Cerpen Ke-2^^^ PAHALA PESAN CINTA..

Cerpen Ke-2 : PAHALA PESAN CINTA....
Hujan mengguyur kota dimana aku tinggal.Dinginnya menusuk tulang.Aku segera mengambil selimut yang tebal dan mendekati kamar ibu mertuaku,"Ibu,Rindu masuk ya?" Tak ada sahutan,mungkin beliau sudah tidur.Pintu kamarnya ga dikunci,kubuka pelan2. Kulihat beliau sudah tidur,kuselimutkan kain tebal yang kubawa.Kupastikan juga obat nyamuk bakarnya menyala walau letaknya kujauhkan dari beliau.Aku sayang sama beliau,makhlum aku anak yatim piatu.Orang tuaku sudah meninggal semua.Bahkan jauh sebelum aku menikah dengan mendiang suamiku.Mas Ishan.Aku menutup pintu kamar sembari memandang ibu mertuaku,'Semua yang kukasihi telah pergi.Hanyalah ibu yang kini kupunya.Rindu akan jaga ibu.Rindu janji.' Aku kembali ke ruang tamu memastikan semua sudah terkunci dan lampu2 dimatikan.Sudah dua tahun berlalu sejak suamiku meninggal menyusul bapak mertuaku karena komplikasi penyakit ginjal dan thypus.Menjelang detik terakhirnya mas Ishan pesan padaku,"Titip ibuku ya Rindu.Rawat dia seperti kamu menyayangi ibu kandungmu ya.Anggaplah ini amanatku.Permintaan terakhirku.Janji ya sama aku?Kasihan ibu sudah kehilangan ayah.Ga punya siapa2 lagi.Dan kini aku anak tunggalnya malah hendak pergi juga." Siapa yang ga miris hatinya dipeseni begitu,akupun mengangguk,"Ibu mas juga ibuku.Aku pasti akan menjaga beliau.Aku janji." Melihat anggukan kepalaku mas Ishan lega dan menghembuskan nafas terakhir dengan senyum di wajahnya.Kasihan ibu Mar,Ibu mertuaku.Keturunan di keluarganya terputus.Mas Ishan pergi tanpa meninggalkan seorang anakpun di rahimku.Kadang aku merasa bersalah kenapa aku belum juga hamil dulu.Namun kemudian aku tahu yang bermasalah kata dokter adalah suamiku.Meski begitu aku ga pernah memandang rendah dia ataupun ibu Mar.Hari2ku kuabdikan untuk menjaga ibu mertuaku.Bekerja apa saja demi bisa membiayai kehidupan kami.Sering ibu Mar menyuruhku menikah lagi saja,"Kamu itu masih muda Nak Rindu.Cantik lagi.Apa kamu ga eman2 menghabiskan hidupmu hanya untuk menjaga ibu?Ibu berencana mau pulang kampung aja ke desa asal ibu.Ibu masih punya rumah kecil di sana.Ibu mau menghabiskan hari tua ibu di sana.Kalau kamu mau tinggal di kota dan bekerja di sini ibu gpp.Kamu pantas untuk bahagia juga.Kamu masih muda." Aku jelas ikut Ibu,"Tidak Ibu.Rindu akan ikut ibu ke kampung.Rindu sudah anggap ibu sebagai ibu Rindu sendiri.Rindu mohon biarkan Rindu ikut ya Bu?Rindu hanya ingin menjaga ibu.Jangan usir Rindu ya...Rindu mohon..." Akhirnya ibu Mar luluh dan malam ini malam terakhir kami di kota.Besok kami akan ke desa.Ke kampung halaman Ibu mertuaku.Aku bersimpuh dilantai dekat tempat tidurku,berdoa pada Tuhan,"Tuhan,hanya ini jalan yang benar yang aku tahu.Memenuhi amanat mendiang mas Ishan.Menjaga ibunya.Mengenai masa depanku,kuserahkan ke dalam tangan-Mu.Pada kemurahan-Mu.Berikan padaku hikmat dan kekuatan untuk merawat Ibu Mar ya Tuhan.Kami bukan orang kaya hidup juga seadanya.Kiranya Kau menjaga dan memelihara kami di sana.Amin." Esok harinya setelah sarapan,kami naik bus ke desa.Dua jam lamanya baru kami sampai.Sepanjang jalan menuju ke rumah ibu Mar,banyak orang menyapa beliau.Seorang bapak2 memanggul rumput menyapa kami,"Yang pulang dari kota nih.Pasti sukses nih di sana." Ibu menjawab dengan ramah,"Sukses apa Kang.Suami dan anakku malah tiada di sana.Hidupku pahit kang.Mau menentramkan diri di sini saja.Untung Tuhan masih baik sama aku dikasih menantu sebaik Nak Rindu." Demikianlah perkataan ibu tiap ditanya orang yang ia kenal,kasihan beliau.Kami melewati area persawahan yang sangat luas,"Ibu lihat musim menuai padi.Nanti Rindu akan kerja jadi buruh tani aja.Pasti butuh pekerja pemilik area sawah ini.Lihat padinya Bu!Boleh ya Bu Rindu kerja begitu?" Ibu malah mengusap kepalaku,"Kamu itu anaknya rajin.Pasti mereka akan suka kamu kerja pada mereka.Kebetulan ibu kenal dengan pemilik lahan ini.Orangnya baik.Ah itu rumah ibu.Gpp ya rumahnya kecil?" Aku tersenyum,"Gpp Bu.Yang penting bisa buat naungan.Dimana2 hijau pepohonan.Rindu suka tempat ini." Hari itu aku bersih2 rumah,sementara ibu asyik beramah tamah dengan para tetangga.Aku malah seneng lihat ibu ceria,"Rindu lihat ini!Ibu malah dikasih buah rambutan sama pemilik lahan yang ibu ceritain tadi.Besok atau kapanpun kamu bisa ke sawahnya untuk bantu manen padi.Sekarang tambah kaya raya dia.Semuanya diurusi anaknya.Tadi Ibu ketemu namanya Nak Emil.Besok kamu nyari dia saja.Orangnya baik.Masih lajang lagi." Aku mesem,"Ibu apaan iiih...malah mau jodohin Rindu.Baru juga sampai Ibu.Lagian Rindu itu ..." Aku ga melanjutkan perkataanku takut melukai hati beliau,Ibu Mar mendekatiku.Meletakkan rambutan yang ia bawa di meja dekat aku berdiri,"Ibu tahu kamu minder karena kamu janda.Tapi kamu itu masih muda dan cantik Nak.Memang kamu mau selamanya hidup berdua dengan ibu?Nanti siapa yang jaga kamu kalau ibu tiada?" Aku memeluk Ibu Mar,"Jangan bilang begitu Ibu.Ibu harus panjang umur.Rindu ga mau kehilangan ibu.Jangan bilang begitu..." Ibu Mar mengelus punggungku,"Anak baik.Menantu yang sangat baik.Penghiburan ibu.Tuhan pasti membalas kebaikan hatimu." Aku berkata pada Ibu mertuaku,"Apapun kata ibu akan Rindu turuti.Tapi biarkan Rindu merawat ibu ya?Oh ya kita makan yuk.Ibu ga boleh telat makan.Jangan sampai kena maag." Aku segera ke dapur dan mengambilkan makan buat ibu.Begitulah hari2ku di desa.Aku bekerja sebagai buruh tani.Kebetulan musim panen padi.Aku diantar ibu ke sawah,salah seorang pekerja menunjuk ke sebuah arah,"Ah itu Tuan Emil datang.Itu Boss kami.Anak pemilik lahan ini.Orangnya sangat baik.Sebentar akan kuberitahukan kalau kamu mau kerja di sini.Ayo ke sana." Bener kata ibu mertuaku yang namanya Mas Emil itu orangnya sangat baik.Entah kenapa jantungku berdebar kala menjabat tangannya,"Saya Rindu.Yang mau kerja jadi buruh tani di sini.Apakah masih nambah orang?" Sepertinya Mas Emil juga gimana gitu melihatku,pegangan tangan aja ga dilepas2,ibu mertuaku malah mesem2 lihatnya.Aduh...aku jadi malu.Mas Emil juga jadi kikuk,"Oh...ini yang kemarin ibu bicarakan ya?Maaf saya Emil.Silakan bekerja di sini.Kebetulan saya lagi kurang pekerja.Kerjanya dari pagi sampai sore ya.Gpp kan?Panas lho di sawah,gpp juga?" Belum sempat aku jawab eh ibu mertuaku sudah mendahului,"Gpp Nak Emil.Menantu ibu ini sudah biasa kerja keras kok.Anaknya rajin.Ibu titip Rindu ya Nak?Ibu pulang dulu." Ibu dengan ceria pulang katanya mau mampir2 ke para tetangganya kangen berat katanya.Aku tersenyum melihat keceriaan beliau.Mas Emil memandangku,"Peralatannya sudah ada belum?Kalau belum biar kuambilkan." Aku menggeleng,"Belum punya Mas." Ia lalu menyuruhku mengikutinya,"Yuk ikut aku!" Melihat punggungnya hatiku bergetar seperti melihat bayangan mas Ishan saja.Mas Emil sungguh pria dan juragan yang baik.Aku senang bekerja padanya.Bahkan ia kerap memberikan beras padaku.Para pekerja juga menghormatinya.Bila kerjaan di sawah tidak ada,aku jualan es dawet di sebuah sekolah bersama ibu mertuaku.Eh kaget aku lihat sebuah mobil berhenti dekat tempat aku jualan,"Rindu?" Astaga,"Mas Emil?" Ibu mèrtuaku datang,"Wah kalian emang jodoh ya dimana2 ketemu.Nak Emil mau es dawet?" Mas Emil keluar dari mobil bersama seorang anak laki2 masih SMP,"Kenalkan ini adikku.Kebetulan motornya rusak.Jadi aku jemput.Kebetulan kami haus.Enak pasti ya dawetnya rame gini." Ibu mertuaku malah menyuruhku menemani Mas Emil,"Kamu temani Nak Emil saja ngobrol.Biar Ibu yang layani pembeli.Udah sana!" Ibu maksa banget akhirnya aku nurut juga.Mas Emil jadi sering mampir sejak itu.Bahkan pas tutup warung juga mampir dan akhirnya menawarkan bantuan berupa armada.Biar kami ga repot.Ibu seneng banget.Ibu bahkan terus membujukku menerima kehadiran Mas Emil.Aku ketawa menanggapinya,"Saya ini janda Ibu.Mana mau Mas Emil sama saya?" Eh ternyata yang diomong pas datang,ups!Mas Emil datang ga sendiri lagi sama orang tuanya,astaga dia melamarku.Aku kaget banget.Ibu mertuaku senyum2,pasti ini ide beliau.Dasar Ibu...Aku minta waktu buat menjawab,mas Emil setuju.Malamnya aku mimpi bertemu mas Ishan.Dia nampak segar gitu dan berkata padaku,"Terima kasih ya Rindu dah menjaga ibuku.Sekarang aku lega karena kamu juga sudah ada yang menjaga." Aku beritahukan mimpi itu pada ibu dan beliau berkata,"Terimalah lamaran Nak Emil ...Putra Ibu sudah restu itu." Akhirnya aku menerima lamaran Mas Emil.Banyak orang ga sangka aku yang janda mendapat pria sebaik Mas Emil.Ibu mertuaku bangga banget.Kebahagiaanku makin lengkap kala putraku lahir.Ibu mertuaku menimang2nya dan berkata,"Aku datang dalam kepahitan hidupku.Kini Tuhan mengubah ratapanku menjadi kebahagiaan." Aku tersenyum sambil bersandar di bahu suamiku,Mas Emil.Terima kasih Tuhan sudah menuntun langkah hidupku.Menjagai masa depanku lewat ibu mertuaku.***The End*** Lega saya akhirnya bisa memakai tokoh fave saya sebagai pairing utama.Walau hanya di cerpen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar