|||| PIRING SENG....
Aku
pulang kerja jam 5 sore.Hari ini aku puasa.Sudah jadi kebiasaan aku untuk puasa
sehari tiap minggu.Biasanya sih hari Senin biar aku ga bad mood menghadapi
dunia nan sibuk.Jangan sampai aku terkena sindrom "I hate Monday
".Bagiku tiap hari adalah sebuah karunia dan kesempatan untuk menjadi
manusia yang lebih baik lagi.Aku melangkah menuju parkiran sambil menenteng
helm,biasa mau nebeng temen.Ronald demikian nama temanku,dia mekanik di
perusahaan dimana aku bekerja.Banyak yang ga suka sama dia karena banyak yang
bilang dia itu begini dan begitu.Tapi aku melihat satu saja yaitu dia mau aku
tebengi dan dia setia menanti meski aku ga bilang mau nebeng dia.Aku ga butuh
orang sempurna untuk jadi temanku.Yang aku doakan selalu adalah orang yang
baiklah yang menjadi temanku.Hpku bergetar,ada sms.Dari Mr.Goodman alias
Ronald.Dia bilang,"Mb tunggu bentar ya aku lagi dipanggil sama Head Of
Departemen." Aku balas,"Iya Nald..Gpp.Aku akan tunggu." Sambil
menunggu di bawah pohon bambu kulihat sebuah rumah penduduk dekat situ.Seorang
remaja putri nampak ribut sama ibunya sambil melempar sebuah piring seng keluar
ke arah halaman kebetulan dekat aku duduk,"Bu!Piring jelek kaya gini aja
masih dipakai.Udah berlubang tuh.Buang aja!Miskin amat sih kita makan aja pakai
piring seng berlubang lagi.Amit2!" Sang ibu nampak sedih melihat kelakuan
putrinya,"Sri,jangan dibuang piringnya.Itu piring kenangan dari mendiang
bapakmu." Gadis belia itu malah memakai head set,"Kenangan
espret!!Berisik tahu kalau jatuh ke lantai.Udah dibuang aja.Atau dijual
rongsong aja!" Aku ambil piringnya dan kukembalika pada sang
ibu,"Maaf ini piring milik ibu ya?" Sang ibu mengusap air mata di
pipinya,"Makasih ya Nak.Piring ini berharga banget buat ibu." Aku
memberikan tissue padanya,"Setiap orang memiliki persepsi berbeda terhadap
suatu benda atau suatu hal.Mungkin putri Ibu belum tahu makna dibalik piring
seng ini.Tapi saya malah jadi ingin tahu ada apa sih keistimewaan piring
ini?" Putri Ibu itu duduk di lantai depan rumahnya seraya memakai head
setnya dan nampak asyik mendengarkan musik soalnya sambil goyang2 gitu
kepalanya.Aku lalu di ajak ibu tadi duduk di tempat aku menunggu tadi.Kami
duduk sambil ngobrol.Anehnya anak gadisnya juga pindah duduknya dekat aku
sambil lihatin hpnya,dia cuma senyum aja lalu duduk.Samar kudengar bunyi
musiknya.Korean wave.Hmm...demam Korea ya. Sambil menunggu Rohmat aku
mendengarkan sang ibu cerita,"Suami ibu sebenarnya anak orang kaya namun
karena dia memilih menikah sama ibu maka dia diusir dari keluarganya.Kami hidup
terlunta2.Sampai kemudian dia jadi kuli kasar kerja di bangunan.Gaji pertama
dia beliin ibu piring seng itu.Kami dulu kerap makan dengan piring plastik tapi
sering ibu lapisi dengan daun jati atau daun pisang sebab baunya kadang ga
sedep.Biasa peralatan plastik murahan bukan yang kayak zaman sekarang
bagus2." Aku tersenyum mendengarnya,"Iya saya juga kadang malas bawa
bekal karena suka berubah aromanya kalau di wadah plastik.Baunya jadi
aneh." Sang ibu melanjutkan,"Melihat itu maka suami ibu beliin piring
seng buat ibu." Aku heran juga,"Kenapa ga beli dua ibu?Kok cuma satu?"
Sang ibu memandang ke langit,"Suami ibu itu kan terbiasa makan pakai
piring beling Nak.Namanya juga anak orang kaya.Ibu dulu pembantu di rumah
dia.Ibu hapal dia suka makai piring duralex yang kacanya warnanya agak ungu
itu.Sekarang sudah jarang bisa nemu yang kayak gitu.Piring langka." Aku
manggut2,"Oh pantas belinya cuma satu.Kenapa ga beli piring duralex itu
aja ?" Sang ibu memandang putrinya,"Ibu sedang hamil Sri waktu
itu.Jadi uang gaji suami ibu buat biaya kelahiran.Lagian sejak menikah sama ibu
suami ibu ga pilih2 lagi mau makan pakai apa.Ibu sendiri kebiasaan pas jadi
pembantu di rumah suami ibu dulu kalau makan pasti pakai piring seng.Malah
piring seng pula yang menjadi awal benih cinta kami bersemi." Aku
kepo,"Oh ya kok bisa?" Ibu itu bernostalgia,"Ibu waktu itu grogi
jadi pembantu di rumah gedongan eh malah jatuhin piring seng.Rame gitu
suaranya.Suami ibu ketawa dan bantu ngambilin.Bertemu pandang
deh...he..he..Namun ibu diam2 kumpulin uang buat beli piring kesukaan suami
ibu.Akhirnya dapat.Ibu kasih pas ulang tahunnya.Dia seneng banget." Wah
jujur aku ga sangka sebuah piring bisa bermakna dalam bagi seseorang.Aku
menoleh ke Sri,kenapa tak kudengar lagi ya suara musik koreanya?Tapi dia masih
pakai headset.Mungkin ganti lihat apa kali ya... Sang ibu nampak menerawang,"Sekarang
suami ibu sudah tiada karena penyakit jantung.Ibu selalu mengenang dia.Piring
seng itu kenangan indah buat ibu.Membuat ibu kuat menjalani hari2 ibu
membesarkan putri Ibu.Banyak pria ingin melamar ibu namun ibu menolak.Semua
karena ibu sangat mencintai bapaknya Sri.Meski piringnya sudah lubang dan usang
sekalipun takkan pernah ibu jual.Apalagi ibu buang.Bagi ibu itu adalah tanda
cinta dari mendiang suami ibu." Aku berkaca2 mendengarnya,teringat aku
pada mendiang ibuku sukanya juga piring seng.Aku juga sampai ketularan.Bahkan
aku sampai minta kakak beliin spesial buat aku kalau lihat ada yang
jual.Akhirnya dapat.Aku jadi ingin pulang deh... Kulihat Ronald datang
mendekat,"Ibu saya pamit ya.Temen saya sudah datang.Bukan cuma ibu yang
suka piring seng.Saya juga.Oh ya kenalkan nama saya Linda." Sang ibu
tersenyum menyalamiku dengan hangat,"Kalau nunggu lama mampir rumah Ibu
Nak.Oh ya nama saya Darmi." Anak gadis ibu Darmi itu ikut berdiri dan
menyalamiku,aku heran juga.Ronald mendekatiku,"Maaf lama ya mb.Heran tuh
kenapa begitu jam pulang malah baru manggil Pak Head of itu.Kebiasaan
buruk." Aku memakai helmku,"Gpp.Makhlum urusannya kan banyak.Baru
inget kali." Ronald menggerutu,"Ingetnya dia itu apa setelah jam kerja selesai ya.Ga mikir apa kalau aku juga dinanti keluargaku.." Weleh ....aku juga heran.Aku pamitan sama Ibu Darmi dan Sri,"Mari..." Mereka
tersenyum melambaikan tangan ke arahku.Dari jauh kulihat Sri tiba2 memeluk
ibunya sambil menangis kayaknya.Sepertinya dia mendengarkan percakapan aku dan
ibunya.Sampai rumah aku segera mandi dengan air hangat,biar asmaku ga
kambuh.Sembari mencuci baju aku melihat ke rak,"Lho mb mana piring
sengku?" Kakakku keluar dari kamar diikuti bodyguard kecilnya namanya
Damas.Anak keduanya yang baru berumur 3 tahun.Di tangan ponakanku nan ipel2 itu
piring sengku.Horok...kok malah dipegang Damas?Aku berjongkok depan
Damas,"Ini dia yang nyembunyiin piring Tante.Si Tembem ini.Pasti buat main
lagi ya?" Damas segera memberikannya padaku,"Punya tante.." Aku
gemes sama dia,"Ntar beli lagi ya?Yang banyak.Biar rame
rumahnya.He..he.." Aku tersenyum dan segera mencuci piring itu.Usai
mencuci baju,kunikmati makan malamku di sebuah kursi panjang depan kamarku
sambil memandang piring seng di tanganku.Mulai sekarang aku akan lebih
menghargai piring ini.*The End*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar