Cerpen
ke-4 : MEMINTA BINTANG UNTUK LANGIT
Sudah larut malam namun Langit masih belum juga tidur.Langit adalah anakku yang
kini sudah TK.Aku dekati dia yang sedang asyik melihat film
Teletubbies,"Langit ...udah malam tidur yuk!"
Dia malah menunjuk ke
layar hp,"Bu!Lala jatuh!Kayak Langit ya?Jatuh he..he..." Aku memandang
iba pada putraku itu,"Lutut Langit masih sakit ya?Sini biar Ibu lihat
lututnya."
Kuraih dia dalam pelukanku,"Lain kali ga usah main keluar
ya?Anak2 di sini nakal2.Langit mainnya di sekolah aja ya?" Anakku memang
agak terlambat pertumbuhannya sehingga tak heran bila dia tak seperti anak
seusianya.Kata dokter anakku hiperaktif.Sebenarnya Langit sudah dinyatakan
tidak ada dalam rahimku kala mau dilahirkan.Betapa nelangsa aku waktu itu.Mas
Irwan,suamiku sampai terduduk lemas mendengarnya.Empat tahun menanti seorang
bayi menghiasi rumah kami namun begitu mau dilahirkan malah sudah tak ada.Aku
menangis memandang suamiku,"Ga mungkin Mas.Ini ga mungkin.Tuhan sudah
berjanji akan memberikan kita anak bukan?"
Suamiku orang yang bijaksana,ia
juga begitu setia mendampingiku bahkan meski aku belum hamil juga,ia tetap
mencintaiku.Ia memegang tanganku,"Takdir Vi.Tuhan yang memberi Tuhan juga
berhak mengambilnya.Ikhlaskan Vi."
Aku ingat betul bagaimana aku melihat
ke langit2 ruangan rumah sakit waktu itu,"Tidak Mas!Penguasa Langit sudah
berjanji memberi kita anak.Aku sudah berdoa berkali2 Mas.Aku selalu bermimpi
melihat langit nan indah Mas.Aku tidak melihat bayangan kegelapan.Tidak!"
Dokter datang,"Maaf ibu harus dikiret.Mari ke ruangan operasi."
Sepanjang menuju ke sana aku berdoa sambil menangis,kuelus
perutku,'Tuhan,jangan ambil putraku.Aku sudah keguguran berkali2,kumohon jangan
ambil dia.Berikanlah kehidupan aku mohon.Jangan berikan pada bayiku
kematian.Aku minta kehidupan.Hanya dalam nama-Mu aku mohon.'
Dengan iman aku
mengelus perutku lalu berkata,"Kau akan lahir Nak.Kau akan hidup."
Dokter memeriksa aku sekali lagi memastikan bahwa benar janin di dalam perutku
memang sudah tiada namun ia terkejut kala memeriksa perutku dengan alat
USG,"Bagaimana bisa?Denyut jantungnya kembali ada!Ajaib!Siapkan peralatan
persalinan!!Bayinya masih bisa diselamatkan!!"
Aku mengucap syukur pada
Tuhan,'Akan kuberi nama-Mu jika dia lahir nanti.Aku janji.Terima kasih.'
Demikianlah akhirnya bayiku lahir,tangannya biru dan ia mengigil karena terlalu
lama berada dalam rahimku,segera kupeluk dia.Dokter lega,"Selamat
Ibu!Anaknya laki2.Ini keajaiban dari Langit."
Iya keajaiban dari Sang
Penguasa Langit dan Bumi,aku menangis kala jemari kecil bayiku
bergerak2.Suamiku datang,"Ini ajaib Vi.Anak kita hidup.Langit memberi kita
keajaiban."
Aku memandang Mas Irwan yang nampak membelai
putranya,"Mas namanya Langit saja ya?Dia putih dan lihat tangannya
kebiruan.Matanya juga biru seperti bule.Matanya seperti langit yang biru."
Suamiku setuju,"Iya namanya Langit.Langit Ervan Pratama.Artinya Langit
anak pertama Evi dan Irwan.Bagus kan?"
Aku tersenyum kala Mas Irwan
mencium keningku,"Terima kasih sudah bersedia menjadi ibu bagi
anak2ku."
Aku memandang penuh haru padanya,justru akulah yang harus
berterima kasih karena dia begitu sabar padaku.Berkali2 membelaku kala orang2
menghinaku karena keguguran terus.Empat tahun bak dalam neraka,namun setelah
Langit lahir hatiku damai luar biasa.Walaupun dokter memberitahu bahwa Langit
mungkin tak akan sama dengan anak2 lain tapi bagiku yang penting dia hidup.Mas
Irwan sayang banget sama Langit.Dia selalu bawa oleh2 kalau pulang kerja.Entah
mainan entah makanan.Namun benar kata dokter,Langit berbeda.Dia anti sosial.Dia
tak suka bermain seperti anak kebanyakan.Dia pendiam.Belajar ngomong juga baru
setahun terakhir ini itupun kadang ga nyambung.Ditanya ini jawabnya itu.Dia
suka sekali lihat video Teletubbies.Dia sebenarnya senang bermain tapi dia
selalu dijauhi kadang di anggap aneh bahkan pulang sambil
menangis,"Ibu!!Langit ga boleh ikut main!!Ibu!!"
Aku yang sedang
menyapu halaman depan kaget,"Langit kok nangis?Kenapa?" Langit malah
lari ke kamar terus lihat videonya lagi,"Langit lihat Lala sama Poh aja.Ga
ada yang mau main sama Langit."
Kasihan putraku.Akhirnya kalau dia main
aku ikut bersamanya dan memang dia selalu dikucilkan.Dianggap anehlah.Makhlum
secara fisik dia sama tapi secara psikis dia masih terlambat.Aku melamun sambil
membelai kepala putraku,bunyi motor menyadarkanku,'Mas Irwan pulang.'
Kulihat
Langit sudah tidur,kuselimuti dia.Lalu aku menuju pintu.Terdengar suamiku
memanggilku,"Bu!"
Sejak punya Langit kami jadi biasa menyebut ibu dan
ayah sebagai panggilan agar Langit terbiasa. Aku menjawab,"Iya."
Mas
Irwan memang dapat shift siang jadi pulangnya malam,"Langit sudah
tidur?" Aku lihat ia bawa oleh2,"Sudah baru saja.Tadi dia jatuh
Yah.Main sama anak tetangga."
Mas Irwan membelai kepala Langit,"Anak
Ayah kasihan pasti sakit ya?Main di dalam rumah saja ya.Ga usah main
diluar."
Kubuatkan kopi kesukaannya,"Kasihan dia Yah.Ga punya teman
main.Kalau main diluar paling juga main sendiri."
Mas Irwan malah bilang
gini,"Gimana kalau kita kasih teman main?"
Aku tahu
maksudnya,"Tapi kalau nanti hiperaktif lagi bagaimana ?Ayah nanti akan
dihina lagi.Aku masih takut.Temanku yang punya anak kayak Langit juga pilih ga
mau punya anak lagi.Dah cukup katanya punya anak berkebutuhan khusus."
Mas
Irwan berganti baju,"Belum tentu sama Bu.Bisa beda.Kita ga boleh
pesimis."
Aku terus memikirkan ide Mas Irwan.Beberapa hari kemudian suatu
malam sembari menunggu suamiku pulang kerja,aku melihat langit bersama
putraku,"Bu lihat banyak bintang di langit.Langit yang itu punya banyak
teman ya Bu?"
Aku miris mendengarnya,"Langit yang disini juga akan
punya teman sayang." Langit menunjuk ke angkasa,"Langit ingin punya
bintang seperti langit disana Bu.Bintangnya banyak.Temannya banyak.Boleh ga
minta bintangnya satu?"
Aku memandang ke atas,"Pasti boleh.Kan Tuhan
punya bintang banyak tuh.Yuk kita berdoa minta pada Tuhan."
Langit
memejamkan mata mengikutiku.Aku lalu berdoa,"Tuhan,kami datang
pada-Mu.Bukankah Kau Tuhan yang baik.Yang tahu memberi yang baik pada
ciptaan-Mu.Tuhan kami meminta berikanlah kepada Langitku bintang ya
Tuhan.Supaya ia punya teman ya Tuhan.Seperti langit-Mu yang penuh dengan bintang.Indahkanlah
Langitku ya Tuhan,Penguasa Langit dan Bumi."
Dalam iman aku menutup
doaku,"Terima kasih buat bintang yang Kau beri.Terima kasih buat bintang
yang indah bersinar.Terima kasih Tuhan.Amin."
Langit juga
berkata,"Amin."
Aku kian yakin sejak itu bahwa Langit membutuhkan
adik.Akhirnya aku berkata pada Mas Irwan,"Yah...aku ingin punya anak
lagi.Aku ingin Langit punya teman main."
Suamiku meraihku dalam
pelukannya,"Akhirnya hatimu terketuk juga."
Akhirnya kabar baik
datang.Aku hamil lagi.Perutku besar sekali.Suamiku menyiapkan dana buat
kelahirannya.Banyak yang mencemooh aku katanya apa aku ga bakalan repot nanti
ngurus dua anak aneh.Aku ga dengerin mereka.Biar saja.Tuhan akan memberi yang
terbaik.Dia tahu memberi yang terbaik.Lewat Langit Tuhan mengubah sifatku yang
dulu emosional menjadi penyabar.Dan aku percaya Tuhan juga sayang pada
Langitku.Tuhan menjawab keyakinanku pada-Nya,anak keduaku lahir dengan kondisi
normal jiwa dan raga.Lahir dengan cesar di sebuah RS terbaik di kota kami.Berat
3,7 kg.Meski dia agak hitam kayak aku tapi dia satu2nya laki2 di antara bayi2
yang lahir waktu itu.Atas persetujuan suamiku kuberi nama Bintang Aditya.Bukan
hanya memberi cahaya kebahagiaan,sejak Bintang lahir keadaan Langit juga
mengalami kemajuan.Ia mulai bisa mengikuti pendidikan di sekolah.Walau
didampingi guru pendamping namun secara akademis dia diatas rata2.Aku bersyukur
pada Tuhan.Bahkan kini setelah 3 tahun berlalu sejak Bintang lahir aku masih
terus bersyukur.Melihat Langit main kejar2an dengan Bintang di halaman sekolah
sungguh membuat aku terharu.Langit berteriak,"Ayo Bintang!Kejar
aku!Ayo!!"
Bintang dengan tubuh ipel2nya berlari mengejar kakaknya dengan
tawa riang,"Kejar!Kejar!!Ha..ha.."
Guru2 dan anak2 yang lain sampai
takjub,"Wah anak2nya ganteng ya Bu.Pinter2 lagi.Gemesin banget."
Eh
yang jawab komentarnya malah suamiku yang baru saja datang dari shift
malam,"Siapa dong ayahnya he..he.."
Aku jadi malu kala suamiku
merengkuhku dan berkata,"Terima kasih ya sudah memberiku langit dan bintang
yang indah."
Aku memandangnya,"Terima kasih pada yang empunya langit
Yah..."
Langit dan Bintang seneng banget lihat ayahnya datang
menjemput,"Ayah!!Ayah!!"
Mereka langsung nemplok ayahnya.Tuhan terima
kasih.Kau sudah memberi bintang bagi langitku.Kini Langitku punya teman.***The
End***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar