Cerpen ke-7 : Menggapai Impian ^^^

Cerpen ke-7 : Menggapai Impian 
Lahir dalam keluarga besar ternyata membuat aku tak sempat mengenyam pendidikan tinggi.Dengan bekal ijazah SMU aku menapaki masa depanku.Sempat kerja di mall namun kemudian terjadi kerusuhan di kotaku.Mallnya dibakar.Lalu sempat kerja di pabrik garment juga.Namun jauh dan akupun dititipkan pada kerabat yang tinggal dekat situ namun perlakuan mereka sungguh membuat aku tak betah.Masak aku ditempatkan di tempat dimana tak ada pintunya ruangannya.Aku selalu tidur dalam ketakutan.Bayangin aku anak gadis dan aku belum pernah menjalin hubungan dengan pria.Akhirnya aku pilih ikut kakakku katanya bakal ditawari kerja jadi PNS.Namun aku malah jadi pembantu di rumah kakakku sendiri.Pagi2 buta sudah bangun dan menyiapkan sarapan lalu mengantar sekolah ponakanku.Berkali2 aku menagih janji kakakku namun selalu dia berdalih dan menyuruhku sabar.Aku hanya dikasih uang sangat minim tiap bulan.Padahal aku sangat ingin membantu ibuku yang masih mengurusi adikku yang masih sekolah.Kalau begini terus aku malah menyiksa diri.Suatu malam dalam putus asaku aku berdoa pada Tuhan,'Ya Tuhan,aku tak punya impian yang muluk,aku hanya ingin bisa membantu ibuku membiayai sekolah adik2ku.Ada Rizky dan Ridho yang butuh biaya.Kakak2ku sudah punya keluarga sendiri2 jadi mereka kebanyakan ga mau tahu dengan kesusahan ibu.Malah kalau ibu minta uang disuruh jadi pembantu dulu ngapain kek baru dikasih uang.Aku sedih melihatnya.Tega ya mereka sama ibu.Mengapa pernikahan justru membuat mereka begitu ya?Aku harap jika memang aku Kau beri pasangan hidup berikanlah pria yang murah hati,berbakti dan hatinya begitu baik.Tuhan,berikanlah aku petunjuk agar impianku bisa terwujud.Tuntunlah langkahku.Amin.' Esoknya saat mengantar sekolah,aku mampir ke sebuah warung kelontong niatnya mau beli peralatan mandi.Yang jualan ibu2 sudah tua dan ia tinggal sendirian.Kasihan banget.Iseng aku nanya2,eh dia cerita kalau ia punya dua anak.Anak pertama tinggal dekat dia.Sedang anak yang kedua merantau.Kasihan ibu itu.Membuatku teringat pada ibu dan kedua adikku.Sejak itu aku kerap mampir ke rumah ibu itu bahkan bila ia ada kesulitan aku akan datang membantu.Rupanya Tuhan mempertemukan aku dengan ibu itu ada maksudnya.Tak lama aku alami masalah di rumah kakakku.Aku dituduh mencuri uang.Padahal aku tidak melakukannya.Aku tahu pelakunya adalah anak kakakku namun ia tak percaya padaku malah mengusirku.Aku pergi tanpa tujuan dan kakiku membawaku pada rumah ibu pemilik warung dekat sekolah ponakanku.Aku mengetuk pintu rumahnya,"Ibu Halimah!Ibu ini Evi Bu!Ibu!" Tak ada sahutan,aneh.Akupun mendorong sedikit pintunya tak dikunci.Astaga!Aku terkejut melihat Ibu Halimah tergeletak di lantai,"Ibu!!Ibu Halimah!!" Segera aku meminta bantuan warga sekitar dan membawa ibu itu ke RS.Rupanya beliau kena serangan jantung.Anak pertamanya segera menghubungi adiknya minta uang buat biaya berobat sang ibu.Anak kedua sepertinya sangat sayang sama ibunya,"Aku akan segera pulang Kak!" Ibu Halimah akhirnya boleh pulang,aku merawatnya.Ibu Halimah senang sekali dan berangsur pulih dengan cepat.Aku membantu beliau menjaga warung dan juga merawat beliau.Walau ibu Halimah bersikeras akan menggajiku namun aku menolak karena kupikir aku sudah dapat tumpangan gratis dan juga makan.Lagian kupikir Ibu Halimah lebih butuh uang untuk biaya rawat jalan.Namun aku terpana kala mengantar beliau ke rumah anak pertamanya.Anak pertamanya sudah menikah.Namanya Hasto.Isterinya bahkan kerja sebagai perawat di RS terkenal di kotaku.Wah rumahnya bagus nian.Bertingkat dan keramik semua.Beda banget dengan rumah ibunya yang bahkan dinding rumahnya sudah retak2.Sampai di sana aku heran karena aku disuruh pulang jaga rumah ibu Halimah sedang Bu Halimah disuruh tinggal di sana.Aneh ada apa ya?Ibu Halimah berkata padaku,"Biasanya kalau ibu disuruh tinggal di rumah anak ibu yang pertama pertanda anak kedua ibu akan pulang.Anak kedua Ibu sayang sama Ibu.Nanti Ibu kenalkan sama kamu." Ibu Halimah ingin aku menemaninya namun sepertinya anak pertama beliau tak mengharapkan kehadiranku,"Kamu sebaiknya jaga saja rumah ibuku.Jaga warungnya.Awas jangan maling!Kami akan merawat ibu.Dah kamu pulang saja." Aku merasa ada yang disembunyikan oleh anak pertama Bu Halimah.Namun aku cuma orang luar,jadi aku akhirnya kembali ke rumah Bu Halimah.Namun beberapa hari kemudian ibu Halimah kembali dengan diantar seorang pria muda.Ibu Halimah memanggilku,"Evi!!Kenalkan ini putra kedua Ibu.Namanya Irwan." Aku terpana melihatnya,ganteng banget.Kelihatannya juga baik.Aku makin heran kala tak lama kemudian anak pertama Bu Halimah datang dengan tergopoh2,"Wan!!Dengarkan dulu penjelasanku Wan!!Semua yang dikatakan Ibu bohong Wan!" Aku lihat Ibu Halimah nampak marah,"Kamu nuduh Ibu bohong?Kamu yang bohong!Kamu bilang selama ini aku tinggal sama kamu kan?Padahal ga!Kamu dan isteri kamu selalu mendukakan hati Ibu!Kamu hanya ingin Irwan selalu kirim uang kan?Buat ibulah buat berobatlah buat bangun rumahlah..kamu ...kamu.."
 Ibu Halimah pingsan.Irwan segera membawanya ke RS.Aku jelas ikut.Ibu Halimah emosi.Tensinya langsung naik.Tak sengaja aku mendengar percakapan Irwan dan kakaknya,"Tega ya kakak bohongi aku!Jadi selama ini Ibu masih tinggal di rumah lama?Rumah itu sudah retak2 kak dindingnya.Dan ibu tinggal sendirian di sana?Kakak tega ya bohongi aku!Mulai kini aku akan ambil alih perawatan ibu.Aku sudah minta dimutasi ke cabang kota di sini.Aku kecewa sama kakak.Uang yang kukirim setiap bulan untuk ibu ternyata hanya sedikit sekali yang sampai ke ibu.Kasihan Ibu.Aku kecewa punya kakak seperti kak Hasto!" Rupanya begitu ceritanya.Pantas rumah anak pertama Bu Halimah bagus nian ternyata membangunnya pakai uang kiriman adiknya yang sebenarnya uang itu buat ibunya.Kulihat Irwan berkaca2 saat meninggalkan kakaknya.Ternyata bukan hanya di keluargaku saja anak yang ga peduli dengan orang tuanya.Di keluarga Bu Halimah juga sama.Sejak itu Irwan memintaku merawat ibunya selama dia mengurus kepindahannya.Aku jelas melakukan dengan senang hati.Bahkan ia bersikeras menggajiku namun aku menolaknya karena aku sudah menganggap ibu Halimah seperti ibu kandungku sendiri.Aku berjualan makanan ringan di warung Bu Halimah dan hasilnya kukirim ke ibuku.Buat bantu biaya sekolah kedua adikku.Irwan dan aku kian dekat.Bahkan kami kemudian jadi kekasih.Aku jelas sangat bahagia,bagaimana tidak bahagia Irwan pria yang kuidam2kan.Akhirnya Irwan membawa Ibu Halimah pindah rumah.Aku terkejut melihat rumahnya,"Bagus banget Wan!Ini lebih bagus dari punya kakakmu." Irwan meraih tanganku,"Aku ingin kau menjadi Nyonya Rumah di sini.Merawat ibuku dan pastinya mencintaiku dan menjadi ibu bagi anak2ku kelak.Kau mau kan?"
 Aku terharu dan mengangguk,"Iya aku mau."
 Tak lama kemudian aku menikah dengan Irwan.Ia sungguh sangat baik.Ia memperbesar warung ibunya dan mempercayaiku mengelolanya.Ia juga memberikan kepada ibuku uang setiap bulan untuk membantu meringankan biaya sekolah adik2ku.Sungguh aku tak nyana mimpiku menjadi kenyataan.Kebahagiaanku kian lengkap kala aku melahirkan seorang bayi laki2 untuk Irwan.Ibuku juga Ibu mertuaku bahagia sekali dengan kelahiran anakku.Merekalah yang memberi nama.Namanya Ivan Prambudi artinya Inilah anak Evi dan Irwan anak pertama dan pria yang berbudi.***The End*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar