Cerpen ke-4 *** MEMINTA BINTANG UNTUK LANGIT ^^^

Cerpen ke-4 : MEMINTA BINTANG UNTUK LANGIT 
          Sudah larut malam namun Langit masih belum juga tidur.Langit adalah anakku yang kini sudah TK.Aku dekati dia yang sedang asyik melihat film Teletubbies,"Langit ...udah malam tidur yuk!"
 Dia malah menunjuk ke layar hp,"Bu!Lala jatuh!Kayak Langit ya?Jatuh he..he..." Aku memandang iba pada putraku itu,"Lutut Langit masih sakit ya?Sini biar Ibu lihat lututnya." 
Kuraih dia dalam pelukanku,"Lain kali ga usah main keluar ya?Anak2 di sini nakal2.Langit mainnya di sekolah aja ya?"                                                                    Anakku memang agak terlambat pertumbuhannya sehingga tak heran bila dia tak seperti anak seusianya.Kata dokter anakku hiperaktif.Sebenarnya Langit sudah dinyatakan tidak ada dalam rahimku kala mau dilahirkan.Betapa nelangsa aku waktu itu.Mas Irwan,suamiku sampai terduduk lemas mendengarnya.Empat tahun menanti seorang bayi menghiasi rumah kami namun begitu mau dilahirkan malah sudah tak ada.Aku menangis memandang suamiku,"Ga mungkin Mas.Ini ga mungkin.Tuhan sudah berjanji akan memberikan kita anak bukan?"
         Suamiku orang yang bijaksana,ia juga begitu setia mendampingiku bahkan meski aku belum hamil juga,ia tetap mencintaiku.Ia memegang tanganku,"Takdir Vi.Tuhan yang memberi Tuhan juga berhak mengambilnya.Ikhlaskan Vi."
 Aku ingat betul bagaimana aku melihat ke langit2 ruangan rumah sakit waktu itu,"Tidak Mas!Penguasa Langit sudah berjanji memberi kita anak.Aku sudah berdoa berkali2 Mas.Aku selalu bermimpi melihat langit nan indah Mas.Aku tidak melihat bayangan kegelapan.Tidak!" 
Dokter datang,"Maaf ibu harus dikiret.Mari ke ruangan operasi." 
Sepanjang menuju ke sana aku berdoa sambil menangis,kuelus perutku,'Tuhan,jangan ambil putraku.Aku sudah keguguran berkali2,kumohon jangan ambil dia.Berikanlah kehidupan aku mohon.Jangan berikan pada bayiku kematian.Aku minta kehidupan.Hanya dalam nama-Mu aku mohon.' 
Dengan iman aku mengelus perutku lalu berkata,"Kau akan lahir Nak.Kau akan hidup." 
Dokter memeriksa aku sekali lagi memastikan bahwa benar janin di dalam perutku memang sudah tiada namun ia terkejut kala memeriksa perutku dengan alat USG,"Bagaimana bisa?Denyut jantungnya kembali ada!Ajaib!Siapkan peralatan persalinan!!Bayinya masih bisa diselamatkan!!" 
Aku mengucap syukur pada Tuhan,'Akan kuberi nama-Mu jika dia lahir nanti.Aku janji.Terima kasih.'
         Demikianlah akhirnya bayiku lahir,tangannya biru dan ia mengigil karena terlalu lama berada dalam rahimku,segera kupeluk dia.Dokter lega,"Selamat Ibu!Anaknya laki2.Ini keajaiban dari Langit."
 Iya keajaiban dari Sang Penguasa Langit dan Bumi,aku menangis kala jemari kecil bayiku bergerak2.Suamiku datang,"Ini ajaib Vi.Anak kita hidup.Langit memberi kita keajaiban." 
Aku memandang Mas Irwan yang nampak membelai putranya,"Mas namanya Langit saja ya?Dia putih dan lihat tangannya kebiruan.Matanya juga biru seperti bule.Matanya seperti langit yang biru." 
Suamiku setuju,"Iya namanya Langit.Langit Ervan Pratama.Artinya Langit anak pertama Evi dan Irwan.Bagus kan?" 
Aku tersenyum kala Mas Irwan mencium keningku,"Terima kasih sudah bersedia menjadi ibu bagi anak2ku."
       Aku memandang penuh haru padanya,justru akulah yang harus berterima kasih karena dia begitu sabar padaku.Berkali2 membelaku kala orang2 menghinaku karena keguguran terus.Empat tahun bak dalam neraka,namun setelah Langit lahir hatiku damai luar biasa.Walaupun dokter memberitahu bahwa Langit mungkin tak akan sama dengan anak2 lain tapi bagiku yang penting dia hidup.Mas Irwan sayang banget sama Langit.Dia selalu bawa oleh2 kalau pulang kerja.Entah mainan entah makanan.Namun benar kata dokter,Langit berbeda.Dia anti sosial.Dia tak suka bermain seperti anak kebanyakan.Dia pendiam.Belajar ngomong juga baru setahun terakhir ini itupun kadang ga nyambung.Ditanya ini jawabnya itu.Dia suka sekali lihat video Teletubbies.Dia sebenarnya senang bermain tapi dia selalu dijauhi kadang di anggap aneh bahkan pulang sambil menangis,"Ibu!!Langit ga boleh ikut main!!Ibu!!" 
Aku yang sedang menyapu halaman depan kaget,"Langit kok nangis?Kenapa?" Langit malah lari ke kamar terus lihat videonya lagi,"Langit lihat Lala sama Poh aja.Ga ada yang mau main sama Langit."
       Kasihan putraku.Akhirnya kalau dia main aku ikut bersamanya dan memang dia selalu dikucilkan.Dianggap anehlah.Makhlum secara fisik dia sama tapi secara psikis dia masih terlambat.Aku melamun sambil membelai kepala putraku,bunyi motor menyadarkanku,'Mas Irwan pulang.' 
        Kulihat Langit sudah tidur,kuselimuti dia.Lalu aku menuju pintu.Terdengar suamiku memanggilku,"Bu!" 
Sejak punya Langit kami jadi biasa menyebut ibu dan ayah sebagai panggilan agar Langit terbiasa. Aku menjawab,"Iya." 
Mas Irwan memang dapat shift siang jadi pulangnya malam,"Langit sudah tidur?" Aku lihat ia bawa oleh2,"Sudah baru saja.Tadi dia jatuh Yah.Main sama anak tetangga." 
Mas Irwan membelai kepala Langit,"Anak Ayah kasihan pasti sakit ya?Main di dalam rumah saja ya.Ga usah main diluar." 
Kubuatkan kopi kesukaannya,"Kasihan dia Yah.Ga punya teman main.Kalau main diluar paling juga main sendiri." 
Mas Irwan malah bilang gini,"Gimana kalau kita kasih teman main?" 
Aku tahu maksudnya,"Tapi kalau nanti hiperaktif lagi bagaimana ?Ayah nanti akan dihina lagi.Aku masih takut.Temanku yang punya anak kayak Langit juga pilih ga mau punya anak lagi.Dah cukup katanya punya anak berkebutuhan khusus."
 Mas Irwan berganti baju,"Belum tentu sama Bu.Bisa beda.Kita ga boleh pesimis."    
       Aku terus memikirkan ide Mas Irwan.Beberapa hari kemudian suatu malam sembari menunggu suamiku pulang kerja,aku melihat langit bersama putraku,"Bu lihat banyak bintang di langit.Langit yang itu punya banyak teman ya Bu?" 
Aku miris mendengarnya,"Langit yang disini juga akan punya teman sayang." Langit menunjuk ke angkasa,"Langit ingin punya bintang seperti langit disana Bu.Bintangnya banyak.Temannya banyak.Boleh ga minta bintangnya satu?" 
Aku memandang ke atas,"Pasti boleh.Kan Tuhan punya bintang banyak tuh.Yuk kita berdoa minta pada Tuhan."
         Langit memejamkan mata mengikutiku.Aku lalu berdoa,"Tuhan,kami datang pada-Mu.Bukankah Kau Tuhan yang baik.Yang tahu memberi yang baik pada ciptaan-Mu.Tuhan kami meminta berikanlah kepada Langitku bintang ya Tuhan.Supaya ia punya teman ya Tuhan.Seperti langit-Mu yang penuh dengan bintang.Indahkanlah Langitku ya Tuhan,Penguasa Langit dan Bumi." 
Dalam iman aku menutup doaku,"Terima kasih buat bintang yang Kau beri.Terima kasih buat bintang yang indah bersinar.Terima kasih Tuhan.Amin." 
Langit juga berkata,"Amin." 
         Aku kian yakin sejak itu bahwa Langit membutuhkan adik.Akhirnya aku berkata pada Mas Irwan,"Yah...aku ingin punya anak lagi.Aku ingin Langit punya teman main." 
Suamiku meraihku dalam pelukannya,"Akhirnya hatimu terketuk juga." 
         Akhirnya kabar baik datang.Aku hamil lagi.Perutku besar sekali.Suamiku menyiapkan dana buat kelahirannya.Banyak yang mencemooh aku katanya apa aku ga bakalan repot nanti ngurus dua anak aneh.Aku ga dengerin mereka.Biar saja.Tuhan akan memberi yang terbaik.Dia tahu memberi yang terbaik.Lewat Langit Tuhan mengubah sifatku yang dulu emosional menjadi penyabar.Dan aku percaya Tuhan juga sayang pada Langitku.Tuhan menjawab keyakinanku pada-Nya,anak keduaku lahir dengan kondisi normal jiwa dan raga.Lahir dengan cesar di sebuah RS terbaik di kota kami.Berat 3,7 kg.Meski dia agak hitam kayak aku tapi dia satu2nya laki2 di antara bayi2 yang lahir waktu itu.Atas persetujuan suamiku kuberi nama Bintang Aditya.Bukan hanya memberi cahaya kebahagiaan,sejak Bintang lahir keadaan Langit juga mengalami kemajuan.Ia mulai bisa mengikuti pendidikan di sekolah.Walau didampingi guru pendamping namun secara akademis dia diatas rata2.Aku bersyukur pada Tuhan.Bahkan kini setelah 3 tahun berlalu sejak Bintang lahir aku masih terus bersyukur.Melihat Langit main kejar2an dengan Bintang di halaman sekolah sungguh membuat aku terharu.Langit berteriak,"Ayo Bintang!Kejar aku!Ayo!!" 
Bintang dengan tubuh ipel2nya berlari mengejar kakaknya dengan tawa riang,"Kejar!Kejar!!Ha..ha.." 
Guru2 dan anak2 yang lain sampai takjub,"Wah anak2nya ganteng ya Bu.Pinter2 lagi.Gemesin banget."
 Eh yang jawab komentarnya malah suamiku yang baru saja datang dari shift malam,"Siapa dong ayahnya he..he.." 
Aku jadi malu kala suamiku merengkuhku dan berkata,"Terima kasih ya sudah memberiku langit dan bintang yang indah." 
Aku memandangnya,"Terima kasih pada yang empunya langit Yah..." 
Langit dan Bintang seneng banget lihat ayahnya datang menjemput,"Ayah!!Ayah!!"      
Mereka langsung nemplok ayahnya.Tuhan terima kasih.Kau sudah memberi bintang bagi langitku.Kini Langitku punya teman.***The End*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar