CERPEN KE 40 : AMAT PERHITUNGAN^^^

↓←↓ Cerpen ke-40  : AMAT PERHITUNGAN
          Hari ini hari Sabtu,hari membahagiakan karena aku gajian.Aku memang kerja di home industry.Di sebuah usaha perakitan tv.Mandorku memberikan gajiku,"Ini gajimu Mat.Perolehanmu paling banyak karena kamu kerjanya bagus.Masuk terus lagi.Juga ini uang penjualan tembaga.Sudah dibagi rata."
 Aku menerima dengan senang.Temanku Midun menepuk bahuku,"Mat,aku nebeng motormu ya?" Aku mengiyakan,"Iya Dun.Tapi mampir dulu ya ke mall.Aku mau beli oleh2 buat anakku."
         Dia setuju.Aku memang selalu membawakan oleh2 buat anakku di desa.Kemarin via telepon dia minta mainan truk dari kayu.Kasihan dia nangis terus karena ga dibelikan sama ibunya.Isteriku memang perhitungan orangnya.Sebenarnya memang baik sih semua dianggarkan tapi kalau menurutku dia itu sudah kelewatan.Lebih ke pelit. Aku susuri hypermart mencari makanan kecil buat anakku,Rian.Midun heran lihat aku beli aneka chiki dan snack lumayan banyak,"Mat,banyak amat?Kulakan ya buat warung di rumah ya?"
Aku mengambil satu bungkus permen kesukaan Rian,"Ga Dun.Ini buat anakku.Isteriku mah bisa kulakan sendiri.Dia nemu tempat kulakan yang murah disana.Pilih kulakan sendiri."
Midun heran,"Lha kenapa kamu beli segitu banyak?Kan anakmu bisa ambil dari warung ?"
Aku berjalan menuju kasir,"Kamu itu ga tahu isteriku Dun.Yeni itu orangnya perhitungan.Dah yuk kita ke lantai atas,aku mau cari mainan buat Rian."
Midun mengikutiku,"Perhitungan gimana?Masak sama anak sendiri hitungan juga sih?"
          Aku ga bisa cerita banyak ke Midun.Bukan hanya karena aku ga mau menjelek2kan isteri sendiri tapi aku pingin nangis kalau cerita gimana pelitnya isteriku.Awalnya aku anggap dia punya bakat dagang gitu.Dengan modal 15 juta buka warung di rumah kami di desa.Uang itu hasil dia ngumpulin gajiku sebagai perakit tv.Dia patok aku harus bawa uang seperti standar dia tiap minggu kalau pulang,"Aku ga mau tahu pokoknya mas harus bawa uang sama kayak pas mas masih kerja di perakitan tv yang lama.Aku mau besarin warung kita mas.Biar bisa bersaing dengan warung sana itu.Aku mau bikin warung sana itu tutup.Maka aku akan semakin untung."
          Untung2 terus yang dia pikir,zaman kan selalu berubah.Tempat kerjaku yang lama tutup.Tempat kerjaku yang sekarang jarang dapat orderan banyak.Masuk saja bisa dihitung.Mana jauh lagi dari rumah kakakku.Di kota aku tinggal dengan kakakku.Untung dia ga masalah nanggung makanku belum listrik yang aku pakai buat usaha reparasiku.Tapi aku tetep ngasih walau dikit.Kakak ngerti,"Seikhlas hati kamu aja Mat.Yang penting anak kamu.Sekarang dia makin kurus kelihatannya."          Aku mengantar Midun ke rumahnya.Dia memang lumayan dekat denganku,namun aku masih menyimpan rahasia soal pelitnya isteriku dalam hatiku.Semua juga salahku,dulu aku menikahi Yeni bukan atas dasar cinta.Aku menikahinya sebagai pembuktian dan pelampiasan kekecewaanku pada mantanku,Ana.Dia ga mau membantah orang tuanya menikah dengan pilihan mereka.Katanya kami beda ras,dia Thionghoa.Ga bisa.Orang tuanya ga setuju.Aku patah hati dan bertemu dengan Yeni yang waktu itu kerja di counter hp.Melihat kulitnya yang putih bak orang Cina membuat aku ingat sama Ana.Ga lama setelah Ana menikah,aku juga menikahi Yeni.Biar draw.Aku tak mendengar lagi berita soal Ana.Hidupku kini hanya kerja cari uang dan uang.Semua biar isteriku senang.Aku pernah bawa uang sedikit,wajah isteriku langsung cemberut.Makan dan minum aja aku ga digubris.Rian juga dibiarkan ga terurus.Untung ada ibu mertuaku,dialah yang mengurus anakku setiap harinya.Yeni malah sibuk ngurusi tokonya sambil nonton tv.Pantas kakakku pernah nanya sama aku,"Isterimu itu apa di rumah kesehariannya juga cuma nonton tv to Mat?Masak dari pagi sampai sore di kamar terus?Keluar paling ke kamar mandi."
          Waktu itu aku memang mengajak Yeni ke kota biasa lebaran.Aku juga dah negur Yeni,"Kamu ga bikinin aku makan Yen?Rian juga belum makan lho.Keluar gih bikin mie atau apa gitu?Masak sejak tadi nonton tv terus."
 Yeni malah jawab,"Kan kakakmu masak tuh!Makan aja!Kalau ga suka keluar aja makan.Rian dah kenyang makan snack."
          Iya snack pemberian kakakku,kakakku kalau beli snack buat anak2nya kan banyak sekalian.Aku ingat kala keluar kamar waktu itu lihat Rian makan snack pemberian kakakku dengan gembiranya malah minta lagi dan lagi.Kasihan kamu nak,padahal di kamar ada banyak snack tapi Yeni jatah ngasihnya.Makannya hanya boleh dikit2.Rian bahkan ga mau makan saking takutnya.Anakku badannya kurusan dibanding anak kakakku yang usianya hampir sama.Anak kakakku nampak sehat dan ceria.Iya ibunya ga pelit sih.Apalagi soal makan pasti dituruti.Mau kentang digorengin,mau bakso dibeliin,mau nasi goreng juga dibikinkan.Semua nampak terawat dan ceria.Beda dengan Rian.Aku pernah mergoki dia pas di desa.Dia ngelihatin snack yang dipajang di warung sambil menahan tangis.Ya ampun.Kutanya dia,"Rian mau snack itu?Ambil aja sayang."
 Eh dia menggelengkan kepalanya,"Ga mau.Nanti dimarahi ibu.Itu buat dijual bukan buat Rian.Jatah Rian dah habis.Sehari hanya boleh ambil 2."
Kumarahi Yeni,"Kamu ini pelit amat sama anak sendiri sih Yen???!!Kasihan Rian!Cuma snack aja ga dikasih.Kebangetan!!"
 Eh dia malah nyolot lebih galak,"Soal Rian di rumah itu urusanku Mas.Kamu itu cari duit aja.Jangan pusing soal Rian!Bawa duit aja cuma dikit kok anaknya dimanja!Kalau kamu ngasih banyak Rian juga kukasih banyak.Gitu!!"
Aku mengelus dada,apalagi kala lihat ibu mertuaku ambil minyak di warung milik isteriku,"Ibu ambil minyak ya?Bayar lho ya?Kalau ga Yeni hitung sebagai hutang!"
           Ya ampun...sama ibunya sendiri aja hitungan gimana sama anaknya.Sejak itu aku kalau pulang pasti bawa snack buat Rian.Aku wanti2 sama Yeni,"Ini aku beliin buat Rian!Awas kalau kamu ambil buat kamu jual di warung.Ini buat Rian!Terserah mau dia habisin kapan aja."
Yeni malah mencibir,"Ga masalah asal uang yang dikasih ke aku sesuai standar yang kuminta."
           Sejak itu aku jadi sering ribut sama Yeni.Rasanya berat sekali untuk pulang ke desa.Jika bukan karena Rian,ingin rasanya aku ga pulang.Aku nyaman di rumah kakak.Setiap hari kakak pasti merhatiin makanku.Pagi2 dah ada sarapan.Dikulkas selalu ada mie dan telor.Belum bahan2 lain.Dirumah di desa,makan aja nasinya ga boleh banyak2 harus gini gitu ngambilnya.Lauk kadang ga ada.Kata Yeni,"Ini namanya hemat Mas.Hemat pangkal kaya tahu ga?!"
           Aku memacu motorku melewati hutan,untung ga hujan kalau hujan jalannya jelek berbahaya dilewati.Aku malah pernah hampir masuk jurang karena ngikutin seorang nenek.Kupikir dia itu pasti tahu jalan ternyata lelembut.Waduh...serem banget.Aku gembira karena bisa bawa mainan yang diminta Rian.Sampai rumah aku capek sekali.Berjam2 naik motor lewati hutan pula.Rian tumben ga kelihatan di depan?Biasanya kalau denger suara motorku dia akan keluar menyambutku dan berteriak kegirangan,"Bapak!!Bapak!!"
Yang keluar malah ibu mertuaku,"Nak Ahmat ...Rian panas.Gimana ini?"
Aku kaget kok Yeni ga ngebel aku anakku sakit?Aku segera menuju kamarku,Rian senang melihatku,"Bapak...Iyan...akit..."
Aku segera bersiap bawa ke dokter,"Yeni mana Bu?"
           Ibu mertuaku bilang Yeni sejak tadi pergi kulakan.Aku segera bawa Rian ke dokter.Dokter menyarankan opname,"Kami harus melakukan test darah.Panasnya tinggi sekali.Saat ini sedang merebak Demam Berdarah.Tapi kami akan memastikan lebih lanjut dengan test darah."
           Rian diinfus dan nangis terus.Aku hubungi Yeni,"Kamu dimana Yen?"
Yeni jawab,"Perjalanan ke rumah Mas.Habis kulakan.Mas dah sampai rumah ya?Bentar lagi aku sampai kok."
Aku marah2 ke Yeni,"Kenapa kamu ga bilang kalau Rian sakit ?Dia panas tinggi Yen!!Kamu lebih utamakan warung kamu itu daripada anak kita!!Keterlaluan kamu Yen!!"
 Yeni malah jawab,"Cuma demam aja.Ntar juga turun habis minum obat.Tadi aku kulakan dulu baru mampir beli obat di apotik.Searah gitu lho mas.Ga usah emosi kenapa sih?Kan hemat bensin."
          Aku heran dan marah plus cemas jadi satu.Kok ada ya ibu kandung model gini?Kasihan anakku.Akhirnya aku ga tahan lagi,"Denger ya Yen?!Rian sekarang di RS.Dokter bilang dia harus opname.Terserah kamu mau ke sini atau mau ngurus warung kesayanganmu itu aku dah ga peduli!!Aku cuma kasih tahu karena aku masih menghargai kamu sebagai ibu kandungnya!!"
           Aku tutup hpku,aku marah sekali.Warung saja yang dipikirin sama Yeni.Aku berdoa pada Tuhan,"Jangan ambil putra hamba ya Tuhan.Aku mohon..."
Ibu mertuaku malah nangis,"Ibu sudah bilang sama Yeni kalau anaknya harus dibawa ke dokter...tapi dia bilang ga usah...katanya dokter terdekat mahal.Nunggu Nak Ahmat dulu katanya."
Aku hanya bisa diam.Hatiku sudah habis. Yang kupikirkan hanya Rian saja.Semoga ga kena DB.Rian masih belum TK.Masih senang bermain kasihan kalau dia sakit2an.
           Akankah Rian selamat?◆◆◆bersambung◆◆◆ Maaf cerpennya nyambung.Soale dah pagi.Saya harus kerja.***see you in part 2***

↓★↓ PART 2 CERPEN KE - 40 : AMAT PERHITUNGAN
Yeni datang ke RS beberapa jam kemudian.Katanya,"Tadi ada pembeli mas.Warungnya rame.Aku pikir gpplah aku layani rejeki kok ditolak.Lagian kan udah ada mas di sini.Rian gpp kan Mas?"
 Aku males jawab dia,"Lihat saja ke dalam.Ada ibu disana."
          Rian opname hampir dua minggu.Dan selama itu Yeni terus saja bermuka masam dan bersungut2,"Lama amat sih opnamenya.Kan bukan DB.Hanya typus aja.Warungku gimana dong mas?Mas juga ga kerja dong.Ga ada pemasukan dong..."
Aku ga peduli dengan keluhannya,yang kupedulikan Rian sudah membaik.Memang typus bikin kurus.Aku udah ijin sama bossku kalau anakku opname.Untung kerjaanku ga masalah.Malah bossku bilang aku masuk kapan aja gpp yang penting tetep kerja sana.Inilah yang kusuka di kerjaanku,bossnya pengertian.Aku bersyukur sekali.Beda dengan bossku yang lama masak anak sakit dia malah bilang gini,"Emang kalau kamu ke sana terus anakmu sembuh apa??"
           Makanya usahanya gulung tikar karena habis itu orang tuanya meninggal dan dia ga bisa menunggui di saat terakhir mereka.Karma! Aku lega Rian sudah bisa dibawa pulang.Rian senang sekali main truk yang kubelikan.Aku juga perhatiin makan dia.Aku minta sama ibu mertuaku supaya lebih intensif jaga anakku.Soale aku dah ga percaya lagi sama isteriku.Ibu mertuaku malah curhat,"Mungkin ini salah ibu nak...Dulu waktu kecil Yeni kurang ibu perhatikan,ibu sibuk kerja.Akhirnya dia jadi kayak gini.Dia pikir uang itu segalanya.Lebih penting dari pada anak.Karena dulu ibu juga gitu ke dia.Maafkan anak ibu ya nak...?"
            Aku hanya bisa tersenyum getir.Aku janji akan berusaha menerima dan membimbing Yeni.Walau sebenarnya aku sudah sangat lelah meneruskan pernikahanku.Isteriku lebih mencintai uang daripada aku apalagi anakku.Karmaku.Dulu aku marah2 ke mantanku,"Kamu itu ya nikah sama dia karena dia kaya bukan?Dia pengusaha.Aku ga sangka kamu wanita macam gitu."
            Kenapa aku jadi malah teringat Ana ya?Sudah bertahun berlalu.Entah bagaimana kabar dia sekarang.Setelah yakin Rian sudah stabil kesehatannya,aku kembali ke kota.Cari uang lagi.Kakakku menyambutku,"Banyak yang nyari kamu Mat!Banyak orang nitip barang elektroniknya ke sini.Ruang tamu sampai kayak pameran tv.Rian gimana?Dah sembuh kan?Typus itu biasanya maag yang dah parah.Makannya ga teratur kali anakmu itu.Harus lebih diperhatiin lagi soal makannya."
           Kakak memang benar,Rian kurang diperhatikan makannya sama Yeni.Kalau sudah ada pembeli.Dia lupa sama anaknya.Ibu mertuaku dah kuminta tolong juga agar lebih jaga Rian.Aku pernah coba cari kerja di dekat desa isteriku tapi hasilnya ga sebanyak di kota.Isteriku malah uring2an.Kalau marah pasti Rian dia jadikan senjata untuk mengancamku.Aku benci sikapnya itu. Mendekati Imlek,Bossku bagi2 kue ranjang dan memberi tahu kalau Imlek libur dulu,"Saya ada acara keluarga jadi kita off dulu.Nikmati hari libur bersama keluarga kalian."
          Wah aku seneng banget karena bisa lihat Rian lagi.Aku mau bikin surprise ah.Aku akan pulang tanpa ngasih tahu Yeni.Balas dendam he..he...Dulu dia ga ngasih tahu kalau Rian sakit sekarang aku balas dong.Aku akan pulang mendadak.Pasti Rian seneng banget.Bawain apa ya buat Rian?He..he.. Namun kala sampai di desa,motorku rusak.Susah di selah.Akhirnya kutuntun saja sampai rumah.Aku ga lihat Rian,biasanya dia main truknya itu depan rumah.Rasa panik segera menghinggapiku,apalagi isteriku juga tumben nutup warungnya.Aneh.Ibu mertua juga ga kelihatan.Aneh...akupun bergegas masuk ke dalam rumah sambil manggil nama anakku,"Rian....Iyan...bapak.."
           Alangkah terpananya aku kala masuk kamarku,tampak isteriku sedang bersama seorang pria.Yeni terkejut dan segera menutupi dirinya dengan selimut,"Mas Ahmat???!!"
Bawaanku langsung terlepas dari tanganku saking shocknya aku,"Astaga...."
Pria yang bersama isteriku segera kabur tunggang langgang sambil membawa pakaiannya,kukejar dia,"Hey!!"
          Untunglah warga kampung membantuku menangkap pria itu,hampir saja dia dihajar massa.Aku tanyai dia,demikian juga kuinterogasi isteriku.Heboh banget.Ibu mertuaku tiba bersama Rian,"Ada apa ini rame sekali?"
 Aku lalu meraih Rian dalam pelukanku,"Anak ibu selingkuh sama pria ini..saya lihat sendiri Bu..." Ibu mertuaku menampar pipi anaknya,"Rupanya kamu suruh ibu jalan2 sama Rian supaya kamu bisa bebas selingkuh sama pria lain?Ibu ga sangka ....pantas sekarang kamu suka dandan...beli baju baru.Biasanya kamu paling hitungan soal uang.Rupanya kelakuan kamu ga senonoh!"
           Ayah mertuaku yang baru kembali dari sawah juga shock dan malu sekali sama penduduk setempat.Namun Yeni membela diri,"Lha mas cuekin aku.Sedang dia perhatian sama aku,ngasih uang banyak lagi.Dia juga beliin aku perhiasan,baju2 dan macem2."
Ayah mertuaku berang mendengarnya,"Kamu itu kayak pelacur!!Bikin malu bapak saja!!"
            Kejadian itu membuatku mantap menceraikan Yeni.Aku sudah ga tahan lagi.Rian kubawa ke kota.Aku ga mau dia bersama mantan isteriku.Bisa ga keurus nanti.Aku cari pengasuh buat anakku.Teman kakak mau.Orangnya baik dan sudah berkeluarga juga.Aku tenang karena Rian juga nyaman dengan pengasuhnya.Rianpun mulai sekolah TK.Deket rumah ada TK.Rian juga senang di kota punya teman main di rumah.Ada keponakan2ku.Rian cerita kalau di sekolah bu gurunya sangat baik.Sayang sama dia.Aku tersenyum mendengarnya,"Oh ya?Pantas Rian semangat sekali sekolah."              Hingga suatu hari mb Sri pengasuh Rian,ijin ada perlu.Akupun membolehkan dan mengantar sendiri Rian ke sekolah.Rian berlarian dengan riang di halaman sekolah dan memeluk gurunya,"Bu Guru!!Bu guru!" Aku terpana kala melihat siapa yang dipeluk anakku,"Ana??"
 Ana sama terkejutnya denganku,"Mas Ahmat?Rian ini anak mas?"
            Ana nampak cantik dengan pakaian guru,akhirnya kami malah ngobrol.Ana juga sudah cerai dari suaminya.Suaminya bilang Ana itu ga bisa kasih keturunan.Suaminya selingkuh sama rekan bisnisnya.Aku juga baru tahu kalau sebenarnya orang tua Ana punya hutang sama orang tua mantan suaminya makanya dia mau menikah dulu.Semua demi orang tuanya.Sejak itu aku yang antar Rian ke sekolah.Pulangnya sama pengasuhnya.Hatiku bahagia kala bertemu Ana.Apalagi melihat Rian juga nyaman dekat Ana.Namun saat Ana kulamar dia berkata,"Mas aku ini mungkin ga bisa ngasih keturunan.Apa kamu siap dengan itu?"
 Aku menjawab,"Aku ga masalah kan aku sudah punya Rian.Tapi aku percaya bahwa segala sesuatu mungkin di dalam Tuhan."
            Ana terharu apalagi Rian juga sayang sama Ana.Kamipun menikah.Aku beli rumah baru dan Ana mengabdikan hidupnya merawat Rian.Aku sangat bahagia wanita yang kucintai kini menjadi milikku.Ana juga bahagia aku ga nuntut anak darinya.Namun Tuhan baik,Ana bisa hamil.Anakku dari Ana perempuan.Cantik seperti ibunya.Rian juga sayang sama adiknya.Mengenai mantan isteriku kabarnya warungnya sekarang tutup.Penduduk ga mau beli di sana.Dia lalu kabur ikut pria yang dulu bersamanya.Entah ada dimana tak jelas lagi kabarnya.Cinta uang adalah akar segala kejahatan.¤¤¤THE END¤¤¤

Tidak ada komentar:

Posting Komentar