CERPEN 9^^^ VONIS DOKTER VS VONIS CERAI

Cerpen ke-9 : VONIS DOKTER VS VONIS CERAI 
Tanganku bergetar kala kuraih pena kerjaku yang tergeletak di meja.Kupandang sekali lagi berkas perceraian di mejaku.Tertera di sana nama isteriku,Evy Anggraeni.Dia sudah tanda tangani semuanya.Tinggal aku yang belum teken.Terkenang saat pertama ku jatuh hati padanya.Kala itu perutku sakit sekali.Aku merintih kesakitan dibelakang setir mobilku.Kulihat seorang gadis menyeberang jalan melintas didepan mobilku yang tengah berhenti.Wow...dia cantik sekali dengan pakaian warna coklat dan rok panjang melebihi lutut.Dia membawa kertas2 gitu.Angin menerbangkan kertasnya ke kaca mobilku,segera kuambil dan tertera disitu kalau dia seorang penulis.Dia mendekatiku,"Maaf itu milik saya." Aku tersenyum dan memberikan kertas yang kupegang,"Anda seorang penulis ya?" Dia mengangguk lalu datang seorang pria mendekatinya,"Ada apa sayang?Maaf aku telat datangnya." Pria itu adalah kekasih isteriku kala itu namun kemudian mereka berpisah karena pria itu menghamili teman kerjanya.Kasihan Anggraeni...dia shock dan aku yang kemudian memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekatinya.Aku adalah pengusaha dengan bisnis yang begitu banyak.Salah satunya bisnis percetakan buku.Jadi kupakai bisnis itu untuk mendekatinya.Aku juga mendekati orang tuanya.Kubantu bisnis mereka dengan koneksi bisnisku yang luas.Mereka senang sekali putrinya dekat denganku.Bahkan restu untuk menikahpun akhirnya kudapatkan.Anggraeni akhirnya menjadi Nyonya Irwan Kristianto.Meski orang tuaku sempat menentang hubungan kami namun aku adalah anak tunggal.Mereka mana berani menolak keinginanku.Namun kesibukanku sebagai bisnisman rupanya membuatku kurang memperhatikan isteriku.Apalagi dia ga terbiasa hidup di lingkungan yang kaku dan ribet seperti kebiasaan orang tuaku.Makhlum mereka masih keturunan darah biru gitu.Jadi sangat memperhatikan tata krama dan pernik2nya.Isteriku ga betah apalagi dia dilarang menulis oleh ortuku.Kata mereka itu dia ga perlu kerja toh penghasilanku amat lebih dari cukup.Anggraeni nampak sedih sejak itu.Bahkan dua kali ia keguguran saking stressingnya.Ini semua salahku harusnya aku tak hadir dalam kehidupannya.Kehadiranku tak membawa kebahagiaan baginya.Orang tuaku menjadikan keguguran itu sebagai alasan untuk membuat isteriku ga betah,"Sampai kapan kami menunggu kehadiran seorang pewaris semua harta kami.Irwan itu anak tunggal.Mungkin sebaiknya kamu sadar diri bahwa kamu itu perempuan yang ga dipercaya sama Sang Pencipta untuk menjadi seorang ibu.Kamu pasti banyak salah ya sama orang tua kamu?" Kasihan Anggraeni.Kalau aku ada jelas kubela tapi aku kerap sibuk menangani bisnis jadi pulang dah larut malam.Dah capek banget buat dengerin keluh kesah isteriku.Hingga isteriku kabur dari rumah dan memilih tinggal di apartemen miliknya.Sebuah apartemen kado dariku kala dia ultah.Aku coba membujuknya tapi dia kekeh ga mau pulang bahkan ia mengajukan cerai,"Mas,aku ini sepertinya memang ga pantas jadi isteri bisnisman kondang sepertimu.Kamu itu begitu sempurna.Aku ini cuma wanita biasa.Yang cuma ingin disayangi dan dihargai oleh suaminya.Bagimu aku cuma teman tidur saja.Kau sudah begitu lelah dengan semua bisnis yang kau tangani.Aku lelah Mas dengan hidup seperti ini.Menulis adalah hobbyku tapi itupun juga dikekang.Aku juga belum bisa memberi anak buatmu.Padahal keluargamu sudah sangat mendambakannya.Lepaskan aku Mas.Menikahlah dengan pilihan orang tuamu.Aku sudah tak bisa melanjutkan lagi bahtera pernikahan kita.Maafkan aku Mas." Awalnya aku ga setuju,"Kamu masih mencintai pria itu kan?Kudengar dia juga mau cerai dari isterinya.Kalian mau balikan lagi kan?Makanya kamu minta cerai dari aku.Iya kan?" Anggraeni malah menangis mendengar tuduhanku dan mendorongku keluar dari apartemennya,"Sebaiknya kamu pergi Mas.Kamu hanya tahu menyakitiku." Benarkah aku seperti itu?Sejak itu kesehatanku jadi drop.Bahkan berita mengejutkan kudapat dari dokter,"Anda terkena kanker usus Pak Irwan.Hidup Anda mungkin tidak lama lagi.Kanker ini sudah menyebar kemana2.Jadi saya sarankan gunakan waktu yang ada dengan sebaik2nya.Maaf kami sudah berusaha." Orang tuaku shock mendengarnya dan segera membawaku ke Singapore untuk berobat.Namun dokter di sana juga berkata sama,"Only miracle can save him." Hanya mukjizat yang bisa menyembuhkanku.Ayah ibuku akhirnya hanya bisa pasrah.Aku berkata pada mereka,"Jangan beritahu Anggraeni ya Bu.Kumohon.Lagian kami akan bercerai aku tak mau ia merasa bersalah dengan semua ini." Mereka mengangguk.Akhirnya kutanda tangani juga surat cerai itu.Kumasukkan kembali ke mapnya dan akan kuberikan langsung pada Anggraeni sore ini.Aku berkata pada sekretarisku,"Aku pulang lebih awal.Tolong cancel semua jadwalku sore ini." Hanif demikian nama sekretarisku.Dia pria yang baik dan bisa diandalkan.Aku bawa mobilku menuju apartemen isteriku,namun kulihat ia tengah bicara dengan seseorang di parkiran,pria itu lagi.Samar kudengar dia berkata pada pria itu,"Aku memang akan bercerai dari suamiku tapi bukan berarti aku akan kembali padamu.Kau lebih buruk dari Irwan.Meski dia begitu sibuk tapi dia ga menelantarkan keluarganya seperti kamu.Kasihan isteri dan anakmu,mereka butuh kamu.Sebaiknya kamu pergi dari hidup aku!" Pria itu memohon2,"Ayolah Vy,aku dulu menikahi dia karena demi bayi didalam perutnya.Tapi cintaku hanya buat kamu.Hanya kamu Vy!" Kudengarkan mereka lebih dekat lagi dan aku terkejut mendengar jawaban isteriku,"Cintaku padamu sudah kuberikan pada suamiku.Meski kami akan bercerai tapi sesungguhnya aku masih sangat mencintainya.Orang tuanya yang membuatku memilih mengakhiri semuanya.Aku bukan menantu idaman mereka.Aku selalu mengecewakan mereka." Anggraeni melanjutkan kata2nya sambil berkaca2,"Meski kami akan bercerai tapi sebenarnya aku hanya ingin yang terbaik buat dia." Pria itu kecewa,"Kau telah melupakanku,di hatimu hanya ada dia.Jika kau begitu mencintainya kenapa kau menyiksa dirimu dengan melepaskannya?Kupikir kau masih mencintaiku ternyata aku salah." Aku lihat pria itu pergi dengan kecewa.Aku dekati isteriku,"Benarkah semua yang kudengar tadi En?" Cuma aku yang manggil dia begitu,"Kau dengar semuanya?" Kuraih dia dalam pelukanku,"Andai saja waktuku masih banyak.Aku pasti sangat bahagia.Aku tak bisa hidup tanpamu..." Anggraeni menangis dalam pelukanku.Namun tiba2 perutku sakit sekali,"Aaccckk...." Anggraeni cemas dan membawaku ke dalam apartemennya,"Kau pasti telat makan lagi yach Mas?Atau kerja sampai lupa waktu ya?" Aku hendak menyerahkan surat cerai yang kubawa,kasihan dia tersiksa karena orang tuaku.Lebih baik kulepaskan dia dari ikatan pernikahan denganku daripada selamanya menderita karena harus hidup bersama ayah ibuku.Namun tiba2 aku merasa tak kuat berdiri.Aku hanya sempat mendengar isteriku menjerit,"Mas Irwaaan!!" Aku pingsan.Yang kutahu kemudian aku sudah di RS.Orang tuaku juga ada dan sepertinya isteriku sudah tahu kondisiku.Ia menangis sembari memegangi tanganku,"Kau pasti sembuh Mas.Aku tak percaya vonis dokter.Aku tak mau mempercayainya." Demi merawatku isteriku kembali ke rumah,dia tak mengijinkanku bekerja.Semua urusan perusahaan dihandle ayahku.Ibu juga tak lagi ketus pada isteriku malah ia terharu melihat isteriku merawatku dengan telaten.Aku malah pergi bulan madu dengan isteriku.Menikmati waktu yang tersisa dengan penuh cinta.Bahkan ia membakar surat cerai kami,"Aku khilaf waktu itu Mas.Aku egois hanya memikirkan perasaanku saja.Maafkan aku ya Mas?" Aku meraih dia dalam pelukanku,"Aku juga salah terlalu sibuk dengan bisnisku.Aku lupa bahwa aku adalah seorang suami dan sekaligus penjaga jiwamu.Maafkan suami yang tak sempurna ini ya?" Kami saling curhat malam itu dan aku sangat bahagia.Dalam pelukanku isteriku berkata,"Mas kata ayahku hati yang gembira adalah obat yang manjur.Apa Mas percaya?" Aku mengecup keningnya,"Aku percaya bahwa kau adalah kebahagiaanku.Aku sangat berharap Tuhan memberiku umur panjang agar aku bisa membahagiakanmu.Aku harap Tuhan mendengarkan doaku." Isteriku lalu mengajakku berdoa bersama,kami berpegangan tangan berdoa pada Tuhan.Kudengar ia berdoa demikian,"Ya Tuhan,Kau telah menyatukan kami dalam mahligai perkawinan.Kami adalah satu kini.Kini kami datang pada-Mu meminta dalam sepakat yaitu kesembuhan bagi Mas Irwan ya Tuhan.Bukankah Kau Maha Pencipta?Kami yakin Kau punya stock organ di sorga sana.Berikanlah organ usus yang baru ya Allah bagi suami hamba.Bukankah Kau akan memberi yang baik pada mereka yang meminta kepada-Mu?" Aku memandang ke dinding kamar,'Tuhan kabulkanlah doa isteriku...Berikanlah aku kesempatan mengubah hidupku menjadi orang yang lebih baik lagi.Terutama buat dia ya Tuhan.Aku seharusnya menjaga dia dan bukan sibuk sendiri.Ampunilah aku ya Tuhan.' Anggraeni menutup doa itu dengan ucapan syukur penuh iman,"Terima kasih buat kesembuhan buat organ yang baru buat kebahagiaan dan waktu yang Kau beri.Amin." Aku memeluknya dan berbisik,"Terima kasih sayangku..." Ia tersenyum dan membalas,"Terima kasih pada Tuhan." Malam itu aku tidur dalam damai.Namun menjelang dini hari aku merasa perutku aneh.Seperti ada yang mengoperasi aku.Kubuka mataku dan kulihat dua orang makhluk bersayap yang sangat menyilaukan tengah melakukan sesuatu dengan perutku.Kucari isteriku.Dia nampak sujud dilantai berdoa sambil menangis.Kenapa dia menangis ya?Tiba2 makhluk menyilaukan itu memegang kepalaku dan aku terlelap seketika.Paginya aku bangun dan mendapati diriku sudah di RS.Ayah ibu tampak heran melihat aku membuka mata,"Dimana ini?" Isteriku memelukku sambil menangis,"Mas ini di RS.Kau berhenti bernafas semalam.Aku takut sekali.Syukurlah Tuhan mengembalikanmu padaku..." Dokter datang dengan membawa hasil medis,"Ajaib!Ini sungguh ajaib.Tak ditemukan kanker lagi di tubuh pasien.Ini sungguh ajaib!Tuhan Maha Besar." Aku terpana,"Saya punya kesempatan hidup lama dok?" Dokter mengangguk,"Tentu saja.Bukankah Tuhan adalah Dokter Atas Segala Dokter?Kami saja tercengang dengan hasilnya.Wow ini sungguh mukjizat." Ayah segera memelukku,"Syukur pada Tuhan,keturunanku tidak terputus." Ibuku memeluk isteriku,"Syukur pada Tuhan memberiku menantu yang sangat baik.Maafkan Ibu ya Nak?" Isteriku menangis haru sambil menjawab,"Maafkan Eni juga ya Bu..." Aku meneruskan bulan maduku dengan isteriku.Kuajak dia keliling Eropa.Pulang dari bulan madu,aku kembali bekerja di perusahaan.Namun tak segila dulu.Aku atur waktuku buat keluargaku.Tak lama kabar baik datang lagi,isteriku hamil.Lahirlah seorang bayi laki2 dan kami beri nama Bastian Nugraha.Artinya bangkit dari kematian karena anugerah Tuhan.Aku lalu cerita pada isteriku kejadian kala aku tak bernafas lagi.Rupanya aku dioperasi oleh Tuhan lewat malaikat2Nya.Mereka mengganti organku yang rusak dengan yang baru.Doa isteriku dikabulkan Tuhan.Memang doa yang dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya.***The End***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar