I sympathize~Aku dapat mengerti perasaanmu dan bersimpati...And I 'll never criticize all you've ever meant to my life~Dan aku takkan pernah mengkritik semua yang kau berikan pada hidupku...// Ayah Hamdan pov
Melepasmu pada keluarga Nak Irwan sebenarnya bukan hal yang mudah.
Rumah ini sudah begitu biasa penuh tawa riangmu.Rumah besar ini kehilangan mutiaranya.Aku hanyalah seorang ayah.Ya,dibalik nama besarku sebagai mahaguru
olah vokal,aku hanyalah insan biasa yang punya ketakutan dan harapan.
Evi,bukan ayah tak tahu isi hatimu,putriku.Ayah bisa melihat sinar cinta di matamu
tiap kali memandang Reza.Hal yang juga kulihat pada murid kesayanganku itu.
Ya,murid kesayangan yang kuusir pergi di malam hari.Apa yang telah membuatku mengusirnya?
/I don't want to let you down~Aku tak ingin membiarkanmu muram...
I don't want to lead you on~Aku tak ingin menipumu.../
Ayah mana yang ingin membuat sedih hati anaknya?Ayah hanya ingin kau
melihat dari sisi pandang Ayah.Ayah tak ingin kehilangan dirimu putriku.Sudah cukup ayah kehilangan kakakmu Cici Paramida.Air mata menetes tiap ingat mendiang
putriku yang no 3 itu.
/ I don't want to hold you back~Aku tak ingin menahanmu...From where you might belong~
Dari tempat yang seharusnya.../
Tentu kau masih ingat betapa pedihnya hati Ayah saat kakakmu itu kembali dari Brunei Darusalam.Ia kembali dengan wajah penuh lebam.Suaminyapun tidak mengantar.Aku mengira menikahkan dia dengan pria pilihan hatinya adalah hal yang bijaksana.Aku berpikir telah berbuat baik dengan menghargai perasaannya.Namun aku salah,buktinya tak lama kemudian mereka bercerai.Tentu aku akan memihak putriku,ia dianiaya.Aku jelas mendidih melihat perlakuan kejam suaminya.Namun perceraian tetap tak mampu membuatnya lepas dari derita.Gunjingan orang membuatnya memilih mengakhiri hidupnya.
Ia menjatuhkan diri dari lantai 5 sebuah gedung yang baru dibangun dekat rumah kita.Sejak itu ayah bersumpah :Takkan pernah lagi ayah menyerahkan putri ayah ke
tangan orang asing!Takkan pernah!!Meskipun putri ayah begitu mencintainya
sekalipun!!
//You would never ask me why~Kau takkan pernah bertanya kenapa
padaku...My heart is so disguised~hatiku begitu samar....//Reza pov
Aku duduk di pesawatku.Kuambil pena dan kertas sembari menunggu take off.Kebiasaan memang.Dimanapun berada aku selalu membuat lagu.Aku memandang ke bangku sebelahku.Andai saja kau bersamaku Vi.Pasti takkan membosankan begini rasanya.Sendirian tanpa kau disisiku adalah penyiksaan bagiku.Kau ingat Vi saat pertama aku sampai di Indonesia.
Aku kesasar sampai kemudian aku bertemu kakakmu,Ramzi.Ia membawaku ke rumahmu.Di tengah jalan aku melihatmu.Kau tengah berlari mengejar layang2
bersama anak2 kecil.Wow!!Aku langsung terpesona melihatmu...Rambut indahmu tersapu angin sungguh membuatku bak diatas permadani terbang.Senyum ceriamu kala berebut layang2 putus benar2 memukau hatiku.Lenggak lenggok tubuhmu kala menari
penuh tarian kemenangan membuatku tak bisa mengatupkan mulutku.Cantiknya...Inikah wanita Indonesia?Aku jatuh hati saat itu juga...apalagi saat kau melewatiku memasuki rumahmu...harum wangi langsung tercium oleh hidungku...Amboi,jika begini indahnya pesona Indonesia....maka aku pasti betah disini,kataku kala itu.Aku ingat sekali kau pakai pakaian merah waktu itu,warna itu cocok sekali buatmu.Penuh energi sepertimu...
eksotisnya!
Tangankupun mulai menuliskan syair cinta.Setiap memikirkanmu selalu memberiku inspirasi lagu.Kata demi kata mengalir membentuk syair nan indah.Lagu ini untukmu Evi...
/I just can't live a lie anymore~Aku hanya tak bisa hidup dalam dusta lagi...I would rather hurt myself~ Aku memilih melukai diriku sendiri...Than to ever make you cry~Daripada membuatmu menangis...There's nothing left to say,but goodbye~Tak ada lagi yang dikatakan,selain selamat tinggal.../
Kau pasti heran kenapa aku meninggalkanmu,kenapa aku tak berjuang demi cinta
kita.Kau tahu kenapa Vi?Demi kebahagiaan seorang ayah.Sebelum pergi,ibumu
bercerita padaku perihal alasan dibalik pengusiranku.Bagaimana ayahmu bersumpah takkan menyerahkan putrinya pada orang asing lagi.Kesannya memang arogan ya Vi?
Tapi aku mengerti hatinya Vi.Ia begitu mengasihimu Vi,hingga ia tak mau kehilangan dirimu.Ia trauma Vi.
Bahkan ia menyatakan takkan pernah menyanyi lagi jika aku tak pergi dari
rumahnya dan meninggalkanmu.Apa aku bisa menari diatas luka hati ayahmu,Vi?Itulah kenapa aku pergi Vi.Tanpa bilang apapun padamu.Lagipula aku tak mau kau kehilangan
ayahmu seperti aku.Aku tahu apa arti menyanyi bagi ayahku.
Ayahku yang bukan penyanyi melegenda seperti ayahmu saja begitu mencintai dunia nyanyi.Terlebih ayahmu Vi.Apa aku akan merenggut talenta sehebat itu darinya?
Tidak Vi!Mungkin aku bisa membawamu pergi,apa istilahnya kawin lari...ya kawin lari.Membawamu kabur ke Turki.Tapi sampai kapanpun kau tetap putrinya.Kau pasti akan merindukannya.Tidak Vi,jika aku begitu menghargai ayahku,maka kaupun pasti sama.Restu orang tua itu sangat berharga.Aku akan hidup dengan semua cinta yang
pernah ada di antara kita.Itulah hal yang coba kusampaikan lewat surat2ku
padamu.Apa kau sudah membacanya Vi?Pesawat siap take off,goodbye Turki.
//You deserve the chance at the kind of love~kau berhak menerima kesempatan
pada cinta semacam itu...I'm not sure I'm worthy of~Aku tak yakin apakah aku pantas...
Losing you is painful to me~Kehilangan dirimu membuatku sakit...//Irwan pov
Kami naik taksi menuju hotel.Aku duduk disampingmu yang tampak diam membisu
melihat indahnya Turki.Aku menghela nafas.Mungkin sebaiknya kunikmati moment bersamamu saat ini.Walau kau ada disebelahku tapi terasa jauh.Kau pasti memikirkan pria itu.Beruntung sekali dia bisa memenuhi pikiranmu.Aku iri...bukan..aku cemburu.Ya aku sangat cemburu.Bagiku ini sangat menyakitkan.
Akhirnya kami sampai di hotel.Aku sengaja memesan cuma satu kamar karena aku
tak mau ada yang memberitahu ayahmu bahwa kita tidur di kamar yang berbeda.Wartawan bisa memakai cara itu untuk menjatuhkan nama besar ayahmu
dan ayahku.Tidak!Aku tak mau kedua orang tua kita bersedih.Jadi kuharap kau tak marah jika aku sekamar denganmu.Tenang saja Vi,aku takkan menyentuhmu.Penolakanmu kepadaku di malam pertama kita dulu masih menyisakan luka di hatiku.
Andai suatu hari nanti benar ada malam pertama buat kita,aku ingin bukan dalam keterpaksaan namun dalam hasrat cinta.Tapi sepertinya itu hanya mimpi.
Mana mungkin ada cinta diantara kita.Mungkin aku mencintaimu sepenuh
hatiku tapi kau...hatimu bukan untukku.Selama hatimu bukan untukku
maka tubuhmupun bukan untukku.Walau kau begitu dekat denganku,aku akan menghormati dan menjaga kehormatanmu.Evi,andai saja ini bukan perjalanan
mencari cintamu...tapi perjalanan bulan madu kita.Pasti aku akan sangat bahagia
saat ini.Akhirnya langkah kami sampai di depan kamar.Kamar no 100.Angka yang bagus.Aku memberi tip pada pelayan yang membantu membawa barang2 kami.
My first night in Turki mungkinkah akan menjadi my last night with Evi?
// I don't want to let you down...I don't want to lead you on...I don't want to hold you back from where you might belong..//
Tahu kan kini kenapa Ayah Evi tidak merestui hubungan Evi dan Reza?Nah by the way angka 100 itu punya arti spesial lho buat Irwan...***see you next eps***
○○○ Eps 4 HARUSKAH BERAKHIR○○○One hundred
○~○~HARUSKAH BERAKHIR~○~○EPS 4~○~○ One Hundred = 100 ~○~○
~○~○ About song~○~○
○~○~ Indahnya bulan tak seindah wajahmu...Hitamnya arang tak sehitam rambutmu...Engkaulah sayang mutiara hidupku~○~○Irwan pov
Kami tiba di hotel sudah malam.Aku melihat dari jendela kamar bulan begitu indahnya.Melihat bulan mengingatkanku pada sesuatu.Aku segera mendekati isteriku...eh..maksudku Evi.Selain untuk memastikan dia baik2 saja juga untuk
memastikan benda itu masih ada padanya.Kulihat ia tampak kesulitan membuka kopernya.Aku ingin menawarkan bantuan tapi ia malah tak mau memandangku.
Aku melepas jas putihku.Putih adalah warna favoritku.
Kata Lesti,adikku,aku tuh polos orangnya,ga suka aneh2,lurus2 aja.
Kalau ya katakan ya.Kalau ga ya ga.Aku melihat sekeliling kamar.Lumayan bagus.Memang tempat tidurnya cuma satu.Tapi bersekat,jadi Evi akan nyaman tidur di dalamnya.Lalu aku tidur mana?Aku sih gampang.Sofanya juga empuk.Bagiku yang penting Eviku.Waduh...Eviku...kepedean.Aku tersenyum getir sambil membuka tirai yang menuju balkon.
Udara malam Turki.Rembulan menatapku dengan heran he..he..jelas heran...
masa suami isteri terpisah tidurnya.Lihat rembulan aku jadi ingat mau lihat benda pemberianku untuk isteriku.Apakah dipakai sama dia ya?Aku melangkah mendekati Evi lagi,masih belum kebuka kopernya.
"Butuh bantuan?"Tanyaku padanya.Dia malah diam saja.Aku menahan hatiku yang pedih diabaikan terus,lalu aku melihat ke arah lehernya.Aku ga jadi kesal.Kalung mutiara itu ia pakai.Akupun duduk di dekatnya dan meraih kopernya lalu kubukakan.Ia nampak kikuk melihat aku bisa membukanya.Kopernya aja hanya mau bila aku yang buka.Andai saja hatinya juga bisa terbuka buatku.Wah jadi ingat lagunya Armada.Buka hatimu...Aku lalu duduk di sofa.Memesan layanan hotel.Evi pasti lapar.Meski dia mengabaikanku namun aku akan terus memperhatikannya.Dia masih isteriku.
"Butuh bantuan?"Tanyaku padanya.Dia malah diam saja.Aku menahan hatiku yang pedih diabaikan terus,lalu aku melihat ke arah lehernya.Aku ga jadi kesal.Kalung mutiara itu ia pakai.Akupun duduk di dekatnya dan meraih kopernya lalu kubukakan.Ia nampak kikuk melihat aku bisa membukanya.Kopernya aja hanya mau bila aku yang buka.Andai saja hatinya juga bisa terbuka buatku.Wah jadi ingat lagunya Armada.Buka hatimu...Aku lalu duduk di sofa.Memesan layanan hotel.Evi pasti lapar.Meski dia mengabaikanku namun aku akan terus memperhatikannya.Dia masih isteriku.
Berarti dia adalah tanggung jawabku.Kesedihannya adalah kesedihanku.
Kebahagiaannya juga akan menjadi kebahagiaanku.Akankah ada bahagia buatku
diujung perjalanan kami nanti?Aku tahu Evi pasti ga akan menjawab bila kutanya
soal makan malam,jadi aku langsung pesan saja.Tak lama pesanan kamipun tiba.
Aku mengajak Evi untuk makan.Aneh kali ini dia langsung nurut.Apa dia benar2 lapar ya?Atau karena malas berdebat denganku?Berdebat?
Boro2 debat ngomong saja bisa dihitung.Ia duduk di depanku sambil memasukkan makanan dengan pelan.Pelan2 saja Vi.Biar aku bisa lama memandang wajahmu.
Kami makan dalam diam.Aku memang terkenal pendiam tapi bila dengan Evi aku ga tahan suasana hening begini.Aku memandang lehernya lagi.Kalung itu dipakainya.Aku tersenyum.Masih segar dalam ingatanku betapa aku sampai pesan pada temanku di
Lombok untuk mendapatkan mutiara itu.Jumlahnya 100 butir.Asli Lombok.Kenapa harus 100?
Aku sangat suka tradisi India yang memberi tanda pada seorang wanita yang sudah menikah dengan sebuah kalung yang disebut Manggala Sutra.Dengan inspirasi itu aku ingin isteriku memakai kalung seperti itu.Lalu aku punya ide dengan mutiara saja.Evi kan kulitnya eksotis.Jadi pasti akan lebih cantik bila dihiasi dengan benda yang asli dari alam.Mutiara.Benda yang indah yang tersembunyi dibalik cangkang yang keras.Bila dipikir,kisahkupun mirip mutiara.Andai saja berakhir sama.Mutiara terjadi dari adanya kotoran yang masuk ke dalam kerang penghasil mutiara.Bagi Evi aku juga demikian.Aku adalah orang yang tak diharapkan ada dalam hidupnya.Tuhan,andai saja aku berubah menjadi mutiara bagi Evi.Kumohon ya Tuhan ubahkanlah hatinya.Buatlah ia melihatku dengan cara pandang yang berbeda.Melihatku bukan sebagai sampah atau penganggu apalagi musuh.Setidaknya ia mau menganggapku sebagai temannya.
Syukur2 bisa jadi sahabat baik.Kalau cinta ...walau aku sangat menginginkannya namun aku sadar itu tak mungkin.Mana mungkin hatinya akan memikirkanku?Hatinya hanya untuk pria Turki yang dicintainya itu.Andai saja kau tahu makna jumlah mutiara di lehermu itu Vi...Andai saja kau tahu betapa berartinya benda itu buat aku.Angka 100 adalah jumlah mutiara di kalung yang dipakai Evi.Itu simbol bahwa aku ingin kami hidup bersama selama2nya,berabad2 kalau bisa.Satu abad sama dengan 100 tahun.
Makanya kupilih angka 100.Tiap satu butir mutiara berarti satu tahun.Tapi kini semua itu hanya tinggal mimpi.Aku menatap sendu pada Evi.Ia heran dan bertanya,"Apa yang sedang kaupikirkan?"
Aku kaget ia mau memulai pembicaraan,"Aku sedang berpikir tentang bagaimana
cara kita menemukan pria yang kau cintai itu."
Aku berkilah meski dengan hati pedih.
Evi menatapku tajam,"Untuk apa kau lakukan semua ini?"
Aku tercekat,"Maksudmu?"
Evi berdiri dan memandang ke arah jendela,"Kau seorang pengacara hebat.
Pasti sangat mudah bagimu untuk menceraikanku.Atau kau bisa mengembalikanku pada ayah ibuku.Tapi kau malah membawaku kemari.Untuk apa semua ini??!"
Aku mengerti kemarahannya namun aku tetap terluka mengetahui ia salah paham
dengan maksud baikku,"Sebaiknya kau istirahat,kau capek."
Ia malah makin kesal,"Kau pasti ingin agar semua orang melihat kau itu hebat
bukan?Kau ingin agar semua orang memujimu.Bahwa kau suami yang sangat baik.
Dan bahwa aku isteri yang sangat buruk,iya kan?"
Aku tak tahan lagi mendengarnya,aku mendekatinya,"Begitu burukkah aku di
matamu?Apakah aku memperlakukanmu dengan buruk?Aku bisa saja memaksamu
saat ini.Lihatlah cuma ada kita berdua disini.Apalagi ini di negeri orang.Siapa yang akan menolongmu?Siapa?Pria yang kaucintai?Fotonya saja kau tak punya!Alamat rumahnyapun kau tak tahu!!"
Evi kaget mendengar kata2ku.Apalagi aku terus mendekatinya hingga ia melangkah mundur terus ke arah sekat tempat tidur.Sebuah pintu sliding door.Ia tepat didepan pintu itu.
Penuh ketakutan melihatku,"Kau mau apa?!Kumohon jangan lakukan ini padaku.Kumohon!"
Aku memajukan tanganku seakan hendak memeluknya,"Kau bicara seakan kau
tahu apa itu cinta.Kau tahu cinta itu berkorban.Cinta itu memberi.Apakah kau tahu
semua itu?Cinta punya sisi yang menyedihkan.Sisi yang tak semua orang mau melakukannya.Itulah yang kutahu tentang cinta."
Evi terkesiap saat aku terkesan memeluknya padahal aku hanya ingin membuka pintu sekat itu untuknya,"Kau lelah.Kita semua lelah dan butuh istirahat.Besok kita akan mulai
mencari pria yang kau cintai itu.Tidurlah!Aku akan tidur di sofa,kau tenang saja.
Aku mengerti kau tidak mencintaiku.Tapi setidaknya jangan anggap aku sebagai musuhmu.Aku juga punya perasaan,aku juga pria,aku juga manusia.Aku ingin dihargai.Jadi kuharap kita bisa berteman.Percayalah padaku aku hanya ingin kau bahagia.Selamat malam..."
Aku membuka pintu yang menyekat tempat tidur,Evi merasa serba salah dan melihat ke arah tempat tidur.Aku mengangguk padanya,"Masuklah."
Ia memandangku penuh rasa bersalah,aku membalikkan badanku dan melangkah ke arah sofa sambil menahan kepedihan hatiku.Aku tak tahan melihat ia memakai kalung itu.Kalung tanda cinta dariku.Sementara ia tak mencintaiku.Aku merebahkan tubuhku di sofa dan mematikan lampu.Hatiku sangat lelah.Selamat tidur Evi...mutiara hidupku.
~○~○ Engkaulah sayang permatanya hatiku....Besarnya gunung tak sebesar cintaku padamu~○~○
// Kau tempat berhibur dalam kesedihan...kau tempat berteduh dalam keletihan...//Evi pov
Melihat kau marah padaku hatiku bagai disayat sembilu,rasanya seperti saat ibu menamparku.Aku ingat saat itu seminggu sudah aku tinggal di rumahmu.Kau sedang pergi entah kemana,aku tak peduli waktu itu.Aku dirumah baru saja selesai mandi,rambutku masih basah.Aku tidak berdandan dan tidak memakai kalung mutiara pemberian
suamiku.Ia memberikannya saat kami menikah.
Katanya itu lambang bahwa aku adalah isterinya,wanita yang dicintainya,wanita yang ia pilih untuk menjadi ibu bagi anak2nya nanti.Sebenarnya aku sangat menyukai perhiasan apalagi bila terbuat dari mutiara.Ayah dan ibu selalu menyebutku mutiara hati mereka.
Ya karena hanya tinggal aku anak perempuan mereka satu2nya setelah peristiwa
tragis kak Cici.Aku anak no 5.Kak Ramzi adalah kakak tertua.Ia sudah menikah dan
tinggal bersama dirumah Ayah yang besar.Aku senang main layang2 dengan keponakan2ku.Mereka lucu2.Kakak keduaku adalah kak Igun.
Ia jago sekali mendesign baju.Saking jagonya ia sampai disekolahkan ke Amerika
oleh Ayah.Kak Igun belum menikah.Ia dua kali kecewa dengan wanita.Jadi sekarang lebih hati2 sama wanita.Kakak ke-3 sudah meninggal karena bunuh diri.Kak Cici.Padahal ia cantik sekali.Aku sedih tiap mengingat dia.Apalagi ayah.Kakak ke-4 adalah Kak Irfan,sudah menikah.Anaknya banyak.Wah rame sekali kalau dirumahku.Beda dengan disini di rumah suamiku,cuma ada segelintir orang.Ibunya Irwan,Mami Idayu,begitu ia memintaku memanggilnya.Ia ramah namun penuh wibawa.Seperti Irwan.Ada ayahnya Irwan,dan ada Lesti adiknya Irwan.
Centil dan manis anaknya.Dialah yang paling ramah padaku.Lesti pula yang memberitahu kalau ibuku datang,wah aku senang sekali.Aku segera menemui ibuku.
Mami Idayu membiarkanku bicara empat mata dengan ibu.Wah dia pengertian rupanya.
Aku kangen dengan keluargaku apalagi ibu.Namun ibu justru memarahiku begitu melihatku tidak dandan dan tidak memakai kalung mutiara pemberian suamiku.Aku ingat jawabanku waktu itu,"Untuk apa aku harus dandan ibu?Aku kan sudah menikah.Lagian buat siapa aku dandan?Kalau kalung,aku menyimpannya Bu.Kalung itu sangat mahal.
Mutiara asli dari Lombok.Nanti kalau hilang bagaimana.Aku hanya akan memakainya kalau aku ingin.Lagian aku kan cuma dirumah.Ngapain pakai kalung bagus2."
Ibu langsung menamparku,aku kaget dan memegangi pipiku yang terasa panas,"Ibu?"
Ibu menatapku dengan tajam,"Ibu tidak pernah membesarkanmu untuk tidak menghargai orang lain apalagi dirimu sendiri seperti ini!Kau sudah menikah!Kau hidup dirumah suamimu!Kau harus menghargai suamimu!Kau harus menjaga nama baik suamimu!Tapi lihat!Kau bahkan tidak memakai pakaian yang bagus.Kau tidak dandan.Kau bahkan
tidak memakai kalung pemberiannya.Kau tahu apa arti kalung itu Evi??!"
Aku terdiam,ibu kembali melanjutkan,"Kalung itu berisi harapan,doa dan cinta
seorang suami pada isterinya.Lihatlah segala sesuatu bukan dari nominalnya putriku.Lihatlah ketulusan hatinya.Suamimu susah payah mendapatkan kalung itu.
Bahkan ia mengambil langsung ke Lombok sana.Kau tidak menghargai usahanya.
Ibu malu sekali dengan Jeng Idayu.Apa kata mereka melihat penampilanmu begini?
Sadar Evi!Sadar!!Kau bukan lagi gadis yang belum menikah.Kau punya suami sekarang.Kau harus menjaga dirimu demi suamimu.Mulai sekarang kau harus
memakai kalung mutiara itu!Ibu tidak akan kemari lagi kalau sampai ibu melihat kau seperti ini lagi!"
Ibu langsung pulang usai mengatakan itu,Mami Idayu sampai heran,seheran aku saat ini.Aku meraba kalung mutiara dileherku sambil memandang punggung suamiku.Hatiku tiba2 merasa sangat sedih telah menyakiti perasaannya.Benar kata ibu,aku harus belajar menghargai orang mulai sekarang.Suamiku tidak pernah memukulku.Seperti suami kak Cici.Padahal aku selalu mengabaikannya.
Suamiku selalu perhatian padaku.Ia mengurus makanku,minumku hingga tidurku.
Aku jadi ingat saat di pesawat menuju Turki,aku bangun dan mendapati diriku
bersandar di pundaknya.Ia bisa saja membangunkanku tapi ia tidak melakukannya.
Di kamar mandi aku lama memandangi diriku.Siapa aku kini?Evi yang mencintai Reza atau isteri Irwan sang pengacara?Siapa sebenarnya aku?Yang kucintai jauh dariku,yang tidak kucintai begitu memperhatikanku.
Aku ini milik siapa?Saat ini Irwanlah yang menjadi tempat aku bernaung,berteduh dan berkeluh kesah.Maafkan aku,Irwan....Tak seharusnya aku menumpahkan kekesalanku padamu.Aku hanya merasa terpojok saat ini.Padahal kau memberiku solusi,kau membantuku meraih kebahagiaanku dan menanggung semua resikonya sendiri.Benar kata ibu,"Jika kau tak menghargai apa yang kau miliki sekarang.Jangan datang pada Ibu bila
kau menyesal suatu saat nanti.Renungkan kata2 ibu!"
Sekarang saja aku sudah menyesal ibu.Aku melangkah masuk ke kamar tidur.
Kututup pintu sambil melihat dimana Irwan tidur.Pria itu sudah tidur sepertinya.
Kasihan ia harusnya dia sedang bahagia2nya saat ini.Ia juga layak dicintai.Ia pria yang sangat baik.Setidaknya itulah kesanku padanya saat ini.Dia pria yang baik dan konsisten dengan ucapannya.Aku membaringkan diri.Biasanya bayangan Reza akan melintas begitu aku memejamkan mata.Namun mengapa aku justru terbayang terus punggung Irwan ya?Ada apa denganku?
//Kau tempat berhibur dalam kesedihan...kau tempat berteduh dalam keletihan....
Begitu berartinya dirimu bagiku...//
//Manisnya madu tak semanis senyummu...Halusnya sutra tak sehalus kulitmu...
Engkaulah sayang mutiara hidupku...//Rita Sugiarto pov
Aku menahan tangis saat pulang dari rumah besanku.Untuk pertama kalinya aku menampar putri kandungku.Maafkan Ibumu ini Evi....Bukan ibu benci padamu Nak.Ibu sangat menyayangimu.Kau mutiara bagi Ibu.Kau sangat berarti bagi ibu.Mungkin saat ini kau marah pada kami,orang tuamu karena menerima lamaran Irwan tanpa meminta pendapatmu.Karena ibu tahu kau pasti akan menolaknya.Kau begitu terpesona dengan pria asing itu.Tapi Nak saat ibu melihat Irwan,Ibu tahu dialah pria yang akan membuatmu bahagia.Ayahmupun merasakan hal yang sama.
Ibu berharap suatu hari nanti kau akan memandang Irwan dengan pandangan
yang sama saat kau memandang pria Turki itu.Tatapan cinta.Bahkan ibu berdoa bukan sekedar cinta biasa yang ada karena kekaguman fisik semata namun cinta yang begitu mendalam.Melebihi dalamnya lautan.Restu ayah dan ibu akan selalu menyertai perjalanan kalian.Kiranya Tuhan melembutkan hatimu dan melihat betapa benar pilihan kami menyandingkanmu dengan Nak Irwan.
//Engkaulah sayang permatanya hatiku...Dalam lautan tak sedalam cintaku padamu..//
Akan terkabulkah doa ibunya Evi?***see you next eps***
Eps 5 ¤¤¤¤¤HARUSKAH BERAKHIR¤¤¤¤¤B1
¤¤¤¤¤ HARUSKAH BERAKHIR ¤¤¤¤¤¤¤¤¤ Eps 5 : For The Woman = Untuk Sang Wanita ¤¤¤¤¤¤¤ About Song ¤¤¤
¤¤ Sometimes I wonder how I'd ever make it through ~Terkadang aku berpikir bagaimana cara melewatinya...Through this world without having you~Melewati dunia ini tanpamu....
I just wouldn't have a clue ~ Aku hanya tidak mau memiliki petunjuk....¤¤ Reza pov
Aku sudah tiba di Perancis.Hello Paris!Udara begitu dingin.Kadang suhu di luar negeri bisa dibawah 0 derajat Celcius.Aku merapatkan jaket tebalku.Omg dinginnya...Sedingin hatiku saat ini.Aku melihat orang2 berpasangan lalu lalang di jalan.Paris memang kota cinta.Andai kau disisiku Vi.Pasti bakal romantis banget deh.Melihat menara Eiffel berdua.Menikmati hangatnya asmara.Jadi ingat masa lalu.
Saat pertama aku di rumah ayahmu.Kau kesal sekali padaku karena menyerobot kamarmu.Ayahmu memang tuan rumah yang baik,ia memberiku semua fasilitas yang terbaik.Sayang ia tak memberikan putrinya padaku.Ia memberiku kamar yang biasa ditempati Evi.Kamar terbagus di rumahnya.Kamar Evi memang the best.Mulai dari furniture,korden,tempat tidur hingga lampu semua yang terbaik.
Ngomong soal lampu aku jadi ingat saat ngerjain Evi.Habis dia jutek banget sama aku waktu itu.Aku sengaja melepas lampu di kamar Evi.Jadi saat dia hendak mengerjaiku dengan ide2 jahilnya aku sudah siap dengan serangan balik.Aku ingat dia menaruh katak di tempat tidurku,wah aku langsung histeris waktu itu.Sementara dia ketawa dengan renyahnya.Kayak mie kremes aja.Terus dia menyuruhku menyanyi di depan keluarganya saat makan malam.Akupun menyanyi waktu itu.Lagu barat begini syairnya...
// Cause sometimes it seems like this world's closing in on me ~ Karena terkadang dunia terlihat mengarah kepadaku...And there's no way of breaking free ~ Dan tidak mungkin ada kebebasan...And then I see you reach for me ~ Dan aku melihatmu meraihku...//
Aku membuat semua orang terpukau waktu itu.Apalagi Bunda Rita dan dirimu.
Aku masih suka senyum2 sendiri bila mengingat hal itu.Jalanan kota Paris dihiasi lampu2 hias yang cantik.Terkenang soal lampu di kamar Evi.Aku sengaja melepasnya biar ia tak bisa menyalakannya.Dengan ketakutan ia mencari senter namun aku tiba2 muncul dengan lilin menyala menyoroti wajahku.Ia langsung kaget dan menjerit,"Hantu!!!"
Ha..ha...Evi...Evi..rasain!Siapa suruh julit!Kena batunya kan?Aku tertawa terpingkal2 melihat dia ngacir dari kamarku...eh kamarnya dia sebelumnya he..he..Sejak saat itu kami
saling julit.Hingga kemudian keusilan itu berubah menjadi rasa cinta yang begitu dalam.Aku menghembuskan nafasku membentuk asap saking dinginnya suhu di sekitarku.Perancis.
Aku kemari sebenarnya sudah langganan tiap bulan.Aku punya banyak kenalan yang punya kafe di Paris.Disitulah aku jadi penyanyi.Kadang aku jadi dj juga.Rejeki di bidang nyanyi memang bisa datang dari mana saja.Kadang juga ke Italy.Negerinya Menara Pisa.Biasanya aku pergi dengan Mamaku,Elvi.
Hampir sama nama ibuku dengan nama wanita yang kucintai.Kali ini Mama ada
urusan di Turki,ada temannya yang punya hajat.Pemilik kafe juga.Aku memasukkan tanganku ke saku jaketku sambil menyeret koperku.Perjalanan kali ini terasa menyedihkan.Karena kau tak disisiku Vi.Kadang aku bertanya :Apakah aku bisa hidup tanpa Evi?Apakah duniaku akan penuh warna seperti saat ada Evi?
Aku terus melangkah.Menyusuri jalanan kota Paris.Kuharap Evi akan mampu melembutkan hati ayahnya.Namun,apa itu mungkin?Jangan2 dia sudah berdua sekarang.
Jangan2 dia nekad seperti mendiang kakaknya.Aku jadi resah.Seharusnya aku bertahan di Indonesia.Aku terlalu kecewa waktu itu dengan penolakan ayahnya padaku.Apa salahku lahir sebagai orang Turki?Aku bahkan tak bisa memilih siapa orang tuaku.Ini tidak adil.Not fair!Kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi Vi.Asal melihatmu bahagia maka aku juga bahagia.
//Sometimes I wanna give up,wanna give in ~ Terkadang aku ingin menyerah,aku ingin terbawa...I wanna quit the fight ~ Aku ingin keluar dari pertarungan...And then I see you baby ~ Namun aku melihatmu sayang...And everything's alright,everything's alright ~ Dan semua terasa baik2 saja,semuanya baik2 saja...//
¤¤ When I see you smile,I can face the world ~ Di saat kumelihatmu tersenyum,aku bisa menghadapi dunia...You know I can do anything ~ Kau tahu aku bisa melakukan apa saja...
When I see you smile,I see a ray of light ~ Disaat kumelihatmu tersenyum,kumelihat sinar cahaya..¤¤ Saiful Jamil pov
Melepasmu pergi ke Turki demi wanita itu membuatku bergemuruh.Darahku sempat mendidih.Bahkan aku sempat menyesal mengenal sahabatku Hamdan.Aku belum cerita ini pada isteriku,Idayu.Jika dia tahu bisa ngamuk dia.Dia lebih ngeri kalau ngamuk daripada aku.Aku sudah berjanji pada putraku untuk merahasiakan semuanya sampai ia kembali dari perjalanannya.
Ia sendiri yang akan menghadapi ibunya nanti.Memang cuma Irwan yang bisa
meluluhkan hati istriku.Aku jadi kangen dengan putraku itu,sudah sampaikah ia di
Turki?Akupun menghubunginya,"Wan,kau sudah sampai di Turki ?"
Irwan menjawab dengan suara agak serak,"Sudah ayah.Sekarang Irwan sudah di hotel.
Evi sudah tidur ayah.Maaf aku tak bisa menyambungkan ke dia."
Aku menangkap kesedihan di nada suaranya,"Kau baik Nak?"
Irwan diam sejenak,"...Baik Ayah.Irwan baik kok.Hanya sedikit kurang biasa
dengan udara Turki.Makhlum Ayah Irwan kan belum pernah ke Turki sebelumnya.
Ibu tidak tahu soal ini kan Ayah?"
Aku menghela nafas,"Ga Wan...Ibumu tahunya kamu itu bulan madu.Wan,kau yakin masih akan mencarikan kebahagiaan untuk wanita itu?"
Irwan segera menyahut,"Dia isteriku Ayah...masih isteriku.Namanya Evi Ayah."
Aku menatap langit2 ruang kerjaku,"Yeah...whatever...jika dia isterimu,harusnya ia menunggumu tidur dan bukannya tidur duluan...isteri macam apa itu?!"
Irwan menjawab,"Dia capek Ayah.Kasihan.Bagaimana kabar Lesti ayah?"
Aku tahu dia masih sangat mencintai wanita itu,"Adikmu akan masuk kuliah Wan.
Tadi Ayah menemaninya mencari kampus yang cocok.Kau sudah makan Wan?"
Irwan tertawa kecil,"Tumben ayah tanya soal makanku?Ha..ha..Ayah ga perlu cemas.
Irwan bisa jaga diri Irwan Ayah.Ingat lagu fave kita kan Yah?"
Tentu aku ingat Nak,kamipun menyanyi bersama syairnya," I see it shinning right through the rain ~ Kumelihat itu bersinar melewati hujan...When I see you smile ~ Disaat kumelihatmu tersenyum...Baby when I see you smile at me ~ Sayang,disaat kumelihatmu tersenyum padaku...//"
Aku sedikit lega mendengar Irwan tertawa dan bernyanyi walau dengan nada2 yang ga hit tone tapi itu cukup mengurangi kegelisahanku.Asal kau bahagia Nak,ayah rela nama baik ayah dipertaruhkan.Ayah akan membantumu menghadapi mamamu.Asal kau tersenyum Wan...ayah akan hadapi dunia ini.Aku menutup telpon karena aku tak sanggup lagi menahan air mataku.Aku bisa rasakan putraku sedang menangis saat ini.Aku tahu itu.Ayah akan terus dipihakmu Wan...putra ayah,kebanggaan ayah.Kita akan hadapi dunia bersama2.Stick together.
// Baby there's nothing in this world that could ever do ~Sayang tak ada hal di dunia ini yang tak bisa 'tuk dilakukan...What a touch of your hand can do ~ Dengan sentuhan darimu semuanya bisa...It's like nothing that I ever knew ~ Seperti apa yang sudah aku ketahui...//
And one look at you baby ~ Dan menatapmu....Is all I ever need,all I'll ever need...¤¤ Irwan pov Aku bersyukur punya ayah yang sangat baik.Beliau selalu mendukungku.Sebenarnya aku bisa mengerti kemarahannya saat aku meminta restunya mengenai niatku mengajak Evi ke luar negeri.Jika aku jadi ayah aku akan berlaku demikian pula.Siapa yang tahan melihat anaknya sedih?Walau aku belum tahu atau mungkin bahkan tidak akan tahu bagaimana
rasanya punya anak..namun aku bisa mengerti rasanya.Kenapa tidak akan tahu?
Aku bangun dari sofa dan menatap indahnya Turki di malam hari lewat balkon.
Aku menengadah ke langit.Tuhan,sepertinya aku takkan bisa mencintai siapapun lagi setelah ini.Sejak mengenal Evi aku telah menyerahkan hatiku padanya.
Walau itu semua tak berharga di matanya namun itulah kenyataannya.Aku sudah separuh nafas sekarang.Sebagian dari jiwaku ada bersama Evi.Jika ia bahagia akupun bahagia.Jika ia merana aku pun sengsara.Lalu bagaimana aku bisa mencintai
orang lain dengan separuh jiwaku yang tersisa?Aku hanya akan menyakitinya
karena aku tak sempurna dalam mencintai.Cintaku hanya setengah.
Vi,asal kau tersenyum bahagia akupun akan bahagia.Aku akan selalu berdoa
semoga kau selalu bahagia.Aku hanya ingin melihat senyum indahmu lagi sebelum aku kembali ke Indonesia nanti.Aku mencintaimu Vi...walau cintaku tak berbalas namun setidaknya aku sukses dalam mencintai...karena aku bisa membuatmu bahagia...bukan..memberikanmu kebahagiaan...membawamu lebih
tepatnya menemukan kebahagiaanmu.Semangat Irwan!Semangat bro!!
Aku menghela nafas sambil tersenyum,ya tersenyum...Kuharap aku juga akan mendapat senyummu nanti Vi diujung perjalanan kita ini.Senyum dari wanita yang kucintai.Senyumlah nanti untuk yang terakhir kali pada suamimu ini.Dan nanti aku takkan mengambil kembali kalung mutiara itu.Karena selamanya kau akan menjadi cinta dalam hidupku.Mutiara hidupku.Hanya senyummu yang akan menjadi kekuatanku nanti menjalani hari2ku di Indonesia.Akupun menyanyikan lirih lagu faveku...
//Sometimes I wanna give up,I wanna give in...I wanna quit the fight...Then one look at you baby ~ Lalu aku menatapmu sayang...And everything's alright...Hay,everything's alright...It's alright ~ Ini baik2 saja...WHEN I SEE YOU SMILE,I CAN FACE
THE WORLD...//
Tahukah Irwan bahwa ia akan menghadapi banyak hal nanti demi niatnya itu?
Akankah ia tetap teguh atau malah hancur sebelum berakhir?Cinta siapakah nanti yang harus berakhir?***see you next eps***
Eps 6 ### HARUSKAH BERAKHIR ###
### HARUSKAH BERAKHIR ##### Eps 6 ### Separate Us = Memisahkan Kita #
## About The Song ##
### You tell me you're in love with me/kau bilang bahwa kau mencintaiku....
Like you can't take your pretty eyes away from me/seakan kau tak bisa berhenti menatapku...(Reza pov )
Akhirnya aku sampai di hotel.Begitu check in aku langsung menghubungi temanku kalau aku sudah sampai.Tak lupa menghubungi mama juga.Aku tak mau ia cemas.Aku segera merebahkan diri di tempat tidur.Capeknya.Aku melepas syalku.Di kamar lebih hangat karena memakai pemanas ruangan.
Aku mencoba memejamkan mata namun yang terbayang langsung wajah Evi dengan
mata indahnya.Di matanya bisa kulihat cinta untukku.Tatapan cinta.Evi adalah gadis yang tak pandai berbohong.Matanya itu akan mengatakan semuanya.Matanya itu seperti telaga.Aku berharap mata itu akan selalu menatapku dengan cinta.Masihkah Evi mencintaiku setelah aku pergi meninggalkannya?
// It's not that I don't want to stay-Bukannya aku tak ingin terus di sini...
But every time you come too close I move away-Tapi tiap kali kau terlalu dekat,aku menjauh...//
Aku ingat saat terakhir sebelum bicara dengan ayahnya Evi.Aku mengajak Evi ke sebuah tempat wisata.Aku dengar dari kak Ramzi kalau tempat itu sangat indah dan ada
mitosnya.Itu yang bikin aku tertarik.Indonesia memang menarik.Di objek wisata itu ada sebuah jembatan kayu.Aku agak heran juga melihatnya,kupikir akan seperti jembatan2 di luar negeri yang terkenal begitu indah dan megah.Namun jembatan kayu itu bukan sembarang jembatan.Mitosnya begini;bila sepasang kekasih berdiri di atasnya maka akan ada dua hal yang bisa terjadi.Jika memang berjodoh maka tak lama kemudian akan naik
pelaminan.Jika tak berjodoh maka tak lama kemudian akan berpisah.
Kekuatan besar akan memisahkan keduanya.Aku ingin tahu apakah aku dan Evi
berjodoh atau tidak.Kamipun berdiri bergandeng tangan di jembatan itu.Seakan menantang semua kekuatan yang tak kelihatan dengan cinta kami.Kami baru mau turun dari jembatan itu saat kudengar suara bak petir menggelegar memanggil,"Evi!!"
Ayah Hamdan nampak penuh amarah memandang kami.Bagaimana ayahnya
Evi bisa tahu ?Jantungku berdegup kencang.Belum pernah kulihat beliau semarah itu dan sekeras itu wajahnya.Aku bahkan masih bergidik bila mengingatnya.
//I wanna believe in everything that you say-kuingin percaya pada semua yang
kau katakan...'Cause it sounds so good-karena kedengarannya indah...//
Percaya atau tidak mitos itu terjadi.Hari itu menjadi hari terakhir aku
melihat Evi.Tiba2 semua berubah.Ayah Hamdan yang biasanya ramah berubah marah.Bahkan ia mengusirku dari rumahnya.Bunda Rita yang biasanya lembut bak mamaku sendiri tiba2 menjadi keras.Matanya tajam menatapku.Ada apa?
Kenapa tiba2 seluruh dunia seperti melawanku?Inikah kekuatan mitos itu?
Seampuh itukah?Bukan aku tak mau tinggal Vi.Aku ingin selalu bersamamu.
Bahkan aku ingin menikah denganmu tapi aku tak berdaya Vi.
Orang tuamu tak memberi restunya.Apa aku harus menculikmu?Aku bukan pria serendah itu.Meskipun aku berhasil membawamu kabur bisakah aku keluar dari Indonesia hidup2?Aku punya teman yang waktu itu liburan ke Bali.Ia jatuh cinta dengan
gadis Bali namun tak mendapat restu dari orang tua si gadis.Ia nekad membawanya kabur.Kamu tahu Vi,dikapal saat mau keluar dari Bali tiba2 ia mati.
Tak tahu apa penyebabnya.Bali memang penuh mitos.Ngeri Vi.Aku tak mau seperti dia.Kalau kita memang jodoh Vi.Meski terpisahkan oleh tujuh samudera sekalipun kita kan bersatu.Kuharap kau mengerti Vi.Entah kau atau aku yang bergerak mendekat tapi yang pasti cinta itu akan menghilangkan jarak di antara kita.Kau percaya kan Vi kalau kita memang ditakdirkan berjodoh?
//But if you really want me move slow-tapi jika kau sungguh inginkanku,pelan2lah...
There's things about me you just have to know-Ada sesuatu tentang diriku yang harus kau tahu...##
### Sometimes I run/kadang aku lari...Sometimes I hide/Kadang aku sembunyi...
Sometimes I'm scared of you/kadang aku takut padamu...( Evi pov )
Aku tak bisa tidur.Aku terus terbayang punggungmu.Evi,kenapa sih mikirin dia?
Dia itu bukan siapa2.Dia bukan pria yang kaucintai.Dia itu orang asing yang telah mengacaukan kehidupanmu!Aku seperti melihat ada dua Evi di kamarku.Yang satu dengan pakaian gaun hitam dandanan gotik.Dia yang barusan ngomong.
Satunya dengan gaun putih bak malaikat.
Ia berkata,"Evi,walau dia bukan pria yang kaucintai tapi dia tetap suamimu.Kau harus menghormatinya.Bukankah engkau wanita Timur,Evi?Apalagi dia sebangsa dan setanah air denganmu,harusnya kau lebih baik lagi memperlakukannya.Dia manusia Vi,dia punya perasaan juga.Coba pikir Vi dia tidak meninggalkanmu,dia menjagamu,dia memperhatikanmu,dia tidak bahkan tidak menuntut haknya sebagai suamimu.
Apa pernah kau memperhatikannya?Apa kau yang menyiapkan pakaiannya?
Apa kau yang memperhatikan makannya?Apa kau peduli ia tidur di mana?Vi,bila kau di posisi dia,apa kau bisa seperti dia?Mengantarkan wanita yang dinikahinya kepada orang lain?Bisa Vi?"
// But all I really want is to hold you tight -Tapi yang sesungguhnya kuinginkan adalah mendekapmu erat...Treat you right,be with you day and night-Perlakukanmu dengan baik,bersamamu siang dan malam....//
Aku merasa bersalah pada Irwan.Aku membalas setiap kebaikannya dengan
keburukan.Aku harus minta maaf padanya.Dengan niat itu aku berjalan keluar dari
sekat tempat tidurku.Aku takut juga.Bagaimana jika dia malah marah?Aku berbalik lagi.
Aku melihat dia berdiri di balkon.Aku segera lari kembali ke kamar.Sembunyi dibalik pintu.Untung ia tak melihatku.Aku terengah2.Entah kenapa kadang aku takut padanya.
//Baby,all I need is time-Kasih,yang kubutuhkan adalah waktu...//
Aku menunggu hingga malam semakin larut.Mungkin sebaiknya aku kabur saja dari dia.Aku sudah di Turki.Reza pasti di sini.Dan aku juga bisa bahasa Inggris.Aku bisa bertanya pada orang soal Reza.Ya aku lari saja.Kusiapkan tasku dan mantelku.
Udara Turki begitu dingin malam ini.Aku melangkah keluar lagi.Pelan-pelan saja Vi.
Kulihat ke arah balkon kosong.Pasti ia di sofa.Dia bilang mau tidur di sofa.
Aku melangkah ke arah sofa.Benar ia tidur di sana.Tangannya ia lipat didepan dadanya.Sepertinya kedinginan.Aku melangkah pelan2 menuju pintu.
Tinggal beberapa langkah lagi.Namun tiba2 ia mengigau,"Evi...jangan pergi Vi..
.aku mencintaimu Vi..."
Aku terpaku di tempatku berdiri.Apa dia bangun?Kok dia tahu aku mau pergi?Aku diam menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.Hening.Dia malah memiringkan badannya membelakangiku.Aku tertegun.Dia begitu memikirkanku hingga terbawa ke alam bawah sadarnya.Bahkan dia bilang kalau dia mencintaiku?Aku menahan air mataku dan
mengurungkan niatku menuju pintu.Aku melangkah mendekatinya.Punggung itu.
Aku meneteskan air mata.Apa yang telah kulakukan?Aku hampir meninggalkannya.
Apa yang akan ia jawab nanti pada ayah ibuku?Bahwa aku hilang di Turki?
Apa mereka tidak akan marah besar dan menyalahkannya?Atau malah menjebloskan dia ke dalam penjara?Aku bersimpuh didekatnya.Maafkan aku...Maafkan aku Irwan...Air mataku jatuh membasahi karpet.Mantelku luruh ke lantai yang berkarpet.Dingin menyeruak menusuk kulitku.Dingin sekali.Kasihan Irwan tidur di sofa dengan udara sedingin ini.Aku meraih mantelku dan menyelimutkannya ke tubuh suamiku.Ya suamiku.
Bagaimanapun ia adalah suamiku.Aku tersenyum melihat ia nampak
nyaman dalam mantelkuku.Tidurlah.Aku tidak akan pergi kecuali kau yang menyuruhku pergi.Mulai sekarang aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik.Aku janji.
//I don't wanna be so shy-aku tak ingin begitu malu...Everytime that I'm alone
I wonder why-Tiap kali seorang diri aku bertanya mengapa...//
Aku kembali ke tempat tidurku.Disana lebih hangat.Masih ada selimut pula.
Aku merebahkan diri dengan lebih tenang.Mengapa aku jadi lebih rileks ya?
Karena aku tak lagi melihat Irwan sebagai musuh.Aku tahu ia baik.Sangat baik malah.Jika aku tak mencintai Reza mungkin sekarang aku menjadi wanita yang sangat bahagia karena memiliki suami sebaik Irwan.
Tiba2 ada sedih terselip di hatiku.Jika nanti aku sudah bertemu Reza,apa yang akan dihadapi Irwan nanti di Indonesia?Ayah dan ibuku pasti memaki2nya habis2an karena menyerahkanku pada Reza.Koneksi ayah sangat banyak.Dengan mudah ia akan menghancurkan karir Irwan sebagai pengacara.Karir yang ia bangun dengan susah payah hancur seketika.Demi apa?
Demi kebahagiaanku.Demi memenuhi janjinya kepadaku.Membuatku bahagia.Apa aku bisa menari di atas lukanya?Kenapa aku jadi memikirkan dia?Bukankah ia sudah tahu resiko dari tindakannya?Aku kembali resah.Akupun berdoa pada Tuhan,'Tuhan,berikanlah petunjuk-Mu kepadaku.Tunjukkanlah jalan mana yang harus kupilih.Kepada siapakah sebenarnya Engkau mempercayakan diriku?Apakah kepada Reza?
Ataukah kepada Irwan?Seiring berjalannya waktu,bicaralah dalam hatiku.
Aku tak tahu apa yang menantiku diujung perjalanan ini.Namun aku tahu salah satu
dari merekalah orang yang Kaupilih untuk menjadi pendamping hidupku.Salah satu dari mereka.'
// Hope that you will wait for me-Berharap kau kan sabar menungguku...
You'll see that you're the only one for me-kau kan tahu bahwa kaulah satu2nya bagiku...//
Dengan doa itu aku bisa tidur.Tidur dengan damai.Kuharap esok pagi akan jauh lebih baik.Baik bagaimana?Entahlah.Yang pasti akan menjadi lebih baik.Aku bisa merasakan itu.Tentu saja karena kini aku tak negatif thinking lagi pada Irwan.Aku percaya padanya.
Kalau ia tulus padaku.
//Just hang around and you'll see-Tunggulah dan kau akan tahu...There's nowhere I'd rather be-Tak ada tempat lain yang ingin kudiami...If you love me,trust in me-
Jika kau mencintaiku,percayalah kepadaku...The way that I trust in you-seperti aku percaya padamu...###
## Sometimes I run ( sometimes ) Sometimes I hide...Sometimes I scared of you (oh )....( Irwan pov )
Pagi harinya aku bangun dengan mendapati sehelai mantel menyelimuti tubuhku.Aku tak punya mantel seperti itu.Berarti itu milik Evi.Aku hanya memakai mantel bila ingin pergi.Jadi benar semalam ia mau pergi meninggalkanku seperti dalam mimpiku?
Semalam aku baru bisa tidur setelah larut sekali.
Aku bermimpi tentang Evi.Kami ada di tepi sebuah sungai asyik foto2.Tiba2 ada seorang pria memanggil dari atas sebuah jembatan,"Evi!!"
Aku tidak jelas melihat siapa pria itu namun Evi segera berlari meninggalkanku demi menyongsong pria itu.Hatiku hancur seketika melihat ia pergi dariku.Evi jangan pergi Vi!Aku mencintaimu Vi...kata2 itu terus kukatakan pada Evi sampai kemudian aku
hanya bisa terus mengejar Evi.Aku tak rela kehilangan dia.
Aku tak bisa memberikannya pada pria lain.Mimpi itu membuat perasaanku tidak
enak.Aku malah termenung.Perasaan takut menyelimutiku.Evi sudah bangun dan nampak cantik dengan pakaian berwarna hijau.Hijau lambang sebuah harapan.Aku menyerahkan mantel yang kupegang padanya,"Ini milikmu?"
Ia mengangguk dan mengambilnya,"Semalam dingin,aku tak tega melihatmu tidur di sofa sepertinya kau kedinginan."
Aku tersenyum padanya,"Terima kasih atas perhatianmu."
Aku melangkah ke kamar mandi.Mau mandi air hangat saja.Usai mandi dan berganti pakaian,aku lihat Evi masih memegang mantelnya.Aku memakai jasku dan menyisir rambutku,"Hari ini kita akan cari sarapan dulu baru kita akan menanyai toko2 penjual kaset atau alat musik soal pria yang kaucintai itu."
Evi diam sambil memperhatikanku.Diam karena mendengarkan atau karena
melamun aku tak tahu.Aku sudah minta kepada petugas hotel untuk memberiku
alamat seluruh toko musik dan kafe di Turki.Aku akan jelajahi Turki demi kebahagiaan Evi.Kamipun melangkah keluar,Evi meninggalkan mantelnya di sofa.Kamipun melangkah dengan pikiran masing2.Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu padaku.Tapi aku tak mau membuatnya takut lagi jadi aku diam saja.
Aku memilih sebuah restoran yang cukup ramai siapa tahu pria yang ia cari
lewat atau makan disitu.Ramai sekali.Padahal masih pagi.Aku mencari tempat duduk yang
nyaman buat Evi agak di pojokan dengan view luar yang indah.Seorang pelayan membawakan daftar menu.Aku memilih kebab saja.Pingin tahu seperti apa kebab asli Turki.Katanya lezat.Evi tampak bingung memilih.Ia ingin bertanya padaku tapi
ragu2.Apa aku memang menakutkan kali ya?Aku memandangnya ia cantik sekali
dengan warna hijau.Dipadu dengan mutiara di lehernya.Indahnya.Aku membuka pembicaraan,"Mengenai semalam,aku minta maaf sudah membuatmu takut ya...
Maafkan aku jangan diambil hati semua kata2ku semalam."
Ia memandangku dengan mata indahnya,sepertinya mata itu kurang tidur,apa
semalam ia tak bisa tidur?Ia hendak mengatakan sesuatu tapi pesanan kami datang.
// But all I really want is to hold you tight ( hold you tight )-Tapi yang sesungguhnya kuinginkan adalah mendekapmu erat ( mendekapmu erat )...Treat you right,be with you day and night ( day and night )....
Evi melihat makanannya.Sepertinya ia tidak menyukainya.Aku belum akan menyentuh makananku kalau ia belum makan,"Kenapa ?Kau tak suka?"
Ia mengangguk,"Aku tak suka mayonaise.Aku tak tahu kalau ada mayonaisenya."
Aku hendak memanggil pelayan tapi Evi memegang tanganku,"Kau mau apa?"
Aku dag dig dug dipegang dia,"Mau pesan lagi.Memang kamu mau makan itu?"
Evi menggeleng,"Aku akan makan bagian yang tidak kena mayonaise.Jangan pesan lagi.
Kita tak selalu mendapat apa yang kita mau bukan?Aku akan berusaha memakannya.Aku yang memesannya."
Kenapa aku merasa ia seperti bukan sedang bicara tentang makanannya tapi hal lain.
Aku tersenyum padanya dan mengambil piringnya menukarnya dengan kebabku,
"Makan punyaku saja.Biar punyamu aku yang makan.Perutmu harus isi karena kita
akan seharian nanti diluar.Aku tak mau kau sakit."
Ia malah memandangku dengan sendu,"Maafkan aku semalam aku tak seharusnya
berkata seperti itu padamu.Aku..."
Aku menggeleng,"Sudahlah.Tidak apa2.Kita hanya kelelahan semalam.Ayo dimakan.
Enak lho."
Evi sepertinya menyukai pilihanku,ia memakannya.Aku sebenarnya juga tak
suka mayonaise tapi aku paksa diriku menelannya.Menelan sambil mengingat
saat Evi memegang tanganku tadi.Baru tangan Wan...sudah terkesima.
// All I really want is to hold you tight...Be with you day and night...//
Didekat restoran ada toko kaset dan perlengkapan musik,kamipun ke sana
usai sarapan.Aku menanyakan soal Reza kepada pegawai toko.Namun sepertinya
ia tak tahu atau ia tak mengerti bahasa Inggris.Aku kasihan melihat Evi terus berjalan.Sebaiknya aku naik trem saja.Aku sedang melihat daftar alamat toko musik dan kaset yang diberikan petugas hotel ketika tiba2 kulihat Evi tiba2 berlari mengejar sebuah trem.Aku segera lari mengejarnya.
//Sometimes I run ( sometimes )...sometimes I hide...Sometimes I'm scared of you...//
Aku lari seperti atlet saja.Kencang sekali.Apalagi saat melihat Evi terjatuh ditengah
lintasan trem.Aku takut sekali jika ada trem yang melintas dan....Apa yang kutakutkan sepertinya akan terjadi.Sebuah trem akan melintas sedang Evi tepat di jalur lintasan.Tidak!!!Takkan kubiarkan.Aku segera memeluk Evi erat2 dan menyelamatkannya dari trem.Jika aku terlambat sedikit saja,entah jadi apa Eviku.
Kami bergulingan di jalan,Evi kudekap erat dalam pelukanku.Betapa aku takut...
sangat takut kehilanganmu Vi.Aku memeluknya begitu erat,mungkin ia mendengar degup jantungku yang berdetak kencang.Apa yang kaupikirkan Vi?Apa??Kau hampir kehilangan nyawa?Didepan mataku pula.Ia tampak kaget dalam pelukanku.Aku tak peduli.Kau boleh memarahiku nanti tapi saat ini akulah yang akan memarahimu,"Vi,apa kau gila?!
Kau mengejar apa??!Kau tahu kau membuatku jantungku berhenti!Kau tahu aku mencemaskanmu!!"
Hanya satu kata yang keluar dari mulutmu,"Reza..."
Aku menahan pedih hatiku,"Kau melihat dia?Yakin itu dia?"
Vi,rasanya aku ingin akulah yang tadi hampir terlindas trem.Aku memikirkanmu sampai gila.Tapi yang dihatimu cuma dia.Dia dan dia.Aku membawamu menepi ke tempat yang teduh,kaupun mulai bercerita.Katanya kau melihat orang yang mirip dia dari belakang.Ya ampun Vi,segitu dalamnya cintamu pada pria itu.Aku menahan hatiku yang mungkin sudah akan hancur menjadi serpihan,"Kita kembali ke hotel saja.Perasaanku tidak enak.Nanti malam kita ke kafe.Cari di kafe saja.Kau bilang dia suka menyanyi di kafe.
Ayo pulang.Kita naik trem saja."
Akupun mengajaknya menanti trem,trempun datang.Hatiku sakit mengetahui betapa dalam cinta Evi pada pria Turki itu.Aku langsung melangkah masuk,kupikir Evi pasti mengikutiku.Tapi ternyata ia tak masuk ke dalam trem,ia masih duduk di tempat tadi kami menunggu trem.Akupun turun lagi dan segera menghampiri isteriku itu.Tuhan,ia bahkan tak tahu kalau aku sudah naik trem dan turun lagi.Ia sedang melamun.Pasti melamunkan pria itu.Sebuah trem berhenti di depan kami.Kami lalu masuk ke dalamnya.
// But all I really want is to hold you tight..###
Apakah lagi yang akan mereka hadapi nanti?***see you next eps***
Eps 7 ===HARUSKAH BERAKHIR===
=== HARUSKAH BERAKHIR === Eps 7 B3=== Spectacular Gift
=== Kado Spektakuler
=== About The Song
=== Aku mungkin bukan pujangga...Aku mungkin tak selalu ada...Ini diriku apa adanya...=== Evi pov=== About The Song
Sebenarnya aku sudah hampir putus asa melihat Irwan bertanya tanpa hasil pada
semua toko kaset yang kami masuki.Memang salahku disaat Reza ada didekatku
aku ga meminta data2 mengenai dirinya secara detil.Tinggal dimana,dengan siapa,
kerja dimana,dsb.Aku mengira bahwa dia akan selalu disisiku.
Aku terbiasa dimanja kali sehingga merasa bahwa semua keinginanku pasti terpenuhi.Kini di tengah negeri asing seperti ini aku menyusuri jalan tanpa tujuan yang pasti.Aku kasihan melihat Irwan.Ia bahkan sampai memakai bahasa isyarat untuk berbicara dengan orang2 yang ia tanyai.Aku membuatnya repot.Aku benci perasaan ini.
Aku melayangkan pandanganku ke arah jalan.
Turki memang memiliki fasilitas yang bagus dalam transportasi.Ada trem,ada bus,ada taxi,ada metro yaitu kereta.Irwan menandai semua alamat yang sudah ia datangi.Saat itulah aku melihat seseorang.Lebih tepatnya punggung yang sangat mirip dengan Reza.Aku yakin itu pasti dia.Mirip sekali.Aku tak mau menyusahkan Irwan lebih lama jadi aku segera lari saja ke arah orang itu.Namun orang itu sudah naik trem.Aku mengejar tremnya bak mengejar maling saja.
Ya trem itu membawa pria yang mirip dengan kekasih hatiku.Tapi aku malah terjatuh di tengah lintasan.Aku tergeletak di tengah2 jalur tanpa menyadari bahwa nyawaku dalam bahaya.Sebuah trem siap melindasku dari arah lain.Aku baru menyadarinya saat sepasang lengan memelukku dengan erat dan menarikku ke tepi.Aku bahkan bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.Aku merasa aman dalam pelukan orang itu.Sampai aku menyadari bahwa orang itu adalah Irwan.Jas putih yang ia sukai
sampai kotor beradu dengan aspal.Ia memarahiku.Ia bilang aku gila.Kenapa ia begitu marah?Bukankah jika aku mati maka bebannya akan hilang?Ia bisa menikah lagi
dengan wanita yang akan membalas cintanya.Kenapa ia mempertaruhkan nyawa menyelamatkanku?Untuk apa?Kenapa semua orang akhir2 ini senang memarahiku? Memang aku berbuat apa?Aku memang tak banyak bicara sejak aku menikah.
Bahkan aku seperti zombie saat prosesi pernikahan.Aku hanya mengikuti ritual
dengan pandangan kosong dan tanpa senyum sedikitpun.
Wajahku yang biasanya ceria hari itu seperti es balok.Kaku dan dingin.
Tapi aku memang tak pandai berbohong.Isi hatiku jelas terpancar di wajahku.
Reza juga tahu itu.Dia hafal banget dengan kebiasaanku.Kapan aku jujur dan kapan
aku bohong.Aku melihat gurat kecewa di wajah suamiku saat aku menyebut alasan dari kesembronoanku atau lebih tepatnya kenekadanku.Aku hanya ingin segera bertemu Reza dan berhenti melibatkan orang lain dalam kisah cintaku.
Aku benci jadi beban bagi orang lain.Aku ini gadis eh..wanita yang mandiri.
Memang aku masih gadis.Reza belum pernah berbuat tak pantas padaku.Irwan saja yang notabene suamiku bahkan aku tolak saat hendak menyentuhku.Tidak!Aku hanya akan menyerahkan diriku pada pria yang benar2 kupercaya dan kuyakini akan menjaga hatiku dengan baik.Saat ini ada dua orang pria yang dekat denganku.Satu orang yang kucintai tapi entah ada di mana.
Satunya pria yang menikah denganku tanpa dasar cinta.Ia jelas ada di dekatku malah sempat memelukku dengan eratnya tadi.Ia memperlakukanku bak boneka kaca.
Lembut,hati2,dan jelas sekali begitu care.Ia akan makan kalau aku makan duluan.
Ia akan berjalan disebelahku menjagaku saat jalan licin,jalan menanjak,jalan kotor,ramai dsb.Ia mendahulukanku baru dirinya.Ia bahkan tampak lebih antusias mencari Reza daripada aku.
Sebenarnya yang mencari Reza itu aku apa dia?Aku melamun memikirkan semua itu.Hingga aku tak sadar bahwa sebuah trem sudah menanti kami.Ia menyentuh bahuku dan mengajakku naik ke trem.Di dalam trem ia terus memandangku.Ada sorot kesedihan di matanya.Aku tak suka itu.Aku ga suka ia bersedih.Aku ingat aku belum mengucapkan terima kasih padanya,"Ehm...aku ingin mengatakan sesuatu.Apa boleh?"
Irwan terkejut melihat aku bicara,"Tentu saja.Katakanlah."
Aku menunduk aku tak sanggup menatap matanya,"Terima kasih karena sudah menyelamatkanku tadi...aku pasti sudah celaka bila kau tak disana tadi."
Ia tersenyum tipis,"Tidak apa2.Siapapun akan melakukan itu padamu."
Entah kenapa melihat dia tersenyum tipis saja hatiku sudah senang.
Kami tidak mendapat tempat duduk jadi kami berdiri.Namun tiba2 trem direm mendadak,aku terlempar ke arah Irwan.Ia segera menahan tubuhku dengan
tubuhnya agar tidak terbentur.Tuhan,wajah kami begitu dekat.Aku bahkan bisa merasakan nafasnya di pipiku bahkan dileherku.Ia memelukku,benar2 menjagaku.Aku hendak menjauh darinya,namun kalungku menyangkut di kancing jasnya.Tuhan,aku malu sekali.
Sepertinya sebagian dari diriku memang menyukai berada dalam pelukannya.Ada apa denganku?Ia melepas kalung itu dari jasnya.Saat itulah aku melihat ada goresan di dahinya.Pasti luka akibat menyelamatkanku dari trem tadi.Lalu kami turun.
Kami sudah sampai di hotel.Ia menanyai bagian receptionis apa ada yang
menghubungi kami.Ia juga meminta petugas hotel mencari tahu soal Reza.
Jika ada yang mereka ketahui ia minta mereka menghubunginya.Tak lupa ia memesan makanan buat kami.Ia memang perhatian padahal aku melihat tetes darah menodai
jas putihnya.Irwan...maafkan aku.Berhentilah mempedulikanku.Aku tersiksa dengan sikapmu itu.Pedulikanlah dirimu.Lihatlah kau terluka sekarang.Bukan hanya hatimu yang sakit kini fisikmu juga terimbas.Hentikan Irwan!Hentikan!
=== Aku mungkin bukan pujangga ...Aku mungkin tak selalu ada....Ini diriku apa adanya...===
>>> Mungkin aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata...Kutak selalu kirimkan bunga untuk ungkapkan hatiku...>>> Reza pov
Aku sedang di bus saat tiba2 kertas lagu yang berisi syair untuk Evi terbang
dibawa angin.Kertas itu melayang di udara dan jatuh di jalan dilindas kendaraan yang lalu lalang.Aku segera turun dan mengambilnya.Kucel dan kotor.Namun masih bisa dibaca.
Aku memasukkan kembali ke dalam sakuku.Aku sudah kehilangan Evi.
Aku tak mau kehilangan laguku tentang dia.Jadi ingat saat kami duet nyanyi lagu bersama.Judul lagunya * Mandul *.Mesra sekali kami waktu itu.Bak sepasang suami isteri saja.Namun seiring waktu aku baru menyadari bahwa lagu itu terjadi pada hubungan kami.
Hubungan kami mandul.Tak ada restu tak ada harapan.
Walau sebesar apapun cintaku pada Evi tak mungkin bisa memisahkannya dari keluarganya.Bukankah darah lebih kental dari air?Aku ini orang asing.Aku juga bukan jutawan.Apalagi taipan.Dapat job nyanyi saja aku sudah senang sekali.Sementara Evi lahir dan besar dalam kemewahan.Rumahnya besar.Pakaiannya bagus2.Ayahnya orang ternama.Kakaknya bahkan ada yang menjadi designer kondang.Yang dua lagi presenter handal dan mahal.Aku ini memang orang manca tapi aku tak sekaya mereka.Aku melewati sebuah toko perhiasan.Ingin sekali aku memberikan 1 set perhiasan dengan motif bunga untukmu Vi.
Ya aku akan bekerja keras dan akan mengumpulkan uang untuk mas kawin kita.
Temanku memberi mas kawin emas 32 gram pada keluarga calon isterinya.Itu masih yang lainnya.Aku ingin memberimu hal yang sama Vi.Siapa tahu saja ayahmu luluh saat melihat
usahaku dan jerih payahku.Bukankah pemberian itu meredakan amarah?Aku segera menuju kafe dimana aku harus nyanyi.Aku harus semangat.Tunggu aku Vi!Kau harus jaga hatimu.Jangan sampai kau berpaling dariku.
Jangan pernah letih tuk mencintaiku Vi.Jangan....sampai Vi.Mungkin aku tak disisimu saat ini tapi aku sedang berjuang Vi demi cinta kita.Aku tak pernah berhenti mencintaimu dan memimpikanmu menjadi milikku Vi.Jadi kaupun harus sama...harus menjaga cintamu untukku.Jangan sampai goyah ya Vi...kumohon...
>>> Mungkin aku takkan pernah memberi intan permata...Mungkin aku tak selalu ada di dekatmu...>>>
÷÷÷ Kuingin kau tahu isi di hatiku...Kutak akan lelah dengan hati ini...Hingga dunia tak bermentari....÷÷÷ Irwan pov
Mendekapmu lagi bagai mimpi bagiku.Hari ini dua kali sudah aku memeluk tubuhmu.Didepan banyak orang lagi.Aku sungguh tak berniat kurang ajar.Tapi entah kenapa seakan seluruh transportasi di Turkipun tahu bahwa aku mencintaimu.Begitu mendambakanmu.Evi andai kau bisa mendengar jerit hatiku.Hati itu menangis Vi.
Hati itu bersembunyi dalam kelam.Ia berkabung.Hancur berkeping2.Dan semua kepingannya hanya ada gambar wajahmu.Hanya tertulis namamu.Vi,kumohon kau
mau menerima hatiku yang telah patah ini.Setidaknya biarkan aku menikmati
moment ini.Saat kau terdorong ke arahku,spontan aku segera memelukmu.Reflek.
Aku memeluk pinggangmu.Menyentuh lehermu dengan bibirku.Tuhan,mimpi apa aku semalam?Ini surga...harum tubuhmu menyeruak hidungku.Evi....jangan lepaskan.
Biarkan aku bahagia walau hanya sebentar saja.Evi salah tingkah dan mencoba menjauh
tapi sekali lagi bahkan kalungnyapun tak mau lepas dariku.Kami berpandangan.Ia melihat sesuatu di wajahku entah apa.
Aku lalu melepaskan kalungnya dari jasku.Jas putihku sudah kotor.Sampai di kamar aku melepasnya.Lenganku agak sakit saat melepasnya.Pasti aku membentur sesuatu tadi saat menyelamatkan Evi.Aku hendak ke kamar mandi saat kau tiba2 menahan tanganku,"Kau terluka.Duduklah biar aku melihat lukamu dan mengobatinya."
Aku tertegun.Pertama karena kau memegang tanganku.Saat pernikahan saja kau tak mau
kugandeng kenapa disaat aku hendak melepasmu ke orang lain kau malah memegang tanganku?Apa memandang ke arah kepalamu,jangan2 kau terbentur sesuatu tadi.
Aku coba mengingat kembali kejadian heroik itu.Sepertinya aku sudah
melindungimu dari benturan apapun.Jadi kalau luka dan terbentur apalagi
sampai hilang ingatan,harusnya aku.Aku malah diam membisu.Kau menarikku ke sofa.
Kau suruh aku duduk di sana.Aku malah terpukau melihatmu mengambil obat2an
dan mulai merawat luka di dahiku,"Auww!!"Kataku saat kau membersihkan lukanya ,perih.Aku baru sadar kalau aku tergores.
Dengan tangan lembutmu kau merawat lukaku.Aku memandangmu.
Apakah aku bisa melupakanmu setelah kejadian ini?Aku malah semakin mencintaimu Vi...Kau memegang kepalaku sekali lagi dan memastikan tidak ada luka lagi.Lalu kau tersenyum padaku,manis sekali.Rasanya aku ga akan keramas Vi setelah kau menyentuh rambutku dengan jemarimu.
Aku melihatmu merapikan kembali kotak P3Kmu dan kaupun hendak kembali ke tempatmu.Aku menahan tanganmu,"Terima kasih."
Aku melihatmu mengangguk dan kaupun melangkah pergi.Tentunya setelah aku melepaskan tanganmu.Aku langsung menjatuhkan tubuhku di sofa sambil tersenyum bahagia.Aku semakin yakin bahwa aku benar2 mencintaimu Vi.Hatiku ini hanya milikmu.
Mungkin aku tak pandai mengungkapkannya tapi tidakkah kau bisa merasakannya
Vi?Aku tak pedulikan harga diriku membawamu ke Turki demi kau bahagia.
Aku bahkan tak pedulikan perasaanku sendiri demi melihatmu tersenyum kembali.
Aku bahkan mempertaruhkan nyawaku demi keselamatanmu.
Aku bahkan tak tahu apa aku masih bisa tertawa nanti saat benar2 kehilangan
dirimu pada pria itu.Aku bahkan tak peduli dengan karir pengacaraku yang kubangun dengan susah payah.Aku mungkin sudah gila kali.Aku sepertinya sudah menjadi korban cinta.Aku ini tak pandai bicara bahkan banyak yang bilang aku ini pendiam.Itu pula yang kadang membuatku kalah dalam pengadilan.Seperti sekarang aku sepertinya juga kalah dalam cinta.Aku terkejut saat mendengar room service datang.Aku segera bangun dan memberi mereka tip.
Aku memberitahumu,"Ayo makan dulu."
Kamipun makan dalam diam seperti biasa.
Aku hendak memulai percakapan namun kau sudah mendahuluiku,"Malam ini kita di hotel saja.Aku lelah.Besok saja kita lanjut lagi mencarinya."
Aku terpana mendengarnya,"Baiklah."
Kau tampak lega,aneh.Tumben kau yang malah menunda pencarian.Aku bahkan melihatmu makan dengan senyuman di bibirmu.Apa kepalaku bermasalah ya?
Hari ini semua jadi aneh.
÷÷÷ Satu yang kupinta...Yakini dirimu hati ini milikmu....Semua yang kulakukan untukmu...Lebih dari semua kata cinta untukmu...÷÷÷
Wah besok ga bisa pakai jas putih dong Irwan?Pakai jas hitam saja.Ganti.He..he..
Kira2 kejadian apalagi yang akan mereka hadapi?***see you next eps***
Eps 8 ★★ HARUSKAH BERAKHIR : B4
★★★ HARUSKAH BERAKHIR○○○ Eps 8 B4★★★ Passing The Night = Melewati Malam
○○○ About The Song ...
★ Bulan sabit yang jatuh di pelataran...Bintang redup tanpa cahaya gemintang
...★ EVI POV
Mungkin aku bukan isteri yang baik bagi Irwan namun setidaknya aku bisa
berbuat hal yang baik untuknya.Dengan tekad itu aku mendekatinya sambil membawa kotak P3K.Kami sudah sampai di kamar kami.Kamar no 100.Tiap kali mau masuk kamar,kulihat Irwan selalu memandang angka kamar kami sambil tersenyum.
Aneh.Dia bisa tersenyum hanya dengan melihat angka.Pria memang aneh,pikirku.
Apalagi suamiku ini.Kulihat ia berusaha melepas jas putihnya sambil menahan nyeri
di lengannya.Apa lengannya terluka ya?Aku jadi makin merasa bersalah.Punggung itu...aku ini kenapa ya suka sekali melihat punggung pria.Namun punggung Irwan yang luruh terus terbayang di benakku.
Aku melihat ia hendak pergi kutahan tangannya sekalian ngetest apa benar dia
terluka.Ia malah tertegun kupegang tangannya.Aku tahu ia pasti heran.Di pesta pernikahan saja,aku menghindari segala macam bentuk kontak dengannya.Kontak mata,kontak tangan apalagi kontak batin.Jangankan gandengan,memandangmu saja aku tak ingin.Bagiku waktu itu,kau itu anteknya ayahku,penyebab semua kesedihanku,alasan mengapa ayah tak
merestui hubunganku dengan Reza.
Menyebut nama itu tiba2 saja perasaan bersalah hadir dalam diriku.Aku membaringkan diri mencoba untuk tidur.Namun tiap kali aku memejamkan mata,yang terbayang adalah saat aku berada di pelukan Irwan tadi.Reza,maafkan aku.Walau sebentar tapi aku terlena saat Irwan memelukku tadi.Apalagi saat di trem,aku merasa tidak sendiri lagi.Aku merasa ditemani,merasa dijagai,perasaan hangat dan aman.Aku bahkan bisa makan sambil tersenyum tadi didepan Irwan.
Jujur,aku senang ia ada bersamaku saat ini.Jika tak ada dia,mungkin aku hanya
tinggal nama saja.Aku meraba leherku seraya duduk di pembaringan.Aku tak bisa tidur.Masih segar di ingatanku,nafas hangat Irwan dileherku.Evi...kenapa denganmu?Entah...ada apa denganku?Kenapa pula aku malah memutuskan tetap di hotel saja
malam ini?Bukankah harusnya aku berjuang siang dan malam mencari Reza?
Bukankah kebanyakan kafe buka di malam hari?Aku melangkah keluar dari kamar tidurku yang bersekat,aku ingin menghirup udara segar.Aku menuju balkon dan melihat bulan sabit di langit.
Aku merasakan dinginnya udara malam Turki.Namun aku tak menghiraukannya.
Pikiranku tengah tenggelam dalam hangatnya pelukan Irwan.Aku memejamkan mata sambil mengusap lenganku membayangkan lengan Irwan yang memelukku tadi.
* Langkah tanpa arah,sesat di jalan yang terang....Aku yang terlena dibuai pelukan dosa...*
Hangatnya,pelukan itu begitu hangat.Namun kenapa tiba2 udara terasa hangat ya?
Aku membuka mata saat menyadari sehelai kain tebal diselimutkan di pundakku.
Dan yang menyelimutkannya adalah sepasang lengan yang sama yang tengah kulamunkan.Ya,lengan Irwan.
Irwan memandangku,"Kau meninggalkan mantelmu di sofa tadi pagi.Udara begitu dingin,nanti kau masuk angin."
Kembali ia memperhatikanku lebih dari dirinya,"Terima kasih.Tapi aku memang sengaja meninggalkannya untuk kau pakai.Jadi ini memang untukmu...aku juga tak ingin kau kedinginan."
Aku hendak melepas mantel yang ia pakaikan di tubuhku namun ia menggeleng,"Itu mantelmu,aku laki2 tubuhku lebih kuat darimu.Bahkan aku sering tidur di ruang kerjaku
di rumah daripada di kamar.Apalagi jika ada kasus yang sulit,aku bisa tidur dalam
posisi duduk dan dikelilingi buku2 penuh dengan pasal2 hukum pidana atau perdata.Jadi tidur di kursi sudah biasa bagiku."
Aku tersenyum mendengar ceritanya,"Bisa kubayangkan.Kau diantara buku2 pentingmu.Pasti buku yang paling tebal menjadi bantalmu.Apakah aku benar?"
Irwan tersenyum lebar,"Bagaimana kau tahu?Apa kau pernah mengalaminya?"
Akupun bercerita padanya saat aku masih kuliah,entah kenapa aku seperti bercerita
dengan teman baik saja.Kamipun tertawa bersama.Irwan tampak melipat tangannya,pasti ia kedinginan.Tiba2 hpnya bunyi.Ia meminta maaf padaku dan mengangkat hpnya.
Aku mengangguk dan melangkah ke kamarku hendak mengambil selimut buat Irwan.Aku bukan manusia batu.Aku juga tidak hidup di zaman batu sekarang.Aku punya hati juga.Aku segera mengambil selimut dan keluar lagi.Namun aku tak sengaja mendengar pembicaraan Irwan dengan orang yang menghubunginya.
○○ Ingin pulang membalut luka hatimu...Kupun tahu betapa pedih batinmu..○○ LESTI POV
Aku sebenarnya curiga dengan kepergian kakak ke luar negeri.Bukannya kakak mau mengajak kak Evi bulan madu ke Pulau Lombok?Kok jadi ke Turki?Aku makin curiga manakala memperhatikan betapa tergesa2nya mereka pergi.Saking terburu2nya sampai kak Evi ga sempat merapikan kamar pengantinnya.Aku tak mau Mami memarahinya jadi aku segera merapikan kamarnya.Namun apa yang kutemukan di sana.Sebuah kotak penuh dengan kertas.
Wah surat cinta kak Irwan ke kak Evi nih,pikirku sambil meletakkan kotak itu di
meja rias kak Evi.Namun saat aku merapikan bantal,aku menemukan satu lembar
lagi di bawah bantal.Segitunya kak Evi cinta sama kakak aku sampai suratnya diajak tidur.Penasaran,aku membacanya.Namun dahiku berkerut saat membaca kalimat pertama,"Kepada kekasihku Reza....."
Ia pergi untuk mengantar isterinya pada pria lain yang bernama Reza.Kakakku yang malang...Kak Irwan.Ternyata kak Evi tidak mencintai kakakku,ia mencintai orang lain.
Aku menangis meratapi kakakku.Hatinya pasti hancur.Kasihan kak Irwan.
Untuk pertama kalinya kakak jatuh cinta dan sekaligus patah hati.Aku tak bisa membendung air mataku.Aku tak tahan lagi dan akhirnya aku menghubungi kakak,
"Kak Irwan gpp?"
Entah kenapa sejak pagi perasaanku ga enak,namun mendengar suara kakak hatiku
tak bisa menahan kepedihannya.Aku malah menangis di telepon.
Kakak sampai heran dan malah menghiburku,"Hei kok malah nangis?Kamu kenapa?
Kakak baik kok di sini.Kan ada kak Evi sama kakak.Hey,Kok malah tambah kenceng nangisnya begitu denger nama kak Evi?Ada apa?"
Aku tahu pasti kak Irwan mencoba bersikap tegar dan seakan semua baik2 saja,"Baru juga sampai di Turki masak langsung pulang.Kakak masih harus melihat banyak tempat.Baru kali ini kakak ke Turki.Kamu mau oleh2 apa?"
Aku menggeleng sambil berurai air mata,"Aku ingin kakak pulang dengan bahagia itu saja.Itu saja oleh2nya.Lesti mau senyum kakak saja.Ga mau souvenir apapun."
Kak Irwan tertawa,"Yakin ga mau dibeliin apapun?Nanti nyesel lho."
Aku mengigit bibirku menahan tangis mendengar kakak bisa tertawa,"Yakin!Lesti ga akan nyesel.Maafin Lesti ya kak..."
malah minta maaf."
Aku makin pedih,ingin kukatakan betapa menyesalnya aku telah mendorong
kakak menyukai kak Evi.Aku segera mengakhiri pembicaraan karena aku tak sanggup lagi menahan derai air mataku,"Sudah ya kak.Baik2 di sana.Dan ingat kakak masih punya kami
di Indonesia.Ingat itu ya kak.Dah kak Irwan."
Tuhan,berikanlah kebahagiaan buat kak Irwan,aku mohon pada-Mu.Buatlah kakakku bahagia ya Tuhan.Jagailah dia dimanapun berada.Aku sangat menyayanginya.Kak Irwan,maafkan Lesti ya.Jika tahu begini Lesti ga akan mendekatkan kakak dengan kak Evi.Maafkan Lesti...
^^ Beri kesempatan atau jatuhkan hukuman...Andai maaf pun tak kau berikan..^^
indahmu....°°° EVI POV Selimut yang kubawa jatuh saking pedihnya hatiku melihat Irwan mengusap air matanya saat menerima telpon.Irwan menarik nafas panjang saat menutup hpnya.Ia memandangku yang menjatuhkan selimut yang kubawa untuknya.Ia segera membantu mengambilnya,tangan kami bersentuhan.
Tuhan,rasanya aku ingin memeluknya dan minta maaf padanya.Pasti sangat berat baginya berada disisiku dan terus memperhatikanku sementara hatiku....Bisakah aku mencintai orang lain selain Reza?Kenapa aku seakan ingin melupakan Reza?Irwan memandangku,"Kau pasti lelah,istirahat saja.Kenapa kau bawa selimut keluar?"
dendam di bening matanya.Aku justru melihat cinta yang besar tapi...aku ...aku mengapa aku Irwan?Mengapa kau menatapku seperti itu?
Aku memberikan selimut itu padamu.Kau nampak tak menduga,ya pasti kau pikir aku ini wanita berhati besi kan?Kau salah Wan.Hatiku bukan dari besi.Aku tahu rasanya sakit hati,aku tahu rasanya dicampakkan,aku tahu Wan.
Kau menerima selimut itu,"Terima kasih." Kau melangkah menuju sofa,aku mengikutimu.Kayak kena daya magnet saja.Kau memandangku dengan heran,"Kau tidak tidur?" Aku kikuk juga lalu aku melihat koran di meja,"Aku mau baca koran,dengan membaca aku pasti ngantuk.Kau tidurlah.Tidak apa2 kan aku duduk di sini sambil membaca?" Aku melihatmu tersenyum,"Tapi korannya bahasa Inggris.Apa kau ga tambah pusing nanti?"
Kau membaringkan diri sambil memandangku,aku senang karena kau memakai selimutnya.
Aku melihat kau terus tersenyum,"Kenapa?Cepat tidur malah senyum2!"
Irwan menunjuk ke arah koran yang kupegang,"Apa kau tidak pusing membacanya?"
Aku pura2 membaca dengan serius,"Ga!Memang kenapa pusing?Aku paham kok isinya."
Irwan hanya tersenyum dan akhirnya tertidur juga tapi kok sambil senyum ya?Mencurigakan.Aku membetulkan selimutnya dan memandangnya.Betapa ingin aku mencintaimu.Kau pantas dicintai,Irwan.Kau sangat baik.Pria yang sangat baik.
**Aku yang merasa sangat berdosa padamu....Masih pantaskah mendampingimu...**
☆☆ Biarlah bulan bicara sendiri...Biarlah bintang kan menjadi saksi...☆☆IRWAN POV
Aku ingin tidur tapi aku tak bisa.Biasanya aku akan lebih tenang bila melihat langit.
Aku sudah coba membaca koran siapa tahu ada berita soal pria itu.Namun aku tak mendapat berita apapun tentangnya.Kuletakkan koran di meja.Kuraih mantelnya Evi lalu melangkah menuju balkon.Udara malam Turki akan menyejukkanku pikiranku.
Jujur berat bagiku menyadari bahwa cintaku sebentar lagi kandas.Cinta yang tak pernah berlabuh.Sekarang malah harus karam.Aku terpana melihat Evi ada di sana,di balkon.Ia sedang memejamkan mata sambil memegang lengannya seperti membayangkan sesuatu.Aku rasa dia kedinginan.Aku mendekatinya dan memberikan mantel yang tadi kupakai ke tubuhnya.
Ia agak kaget juga tapi ia tidak marah.Dia cantik sekali di sinari bulan sabit.
Aku mulai akrab dengannya bahkan kami tertawa bersama.Saling cerita bahkan.
Untung Evi ga di dekatku.Ia kembali ke kamarnya.Sekuat hati aku bersikap
seolah aku baik2 saja.Aku tak mau Lesti tahu betapa hancurnya aku.Namun kenapa aku merasa adikku itu tahu sesuatu.Apa ayah cerita padanya?Ga mungkin!Ayah sudah janji padaku.Sedang keras berpikir sambil menarik nafas panjang tiba2 Evi sudah dibelakangku
tengah jongkok mengambil sesuatu.Selimut.Apa dia mau tidur diluar?
Tanpa pikir panjang aku mendekatinya mungkin ia jatuh atau kenapa pikirku.
Eh malah tangan kami sama2 saling bersentuhan di selimut itu.Aku memandangnya heran kenapa ia tak menarik tangannya.Bukannya ia selalu menghindari kontak denganku?Apalagi kontak fisik.Teringat akan malam pengantinku yang kelabu,akupun berdiri.Ia memberikan selimut itu padaku.
Aku melangkah menuju sofa.Tak mau berharap apapun.Aku lelah.Lenganku juga nyeri kalau digerakkan.Aku tak mengira ternyata Evi mengikutiku.Mungkin ia bosan ga ada yang diajak bicara.Ia malah meraih koran.Sama sepertiku biar bisa tidur lari ke bacaan.
Ternyata kami sama lagi.Namun aku tahu ia ga membaca soalnya koran yang ia pegang terbalik.Aku ingin mengatakannya langsung tapi aku tak mau ia malah malu terus menjauh dariku.Aku senang ia berada didekatku.Walau bukan untukku.Atau hanya sekedar untuk membuang rasa bosan.
Aku memandanginya sampai aku tertidur.Aku lelah sekali hari ini.Aku memaksa tubuh dan hatiku untuk membuat wanita yang sedang membaca koran terbalik tak jauh dari sofaku itu memperoleh kebahagiaannya.Jika ia bahagia maka penderitaanku akan berakhir.Selamat tidur Evi.
☆☆ Takkan kuulangi walau sampai akhir nanti...Cukup derita sampai di sini.☆☆ Cukup sampai disini juga eps 8 ya?Kasihan Irwan biar dia istirahat dulu soalnya besok masih banyak hal yang akan ia hadapi.***see you next eps***
Eps 9 <<< HARUSKAH BERAKHIR >>> B5
<<< HARUSKAH BERAKHIR >>>>>> Eps 9 <<< B5 >>>
<<< Confess With Thy Mouth === Mengaku dengan Mulutmu >>>
>>> About The Song...
>>> Look into my eyes,you will see / Lihatlah mataku,maka kau akan tahu
What you mean to me / Apa arti dirimu bagiku....REZA POV
Malam sudah larut tapi pengunjung kafe tempat aku bernyanyi masih terus berdatangan.Makin malam malah makin ramai.Paris memang kota cinta.Dimana2 kulihat pasangan2 bergandeng tangan dan bertatap mesra penuh bias cinta.Kota yang indah untuk bulan madu.Aku kembali melantunkan lagu sembari membayangkan Evi tengah duduk di salah satu meja sambil memandangku penuh cinta.Andai itu nyata.Aku akan sangat bahagia.Dimanakah kau kini Vi?Apakah kau sedang memikirkanku?Adakah kau merindukanku?
....Search your heart,search your soul/lintasi hatimu lintasi jiwamu....
Apakah kau mencariku Vi?Aku sepertinya menanyakan pertanyaan bodoh.
Evi kan wanita timur,mana mungkin ia datang mencariku?Aku ini pria paling beruntung pasti jika itu sampai terjadi.Kadang aku merasa bersalah pada Evi,aku mengenalkan cinta padanya tapi aku tak memperjuangkan cinta itu sendiri.Lelaki macam apa aku ini?
Aku menatap sendu pada pasangan yang berdansa di lantai dansa sambil mendengarkan laguku.
....And when you find me there you'll search no more/dan jika kau menemukanku di sana,kau takkan mencari lagi....
Apa yang lebih berarti bagiku selain dirimu Evi?Aku bukan pria yang terobsesi
dengan tahta atau harta.Aku hanya ingin hidup dengan musik dan cintamu.Aku kangen suaramu Vi.Suaramu yang mendayu dan merayu hatiku.Apalagi bila kau menyanyi lagu dari negeri India.Rasanya dunia ini milik kita berdua.Apakah kau akan setia menjaga cinta kita Vi?Kenapa aku meragukanmu?Sedang aku sendiri membuatmu ragu padaku.
Aku ingin menghubungimu Vi namun aku tak bisa.Tatapan ayahmu kala mengusirku masih teringat jelas di memoriku.Bagaimana ia nampak begitu murka.Itu kasih sayang seorang ayah Vi.Aku tak sanggup meruntuhkannya.Atau aku yang kurang berusaha?
....Don't tell me it's not worth tryin' for/Jangan katakan padaku bahwa tidak ada gunanya untuk mencoba....
Ibuku bilang aku terlalu pesimis kurang optimis,kurang gigih katanya.Mungkin ibu benar.Harusnya aku tidak pergi tapi terus bertahan terus berjuang hingga restu ayah Evi kudapatkan.Ya harusnya aku bermental baja bukan tempe.Tempe...itu makanan khas Indonesia yang sangat kusuka.Evi biasa memakannya maka akupun ikut2an.
Ternyata rasanya sangat gurih.Aku kecanduan.Bukan narkoba tapi kecanduan tempe.
Aku jadi kangen dengan Indonesia.Terutama dengan Evi.
Aku ingat betapa cantiknya Evi bila memakai gaun merah.Seperti bidadari saja.
Aku tahu kulit Evi tak seputih kulit wanita di negaraku tapi aku tak bisa lepas memandangnya.Ia begitu mempesona.Langkah kakinya,senyumnya,gerai rambutnya apalagi suaranya.Lalu kenapa aku disini?Kenapa aku meninggalkan Evi?Apakah ia pantas kuperlakukan seperti ini?Apakah aku pengecut?Apakah aku pecundang?Apakah aku takut menderita?Apakah aku takut dengan kemarahan orang2 disekitarku?Apa yang kutakutkan?Apa?Aku semakin galau dan resah.Apakah aku bukan laki2?
....You can't tell me it's not worth dyin' for/Jangan katakan padaku bahwa tidak ada gunanya derita >>>
<<< You know It's true / Kau tahu kebenarannya....MAS IDAYU POV
Aku tertegun saat tanpa sengaja mendengar percakapan suamiku dan putraku,Irwan.Aku tak menyangka bahwa putraku ternyata tengah patah
hati di awal pernikahannya.Irwan sayang...Mami ingin sekali memelukmu sayang.
Namun Mami tak mau menambahi beban hatimu dengan hancurnya hati Mami
mengetahui kebenaran ini.Aku menahan derai air mataku namun aku tak mampu.
Aku berlari ke kamarku.Ingin rasanya aku mengusir perempuan yang bernama Evi itu.Tega sekali ia menghancurkan hati putra kesayanganku.Apa salah Irwanku?Kurang apa dia?Namun aku tak bisa melakukannya.Wanita itu adalah cinta bagi putraku.
Dia sangat berarti bagi Irwan.Aku tak mungkin sanggup menghadapi kemarahan
putraku bila aku menyakiti orang yang ia cintai.Apa yang harus kulakukan?
^^^ Everything I do,I do it for you/Semua yang aku lakukan,aku lakukan untukmu...
Aku diam.Bukan karena aku tak peduli pada Irwan.Justru karena aku mengerti beban hatinya dan betapa besar cintanya pada isterinya.Putraku telah kudidik dengan benar.Aku bangga padanya.Ia pria sejati.Pria yang pemberani.Ia menghadapi kenyataan bahwa cintanya tak bersambut namun ia tak membiarkan keegoisan dan amarah menguasainya.
Ia meletakkan cintanya diatas semua harga diri dan luka hatinya.Ia luar biasa.
Mami bangga padamu,sayang.
^^^ Look into your heart,you will find/Lihatlah ke dalam hatimu,kau akan menemukannya...
Mami melihat cintamu yang begitu besar pada Evi.Dan Mami percaya
Evi juga akan melihat hatimu suatu saat nanti.Mami yakin sayang.Wanita itu memakai perasaannya lebih dari logikanya.Ia berjalan dengan feel bukan dengan rasio.Mami percaya,
cintamu yang dalam akan menenggelamkan Evi sehingga ia akan hanyut dan memilih berendam di dalamnya.Mami yakin dan akan terus mendoakannya.Mami takkan berdiam
diri sementara putra Mami tengah berjuang demi cintanya demi kebahagiaannya.Meski kau berusaha menyembunyikan semua ini dari Mami tapi Mami tetap ibu kamu Irwan.
Naluri seorang ibu sangat kuat.Kau tak bisa menyembunyikan apapun dari Mamimu
ini.
^^^There's nothing there to hide/Tidak ada apapun yang disembunyikan di sana >>>
<<< Take me as I am,take my life/Terimalah diriku apa adanya,terimalah hidupku...IRWAN POV
Kami ada di kereta Metro saat ini menuju Istanbul.Aku duduk di depan Evi yang
tengah membaca majalah.Ya aku membelikan dia majalah.Kasihan seharian dia nampak kikuk di dekatku.Mau mengajak bicara tapi kita bukan teman baik.Mau akrab tapi kita akan berpisah juga.Hubungan kami memang unik.Mau dibilang suami isteri tapi tidak saling mencintai.Mungkin aku mencintai Evi,sangat malah...tapi Evi?Aku menghela nafas.Ternyata begini rasanya patah hati.Namun aku takkan larut dalam kesedihanku dalam keterpurukanku.Tidak!Aku ini pria,aku tidak mengemis tapi memberi.
Aku pria jadi aku harus take dominion.Aku harus menguasai diriku dan egoku.
Aku ini kepala keluarga,bukan ekor.Aku ini penentu dan bukan pengikut.Aku takkan
biarkan emosiku menguasaiku.Aku ini laki2.Aku takkan merengek minta dikasihani.Aku akan memberi kalau perlu aku akan mengorbankan diriku.
÷÷÷ I would give it all,I would sacrifice/Aku akan nemberikan semuanya,aku akan berkorban...
Aku telah mengambil keputusan besar dengan datang ke Turki.Aku bukan menyerah kalah dengan melakukan hal ini.Justru sebaliknya,aku sedang memperjuangkan cintaku.
Kata ayah kunci segala kesuksesan adalah memberi.Jadi aku melakukannya juga dalam perkara ini.Perkara cintaku.Aku akan memberi.Ya memberi.Aku akan memberikan semuanya.Bahkan aku sudah siap berkorban.Aku mungkin akan kehilangan ya memberi memang sebuah pengorbanan.
Aku bahkan beresiko akan kehilangan wanita yang kucintai dengan begitu dalam.
Namun Evi pantas mendapatkan pengorbananku.Bukankah dia dan aku telah terikat dalam sumpah suami isteri bahwa kami satu.Bahwa kami bukan lagi dua tapi satu?Jadi bagiku kebahagiaan Evi adalah juga kebahagiaanku.Aku akan berjuang demi kebahagiaannya.
÷÷÷ Don't tell me it's not worth fightin' for/Jangan katakan padaku bahwa ini tidak pantas untuk diperjuangkan...
Aku memandang wanita eh gadis di depanku.Ia memakai kalung mutiara
tanda cintaku padanya.Andai ia tahu artinya suatu saat nanti.Ia kembali membuatku tersenyum seperti semalam.Ia memandangku dengan heran,"Boleh aku tahu kenapa kau melihatku seperti itu?"
Aku menahan tawaku dan menunjuk ke arah majalah yang ia pegang,"Kau sungguh lucu...apa memang itu kebiasaanmu?"
Kau makin bingung atau kau grogi karena berada di depanku,"Kebiasaan apa maksudmu?"
Aku kembali menunjuk majalah yang kau pegang,"Itu majalahnya terbalik."
Aku ingin tertawa terbahak2 saat itu melihat reaksimu namun aku justru terpesona
karena aku melihatmu tersipu.Pipimu merah merona.Kau cantik sekali.Tuhan,mengapa aku tak bisa berhenti mencintai wanita ini?Kenapa?Aku memandang ke arah jendela,aku tak mau kau menangkap basah diriku sedang memandangmu.Hamparan rumah2 tertata indah tak mampu menandingi indahnya senyummu.Evi betapa aku begitu mendambakanmu.
÷÷÷ I can't help it,there's nothing I want more/Ku tak bisa menerimanya,tidak ada lagi yang aku ingin...
Jika ada yang kuinginkan saat ini,itu hanyalah kau Evi.Aku menginginkan hatimu.Cintamu.Apa aku serakah ya Tuhan dengan menginginkan hal itu?Apa aku salah?Aku ini pengacara muda yang bersinar.Karirku cemerlang,setidaknya itulah kata media.
Aku juga punya orang tua yang baik dan menyayangiku.Aku juga punya adik
yang centil dan perhatian.Aku juga tidak kekurangan.Semua ada.Rumah,mobil,barang2 mewah semuanya aku punya.
Namun...aku merasa hampa tanpa cintamu Evi.Bahkan aku merasa seperti orang
termiskin di dunia karenanya.Untuk sesaat aku melamun.Anganku melayang entah kemana.Sampai kau menyentuh tanganku.Barulah aku kembali ke alam nyata.
÷÷÷ You know it's true/Kau tahu ini adalah nyata...
Aku terkesiap melihat kekhawatiran tergambar di wajah cantikmu,"Ada yang ingin kau katakan?"
Kau memandangku dengan agak takut,"Aku..ingin kau tahu bahwa aku sangat
menghargai keberadaanmu di sisiku selama ini."
Aku mencoba memahami makna ucapannya barusan,"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?"
Kau mengangguk pelan,aku tak bosan memandangmu.Sungguh.Aku memandangmu,"Aku ingin kita berteman.Maukah kau menjadi temanku?"
Aku menyodorkan tanganku,"Aku ingin memulai segalanya dari awal.Anggaplah kita belum pernah bertemu sebelumnya.Kenalkan namaku Irwan Krisdiyanto,aku seorang pengacara."
Kau memandang tanganku,indahnya matamu.Aku ingin mengecupnya.
Aku senang saat kau menjabat tanganku,"Namaku Evi Anggraeni.Dari Indonesia.
Anak seorang penyanyi.Jadi akupun juga senang menyanyi.Senang bertemu denganmu,Irwan."
Mendengar kau menyebut namaku serasa aku ini musafir yang menemukan oase
dipadang gurun.Kenapa terasa lain saat nama itu terucap dari bibirmu.
Aku akan lakukan apapun agar kau selalu menyebut namaku,Evi.Apapun.
÷÷÷ Everything I do,I do it for you.Oh yeah >>>
<<< There's no love,like your love / Tidak ada cinta seperti cintamu...EVI POV
Entah sudah berapa kafe dan toko musik yang kami masuki.Menjelang sore kami
naik Metro menuju Istanbul.Aku benar2 tak tahu harus berkata apa padamu.Kau dengan tak kenal lelah menanyai satu per satu orang yang kau temui mencari perihal keberadaan atau alamat rumah Reza.Aku malu dengan diriku,aku yang jatuh cinta tapi aku bahkan tak sesemangat dirimu.Aku hanya bisa mengikutimu.Aku terus menatap punggungmu.Aku merasa aman dibelakangmu.Tuhan,mengapa aku harus menyakiti pria sebaik Irwan?Dia membuka mataku tentang arti cinta.Bagi dia cinta itu memberi.Berkorban.Aku bahkan tak membalas cintanya.Aku memandang majalah yang dibelikan Irwan untukku.Aku seperti membaca tapi sebenarnya aku cuma mencari alasan untuk tak memandangmu,Irwan.Aku takut jika aku memandang wajahmu apalagi tatap matamu,aku akan jatuh cinta padamu.
Aku takut jatuh cinta padamu.
••• And no other,could give more love / Tidak ada yang lain,memberiku lebih banyak cinta....
Pria mana yang mau melakukan pengorbanan seperti yang kaulakukan saat ini.Reza bahkan tidak berusaha mencariku.Dia tak tahu betapa aku hampir saja kehilangan nyawa karena dia.Aku bahkan hampir terlindas trem demi mencarinya.Dan kini aku melihat
sisi lain dari cinta.Penderitaan.Pengorbanan.Aku melihat dengan jelas di matamu
semua itu.Bagaimana kau berusaha selalu tersenyum seakan semua akan baik2 saja nanti.Aku tidak buta Irwan.
Aku bisa melihat dengan jelas.Kau menangis di dalam hatimu namun kau mencoba tersenyum untukku.Apakah kau ingin aku menari di atas lukamu?Aku memang suka menari.Namun kali ini aku tak ingin melakukannya.Aku baru sadar betapa aku telah berpikiran sempit selama ini.Kupikir dunia itu kecil sehingga aku bisa dengan mudah menemukan Reza.Tapi entah sudah berapa alamat yang kami datangi dengan tiada hasil.Kali ini kafe di Istanbul.Mungkin hampir malam kami akan sampai.
Irwan mencoba memperbaiki suasana dengan mengajak berteman.Ia mengulurkan tangan dan memperkenalkan namanya.Irwan.Aku menyebut nama itu dengan bibirku.Rasanya seperti mengakui sesuatu yang sangat rahasia.Mengapa nama itu terasa begitu agung di lidahku?Apa aku telah mulai jatuh hati padanya?Tak mungkin.Mungkin ini hanya rasa kasihan saja.Ya mungkin aku salah mengerti hatiku sendiri.Hanya Reza ...ya hanya dia...tapi kenapa sebagian hatiku menangis untuk pria di depanku ini?Kenapa aku sangat tenang karena dia ada disini,disisiku.
••• There's nowhere,unless you're there / Tidak dimanapun,kecuali dirimu yang ada disana...Aku menyambut tanganmu.Hangat.Kau memang pria yang hangat.
Beruntungnya wanita yang mendapatkanmu.Aku dong?Aku ingin tersenyum tapi aku juga ingin menangis.Mengapa aku terjepit diantara dua pria?
••• All the time,all the way yeah / Setiap waktu setiap keadaan yeah..
Kapan semua ini berakhir?Aku tak sanggup menyakiti keduanya.Aku tahu cinta dari Reza.Tapi aku tahu arti mencintai dari Irwan.Aku seperti berada di antara dua dunia.Yang mana ya Tuhan yang harus kupilih?Berilah aku petunjuk-Mu.
••• Look into your heart ,baby / Lihatlah ke dalam hatimu,sayang >>>
<<< Oh you can't tell me it's not worth trying for.I can't help it ,there 's nothing I want more.
Yeah I would fight for you / Yeah aku akan berjuang untukmu....IRWAN POV
Akhirnya kami sampai di kafe.Aku lihat suasananya ramai sekali.Meriah.Wah sepertinya ada pesta.Pemilik kafe menyambut kami dengan ramah.Rupanya ia fasih berbahasa Inggris.Akupun menanyakan soal Reza padanya.Tak disangka dia memberi harapan besar bagi pencarian kami.Ia mengenal Reza.Katanya Reza sering bernyanyi di kafenya.
Ia bahkan memberi kami alamat rumah Reza.Aku segera mencatatnya dan
memberitahu Evi,"Akhirnya kau akan segera menemukan pria yang kaucintai.
Aku ikut bahagia untukmu."
Aku melihat kau seperti terkejut mendengar perkataanku,pasti kau sangat gembira karena
akan segera bertemu kekasih hatimu.Aku menahan kepedihanku dan menanyakan
pada pemilik kafe bagaimana cara kami bisa ke alamat tersebut.Ia memberitahu semuanya.Katanya sangat berbahaya bila ke sana di malam hari.Jadi sebaiknya besok saja.Aku segera memberitahu dirimu,"Sepertinya kau harus bersabar karena dia menyarankan untuk pergi ke sana esok hari saja.Lagipula hari sudah malam dan kita sudah pergi seharian.Aku tak mau kau sakit."
Kau hanya mengangguk tanpa bantahan dan anehnya tak kulihat senyum bahagia
seperti seharusnya.Bukankah ini kabar baik?
÷÷÷ Walk the wire for you,Yeah I'd die for you / Aku akan meniti garisnya untukmu,yeah aku akan mati untukmu....
Pemilik kafe meminta kami tinggal lebih lama karena hari itu hari jadi pernikahannya.Ia memberi minuman gratis pada semua tamu.Bahkan ia membuka anggur untuk para tamu.Aku tentu saja tak mau membuatnya kecewa karena ia telah banyak memberi bantuan.Akupun meminumnya.Evi duduk di salah satu tempat.Ia terus memandangku.
Pemilik kafe menyuruhku ke lantai dansa,"I can not dance.I'm sorry".
Ia terus membujukku sambil menunjuk ke arah Evi,"She is your wife right?Ask her to dance with you!Come on!!"
Aku mendekati Evi mengulurkan tanganku,"Pemilik kafe bilang hari ini perayaan pernikahannya yang ke - 25 tahun.Jadi jika kau mau..."
Aku tak meneruskan kata2ku dan segera menarik tanganku,aku teringat
penolakanmu saat malam pertama kita.Aku juga ingat bahwa sebentar lagi kau
bukan lagi isteriku.Mungkin efek minuman yang diberikan pemilik kafe itu padaku.
÷÷÷ Everything I do,darling / Semua yang kulakukan sayang...
Aku segera membalikkan tubuhku,dengan ekspresi yang campur aduk.Antara malu,pilu dan lega jadi satu.Malu karena aku mengajak orang yang salah untuk berdansa.Pilu karena sebentar lagi kebersamaanku dengan Evi akan segera berakhir.Lega karena akhirnya Evi menemukan kebahagiaannya.Aku bersiap hendak menuju lantai dansa namun tiba2 aku mendengarmu bicara,"Tunggu!Aku mau berdansa denganmu."
Aku terperangah sungguh tak menyangka.
÷÷÷ and we'll see it through / Kita akan melihat semua ini mencapai ujungnya...
Aku melihatmu nampak tersipu di hadapanku.Pemilik kafe malah menyatukan menyatukan tangan kami dan kamipun menari.Evi memelukku dan aku dibuat terbuai dengan betapa dekatnya dia denganku.Kami mengikuti irama.
÷÷÷ Oh we'll see it through...oh yeah...Yeah!...Look into your heart.You can't tell me it ain't worth dying for...oh yeah...
Selamat Vi.Selamat berbahagia.Besok aku akan membawamu pada kekasih hatimu.Berbahagialah dengan dia.Malam itu aku sepertinya terlalu banyak minum.
Aku hanya ingat bahwa aku terus berbicara kepada Evi tentang isi hatiku.Bahwa aku sangat gembira dengan perjalanan ini.Bahwa aku mendoakan yang terbaik untuknya.
Bahwa malam itu aku sangat senang.Bahkan aku bermain tebak tangan dengannya.Aku mengepalkan tanganku dua2nya lalu menyuruh Evi untuk memilih,"Ayo pilih Vi.
Aku akan memberitahu apa isinya bila kau memilih.Ayo pilih kiri apa kanan?"
Evi malah gimana gitu melihatku terhuyung,"Kau mabuk Wan.Kita kembali ke hotel saja."
Pemilik kafe kasihan pada kami dan dengan mobilnya akhirnya mengantar kami
kembali ke hotel.Aku cuma ingat bahwa sepanjang jalan aku terus mencoba terjaga
dan menjaga Evi.Aku tak mau ia celaka.Aku terus berbicara tak jelas.Aku cuma ingat beberapa.Salah satunya perkataan pemilik kafe pada Evi,"Your husband is really loves you.He always talk about your happiness.You are a very lucky woman to have him as a husband."
Dia bilang aku sangat mencintai Evi.Dia bilang aku selalu bicara tentang kebahagiaan Evi.Dia juga menganggap betapa beruntungnya Evi memilikiku sebagai suaminya.Aku berterima kasih padanya saat kami sudah sampai di hotel.Evi memapahku sepanjang jalan
menuju kamar kami.Aku kembali menyuruhnya memilih diantara tanganku,"Ayo Vi,Pilihlah yang mana?Kau tak bisa memilih dua2nya.Ayo kiri apa kanan?"
Evi dengan iba akhirnya memegang tangan kiriku,"Yang kiri.Sekarang kita sudah di depan kamar.Kau bisa segera istirahat."
Aku membawa Evi ke balkon dan menunjuk sebuah jembatan yang tampak dari
sana,"Kau lihat nanti Vi,kau telah memilih yang benar.Kau memilih tanganku yang kiri artinya kau akan berbahagia dengan pria yang kaucintai.Lihat lah jembatan itu Vi!"
÷÷÷ I'll be there,yeah / aku akan ada disana yeah....
Aku menunjuk ke arah jembatan yang dihias dengan lampu2.Evi melihat ke arah yang kutunjuk,"Bila nanti kau sudah bertemu Reza,aku akan mencari sebuah jembatan dan aku akan berjalan di sana sambil berteriak memanggil namamu..Eviiii!!!Evi!!!!Selamat berbahagia Evi!!!Yeah aku akan disana dan memanggil namamu berkali-kali."
Evi memandangku,aku mendekatinya dan aku menyandarkan kepalaku di pundaknya,
"Kau tahu Vi...aku sebenarnya...aku sebenarnya...sangat mencintaimu..."
Aku tak ingat apa2 lagi setelah itu.Yang aku ingat aku bersandar ditubuh Evi.Ia terpana mendengar kata2ku.Aku tidur.
÷÷÷ I'll walk the wire / Aku akan meniti garisnya...oh yeah...>>>
Sama Wan,penulisnya juga mau tidur.Selamat tidur semuanya.Pingin tahu gimana kejadian itu versi Evi?Tidur dimanakah Irwan malam itu?Di sofa atau di mana?Kepo?
***see you next eps***
Eps 10 ||| HARUSKAH BERAKHIR
||| B6
||| HARUSKAH BERAKHIR |||||| EPS 10 ||| B6 |||||| I am Left Alone |||
||| Aku Ditinggalkan Sendiri |||
||| About The Song...
||| Show me the meaning of being lonely-Tunjukkan padaku makna kesendirian...
EVI POV
Akhirnya kami tiba di kafe yang dimaksud.Aku melihat keramaian dan keceriaan di setiap sudut.Ternyata pemiliknya sedang mengadakan pesta peringatan pernikahannya yang telah berusia 25 tahun.Wah,hebat ya?Pasti ia sangat mencintai isterinya.
Bisa kulihat kebahagiaan terpancar di wajahnya saat menyambut kedatanganku dan Irwan.Aku hanya diam melihat Irwan menanyakan perihal Reza pada pria tua itu
dengan bahasa Inggris yang fasih.Irwan memang jago bahasa Inggris.
Aku kagum padanya.Akupun duduk di area meja yang agak pojok.Kulihat Irwan kembali ke mejaku dengan wajah yang tampak begitu bahagia,"Lihat Vi!Ini alamat rumah pria yang kaucintai.Kita berhasil Vi,kau akan segera bertemu dengannya.Ya,dengan dia."
Aku melihat ke arah buku kecil yang selalu kau bawa untuk mencatat hal2 penting seperti no hp atau alamat.
Namun yang menarik perhatianku bukan tulisan alamat rumah Reza namun
pantulan wajahmu di kaca meja.Senyum tulusmu dan kelegaan hatimu terpancar di sana.Seketika aku merasa ingin menangis.Kenapa aku malah merasa sedih?Bukannya aku harusnya gembira?Bukannya sebentar lagi aku akan bertemu dengan Reza?Pria yang kucari dan kucintai selama ini?Kulihat air mukamu berubah sedih namun kau berusaha tetap tersenyum.
Ingin rasanya kuraih tanganmu dan meminta maaf padamu namun kau sudah
berbalik kembali ke arah pemilik kafe.Aku hanya bisa melihat punggungmu.Dan tiba2 saja aku merasa kau akan pergi meninggalkanku sendirian.
◇◇◇So many words for the broken heart-Begitu banyak kata untuk orang yang patah
hati....
Aku terus memandangmu.Melihatmu berbicara dengan pemilik kafe.Kulihat kau cepat akrab dengannya.Aku melihatmu tertawa bersamanya bahkan aku melihatmu diajari menari olehnya.Walau kau memberitahuku bahwa baru besok aku bisa ke tempat
Reza namun hatiku sama sekali tidak kecewa.Bagiku malam ini semoga waktu berjalan lebih lambat dari biasanya sehingga aku masih bisa melihatmu,Irwan.Aku tahu kau akan segera kembali ke Indonesia usai menyerahkanku kepada Reza.Aku tak tahan membayangkan betapa besar masalah yang akan kautemui nanti begitu tiba di Indonesia.Kembali tanpa keberadaanku pasti menimbulkan tanda tanya besar bagi keluargamu.
Apalagi keluargaku yang telah mempercayakanku padamu.Entah apa yang akan dilakukan ayahku padamu.Mungkin ia akan menamparmu seperti ibu yang menamparku.Aku bergidik membayangkan pipimu merah bekas gambar tangan ayahku.
◆◆◆ It's hard to see in a crimson love-sulit melihat saat sedang terlalu cinta...
Aku terus memandangmu.Padahal dulu saat upacara pernikahan,saat kau mengucapkan 7 sumpah kepadaku,aku bahkan tak sudi memandangmu.Ya,upacara pernikahan kami memang mengadaptasi model pernikahan ala India.Irwan memang terinspirasi dari budaya India yang katanya begitu sakral.Rasanya dadaku sesak bila mengingat 7 sumpah yang diucapkan Irwan saat itu.
■■■ So hard to breathe-sangat sulit bernafas....
Mengapa kini aku mengenang kembali prosesi suci itu?Bukankah dulu aku sangat tak peduli bahkan sangat memandang ringan?Kata2 Irwan waktu itu kini seakan hidup di hadapanku.Semua seperti melihat film yang diputar ulang.
□□□ Walk with me and maybe-Berjalanlah bersamaku dan mungkin saja....
"Apakah kau Irwan Krisdiyanto menerima sumpah bahwa kau akan membahagiakan isterimu selama kau hidup di dunia ini?"
Irwanpun menjawab,"Aku menerimanya."
Aku berkaca2 melihatmu menari bersama pemilik kafe.Irwan,kau menari diatas luka hatimu.Mengapa kau bisa begitu bahagia dengan kebahagiaanku?
●●●Nights of light so soon become-Malam2 penuh cahaya begitu cepat menjelang...
"Apakah kau Irwan Krisdiyanto menerima sumpah bahwa kau akan bersama dan
terus mendampingi isterimu baik dalam suka maupun dalam duka?"
Irwan menjawab,"Aku menerimanya."
Tak terasa malam kian menjelang,kemeriahan pesta makin terasa.Banyak pasangan yang turun ke lantai dansa.Pemilik kafe juga membagikan minuman gratis,anggur atau wine kepada semua tamunya.Tentu saja Irwan tak tega menolaknya.
Iapun meminumnya walau tak ingin sebenarnya.Irwan memang tak biasa minum minuman beralkohol.Ayahku orang yang sangat ketat dalam memilih menantu sejak peristiwa tragis kakak Cici.Maka aku yakin Ayah juga telah menyelidiki keseharian Irwan.
○○○ Wild and free,I could feel the sun-Liar dan bebas,bisa kurasakan mentari....
"Apakah kau Irwan Krisdiyanto menerima sumpah bahwa kau akan memperhatikan
setiap kebutuhan isterimu mulai dari makan,minum,pakaian dan yang lainnya?"
Irwan menjawab,"Ya aku menerimanya."
Pemilik kafe heran melihat Irwan hanya menari sendirian sedangkan aku ada disitu.
Ia menyuruh Irwan agar mengajakku berdansa.Irwan tersenyum ragu namun ia melangkah juga ke arahku dan mengulurkan tangannya mengajakku berdansa dengannya.Tangan itu tangan yang sama yang menyelamatkanku dari trem,tangan yang sama pula dengan yang melingkarkan cincin pernikahan di jari manisku.Tangan Irwan.Aku memandangi tangannya dan malah melamun.
••• Your every wish will be done-Semua harapanmu akan terkabul...They tell me-Mereka bilang padaku....
"Apakah kau Irwan Krisdiyanto menerima sumpah bahwa kau akan bersama2 dengan isterimu memuliakan dan menyembah Tuhan?"
Irwan menjawab,"Ya aku menerimanya."
Irwan dengan sedikit kecewa menarik kembali tangannya dan segera membalikkan badannya hendak kembali ke lantai dansa.Salahku juga terlalu lama mendiamkannya sehingga ia mengira aku menolaknya.
Melihat punggungnya yang luruh spontan aku berdiri dan mengejutkannya,"Tunggu!Aku mau berdansa denganmu."
Irwan tak menduga aku akan menerima ajakannya.Ia malah terpana dan terpaku di tempatnya berdiri.
°°° Show me the meaning of being lonely-Tunjukkan padaku arti kesendirian...
Is this the feeling I need to walk with?-Apakah ini perasaan yang harus mengiringiku?...
"Apakah kau Irwan Krisdiyanto menerima sumpah bahwa kau akan setia dan hanya mencintai isterimu seorang?"
Irwan menjawab,"Ya aku menerimanya."
Pemilik kafe melihat kami hanya mematung tersenyum dan menyatukan tangan kami.Aku memandang Irwan dengan tersipu.Entah kenapa.Jantungku tiba2 berdetak tak karuan berada begitu dekat dengannya.Didalam pelukannya.Digenggam pula tanganku olehnya.Kami melangkah bersama dalam tarian Turki.
▲▲▲Tell me why I can't be there where you are-Katakan kenapa aku tidak bisa
berada bersamamu...
"Apakah kau Irwan Krisdiyanto menerima sumpah bahwa kau akan memperlakukan keluarga isterimu seperti keluargamu sendiri?"
Irwan menjawab,"Ya aku menerimanya."
Mata kami saling memandang.Ada kepedihan di sana.Namun aku juga melihat keikhlasan terpancar.Pria yang memegang tanganku saat ini telah memberikan semuanya demi kebahagiaanku.Sebentar lagi ia akan melepas tanganku dan menyerahkanku pada tangan pria lain.Mengapa hatiku merasa tak rela?
♧♧♧ There's something missing in my heart-Ada sesuatu yang hilang dalam hatiku...
"Apakah kau Irwan Krisdiyanto menerima sumpah bahwa kau akan berkomitmen untuk memenuhi semua sumpahmu kepada isterimu meski kau rugi?"
Irwan menjawab,"Ya aku menerimanya."
Aku tak sanggup menatap mata Irwan.Aku tak sanggup.Apalagi melihat dia terhuyung saat berjalan keluar dari kafe.Irwan mabuk.Namun ia terus disampingku.Pemilik kafe mendekati kami dan merasa kasihan melihat kami,iapun menawarkan mengantar kami.
Aku sungguh berterima kasih padanya.Ia sepertinya sangat menyukai Irwan.Bukan hanya dia,sepertinya akupun mulai terbiasa dengan keberadaannya disisiku.Tuhan,apakah aku telah jatuh cinta pada suamiku sendiri?
▼▼▼ Life goes on as it never ends-Hidup terus berjalan seakan takkan berakhir....
Didalam mobil yang melaju,Irwan terus saja mengatakan isi hatinya,"Kau tahu
Vi,pria yang kau cintai itu pasti orang yang baik.Karena kalau tidak demikian tak mungkin kau mencintainya.Aku benar bukan?"
Aku bahkan tak bisa memikirkan Reza saat itu,dipikiranku hanya mencemaskanmu Irwan.Aku belum pernah melihatmu seperti ini.Apapun yang kaukatakan,walau kau
tak sadar aku tahu itu ungkapan hatimu yang paling dalam.Hatimu begitu lembut ya Wan.Begitu memikirkanku melebihi dirimu sendiri.Aku malu sungguh malu
terhadapmu Wan.Aku menatapmu hampir setengah menangis,"Aku bersamamu saat ini Wan,tenanglah.Aku disini."
▪▪▪Eyes of stone observe the trends-mata batu mengamati tren..They never say,forever gaze,if only-Mereka tak pernah berkata,terus menatap,jika saja....
Irwan malah menatapku dengan mata yang sayu,"Pilihlah diantara dua tanganku ini...ayo pilihlah..."
Aku memandang tangannya yang dikepal semua seakan menyembunyikan sesuatu di dalamnya,"Wan,kau mabuk.Sebentar lagi kita akan sampai di hotel dan kau bisa istirahat."
☆☆☆ Beauty roams to an endless love-Kecantikan mengembara ke cinta yang abadi...
Akhirnya kami sampai di hotel.Pemilik kafe melambaikan tangan sebelum pergi
dengan mobilnya dan sempat berkata padaku,"Your husband is really loves you."
Aku hanya mengangguk sambil membantu Irwan yang sempoyongan.Memang benar kata pemilik kafe itu bahwa pria yang sedang kupapah saat ini sungguh2 mencintaiku dengan tulus.Dengan susah payah akhirnya kami sampai di kamar.
××× There's no control,are you with me now?-Tak ada kendali,apakah kini kau bersamaku?Your every wish will be done,they tell me...
Irwan malah menuju balkon.Aku segera mengikutinya.Ia kembali menyuruhku
memilih diantara kedua tangannya.Aku memilih yang kiri.Ya aku tak pantas memilih yang kanan.Kanan adalah lambang kebenaran dan kebaikan.Aku ini bukan isteri yang baik.
Jika aku isteri yang baik pasti suamiku takkan sempoyongan seperti ini.Irwan tersenyum melihat pilihanku.Ia pasti mengira aku akan memilih yang kanan.Bukankah aku sedang mendapat kebaikan?Pencarianku akhirnya menemukan hasil.Irwan malah tersenyum sendiri lalu menunjuk ke sebuah jembatan.
Mataku mengikuti arah tangannya,"Lihat Vi!Di sana!Ya di sebuah jembatan..aku akan memanggilmu dari sana nanti.Kau akan mendengar aku memanggil namamu:Eviiiii!
Eviiiii!"
Hatiku menangis.Air mata sudah menggenang di pelupuk mataku.
^^^ There's nowhere to run,I have no place to go-Tak ada tempat berlari,aku tak punya tempat untuk kutuju....
Air mataku jatuh menetes di pipiku saat Irwan mengatakan,"Sebenarnya aku...sebenarnya aku....sangat mencintaimu Evi...."
Untunglah Irwan langsung terkulai dipundakku,jika tidak pasti ia akan tahu bahwa aku menangis.Aku terpaku di sana.Seorang pria menyandarkan dirinya kepadaku sedang aku adalah orang yang telah menghancurkan hatinya.Tuhan,betapa kejamnya diriku ini.Bahkan setetes kesejukanpun tak kuberikan pada Irwan.Aku memeluknya,"Suamiku sayang...maafkan isterimu ini."
÷÷÷ Surrender my heart,body and soul-Kuserahkan hatiku,badanku dan jiwaku....
Kubaringkan Irwan di tempat tidurku.Ia pantas mendapat perlakuan yang baik.
Aku melepas sepatunya,melepas jasnya dan menyelimutinya dengan sayang.Aku mengusap air mataku kala memandang wajahnya yang nampak letih.Aku duduk di lantai di sebelah pembaringan sambil memandang wajah Irwan yang sudah tidur.Air mataku mengalir lagi.Aku belai rambutnya.Kuusap kepalanya sambil menahan tangis.Besok aku akan kehilangan dia.
``` How can it be you're asking me-Bagaimana mungkin kau memintaku...
To feel the things you never show?-Untuk merasakan hal yang tak pernah kau
tunjukkan?...
Malam itu kami tidur sekamar.Irwan diatas dan aku di lantai dengan kepala di ranjang.Dekat dengan kepala Irwan.Aku terus berkaca2 semalaman.Kuraih tangan Irwan dan kuusapkan ke wajahku.Kuciumi tangan itu,jari jemari itu.Aku akan merindukannya.
Sangat merindukannya.Bahkan aku tak ingin pagi segera tiba.Mengapa disaat aku telah menemukan tujuan perjalananku justru aku tak ingin meninggalkan Irwan.Mengapa aku ingin bersamanya?Mengapa?zzzz.....
||| Tell me why can't I be there where you are-Katakan padaku kenapa aku tak bisa berada bersamamu...|||
Wah povnya cuma satu.Sekarang juga sudah jam satu lebih.Maaf terbitnya telat.
Gimana puas dengan pov Evi?Akankah Irwan benar2 kehilangan Evi?
***see you next eps***
Eps 11 ♣ HARUSKAH BERAKHIR ♣ B7
♧◆♧ HARUSKAH BERAKHIR◆♧◆ Eps 11 B7
♧◆♧ She Shall Live = Dia Akan Hidup
◆◆◆ About The Song...
♧♧♧ Manakala hati menggeliat mengusik renungan....[ REZA POV ]
Entah kenapa aku pulang ke hotelku dengan resah pagi ini.Bukan masalah job sih tapi aku merasa Evi seperti begitu jauh.Seperti akan pergi jauh sekali.Apakah dia sudah menemukan penggantiku?Apakah dia sudah melupakanku?Melupakan cinta kami?
Apakah tak berarti lagi kenangan cinta kami baginya?
◇◇◇ Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta....
Aku melepas jaketku dan mantelku dan menaruhnya di kursi begitu saja.Aku bahkan langsung mengambil minuman dan menenggaknya dalam sekali teguk.Aku seperti musafir yang kehausan setelah berhari2 tersesat di padang gurun.Ya begitulah perasaanku sekarang.
Evi,apakah kau baik2 saja di manapun kau berada saat ini?Apakah kau sendirian sama sepertiku saat ini?Ataukah sudah ada dia yang lain disisimu Sayangku?Aku tiba2
merasa ingin marah.Bukan padamu Vi,tapi pada diriku sendiri.Aku yang memutuskan
pergi tapi aku juga yang menyesali.
Aku menyesal sekali dengan keputusanku ini.Mengapa aku melepas tanganmu yang
jelas sudah ada dalam genggamanku.Mengapa aku begitu bodoh?Mengapa aku menyia2kanmu?Aku mengenalkan cinta padamu.Aku ingat waktu itu hari ulang tahunmu.Kau memakai gaun merah nan anggun.Rambutmu dijalin bak Jasmine dalam Kisah Aladdin.Cantik sekali.Aku mengucapkan selamat ulang tahun padamu dan menyuruhmu meniup lilin di kue tartmu.Aku ingat kau memandangku sebelum memejamkan mata mengucap permohonanmu.Make a wish.Aku tak menyangka ternyata kau meminta sesuatu yang sangat romantis.Kau menginginkan menemukan cinta sejati di dalam hidupmu.
Di pesta itu kau menyuapkan potongan kue ke mulutku dengan wajah merona karena malu menatapku dan karena kau sedang jatuh cinta padaku.Akupun menembakmu malam itu.
◇◇◇ Suara sang malam dan siang seakan berlagu...
Kini itu semua hanyalah kenangan.Kau jauh dariku walau begitu sangat dekat di hatiku.Apa yang tengah kau jalani saat ini Vi?Kesendirian?Patah hati?Kehilangan?Kesedihan?Atau kau justru nekad seperti mendiang kakakmu Cici.Jangan sampai Vi!
Aku tak rela kau pergi dari dunia ini.Aku lebih rela kau bahagia dengan pria lain asal
kau hidup Vi.Ya asal kau hidup!Aku bisa merasakan kau merindukanku namun
jangan sampai kau keputusasaan membuatmu gelap mata Vi.Jangan sampai!
Aku akan menyalahkan diriku jika itu sampai terjadi.Jangan ya Vi...Kumohon tetaplah hidup.Aku akan berdoa semoga Tuhan mengirimkan malaikat-Nya untuk mengawalmu kemana saja kau pergi.Malaikat yang setia menjagamu siang dan malam.Seorang malaikat...Apapun wujudnya aku tak peduli.Yang penting dia menjagamu,dia bersamamu,dia menemanimu dan dia membuatmu tetap hidup.Ya tetap hidup.
◆◆◆Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku....[ EVI POV ]
Aku bangun lebih dulu pagi ini.Jelaslah dengan kondisi Irwan yang mabuk pasti ia butuh waktu lebih lama untuk tidur.Untuk memulihkan dirinya.Aku memandang wajah Irwan,ingin sekali aku membelai pipinya.Namun aku takut ia justru bangun nanti.Aku segera melangkah menuju balkon.Udara pagi yang dingin menusuk tulang.Aku melihat ke arah jembatan yang ditunjuk Irwan semalam.Seketika terbayang olehku melihat Irwan berjalan gontai di jembatan itu.Sendirian dengan jas putihnya.Lalu ia berhenti di tepi pagarnya dan berteriak memanggil namaku,"Eviiii...Eviiiii...Selamat menempuh hidup baru Eviiiii!"
Tak terasa air mata menetes di pipiku.Aku segera mengusapnya apalagi aku melihat
kau sudah bangun dan tengah berjalan ke arahku.Kau memegangi kepalamu.
Aku tersenyum padamu,"Kau sudah bangun.Kau pasti pusing.Aku akan membuatkan sesuatu untuk menghilangkan pusingmu."
Aku hendak melangkah namun kau malah menahanku,"Vi...tunggu...apa yang telah kulakukan semalam?Mengapa aku di tempat tidurmu?Apa aku menyakitimu semalam?"
Aku kembali menahan haru,sekali lagi aku lebih kaukhawatirkan daripada dirimu sendiri.Kau takut menyakitiku padahal akulah yang menyakitimu Irwan.Aku menggeleng,"Tidak.Kau tidak melakukan apapun selain berkata2 dalam mabukmu.Aku yang membaringkanmu di ranjangku karena kau sangat berat tahu...dan kamarku
lebih dekat daripada sofamu."
Aku melihat kau tersenyum lega,aku malah yang kini tak kuasa memandang senyummu.Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.Aku melihatmu bersandar dan kau seperti berusaha mengingat apa saja yang telah kau ucapkan semalam.
Kau memandangku,"Vi...apa aku berkata sesuatu yang menyakiti perasaanmu
semalam?Jika iya,aku minta maaf karena aku tak sadar semalam.Aku baru kali ini
minum."
Aku tersenyum menenangkan hatimu,"Kau tidak pernah menyakitiku Wan.Aku mengerti isi hatimu."
Irwan tampak resah,"Anggap saja apa yang kukatakan semalam hanyalah dusta.Anggap saja tak pernah kau dengar."
Aku hanya tersenyum datar tanpa menjawab.Aku tak mungkin menganggap semua perkataanmu semalam sebagai kebohongan Wan.Tak mungkin bisa karena bagiku itu
justru kebenaran.Aku ingin tersenyum bahagia bila ingat kau berkata bahwa kau sebenarnya sangat mencintaiku.Itu indah sekali Wan.Sangat indah dan takkan pernah kulupakan.Ya takkan kulupakan meski aku tak lagi di sisimu.
◇◇◇ Saat aku tak lagi disisimu...
Apakah aku akan bersama Reza setelah ini?Entahlah.Namun aku merasa seperti
akan pergi jauh.Perasaanku mengatakan begitu.Aku memandang wajah Irwan
yang nampak panik melihat jam tangannya,"Ya ampun Vi sudah jam segini.Kita harus segera pergi ke alamat yang diberikan pemilik kafe semalam.Dimana aku meletakkan buku kecilku ya?Tuhan,semoga aku tidak menjatuhkannya semalam."
Aku melangkah ke sebuah meja kecil dan mengambil buku yang kau maksud,
"Ini kan?Kau menyerahkan buku ini padaku semalam.Ini ambillah."
Kau menerima dengan leganya,kenapa Wan,kenapa hatimu sebaik itu?
Aku hanya mampu menahan perasaanku melihatmu malah sibuk melihat isi buku kecilmu,mencari rute transportasi menuju alamat rumah Reza.Aku mengajakmu sarapan,"Aku lapar Wan.Kita cari sarapan yuk."
Kau terpana,"Kau pasti sudah tak sabar ya ingin segera bertemu dia ya?Baiklah aku akan mandi dulu.Aku ga akan lama."
Kau menuju kamar mandi sambil membawa jas hitammu.Wan,kau salah aku hanya ingin kau segera minum air perasan buah limau untuk menghilangkan pusingmu itu.Aku juga ingin memperhatikan makanmu dan kesehatanmu.Itu saja.Selagi aku masih ada disisimu Wan.
◇◇◇ Kutunggu kau di keabadian...
♣♣Aku tak pernah pergi,selalu ada di hatimu....[ ELVI SUKESIH POV ]
Mendengar putra tunggalku menelpon dari Perancis dengan nada yang gundah,aku tahu bahwa ia membutuhkanku.Akupun segera bersiap mau menyusul Reza ke sana.Ya ke Perancis.Putraku memang agak lain sejak kembali dari Indonesia.Ia pasti jatuh cinta di sana.Setelah kematian ayahnya,Reza memang jadi pendiam.Namun saat ia di Indonesia aku bisa merasakan ia menemukan kebahagiaan.Ia selalu ceria setiap kali kutelpon dari Turki.Putraku sayang,pasti sangat istimewa wanita yang bisa meraih hatimu.
Mengapa tak kau kenalkan dia pada ibumu ini?Mengapa kau malah murung saat
kembali dari Indonesia?Apakah cintamu tak bersambut?Aku cuma tahu bahwa wanita yang mengisi hati putraku bernama Evi.Sebab aku pernah mendengar Reza mengigau nama itu berkali2.Seperti apa ya wanita yang bernama Evi?Karena banyak melamun aku malah menabrak seorang wanita berkulit eksotis saat menuju halte bus.Tiket pesawatku jatuh di tanah,ia pun mengambilnya sambil meminta maaf,"I am sorry."
Seorang pria muda mendekat,"Kau tak apa2 Evi?"
Cantik sekali wanita yang bernama Evi ini,pikirku.Jika Evi yang dicintai putraku secantik ini aku tak heran jika putraku jadi gundah gulana.Aku lihat pria muda
yang mendekat itu tampak sangat memperhatikan wanita yang bernama Evi itu.Sayang aku harus pergi karena bus yang kutunggu tiba.Pasangan muda yang saling mencintai,pikirku.Aku harus mengejar pesawat semoga ga delay.Perancis aku datang!Reza ibumu datang Nak!
♣♣ Kau tak pernah jauh,selalu ada di dalam hatiku♣♣
◇◇◇ Sukmaku berteriak,menegaskan ku cinta padamu....[ IRWAN POV ]
Aku bangun dengan kepala yang berat.Seperti ini ternyata rasanya mabuk.Aku heran karena aku ada di ranjang.Bukannya aku harusnya tidur di sofa?Oh my God!Apa yang telah kulakukan semalam?Mengapa aku bisa disini?Kuperiksa pakaianku,syukurlah masih lengkap.Aku segera bangun dan mencari Evi.Aku harus mengetahui apa yang terjadi semalam.Aduh...pening sekali kepalaku.Mengapa aku bisa sampai mabuk?Dasar Irwan!Kenapa malah mabuk?Kau itu harus menjaga Evi dan bukan sebaliknya.Malah menyusahkan...Aku harus minta maaf pada Evi.Harus!Kulihat Evi di balkon.Aku mendekatinya dan bertanya padanya soal semalam.Semoga aku tak melakukan hal yang tak pantas padanya.Itu doaku sembari mendengarkan penjelasannya.
◇◇◇ Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita...
Syukurlah kata Evi aku cuma ngomong ga jelas semalam.Aku masih menjaga
norma dan etika.Aku tidak melewati batasan.Aku lega.Benar2 lega.Lega?Aku jadi ingat soal buku kecilku,disitu ada alamat penting.Disitu ada masa depan dan kebahagiaan Eviku.Dimana buku itu?Rupanya Evi yang menyimpannya.Aku kembali menarik nafas lega meski masih sedikit pusing juga.Aku menghafalkan alamat itu dan bagaimana cara bisa sampai ke sana.
Naik Metro lalu naik bus lalu ....sedang asyik memikirkan itu eh Evi malah mengajak sarapan.Wah tumben dia perhatian soal makan.Pasti dia sedang bahagia ya akan
segera bertemu Reza jadi dia merasa lapar.Nafsu makannya kembali.Aku jadi ingat Mami di rumah kalau aku sedang galau atau banyak pikiran suka ga mau makan.Mami pasti membujukku.Aku tersenyum melihat keceriaan Evi.
Aku juga bahagia kalau dia bahagia,bukankah itu sumpahku?Akupun melangkah ke kamar mandi.Hari ini aku mau pakai jas hitam saja.Aku sedang sedih.Ya sedih karena ini terakhir kalinya aku akan bersama Evi.Hatiku berduka.
◇◇◇ Saat aku tak lagi di sisimu.Kutunggu kau di keabadian....
Aku mandi sambil menangis dalam hati.Sebentar lagi kau akan pergi Vi.Kau akan jauh dariku.Aku tak lagi di sisimu.Posisiku akan diambil alih orang lain.Pria Turki itu.Pria yang sangat beruntung itu.Aku akan terus mencintaimu Vi.Selamanya sampai aku mati nanti.Ya sampai keabadian menjemputku.
◇◇◇ Cinta kita melukiskan sejarah.Menggelarkan cerita penuh suka cita....
Aku terkejut saat sedang memakai jasku tiba2 kau memegang pundakku dan
membantuku memakai jasku.Tumben Vi.Biasanya aku melakukan semuanya sendiri namun kali ini kau nampak begitu peduli.Apakah ini ungkapan terima kasihmu padaku?
Ataukah salam perpisahan untukku?Aku hanya bisa tersenyum,senyum yang kupaksakan sebenarnya.Akupun menyisir rambutku namun bukan wajahku yang kuperhatikan tapi dirimu.Kulihat dari cermin kau memakai baju hijau.Hijau adalah lambang harapan baru.Lambang kesejukan dan keindahan.
Aku yakin kau pasti sedang penuh semangat hari ini kan Vi?Tentu saja.Siapa yang tak bersemangat bertemu kekasih hatinya,yang selalu dirindukan siang dan malam?Namun kemudian aku melihatmu juga memakai kalung mutiara pemberianku.Bahkan kau memegangnya sekarang.Aku merasa tidak adil pada pria Turki itu jika kau masih memakai tanda cintaku.Itu pasti menyakiti perasaannya.Mungkin aku bilang saja padamu untuk melepasnya atau membuangnya atau menjualnya.Karena aku takkan meminta kembali barang yang yang sudah kuberikan.Jangan sampai hubungan kalian rusak karena aku.Tidak.Aku akan bicara pada Evi soal itu nanti.
◆◆◆ Sehingga siapapun insan Tuhan pasti tahu...cinta kita sejati....[ EVI POV ]
Aku melihatmu memakai jas dan aku segera membantumu.Sekian lama aku menjadi isterimu namun tak pernah aku memperhatikan keperluan sehari2mu.Mulai kini aku akan berubah.Mulai kini?Bukannya kau akan pergi Vi?Aku bingung dan tanpa sadar aku memegang butiran mutiara di leherku.Kenapa aku reflek memegangnya ya?Apakah karena aku ingin memastikan bahwa kalung itu masih melekat di leherku?Memastikan?
Aku memandang punggung Irwan saat ia didepan cermin.Irwan tampan sekali ya?
Apalagi dengan jas hitam,makin membuat hatiku dag dig dug.Vi...Evi...Evi Anggraeni!!Sadar Vi...kau itu mau menemui Reza...malah mikir Irwan terus.
Kayaknya lebih semangat Irwan deh daripada kamu.Aneh!Bagaimana aku bisa semangat?Aku bahkan memakai baju warna hijau hari ini agar terlihat semangat padahal sebenarnya aku merana.Aku suka melihat pepohonan kalau sedang sedih.Maksudmu kau sedang sedih Vi?Iya.Kok malah sedih?Kagak salah tuh?Aku menggeleng sendiri.
Irwan pasti heran melihat aku makan sambil geleng kepala sendiri,"Kenapa Vi
ada yang tidak kau sukai di menu kali ini?"
Aku malah jadi kaget,"Oh tidak Wan.Semua enak.Kenapa tak kau habiskan perasan limaunya?Aku pesan itu khusus untukmu."
Irwan memandangku dengan heran namun ia tak banyak tanya lagi malah
segera menghabiskan perasan limaunya sembari memejamkan mata saking
asamnya.Aku tertawa melihatnya.Irwan malah jadi makin heran,"Kau cantik kalau
tertawa Vi.Aku yakin kau akan banyak tertawa mulai dari hari ini.Teruslah tertawa seperti itu ya Vi?"
Aku malah berkaca2 mendengarnya dan sebelum air mataku menetes,aku segera
pamit ke kamar mandi,"Aku ke belakang dulu ya."
Irwan menjawab,"Silakan Vi.Aku akan disini menantimu.Aku tidak akan kemana2."
Ya Wan jangan kemana2.Tetaplah disisiku.Jerit hatiku seraya melangkah ke kamar mandi.Menahan tangis.Aku menangis di kamar mandi.
Mengapa aku malah jadi begini?Bukankah aku akan bertemu dengan
cinta sejatiku?Cinta sejati?Seketika aku teringat pesta ulang tahunku,saat aku
meminta pada Tuhan untuk menyatukanku dengan cinta sejatiku.Aku melihat Reza saat itu.Namun kini aku melihat mutiara di leherku.Tanda cinta dari suamiku,Irwan.
Yang manakah cinta sejatiku?
◆◆◆ Saat aku tak lagi disisimu...Kutunggu kau di keabadian....
Tuhan mengapa aku harus ada di antara mereka?Dua2nya sangat berarti bagiku.
Reza adalah cinta pertamaku.Namun Irwan adalah suamiku.Kenapa aku begitu bangga menyebut dia begitu sekarang?Apakah pernikahan kami sebuah kebetulan?Ataukah itu jawaban-Mu atas permohonanku saat ulang tahunku?Apakah aku salah mengira selama ini?Aku sampai jauh2 ke Turki hanya untuk menyadari hal ini?Hanya untuk Kau buka mataku soal cinta sejatiku?
Bahwa Kau sebenarnya sudah menjawab doaku?Bahwa Kau sudah menyatukanku dengannya.Bahkan dalam mahligai pernikahan.Lalu Reza?Apakah dia tidak berharga?Bukankah aku sampai mencoba bunuh diri demi dia?Hatiku ini sebenarnya milik siapa?
Mungkin sebaiknya aku mati saja sehingga aku tak perlu menyakiti keduanya.
◆◆◆ Cinta kita melukiskan sejarah.Menggelarkan cerita penuh suka cita...
Tuhan,sejarah mana yang Kau kehendaki untuk kutulis?Sejarah cintaku dengan Reza atau sejarah rumah tanggaku dengan Irwan?Reza membuatku melihat indahnya cinta tapi Irwan membuatku melihat indahnya pengorbanan.Jika aku memilih Reza maka pengorbanan Irwan tidak sia2.Namun aku juga tidak bahagia karena sebagian dari diriku dibawanya pulang ke Indonesia.Ya hatiku.Hatiku terus menangis memikirkannya.Hatiku sedih melihatnya.Hatiku ingin membahagiakannya.Aku ingin mencintainya.Cinta yang tulus.Cinta sejatiku.
◆◆◆ Sehingga siapapun insan Tuhan pasti tahu....cinta kita sejati.◆◆◆
♧♧♧ Lembah yang berwarna....Membentuk melekuk memeluk kita....[ IRWAN POV ]
Evi lama sekali di toilet.Aku jadi cemas.Jangan2 terjadi sesuatu padanya.
Aku segera melangkah menuju toilet wanita.Para wanita yang keluar heran melihatku,"I'm looking for my wife."
Saat aku hendak mengetuk pintu tiba2 Evi muncul,"Kau baik2 saja?Apa perutmu sakit?"
Evi hanya menggeleng dan malah memelukku,"Vi,kau sungguh tak apa2?"
Aku bukannya tidak senang,sangat senang malah,jarang2 Evi memelukku atas
keinginannya sendiri.Mungkin pelukan perpisahan,pikirku seraya mengusap punggungnya.Aku akan mendoakanmu Vi.Agar kau tak pernah lagi bersedih seperti
saat menikah denganku.Akhirnya aku bisa memenuhi sumpahku.
♧♧♧ Dua jiwa yang melebur jadi satu.Dalam kesunyian cinta....
Evi memelukku erat sekali.Kenapa aku merasa aneh ya?Seperti ia akan meninggalkanku selamanya.Setelah tenang Evi tetap saja menggenggam jemariku seperti takut aku pergi meninggalkannya.Padahal Vi,akulah yang sejak tadi menahan ketakutanku.
Kamipun melangkah bergandengan tangan menuju stasiun kereta Metro menuju Istanbul.Dari sana kami akan naik bus menuju alamat Reza.Evi dan aku tak banyak bicara.
Kami diam.Aku memandang Evi tak bosan2nya,ya aku akan menyimpan memori wajahnya sebanyak2nya supaya aku bisa menghadapi dunia.
◆◆◆Cinta kita melukiskan sejarah...Menggelarkan cerita penuh suka cita.... [ EVI POV ]
Usai mengusap air mataku dan merias kembali wajahku agar tak terlihat habis menangis,akupun keluar dari toilet.Namun,aku tak sangka Irwan sudah didepan pintu toilet.Ia tampak cemas.Hatiku tak mampu menahan lagi,aku memeluknya dengan erat.
Bahkan di detik2 terakhirpun,ia masih memikirkanku begitu rupa.Akankah aku tega melihatnya kembali sendirian ke Indonesia?Maafkan aku Reza....
◆◆◆Sehingga siapapun insan Tuhan...Pasti tahu....CINTA KITA SEJATI◆◆◆
Siapakah cinta sejati Evi?***see you next eps***
Eps 12 cerbung ke - 5 HARUSKAH BERAKHIR
//--HARUSKAH BERAKHIR--\\Eps 12 B 8 -- Voice In The Streets
\\-----Suara Di Jalanan-----//
//About The Song....
//This Romeo is bleeding~Romeo ini berdarah...But you can't see his blood~Tapi kau tak lihat darahnya....IRWAN POV....
Kami naik Metro menuju Istanbul.Sepanjang jalan di dalam kereta aku coba mengajak Evi bicara soal rencana dia selanjutnya namun dia malah memandangku lekat2.Kau bilang,"Aku belum berpikir sejauh itu Wan.Kenapa?Kau bosan ya menemaniku?"
Aku jadi gugup menjawabnya,"Aku bosan?Kau kali Vi yang bosen lihat wajahku.Aku ini ga gaul orangnya,mboseni kata teman2ku.Pokoknya ga asyik gitulah.Pasti pria Turki itu sangat menyenangkan ya orangnya?Siapa namanya?Reza ya?Pria yang sangat beruntung."
Hatiku berdarah mengatakan semua itu.
-- It's nothing but some feelings~Bukan apapun kecuali perasaan....That this old dog kicked up~Bahwa anjing tua ini menendang....
Evi memandangku,"Kau orang yang sangat baik.Siapapun akan merasa beruntung menjadi bagian dari dirimu."
Aku cuma tersenyum sambil menatap sayu ke arah luar.Beruntung?Siapapun?
Kecuali dirimu kan Vi.Apalah arti diriku bagimu.Hanya musafir yang berlalu.
Ya...akan segera berlalu.
||-- It's been raining since you left me~Hujan turun sejak kau tinggalkanku...
Now I'm drowning in the flood~ Sekarang aku tenggelam dalam banjir...EVI POV...
Di dalam kereta aku tak bisa berhenti menatap suamiku.
Akhir2 ini aku begitu bangga menyebut Irwan sebagai suamiku.Sejak tiba di Turki,
aku mulai mengenal Irwan lebih dekat.Menemukan Reza memang tujuan perjalanan
kami kemari.Namun bukan Reza yang kutemukan,aku menemukan seorang pria
dengan cinta yang begitu dalam padaku hingga aku merasa hanyut di dalamnya.
--You see I've always been a fighter~Kau lihat aku adalah petarung...But without you I give up~Tapi aku menyerah tanpamu...
Aku adalah gadis yang gigih dan determinan.Alias pantang menyerah
sebelum mencapai keinginanku.Aku terkenal di antara teman2ku sebagai gadis pemberani.Aku bahkan pernah menjadi ketua OSIS di SMU.Hebat kan?
Di kampuspun aku aktif dalam BEM.Badan Eksekutif Mahasiswa.Keren bukan?
Aku ini gadis tangguh.Gadis pejuang.Namun....
◆◆◆Now I can't sing a love song~Sekarang aku tak bisa bernyanyi lagu cinta...
Like the way it's meant to be~Seperti cara seharusnya...
Melihat pengorbanan Irwan untukku meluluhkan hatiku yang semula sekeras batu cadas.Bahkan aku merasa bingung dengan perasaanku sekarang.Aku akan bertemu Reza,pria yang demi dia aku bela2in bunuh diri di dekat kolam dengan mengiris nadiku.Tapi begitu mau bertemu mengapa aku malah tidak merasa gembira seperti seharusnya.Kenapa denganku ya?
◆◆◆ Well I guess I'm not the good anymore~Kukira aku tak sebagus itu lagi...
Mungkinkah aku bukan Evi yang dulu lagi?Evi yang begitu mencintai Reza?Mungkinkah cintaku pada Reza sudah luntur?Secepat itukah pudar?Lalu kemana Evi yang dulu?Yang pejuang?Yang tangguh?Yang selalu meraih semua keinginannya?Kemana?
Aku melihat Irwan melihat keluar jendela kereta dengan pandangan kosong.Tuhan,apakah seorang suami saja yang bersumpah sampai 7x demi membahagiakan mempelainya?
Bukankah aku juga bersumpah waktu itu?Walau tak sebanyak Irwan namun aku ingat 3x ibu menyentuh lenganku tanda aku harus berkata,"Ya aku menerimanya."
Tapi apa isi sumpahnya?Aku lebih ingat sumpah Irwan daripada sumpahku sendiri.
Tapi memang itulah jeleknya aku.Kewajiban orang lain kuingat2,giliran kewajibanku sendiri aku tak ingat.
◇◇◇ But baby,that just me~Tapi itulah aku...
Aku bertanya pada Irwan saja pikirku.Akupun bertanya padanya,"Bolehkah aku tanya sesuatu padamu?"
Irwan mengiyakan,"Tentu saja.Tanyakanlah."
Aku bingung juga mau berkata bagaimana,"Ehm...waktu kita menikah apakah kau ingat tentang sumpah yang kita ucapkan?Maksudku yang kuucapkan,yang bagianku...aku ingat ada 3 sumpah yang harus kuterima sedang kau ada 7,apa kau masih ingat?"
Irwan nampak tersenyum,"Untuk apa kau mengenangnya?Lagipula sumpah itu sebentar lagi tak ada artinya.Sebaiknya jangan diingat2."
Aku merasakan kepiluan dalam perkataan Irwan,"Aku hanya ingin tahu saja.Kalau kau tak mau memberitahuku ya sudah...akan kucari sendiri nanti."
Melihat aku ngambek,kau sangat panik dan aku ingin tersenyum melihat raut
mukamu yang kikuk.Kau polos sekali Wan.Akhirnya kau minta maaf dan memberitahuku isi 3 sumpah yang menjadi bagianku.Mudah sekali memancingmu Irwan.Aku julit ternyata...
♡ And I will love you,baby-Always/Dan aku kan selalu mencintaimu-selalu...
"Apakah kau Evi Anggraeni,menerima sumpah bahwa kau akan selalu
mencintai suamimu,Irwan Krisdiyanto,dan takkan ada pria lain selain dia?"
Aku menjawab,"Ya,aku menerimanya."
Aku bahkan sudah mencintai pria lain sebelum menikah.Aku bahkan tak ingat pernah bertemu Irwan sebelumnya.Atau mengenal seorang pria bernama Irwan Krisdiyanto sebelumnya.Di pikiranku waktu itu cuma Reza dan Reza.Aku menikah dengan orang asing.Walaupun dia satu bangsa dan satu tanah air namun bagiku waktu itu Irwan
adalah orang asing.Aku bahkan gagal total di sumpah pertama.
!!...And I'll be there forever and a day-Always/Dan aku kan ke sana selamanya
dan suatu hari-selalu....
"Apakah kau,Evi Anggraeni,menerima sumpah bahwa kau akan selalu ada untuk suamimu selamanya,selama kau hidup?Kau akan bersamanya menghadapi apapun
juga?"
Aku menjawab dengan pandangan kosong,"Ya aku menerimanya."
Selalu ada buat Irwan?Dimana aku saat Irwan memutuskan pergi ke Turki?
Aku di kamar hendak menulis surat buat Reza hendak minta tolong dia untuk membawaku pergi bersamanya.Dimana pikiranku saat prosesi pernikahan dilangsungkan?Di Turki.Lalu dimana aku setelah aku menemukan Reza nanti?Apakah aku nanti akan berada disamping Irwan menghadapi setiap makian ayah dan ibuku?Apakah aku bisa disebut sebagai orang yang memegang sumpah?Kembali aku gagal.Aku memandang suamiku yang terdengar parau suaranya saat mengatakan isi sumpah keduaku.Ia menahan sekuat hati perasaannya.Aku tahu...karena akupun menahan air mataku sekuat tenaga agar tidak menetes.
I'll be there till the stars don't shine~Aku kan ke sana sampai bintang tak lagi bersinar...
The words don't rhyme~Kata tidak bersajak lagi...
Justru Irwan dengan sukses memenuhi sumpahku itu.Ia tidak mengusirku dari rumah meski tahu aku mencintai orang lain.Ia tak membeberkan perbuatanku itu ke hadapan semua orang.Ia menjaga nama baikku.Ia akan menceraikanku diam2.
Setelah dia yakin aku sudah menemukan kebahagiaanku yaitu pria bernama Reza.
Kasihan Irwanku....suamiku...Ia menemaniku ke Turki,membiayai semua biaya perjalanan dan akomodasi.Hotel,makan,tiket pesawat,tiket kereta,bus semuanya.
Kenapa justru dia yang keluar biaya?Apakah ia yang berkepentingan di sini?
Aku menatapnya lagi.Ia tersenyum padaku.Wanita mana yang begitu bodoh mencampakkan pria sebaik ini?Wanita bodoh mana itu?Aku kehabisan kata2 untuk menceritakan kebaikan dan kebesaran hati Irwan.Ya kehabisan kata....
!!!...And I know when I die,you'll be on my mind/Dan aku tahu saat aku mati,kau kan kupikirkan....AndI will love you -always/Dan aku kan selalu mencintaimu-selalu...
"Apakah kau,Evi Anggraeni menerima sumpah bahwa kau akan akan setia pada
suamimu sampai akhir hayatmu?"
Ibu menyentuh lenganku dan aku menjawab,"Ya aku menerimanya."
Setia sampai mati?Aku tidak takut dengan kematian dulu saat mencintai Reza.
Tapi kini setelah mengenal Irwan,aku takut sekali dengan kematian.Karena aku ingin hidup untuk mencintai pria yang ada di hadapanku sekarang.Ya aku ingin melihat dia tertawa,melihat dia bahagia seperti ia ingin melihat aku selalu tertawa.Seperti ia begitu memperjuangkan kebahagiaanku.Meski itu harus menari di atas luka hatinya.Apakah aku salah?Setidaknya aku ingin sumpah yang ketiga ini tidak gagal seperti kedua sumpah sebelumnya.Ini doaku...
◆◆◆Now the pictures that you left behind~Sekarang gambar yang kau tinggalkan...Are just memories of a different life~Hanyalah kenangan untuk hidup lainnya...
Jika masih ada kehidupan lain,aku ingin terlahir untuk mencintainya.Untuk membuatnya bahagia.Untuk membuatnya tertawa.Untuk menyambut cintanya.Untuk menjalani prosesi pernikahan dengan sepenuh hati.Sepenuh jiwa.Jika saja masih ada kesempatan dan umur panjang buatku.Aku ingin melakukan semua itu untuk pria di hadapanku sekarang.Menjadi isteri yang baik dan perhatian baginya.Memberikan haknya di malam pertama dengan penuh cinta dan keikhlasan.Menjadi ibu bagi anak2nya.Anak2 Irwan....Berikanlah aku kesempatan kedua ya Tuhan...
%%% Some that made us laugh,some that made us cry~Beberapa membuat kita tertawa,
beberapa membuat kita menangis...IRWAN POV
Usai naik Metro,kami lanjut naik bus.Pemandangan begitu indah.Namun aku tak melihat senyuman di wajah Evi.Aku melihat kembali ke kalung yang ia pakai.Mungkin kalung itu membebani pikirannya.Aku memberanikan diri mengajaknya bicara,"Vi,jika nanti kau sudah bersama Reza sebaiknya kalung itu kau simpan saja.Jangan dipakai...."
Kata2ku belum selesai tapi kau sudah bereaksi,"Aku akan terus memakainya,kalung
ini milikku!Aku takkan melepasnya!Tidak akan!!"
Aku terkejut dengan reaksimu,"Tenang Vi!Aku tak memintanya kembali.Selamanya itu akan menjadi milikmu.Selamanya..."
¤¤¤ One that made you have to say goodbye~Satu yang membuatmu harus mengucap perpisahan...
Meski setelah kita berpisah nanti,selamanya hatiku adalah milikmu Vi.
Meski aku harus hidup sendiri.Meski aku takkan pernah tahu rasanya dicintai.
Meski rasanya berat dijalani namun hatiku tak bisa mencintai siapapun selain kau Evi.Hanya kau...
÷÷÷ What I'd give to run my fingers through your hair~Yang aku berikan
untuk menggerakkan jariku antara rambutmu...To touch your lips,to hold you near~Untuk menyentuh bibirmu,untuk memelukmu...
Aku sungguh tak menduga kau malah menangis.Aku lihat semua penumpang bus memperhatikan kita.Aku segera menenangkanmu.Meraihmu dalam pelukanku.
Membelai rambutmu dan menempelkan jariku di bibirmu,"Sst...jangan menangis.
Aku tak bermaksud membuatmu sedih.Berhentilah menangis.Aku mohon tenanglah.
Aku cuma mengatakan bahwa kalung itu milikmu.Terserah mau kau apakan nanti.
Itu milikmu selamanya."
Kau malah memegangi kalung itu sambil bersandar di dadaku dengan senyum di wajahmu.Tuhan,aku sungguh tak mengerti jalan pikiran wanita...
¥¥¥ When you say your prayers try to understand~Saat kau berkata doamu
coba pahami...I've made mistakes,I'm just a man~Aku berbuat salah,aku hanya manusia...
Aku biarkan Evi menyandarkan kepalanya di bahuku.Seakan kami ini bukan mau berpisah.Tapi lebih seperti pasangan bulan madu.Maafkan aku Reza,aku hanya ingin menghiburnya.Wanita memang terkenal dengan mood swing.Mungkin Evi juga sedang bingung atau grogi saja.Mungkin ia menganggap aku sebagai kakaknya.Karena cinta jelas tak mungkin ada untukku.Biarlah ini menjadi kenangan terakhir yang akan kukenang selamanya bahwa bahuku ini pernah menjadi sandaran Evi.Wanita yang kucintai...
■■■ When he holds you close,when he pulls you near~Saat dia memelukmu,saat dia menarikmu...When he says the words,you've been needing to hear~Saat dia mengatakan kata yang kau butuhkan...REZA POV...
Ibuku sedang dalam perjalanan ke Perancis.Aku merasa kehadirannya akan menghiburku.Entah kenapa aku merasa seperti ada sesuatu yang sangat berharga bagiku sedang direnggut dariku.Apa yang lebih berharga bagiku selain Evi?Tak ada yang lebih membuatku bahagia selain cinta Evi.Namun kenapa aku merasa ia seperti begitu jauh.Seperti berada di dunia yang berbeda denganku.Apakah Evi sudah tak mencintaiku lagi?Apakah dia sudah menemukan bahagia bersama yang lain?
□□■ I'll wish I was him 'cause those words are mine~Aku berharap akulah orangnya tapi kata itu milikku....
Apakah ada pria yang bisa mencintai Eviku sedalam cintaku padanya?
Aku merasa tak rela jika benar ada pria sebaik itu.Evi adalah milikku.Hanya aku yang bisa membuat dia bahagia.Sampai kapanpun....
---To saya to you till the end of time~Tuk kukatakan padamu sampai akhir waktu...
》Yeah,I will love you,baby-Always...And I'll be there forever and a day-Always....
If you told me to cry for you~Jika kamu memintaku menangis untukmu...I could~Aku bisa....EVI POV...
Mendengar Irwan bicara soal kalung mutiara di leherku,tiba2 saja aku merasa sangat sedih.Ia menyarankan agar aku tak memakai kalung itu lagi.Tahukah kau Wan,kau seperti berkata,"Dengan ini aku tak lagi menganggapmu sebagai isteriku."
Aku langsung protes sambil memegangi kalung itu.Ironi bukan dulu kalung itu tak
pernah kuanggap.Memakai saja ogah.Kini,bak benda keramat saja.
@@@ If you told me to die for you~Jika kau memintaku mati untukmu...I would~Aku akan...
Bahkan meski aku harus mati karena mempertahankan kalung itu akan kulakukan.
Kalung itu adalah tanda cinta suamiku padaku.Bukannya kau tak mencintainya Vi?
Kok sebegitunya menghargai benda pemberiannya?Jangan2...
Take a look at my face~Lihat wajahku....There's no price I won't pay~Tak ada harga yang tak kubayar...
Irwan menenangkanku dan meraihku dalam pelukannya.Hatiku berbunga2.
Seindah bunga2 yang bermekaran di kiri kanan jalan.Apalagi saat ia membelai rambutku.
Aku tersipu di dadanya.Detak jantungnya bisa kudengar dengan jelas.Ia juga berdebar2.Sama sepertiku.Dan yang membuatku tersenyum adalah saat ia menempelkan jarinya di bibirku membujukku agar berhenti menangis.Aku baru menyadari
kenapa aku tak relamelepas kalung di leherku ini.
☆☆☆And our old lives~Dan kehidupan lamamu...We'll find a place where the sun still shines~Kita kan temukan tempat dimana matahari masih bersinar....
☆☆☆And our old lives~Dan kehidupan lamamu...We'll find a place where the sun still shines~Kita kan temukan tempat dimana matahari masih bersinar....
Aku berjalan mengikuti Irwan.Kemanapun asalkan dia disisiku,aku akan aman.
Aku menatap matahari,aku kini akan bersinar seperti matahari.Aku akan menyinari hidup Irwan dengan cintaku.Semoga Tuhan memberiku kesempatan mengatakan semua ini.
♥To say these words to you~Untuk mengatakannya padamu...
Aku sampai pada satu kesimpulan atau hipotesa yaitu aku mencintai Irwan.Ya,aku mencintainya dengan setulus hatiku.Aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.Pada seorang pengacara bernama Irwan Krisdiyanto.Lalu Reza?
Aku sampai pada satu kesimpulan atau hipotesa yaitu aku mencintai Irwan.Ya,aku mencintainya dengan setulus hatiku.Aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.Pada seorang pengacara bernama Irwan Krisdiyanto.Lalu Reza?
××× Well there ain't no luck~Tidak ada keberuntungan...
Sepertinya aku tak beruntung menjalin hubungan dengan Reza.Bahkan alamat yang kami tuju juga tak ada siapa2.Para tetangga memberitahu kalau Reza tinggal bersama ibunya namun baru saja ibunya pergi mau ke luar negeri.Namun alamat pastinya mereka tak tahu.Aku ingat seorang ibu yang kutabrak saat di halte bus.Itu pasti ibunya Reza.Tadi aku sempat melihat tiket pesawat menuju Perancis.Irwan segera mengajakku menuju
halte bus,"Pasti dia belum jauh Vi!Takkan kubiarkan perjalanan kita gagal lagi.Kita harus ke bandara."
$$$ But baby if you give me just one more try~Tapi jika kau beri satu kesempatan lagi...We can pack up our old dreams~Kita bisa merangkul mimpi lama kita...
Aku hanya membiarkan Irwan menggandeng tanganku.Aku bahkan tak peduli lagi dengan tujuan awalku ke Turki.Aku hanya memandang terus punggung Irwan.Aku kini punya mimpi baru.Mimpiku yang baru adalah membahagiakan pria yang menggandeng tanganku saat ini.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar