CERPEN KE-31 : SEDIHNYA KALAU BANJIR^^^


÷÷÷ CERPEN KE-31  : SEDIHNYA KALAU BANJIR
            Setiap kali memasuki akhir tahun,aku selalu merasa was2.Apalagi ramalan cuaca dari BMKG menyebutkan bahwa intensitas hujan akan tinggi di wilayahku.Aku makin resah.Inilah susahnya hidup di daerah bantaran sungai.Setiap tahun selalu dicekam ketakutan bila banjir melanda.Seperti beberapa tahun yang lalu saat banjir besar melanda kota dimana aku dan keluargaku tinggal.Kami terpaksa mengungsi dan tinggal di penampungan.Dingin sekali udaranya dan jelas tidak senyaman di rumah sendiri.Aku kasihan melihat nenekku,beliau kedinginan dan kuselimuti dengan selimutku tebalku.Selimut hadiah dari teman2 kerjaku dulu.Kasihan nenek.Beliau memandangku dan membelai pipiku kala itu,"Makasih ya Lia...sampai merelakan selimut kesayangannya buat Nenek...kamu memang cucu yang baik."
           Ya,Lia demikian namaku.Aku putri tertua dari kedua orang tuaku.Adikku masih ada 3.Masih sekolah semua.Semua masih butuh biaya.Itulah kenapa ayah masih bertahan hidup di rumah yang setiap tahun selalu kena banjir.Sudah hal biasa bila air masuk ke dalam rumah setinggi mata kaki.Namun jauh didalam hatiku,ada impian di sana.Impian akan rumah yang jauh lebih baik.Yang ga pusing bila hujan turun dengan derasnya.Rumah yang setiap malam penghuninya bisa tidur dengan nyenyak tanpa takut air bah atau air kiriman datang.Air luapan sungai suka datang di malam hari disaat sedang nikmat2nya tidur.Sudah ga heran jika benda2 elektronik di rumahku kerap rusak.Makhlum lembab dan kadang ga sempat diselamatkan.Tahu2 sudah mengapung di atas air bersama perabotan yang lain.Belum penyakit selama banjir melanda.Aku kerap menangis dalam hati bila kami sudah mulai mengungsi.Belum jadi bahan pembicaraan pula di sekolah hingga kini di kerjaan.Bukannya bersimpati atas musibah yang kualami,mereka malah meledekku,"Gimana Lia perlu dikirimi nasi bungkus ga he..he..?"
 Aku hanya bisa tersenyum saja,eh masih ada juga yang ngejek,"Kenapa kemarin ga masuk Lia?Lupa bawa remote ya?Airnya harusnya kamu remote saja biar ga mengalir ke rumah kamu.He..he.."         Sabar2...
            Namanya juga anaknya orang banyak.Namun dalam hati aku kian bertekad bulat untuk punya rumah yang ga lagi kena banjir.Rumah impian.Aku ga mengeluh pada ayah soal rumah kami yang sekarang.Kasihan beban ayah sudah banyak.Ayahku dah kerja serabutan demi aku bisa sekolah,bisa makan 3x sehari dan adik2ku bisa mendapat penghidupan yang layak.Aku ga mau menambah beban ayah dengan mengeluh atau bersungut2.Semua kusimpan dalam hati dan kutuliskan dalam diaryku,'Dear God,aku dengar kau Tuhan yang baik dan tak memandang hina apapun.Aku juga dengar Kau sangat kaya,seluruh alam semesta ini milik-Mu.Tuhan,bukan aku tak bersyukur atas apa yang Kau berikan padaku pada keluargaku selama ini.Hanya saja,aku sedih Tuhan bila setiap bulan November atau Desember tiba pasti kami sekeluarga harus siaga banjir.Hati ga tenang,tidur juga ga lelap,serba cemas bawaannya.Ya Tuhan,berikan kepadaku kekuatan untuk meraih kekayaan agar aku bisa membeli rumah dan membawa keluargaku pindah ke lingkungan yang lebih baik.Ga perlu takut lagi bila akhir tahun tiba.Aku mohon ya Tuhan,bukakanlah jalan dan pertemukan aku dengan orang2 yang akan membantuku mewujudkan impianku ini.Semua demi ayahku Tuhan,demi Nenek dan ibu juga adik2ku.Kasihan mereka Tuhan.Aku suka sedih kalau lihat mereka harus tinggal di tempat penampungan.Kabulkanlah permohonanku ya Tuhan.Aku percaya tangan-Mu tidak kurang panjang untuk menolongku.Terima kasih buat rumah baru yang indah,tidak banjir,dan nyaman ditempati.Terima kasih.Amin.Met malam Tuhan,aku bobok dulu ya...'
           Tak kusangka doa sederhana itu didengar Tuhan.Aku mendapat pekerjaan yang baik dan kerja cuma 5 hari dalam seminggu.Hari Sabtu dan Minggu aku bisa cari kerjaan sambilan.Aku suka menanam aneka tanaman warung hidup.Ada bayam daun jumbo tumbuh dengan subur di halaman.Aku buat jadi cemilan.Kugoreng dengan tepung berbumbu dan kupack dalam plastik2 gitu lalu kujual atau kutitipkan ke warung2,hek kadang malah kubawa ke kerjaan.Laris manis.Sampai aku kewalahan melayani pesanan.Adik2ku kukerahkan semua membantuku.Mereka senang sekali.Bahkan saat kondisi kerjaanku alami krisis hingga harus tutup,aku menganggap itu jalan Tuhan untuk aku fokus jualan cemilan.Aku buka kios kecil depan rumah dengan nama "Kios Cemilan Lia ".Lumayan bisa bantu ibu dan jadi kesibukan juga di rumah.Walau aku tetap cari kerja sih.Aku bawa sepeda jengkiku dan membawa dagangan cemilanku ke mana saja yang mau menerimanya.Namun suatu kali aku kelelahan dan malah hampir menabrak seorang nenek yang berjalan kebingungan saat mau menyeberang.Aku kasihan padanya dan kubantu dia menyeberang.Bahkan kuantar sampai rumahnya.Wow!Rumahnya bagus nian.Aku terpana.Sayang sepertinya rumahnya kurang terawat,rumput2nya tinggi dan halamannya agak kotor.Nenek itu berterima kasih dan tanya sama aku kala lihat daganganku yang tinggal sisa sedikit,"Itu apa Nak?"
Aku malah promo,"Ini bayam goreng Nek.Saya jualan ini Nek sambil nyari kerja.Nenek mau coba?Ini saya masih ada.Ini buat Nenek.Renyah kok.Ga keras.Cobain deh Nek."
             Beliau malah borong daganganku dan minta dikirimi tiap hari.Wah aku jelas seneng banget.Akupun rajin mengirim daganganku ke rumah beliau.Hingga suatu hari aku datang dan melihat beliau sedang menangis,"Nenek kenapa?"
             Rupanya beliau sedih karena cucu yang biasa menemaninya sedang ada job di luar kota.Dia kesepian.Aku lalu ditawari kerja di rumahnya.Wah aku jelas mau apa aja aku lakukan asal dijalan yang benar.Semua demi rumah impian.Akupun kerja di sana menemani sang nenek.Jadi tukang kebun juga merangkap he..he..Soalnya aku suka tanaman dan bila dekat tanaman aku betah banget.Nenek Sun demikian aku biasa memanggilnya.Aku sudah dianggap sebagai cucunya sendiri.Katanya aku seumuran dengan cucu beliau.Aku cuma lihat foto anak laki2 dengan pipi gemesin gitu dipajang di bufetnya.Selain itu kebanyakan adalah lukisan dan gambar2 aneka design rumah.Kepo juga aku lihatnya,"Banyak sekali gambar rumah dan sketsanya di sini Nek?"
            Nenek lalu cerita kalau cucunya memang seorang arsitek.Aku cuma bisa manggut2.Enak ya bisa sekolah tinggi dan jadi orang yang kompeten di bidangnya.Aku cuma lulusan D3.Kerja juga paling jadi staff.Sekarang malah staff rumah tangga alias pembantu tersamar.Weleh... Hingga aku dapat kerjaan di sebuah perusahaan jasa konsultan sipil.Aku bilang pada Nenek Sun bahwa aku sudah dapat kerja tapi aku akan datang berkunjung tiap hari Sabtu atau Minggu.Aku kerja dengan semangat.Aku ga menanggapi jika ada yang suka sama aku.Jujur aku trauma dengan pacaran.Dulu aku punya pacar namanya Arya.Kupikir dia baik dan mau menerimaku apa adanya.Namun kala dia tahu aku tinggal di bantaran sungai,dirumah yang kecil dan sederhana,perlahan dia mulai menjauh bahkan kemudian dia malah jalan sama sahabatku sendiri.Rum namanya.Aku mergoki mereka saat di mall.Waktu itu aku nyari bahan2 buat daganganku dan aku lihat mereka asyik jalan gandengan mesra banget.Aku temui mereka,langsung grogi keduanya.Saat itu juga aku putuskan dia.Hatiku sakit bukan karena dia selingkuh sama sohibku tapi karena dia memilih sahabatku karena dia lebih tajir,punya rumah gedongan ga kebanjiran kayak aku.Jujur rumahku memang kerap bikin aku menarik diri dari pergaulan.Aku ga mau mereka menghina ayahku.Di tempat kerjaku ada seorang yang sangat jago soal gambar namanya Radex.Dia baru saja tiba dari luar kota,kamipun diperkenalkan.Makin lama kami makin akrab.Dia baik banget.Hingga suatu hari saat aku ke rumah Nenek Sun aku melihat dia.Astaga ternyata dialah cucu Nenek Sun.Dia juga terkejut kala neneknya mengenalku. Gimana hubungan mereka selanjutnya?Akankah Radex sama dengan Arya?Cerpennya dilanjut ntar ya soale dah pagi saya harus kerja.Sorry juga belum sempat nulis cerbungnya.***
>>> Lanjutan Cerpen ke-31 : SEDIHNYA KALAU BANJIR
           Sungguh terkejut aku kala aku mampir ke rumah Nenek Sun dan melihat sebuah mobil yang tak asing bagiku.Kala itu aku pas mau motongin rumput yang mulai kembali meninggi di halaman Nenek Sun.Aku terhenyak kala Nenek yang tadinya asyik ngobrol denganku tiba2 nampak sumringah kala sebuah mobil memasuki halaman,"Cucuku!Lia ayo aku kenalkan kau padanya!"
Aku menurut saja mengikuti beliau tapi kala melihat siapa yang dipeluk Nenek dengan hangatnya,aku terpana,"Radex?"
Sama sepertiku Radex juga terheran2 melihatku,"Lia?"
Nenek Sun juga ikut heran,"Kalian sudah saling kenal?"
Aku dan Radex bersamaan menjawab,"Kami satu kerjaan Nek."
Nenek Sun tersenyum melihat kekompakan kami menjawab,"Wah,kalian sehati ya?Bisa samaan jawabnya."
            Aku dan Radex jadi salting deh.Dari situ aku makin dekat dengan Radex bahkan ia berkali2 ingin main ke rumahku.Namun aku selalu mengelak,"Rumahku tak sebagus rumah Nenekmu Dex,lagian lingkungannya juga bukan di kawasan elit.Aku takut kau akan berubah begitu mengetahui seperti apa kondisi keluargaku."
Radex malah memandangku,"Bagiku rumah bagus jika tiada kasih sayang didalamnya bukanlah hunian yang nyaman.Tapi jika sebuah rumah meskipun sangat sederhana atau tipe RSS sekalipun jika didalam rumah itu ada kehangatan dan saling memperhatikan satu dengan lainnya,itulah rumah yang sebenarnya."
           Aku terharu mendengar ucapannya dan iapun kuajak ke rumahku.Mobilnya diparkir dekat sungai,semua tetangga heboh melihat aku datang bersama pria bermobil.Walaupun sebenarnya Radex berulang2 menyatakan kalau ia mencintaiku namun aku belum menjawab cintanya.Aku masih trauma dengan masa laluku.Namun Radex tak menyerah,ia terus datang dan datang.Bahkan ia menjemputku kerja.Akhirnya aku yakin bahwa ia tak sama seperti Arya.Ia lain.Saat banjir melanda,disitulah aku melihat bagaimana Radex membantu keluargaku.Aku menangis di pelukannya kala melihat rumah kecilku terbenam dalam air,"Rumahku lenyap Dex...rumahku...Kasihan ayahku..."
 Ia menenangkanku dan berjanji akan membantu mencarikan rumah baru bagi keluargaku,"Biarkan aku membantumu Lia.Ijinkan aku berbagi suka dan duka denganmu.Biar keluargamu menjadi keluargaku juga.Kumohon Lia..."
            Disitulah disaat aku kehilangan rumahku karena banjir,aku menerima cinta Radex.Sementara keluargaku tinggal di rumah kontrakan.Radex yang mencarikannya buatku.Sebenarnya ia menawarkan keluargaku untuk tinggal di rumah Neneknya tapi aku ga mau merepotkan.Lagian aku ada uang hasil menabung selama ini buat mengontrak rumah.Radex tahu aku orangnya paling ga suka mengemis apalagi merepotkan orang.Tapi diam2 ia merancang sebuah rumah untuk kami.Ia membuat denahnya dan rancang bangunnya.Dan kala ia melamarku ia membawa denah itu kepadaku,"Maukah kamu membangun rumah bersamaku Lia?"
Aku terpana melihat ia berlutut dan menyerahkan gambar itu padaku,"Radex apa maksudmu ...aku tak mengerti?"
Nenek Sun yang menjawab pertanyannku,"Dia melamarmu Lia...ayolah jawab dengan ya ...Nenek ingin sekali melihat kalian menikah dan tinggal di sini bersama Nenek."
            Aku memandang ayahku juga ibuku dan nenek kandungku.Semua mengangguk padaku bahkan adik2ku sudah teriak2,"Terima kak!Kak Radex baik lho.Ayo terima!"
Tentu saja aku terima.Aku akhirnya menikah dengan Radex dan tinggal bersama dia di rumah Nenek Sun.Orang tua Radex sangat bahagia karena aku mendekatkan mereka lagi dengan putranya.Selama ini Radex memang tidak akur dengan orang tuanya.Mereka selalu sibuk dengan bisnisnya sehingga ia memilih tinggal dengan neneknya.Namun kehadiranku dalam hidup Radex membukakan pada dirinya betapa berharganya keluarga.Orang tua Radex bahkan membantuku memperbesar toko cemilanku dan meluaskan jaringannya.Aku akhirnya malah jadi sukses dari hasil membuat cemilan.Bahkan tembus ke supermarket2.Bahkan akhirnya aku bisa membeli sebidang tanah dan membangun rumah yang dirancang suamiku untuk keluargaku.Rumah dengan jerih payahku dan tetesan keringat serta doa keluargaku.Rumah yang indah selain karena dirancang langsung oleh suamiku yang seorang arsitek juga merupakan jawaban doaku.Kuelus perutku yang kini sedang mengandung anak Radex,kupandang sungai dimana dulu airnya menghanyutkan rumah lamaku.Radex nampak mengambil foto kami dengan kameranya.Aku memandang ke arahnya dengan penuh cinta.Kini tak ada lagi kecemasan bila hujan mengguyur dengan derasnya.Keluargaku sudah tinggal di tempat yang aman.Adik2ku bahkan meneruskan tokoku.Melanjutkan usahaku.Aku ingin fokus merawat buah hatiku.Radex bahkan sudah menyiapkan namanya bila laki2 diberi nama Rain Novanto.Karena lahirnya diperkirakan di bulan November.Kalau perempuan diberi nama Lea Dexanti.Gabungan namaku dan nama Radex.Aku akan bersyukur pada Tuhan entah laki apa perempuan yang Ia berikan.Semua pasti yang terbaik dari-Nya. ***The End***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar