CERPEN PERDANA : PIRING SENG^^^.

|||| PIRING SENG.... 
Aku pulang kerja jam 5 sore.Hari ini aku puasa.Sudah jadi kebiasaan aku untuk puasa sehari tiap minggu.Biasanya sih hari Senin biar aku ga bad mood menghadapi dunia nan sibuk.Jangan sampai aku terkena sindrom "I hate Monday ".Bagiku tiap hari adalah sebuah karunia dan kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.Aku melangkah menuju parkiran sambil menenteng helm,biasa mau nebeng temen.Ronald demikian nama temanku,dia mekanik di perusahaan dimana aku bekerja.Banyak yang ga suka sama dia karena banyak yang bilang dia itu begini dan begitu.Tapi aku melihat satu saja yaitu dia mau aku tebengi dan dia setia menanti meski aku ga bilang mau nebeng dia.Aku ga butuh orang sempurna untuk jadi temanku.Yang aku doakan selalu adalah orang yang baiklah yang menjadi temanku.Hpku bergetar,ada sms.Dari Mr.Goodman alias Ronald.Dia bilang,"Mb tunggu bentar ya aku lagi dipanggil sama Head Of Departemen." Aku balas,"Iya Nald..Gpp.Aku akan tunggu." Sambil menunggu di bawah pohon bambu kulihat sebuah rumah penduduk dekat situ.Seorang remaja putri nampak ribut sama ibunya sambil melempar sebuah piring seng keluar ke arah halaman kebetulan dekat aku duduk,"Bu!Piring jelek kaya gini aja masih dipakai.Udah berlubang tuh.Buang aja!Miskin amat sih kita makan aja pakai piring seng berlubang lagi.Amit2!" Sang ibu nampak sedih melihat kelakuan putrinya,"Sri,jangan dibuang piringnya.Itu piring kenangan dari mendiang bapakmu." Gadis belia itu malah memakai head set,"Kenangan espret!!Berisik tahu kalau jatuh ke lantai.Udah dibuang aja.Atau dijual rongsong aja!" Aku ambil piringnya dan kukembalika pada sang ibu,"Maaf ini piring milik ibu ya?" Sang ibu mengusap air mata di pipinya,"Makasih ya Nak.Piring ini berharga banget buat ibu." Aku memberikan tissue padanya,"Setiap orang memiliki persepsi berbeda terhadap suatu benda atau suatu hal.Mungkin putri Ibu belum tahu makna dibalik piring seng ini.Tapi saya malah jadi ingin tahu ada apa sih keistimewaan piring ini?" Putri Ibu itu duduk di lantai depan rumahnya seraya memakai head setnya dan nampak asyik mendengarkan musik soalnya sambil goyang2 gitu kepalanya.Aku lalu di ajak ibu tadi duduk di tempat aku menunggu tadi.Kami duduk sambil ngobrol.Anehnya anak gadisnya juga pindah duduknya dekat aku sambil lihatin hpnya,dia cuma senyum aja lalu duduk.Samar kudengar bunyi musiknya.Korean wave.Hmm...demam Korea ya. Sambil menunggu Rohmat aku mendengarkan sang ibu cerita,"Suami ibu sebenarnya anak orang kaya namun karena dia memilih menikah sama ibu maka dia diusir dari keluarganya.Kami hidup terlunta2.Sampai kemudian dia jadi kuli kasar kerja di bangunan.Gaji pertama dia beliin ibu piring seng itu.Kami dulu kerap makan dengan piring plastik tapi sering ibu lapisi dengan daun jati atau daun pisang sebab baunya kadang ga sedep.Biasa peralatan plastik murahan bukan yang kayak zaman sekarang bagus2." Aku tersenyum mendengarnya,"Iya saya juga kadang malas bawa bekal karena suka berubah aromanya kalau di wadah plastik.Baunya jadi aneh." Sang ibu melanjutkan,"Melihat itu maka suami ibu beliin piring seng buat ibu." Aku heran juga,"Kenapa ga beli dua ibu?Kok cuma satu?" Sang ibu memandang ke langit,"Suami ibu itu kan terbiasa makan pakai piring beling Nak.Namanya juga anak orang kaya.Ibu dulu pembantu di rumah dia.Ibu hapal dia suka makai piring duralex yang kacanya warnanya agak ungu itu.Sekarang sudah jarang bisa nemu yang kayak gitu.Piring langka." Aku manggut2,"Oh pantas belinya cuma satu.Kenapa ga beli piring duralex itu aja ?" Sang ibu memandang putrinya,"Ibu sedang hamil Sri waktu itu.Jadi uang gaji suami ibu buat biaya kelahiran.Lagian sejak menikah sama ibu suami ibu ga pilih2 lagi mau makan pakai apa.Ibu sendiri kebiasaan pas jadi pembantu di rumah suami ibu dulu kalau makan pasti pakai piring seng.Malah piring seng pula yang menjadi awal benih cinta kami bersemi." Aku kepo,"Oh ya kok bisa?" Ibu itu bernostalgia,"Ibu waktu itu grogi jadi pembantu di rumah gedongan eh malah jatuhin piring seng.Rame gitu suaranya.Suami ibu ketawa dan bantu ngambilin.Bertemu pandang deh...he..he..Namun ibu diam2 kumpulin uang buat beli piring kesukaan suami ibu.Akhirnya dapat.Ibu kasih pas ulang tahunnya.Dia seneng banget." Wah jujur aku ga sangka sebuah piring bisa bermakna dalam bagi seseorang.Aku menoleh ke Sri,kenapa tak kudengar lagi ya suara musik koreanya?Tapi dia masih pakai headset.Mungkin ganti lihat apa kali ya... Sang ibu nampak menerawang,"Sekarang suami ibu sudah tiada karena penyakit jantung.Ibu selalu mengenang dia.Piring seng itu kenangan indah buat ibu.Membuat ibu kuat menjalani hari2 ibu membesarkan putri Ibu.Banyak pria ingin melamar ibu namun ibu menolak.Semua karena ibu sangat mencintai bapaknya Sri.Meski piringnya sudah lubang dan usang sekalipun takkan pernah ibu jual.Apalagi ibu buang.Bagi ibu itu adalah tanda cinta dari mendiang suami ibu." Aku berkaca2 mendengarnya,teringat aku pada mendiang ibuku sukanya juga piring seng.Aku juga sampai ketularan.Bahkan aku sampai minta kakak beliin spesial buat aku kalau lihat ada yang jual.Akhirnya dapat.Aku jadi ingin pulang deh... Kulihat Ronald datang mendekat,"Ibu saya pamit ya.Temen saya sudah datang.Bukan cuma ibu yang suka piring seng.Saya juga.Oh ya kenalkan nama saya Linda." Sang ibu tersenyum menyalamiku dengan hangat,"Kalau nunggu lama mampir rumah Ibu Nak.Oh ya nama saya Darmi." Anak gadis ibu Darmi itu ikut berdiri dan menyalamiku,aku heran juga.Ronald mendekatiku,"Maaf lama ya mb.Heran tuh kenapa begitu jam pulang malah baru manggil Pak Head of itu.Kebiasaan buruk." Aku memakai helmku,"Gpp.Makhlum urusannya kan banyak.Baru inget kali." Ronald menggerutu,"Ingetnya dia itu apa setelah jam kerja selesai ya.Ga mikir apa kalau aku juga dinanti keluargaku.." Weleh ....aku juga heran.Aku pamitan sama Ibu Darmi dan Sri,"Mari..." Mereka tersenyum melambaikan tangan ke arahku.Dari jauh kulihat Sri tiba2 memeluk ibunya sambil menangis kayaknya.Sepertinya dia mendengarkan percakapan aku dan ibunya.Sampai rumah aku segera mandi dengan air hangat,biar asmaku ga kambuh.Sembari mencuci baju aku melihat ke rak,"Lho mb mana piring sengku?" Kakakku keluar dari kamar diikuti bodyguard kecilnya namanya Damas.Anak keduanya yang baru berumur 3 tahun.Di tangan ponakanku nan ipel2 itu piring sengku.Horok...kok malah dipegang Damas?Aku berjongkok depan Damas,"Ini dia yang nyembunyiin piring Tante.Si Tembem ini.Pasti buat main lagi ya?" Damas segera memberikannya padaku,"Punya tante.." Aku gemes sama dia,"Ntar beli lagi ya?Yang banyak.Biar rame rumahnya.He..he.." Aku tersenyum dan segera mencuci piring itu.Usai mencuci baju,kunikmati makan malamku di sebuah kursi panjang depan kamarku sambil memandang piring seng di tanganku.Mulai sekarang aku akan lebih menghargai piring ini.*The End* 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar