□¤□ CERPEN KE-38 FROM IIS'S COLLECTION :
AIBKU DIANGKAT
Hari sudah sore,sudah tiba saatnya jualan pakaian di tepi jalan.Ditemani Nek Ijah,seorang perempuan tua yang terlantar yang kutemukan di tepi jalan.Kasihan Nek Ijah,dia kebingungan gitu.Tega amat keluarganya membiarkan dia di jalanan sendirian.Hampir saja ditabrak kendaraan kalau tak segera kutarik ke tepi.Ya ampun ternyata ga cuma aku orang yang merana di dunia ini.Kuambil jaket tebal juga selimut tebal dan kasur tipis buat alas tidur Nek Ijah nanti.Sebenarnya aku ga tega bawa Nek Ijah ikut jualan tapi Nek Ijah juga ga mau di rumah sendirian.Ia mau selalu didekatku.Akhirnya aku ngalah,"Baiklah Nenek ikut tapi nanti pakai jaket ya...udara di luar kan sangat dingin."
Nenek Ijah seneng banget,ia segera membantuku menata dagangan yang mau kubawa.Kutaruh semua dalam gerobak,untunglah ga begitu jauh perjalanan ke sana,ke lokasi aku biasa magrok.Sebuah emperan toko di tepi jalan besar,jalan dimana aku dulu nemuin Nek Ijah.Jalan itu ramai dan biasa dilewati bus2 besar bahkan trailer.Banyak pedagang makanan di sekitar situ.Ga perlu susah2 cari makan.Nek Ijah segera membantuku menata dagangan begitu tiba di lokasi.Dekat palang kereta jadinya banyak orang yang suka mampir sambil nunggu kereta lewat.Lumayan hasilnya.Aku jual aneka baju sekolah,hem,kaos,celana hingga kaos kaki.Ada pedagang lain yang baik hati kasih tebengan lampu dan bantu aku nata meja gelaran dan tenda.Aku tetap membayar karena aku ga mau berhutang lagian dia juga keluar tenaga untuk itu.Beginilah susahnya bila tak punya laki2 dalam hidup.Aku ini janda.Tak punya anak lagi.Suamiku pingin banget punya anak dan aku juga dah periksa diriku ke dokter.Awalnya memang ada kistanya di ovariumku.Tapi sudah dioperasi.Rahimku normal.Aku dilarang dokter makan taoge dan kangkung selama kistanya masih ada katanya malah bikin kistanya berkembang.Habis 20 juta buat operasinya.Aku sampai keluar dari kerjaanku demi bisa punya anak.Istirahat pikiran.Aku juga selalu menyediakan waktu untuk puasa memohon kemurahan Tuhan agar membuka kandunganku.Namun malah suamiku selingkuh sama pembantu di rumah majikannya.Suamiku sopir truk di sebuah peternakan sapi.Kerjaannya antar sapi ke pesanan lalu balik ke kandang.Kadang nginep gitu di rumah juragannya.Ga sangka malah selingkuh dia.Bahkan dia membela diri atas perbuatannya,"Lha kamu ga bisa kasih aku anak.Makanya aku selingkuh.Harusnya kamu itu yang introspeksi diri jadi wanita kok mandul!Ga bisa bahagiain suami,ga dipercaya sama Tuhan itu namanya!!"
Aku tertegun mendengar ucapan suamiku kala itu,sia2 aku menjaga hati selama bertahun2 pernikahan kami.Selalu saja aku yang disalahkan,dia sendiri ga mau periksa ke dokter.Katanya dia itu sehat selalu.Sudah pernah periksa.Ga masalah katanya.Malah katanya aku tuh ga bawa hoki bagi dia.Sejak menikah sama aku kehidupannya kian merosot.Aku usap air mataku,mengenang masa2 bagaimana aku bantu keuangan keluarga sampai jualan aneka makanan kecil dirumah.Dia malah hambur2kan uang buat judi.Aku dah nasehati malah uang hasil jualan dia ambil buat hobbynya itu.Kalau ga dikasih dia akan menceraikan aku,"Kamu tahu ga Mel,aku tuh mau nikah sama kamu karena kupikir kamu bakal dapat bagian sawah dari keluargamu.Eh ternyata cuma dapat sepetak doang!Kupikir aku bakal hidup senang dapat kamu.Malah kamu keluar dari kerjaan.Sial!!"
Udara malam kian dingin,Nek Ijah menyentuh pundakku,"Mel,ada yang beli itu."
Aku segera mengusap air mata di ujung mataku,"Oh ya sampai ga gagas aku Nek.Nenek istirahat saja di dalam gerobak.Selimutnya dipakai ya?Biar Imel yang layani pembeli."
Nek Ijah mengangguk dan segera memakai menuju ke sana.Gerobaknya jadi kayak kamar darurat gitu.Kututupi dengan terpal biar hangat.Kubawa bantal juga biar nyaman tidurnya.Kulayani pembelinya,"Cari apa mb?...oh seragam sekolah ya?SD ya ?Sebentar ...."
Lumayan laku beberapa stel. Aku melihat penjual bakso lewat,"Bang,dua mangkuk ya!"
Aku segera menuju gerobak,"Nek!Ada bakso!Yuk makan dulu.Enak pasti lagian Imel juga bawa nasi kok.Apalagi udaranya kayak gini pasti enak makan yang panas2."
Wah Nek Ijah seneng,"Kamu perhatian ya ...Nenek seneng deket sama kamu."
Kamipun makan bersama.Aku sayang sama Nek Ijah,mengingatkanku akan ayah ibuku yang telah tiada.Semua saudaraku sudah mikir keluarganya masing2.Sejak bercerai dari suamiku yang tukang judi,aku memilih hidup sendiri.Mantan suamiku jelas sama selingkuhannya.Sudah menikah mereka tapi belum punya anak juga.Aku melihat Nek Ijah makan dengan lahap,"Nenek suka bakso ya?"
Nek Ijah malah cerita,"Dulu aku punya anak angkat yang sangat baik.Dia selalu sayang sama aku.Selalu ngajak jajan bakso.Tapi dia kemudian kerja di luar kota,aku ikut anak2ku sendiri malah disia2.Aku kerap kelaparan,malah kemudian aku ditinggal di jalanan."
Aku heran kok ada yang tega gitu sama ibu kandungnya,"Nenek ikut Imel aja.Imel juga sendirian kok.Tapi ya gini hidupnya sederhana.Gpp ya?"
Nek Ijah malah membelai wajahku,"Kamu itu kayak anak angkatku,baik orangnya.Nenek seneng ikut kamu,maaf ya ngrepoti dan bebani kamu."
Aku tersenyum padanya,"Gpp Nek.Imel malah seneng kok.Ada yang nemeni.Gpp ya nenek tinggal sama janda kayak Imel.Janda dicerai karena mandul lagi."
Nenek malah juga tersenyum,"Anak yang durhaka malah mendukakan hati,syukuri saja setiap keadaan kita.Tuhan itu selalu memberi rancangan yang baik buat kita.Nenek juga ga mau balik lagi ke anak2 kandung Nenek,makan hati.Semua cuma baik pas ada maunya.Mikir warisan aja.Begitu dah dibagi nenek malah jadi kayak bola dioper sana dioper sini.Andai saja anak angkat Nenek kembali.Biasanya tiap 3 bulan dia datang jenguk Nenek."
Ada pembeli lagi,aku segera ke depan,"Bentar ya Nek..ada yang beli."
Pembelinya sepasang suami isteri,aku lihat mereka ribut gitu.Ribet nawar dan sangat kasar,"Udah segini aja harganya kalau ga mau ya udah!!Barang ginian aja kok mahal amat!"
Aku coba meredam suasana,"Memang sekarang apa2 naik mb,itu sudah harga pas.Kualitasnya bagus kok..."
Eh malah yang pria nyeletuk,"Barang pinggir jalan mana ada yang bagus...ihh.."
Astaga aku tuh rasanya pingin ngusir mereka,ga beli gpp tapi jangan menghina.Eh malah kaget aku kala Nek Ijah kenal sama tuh dua orang,"Kalian??"
Yang wanita kaget,"Ibu?Kok ada di sini bukannya ibu harusnya sama Mas Marno?"
Eh Nek Ijah malah nangis,"Kalian tega ya sama ibu kandungnya sendiri.Ini balasannya kasih sayang ibu selama ini?Setelah dapat warisan semua ga mau ngurus ibu.Ibu ga akan ganggu kalian lagi.Kalian tenang saja."
Bukannya minta maaf malah mereka segera cabut,"Nanti kami akan bilang sama Mas Marno Bu.Kami pergi dulu..."
Wei...udah ga beli,ngeselin malah ninggalin ibunya tanpa tanya gimana kondisi ibunya.Dunia memang sudah kebalik2.Aku peluk Nek Ijah,"Sabar ya Nek.Udah Nenek sama Imel aja.Kita hidup sepenanggungan.Imel seneng kok ditemeni Nenek.Ayo masuk ke dalam aja.Dingin."
Kereta lewat dan aku senang memperhatikannya.Jadi ingat mendiang ayah,"Mel,kamu itu kalau menjalani hidup belajar dari kereta.Mereka itu selalu ikuti trek.Ikuti relnya.Kamu jangan keluar dari jalurmu.Teteplah jadi orang yang baik,hidup dengan nilai2 yang baik dan tetep percaya pada kebaikan Tuhan.Niscaya kamu akan bahagia."
Begitulah nasehat ayahku yang selalu kuingat.Meski hidup sering tak sesuai rencana aku tetap menjalani dengan tabah.Meski sampai kini aku dikenal sebagai perempuan ga bisa punya anak,janda lagi dan jadi gunjingan orang,aku akan tetap bersyukur masih bisa nolong orang,punya penghasilan,bekerja dengan tanganku dan melakukan kebaikan.Aku merawat Nek Ijah dengan riang,seakan menjaga ibu kandungku sendiri.Malah aku manggilnya ibu sekarang.Kalau pagi aku jualan kue leker depan rumah.Kebetulan rumahku deket sekolahan.Anak2 pada suka.Murah lagi.Ibu Ijah bantu bikin adonannya.Aku menikmati hari2ku dengan sukacita.Hingga suatu malam,sebulan setelah kejadian dengan anaknya Bu Ijah.Tiba2 sebuah mobil hitam berhenti didepan tempat aku jualan.Tumben orang kaya mau beli pikirku.Bu Ijah sedang makan di dalam,seorang pria berpakaian rapi,kemeja putih lengan panjang berkulit bersih dan wajahnya penuh wibawa gitu keluar dari mobil itu.Ia membawa hp dan mendekatiku,"Permisi.Mb pernah lihat ibu ini tidak?Kata saudara saya dia terakhir ketemu ibu saya ini di jalan ini."
Dia menunjukkan hpnya ada foto seorang wanita di sana dan wanita di foto itu adalah Bu Ijah.Aku terpana,begitu juga dia karena kemudian Bu Ijah muncul,"Iswan!!"
Mereka berpelukan gitu,"Ibu!!"
Aku sampai terharu melihatnya,Bu Ijah mengenalkanku dengan pria itu,"Ini anak angkat ibu.Iswan namanya.Iswan ini Imel,dia yang nampung ibu selama ini.Dia itu sangat baik sama ibu."
Kujabat tangan Mas Iswan,"Imel.Silakan duduk Mas...maaf adanya cuma tikar..."
Jabatan tangannya hangat dan hatiku berdebar entah kenapa.Mereka lalu ngobrol.Malah sampai aku tutup warung.Mas Iswan juga bantuin aku,"Terima kasih ya sudah menjaga ibu saya.Saya sungguh sangat berhutang budi pada mb."
Mas Iswan jadi sering main ke rumahku.Nengok ibunya.Rupanya ia dipindahtugaskan ke sini.Ia mengajak ibunya ke rumah dia.Aku sempat dengar pembicaraan mereka,"Ibu ikut Iswan ya?Iswan sengaja minta pindah ke kota ini demi bisa jaga ibu.Iswan dah dengar semua soal ibu yang disia2.Ibu ikut Iswan aja ya?Masak mau merepotkan Mb Imel terus...ya bu ya?"
Ibu Ijah malah nanya,"Nanti ada yang ga suka ibu di rumah kamu?"
Mas Iswan malah ngekek,"Iswan kan belum punya isteri Bu.Iswan pasti akan minta restu ibu kalau mau nikah.Iswan sangat menghargai ibu."
Aku sedih juga ditinggal Ibu Ijah.Namun kemudian Ibu Ijah sering main ke tempatku malah kalau pagi dia diantar mas Iswan ke rumahku.Kalau malam dia datang sama anak angkatnya itu nemeni aku jualan.Katanya dia khawatir sama aku.Kangen sama aku.Aku malah jadi deket sama Mas Iswan.Hatiku berbunga2 kalau deket dia.Tapi aku sadar aku ga boleh berharap lebih karena aku ini terkenal sebagai perempuan mandul.Aku ga mau mengecewakan siapapun lagi.Berkali2 Mas Iswan mengutarakan isi hatinya padaku tapi aku selalu menolaknya,"Mas,aku ini ga pantas sama Mas...Mas ini layak dapat perempuan yang lebih baik,yang bisa kasih anak...bukan janda kayak aku...aku ga mau Mas nyesel nanti..."
Tapi dia kekeh,"Aku akan nunggu sampai kamu mau Mel...aku akan menunggu..."
Aku heran sama dia,usiaku tuh mau kepala 4 dah mau lewat masa suburnya.Kekeh aja dia mau nikahi aku.Aku terus menolak dengan halus hingga kemudian aku dengar dia jatuh sakit.Kena DB.Ya ampun,aku panik sekali.Aku cemas bukan main.Nungguin dia di RS.Trombositnya malah turun terus.Aku sampai berdoa pada Tuhan,"Apapun akan kuberikan Tuhan,asal sembuhkan dia.Aku mohon...aku sayang dia.Aku mencintainya...walau aku sadar aku ga pantas mencintainya..."
Ibu Ijah berkata padaku,"Keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan...Iswan itu biasanya ga mudah sakit,tapi kalau sedih dia langsung drop.Tanyalah sama dia apa yang bikin dia sedih..."
Aku menuruti kata Ibu Ijah,namun aku ga sangka Mas Iswan malah melamarku di rumah sakit,"Aku sedih Mel...kamu nolak aku terus.Aku mohon terima lamaranku ya?Please..."
Dokter dan perawat senyum2 ke arahku,"Rupanya trombositnya ga naik2 karena masalah cinta ya?Hmm..."
Aku malu juga diliatin tapi kemudian aku terima lamaran itu,"Janji ya Mas akan semangat untuk sembuh...janji sama Imel ya?"
Mas Iswan gembira sekali aku terima lamaran dia.Langsung kondisinya membaik dengan cepat,dokter sampai heran,"Wah ini toh kekuatan cinta...the power of love...he..he.."
Tak lama usai masa penyembuhan dan pemulihan kami menikah.Dan akupun diboyong ke rumah Mas Iswan.Semua tetangga pada heran aku dapat pria mapan,baik dan goodlooking lagi.Tapi aku lebih terpana lagi kala mas Iswan membawaku ke dokter beberapa minggu kemudian.Aku merasa ga enak badan,kupikir masuk angin aja lha kok malah dinyatakan positif hamil,"Ah dokter bercanda ya?"
Dokternya malah heran,"Lho ini bener Bu...saya sudah tes dengan urinenya juga...begini saja tunggu sampai janinnya tumbuh.Baru di USG...lihat apa saya bercanda atau tidak."
Mas Iswan malah hepi banget,"Aku jadi ayah yesss!!Makasih Tuhan!!"
Aku masih ga percaya,masih deg2an dan keheranan.Aku pikir aku mandul.Lha kok baru beberapa minggu nikah sama Mas Iswan dah hamil.Kok dulu sama mantan suami pertamaku,aku ga hamil2 ya?Tetanggaku juga pada heboh denger aku hamil,"Paling itu kista dikira janin.Apa tumor gitu..."
Namun ibu mertuaku,Bu Ijah menyemangatiku,"Biasa orang itu ga suka lihat orang lain bahagia.Jangan terlalu dipikirkan.Semua adalah karunia Tuhan."
Perutku kian besar dan diUSG bener ada janinnya.Aku lega.Rasa syukur tak putus kupanjatkan ke hadirat Tuhan atas pemberian-Nya.Walau gitu para tetanggaku masih saja menghembuskan berita miring,"Ada bayinya belum tentu bisa lahir kan dia udah mau kepala 4 itu,usia rawan buat melahirkan.Paling anaknya mongoloid kena down syndrome.Malah ngeri.."
Aku jadi cemas juga tapi Mas Iswan menghiburku,"Jangan banyak pikiran sayang...meskipun apapun kondisi yang terjadi nanti aku akan tetap mencintai kamu dan anak kita...Aku takkan tinggalkan kalian.Jangan cemas ya ibu muda...he..he..mikir itu yang bagus2 aja.Lihat nih foto2 aku.Mikir aja kalau anaknya bakal seganteng ayahnya he..he..kalau laki kalau cewek nih lihat foto kamu...cantik kan?Jangan masukin hal2 yang merusak ketenangan hatimu apalagi lagi hamil.Itu ga baik buat janin.Ok?"
Aku lebih tenang mendengar ucapan Mas Iswan.Setiap hari aku lebih fokus berdoa dan memikirkan hal yang baik,yang mulia,yang manis dan yang sedap didengar.Aku malah makan terus.Ibu Ijah terus menjagaku.Dan anakku lahir dengan kondisi baik.Tidak down syndrome atau apapun itu.Ia sehat,laki lagi.Jagoan dan ganteng kayak ayahnya.Mas Iswan gembira sekali.Aibku diangkat oleh Tuhan.Aku bisa hamil dan melahirkan anak.Aku ketemu sama mantan suamiku pas di mall,dia kaget lihat perut aku besar dan Mas Iswan gendong anakku,Iswandi yang saat itu sudah 2 tahun usianya,"Imel?Ini beneran kamu?Kamu hamil ?Berapa bulan Mel?"
Aku jawab,"Iya Mas..aku hamil jalan 5 bulan.Anak kedua.Itu anak pertamaku!"
Kukenalkan dia pada Mas Iswan,mereka bersalaman.Aku lalu nanya,"Lha anak mas sudah berapa?Isteri mas mana?"
Eh dia malah menggeleng,"Belum Mel.Isteriku belum hamil sampai sekarang.Malah dia kena kanker serviks.Dia sedang opname sekarang.Aku kemari cari kebutuhan dia buat di RS sekalian belanja keperluan rumah.Maafkan aku ya Mel dulu aku nyebut kamu perempuan mandul.Ternyata akulah yang ga bisa punya anak."
Aku kaget ya ampun,dia alami banyak hal.Dia lalu bergegas pergi dengan wajah yang jauh lebih pirus dari dulu saat masih menikah denganku.Aku melahirkan anak kedua juga dengan baik meski cesar.Tuhan mengangkat aibku ga tanggung2,aku bahkan dibuat takjub atas perbuatan-Nya.***The End***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar