Cerpen
ke-7 : Menggapai Impian
Lahir dalam keluarga besar ternyata membuat aku tak sempat mengenyam pendidikan
tinggi.Dengan bekal ijazah SMU aku menapaki masa depanku.Sempat kerja di mall
namun kemudian terjadi kerusuhan di kotaku.Mallnya dibakar.Lalu sempat kerja di
pabrik garment juga.Namun jauh dan akupun dititipkan pada kerabat yang tinggal
dekat situ namun perlakuan mereka sungguh membuat aku tak betah.Masak aku
ditempatkan di tempat dimana tak ada pintunya ruangannya.Aku selalu tidur dalam
ketakutan.Bayangin aku anak gadis dan aku belum pernah menjalin hubungan dengan
pria.Akhirnya aku pilih ikut kakakku katanya bakal ditawari kerja jadi
PNS.Namun aku malah jadi pembantu di rumah kakakku sendiri.Pagi2 buta sudah
bangun dan menyiapkan sarapan lalu mengantar sekolah ponakanku.Berkali2 aku
menagih janji kakakku namun selalu dia berdalih dan menyuruhku sabar.Aku hanya
dikasih uang sangat minim tiap bulan.Padahal aku sangat ingin membantu ibuku
yang masih mengurusi adikku yang masih sekolah.Kalau begini terus aku malah
menyiksa diri.Suatu malam dalam putus asaku aku berdoa pada Tuhan,'Ya Tuhan,aku
tak punya impian yang muluk,aku hanya ingin bisa membantu ibuku membiayai
sekolah adik2ku.Ada Rizky dan Ridho yang butuh biaya.Kakak2ku sudah punya
keluarga sendiri2 jadi mereka kebanyakan ga mau tahu dengan kesusahan ibu.Malah
kalau ibu minta uang disuruh jadi pembantu dulu ngapain kek baru dikasih
uang.Aku sedih melihatnya.Tega ya mereka sama ibu.Mengapa pernikahan justru
membuat mereka begitu ya?Aku harap jika memang aku Kau beri pasangan hidup
berikanlah pria yang murah hati,berbakti dan hatinya begitu
baik.Tuhan,berikanlah aku petunjuk agar impianku bisa terwujud.Tuntunlah
langkahku.Amin.' Esoknya saat mengantar sekolah,aku mampir ke sebuah warung
kelontong niatnya mau beli peralatan mandi.Yang jualan ibu2 sudah tua dan ia
tinggal sendirian.Kasihan banget.Iseng aku nanya2,eh dia cerita kalau ia punya
dua anak.Anak pertama tinggal dekat dia.Sedang anak yang kedua merantau.Kasihan
ibu itu.Membuatku teringat pada ibu dan kedua adikku.Sejak itu aku kerap mampir
ke rumah ibu itu bahkan bila ia ada kesulitan aku akan datang membantu.Rupanya
Tuhan mempertemukan aku dengan ibu itu ada maksudnya.Tak lama aku alami masalah
di rumah kakakku.Aku dituduh mencuri uang.Padahal aku tidak melakukannya.Aku tahu
pelakunya adalah anak kakakku namun ia tak percaya padaku malah mengusirku.Aku
pergi tanpa tujuan dan kakiku membawaku pada rumah ibu pemilik warung dekat
sekolah ponakanku.Aku mengetuk pintu rumahnya,"Ibu Halimah!Ibu ini Evi
Bu!Ibu!" Tak ada sahutan,aneh.Akupun mendorong sedikit pintunya tak
dikunci.Astaga!Aku terkejut melihat Ibu Halimah tergeletak di
lantai,"Ibu!!Ibu Halimah!!" Segera aku meminta bantuan warga sekitar
dan membawa ibu itu ke RS.Rupanya beliau kena serangan jantung.Anak pertamanya
segera menghubungi adiknya minta uang buat biaya berobat sang ibu.Anak kedua
sepertinya sangat sayang sama ibunya,"Aku akan segera pulang Kak!"
Ibu Halimah akhirnya boleh pulang,aku merawatnya.Ibu Halimah senang sekali dan
berangsur pulih dengan cepat.Aku membantu beliau menjaga warung dan juga
merawat beliau.Walau ibu Halimah bersikeras akan menggajiku namun aku menolak
karena kupikir aku sudah dapat tumpangan gratis dan juga makan.Lagian kupikir
Ibu Halimah lebih butuh uang untuk biaya rawat jalan.Namun aku terpana kala
mengantar beliau ke rumah anak pertamanya.Anak pertamanya sudah menikah.Namanya
Hasto.Isterinya bahkan kerja sebagai perawat di RS terkenal di kotaku.Wah
rumahnya bagus nian.Bertingkat dan keramik semua.Beda banget dengan rumah
ibunya yang bahkan dinding rumahnya sudah retak2.Sampai di sana aku heran
karena aku disuruh pulang jaga rumah ibu Halimah sedang Bu Halimah disuruh
tinggal di sana.Aneh ada apa ya?Ibu Halimah berkata padaku,"Biasanya kalau
ibu disuruh tinggal di rumah anak ibu yang pertama pertanda anak kedua ibu akan
pulang.Anak kedua Ibu sayang sama Ibu.Nanti Ibu kenalkan sama kamu." Ibu
Halimah ingin aku menemaninya namun sepertinya anak pertama beliau tak
mengharapkan kehadiranku,"Kamu sebaiknya jaga saja rumah ibuku.Jaga warungnya.Awas
jangan maling!Kami akan merawat ibu.Dah kamu pulang saja." Aku merasa ada
yang disembunyikan oleh anak pertama Bu Halimah.Namun aku cuma orang luar,jadi
aku akhirnya kembali ke rumah Bu Halimah.Namun beberapa hari kemudian ibu
Halimah kembali dengan diantar seorang pria muda.Ibu Halimah
memanggilku,"Evi!!Kenalkan ini putra kedua Ibu.Namanya Irwan." Aku
terpana melihatnya,ganteng banget.Kelihatannya juga baik.Aku makin heran kala
tak lama kemudian anak pertama Bu Halimah datang dengan tergopoh2,"Wan!!Dengarkan
dulu penjelasanku Wan!!Semua yang dikatakan Ibu bohong Wan!" Aku lihat Ibu
Halimah nampak marah,"Kamu nuduh Ibu bohong?Kamu yang bohong!Kamu bilang
selama ini aku tinggal sama kamu kan?Padahal ga!Kamu dan isteri kamu selalu
mendukakan hati Ibu!Kamu hanya ingin Irwan selalu kirim uang kan?Buat ibulah
buat berobatlah buat bangun rumahlah..kamu ...kamu.."
Ibu Halimah
pingsan.Irwan segera membawanya ke RS.Aku jelas ikut.Ibu Halimah emosi.Tensinya
langsung naik.Tak sengaja aku mendengar percakapan Irwan dan
kakaknya,"Tega ya kakak bohongi aku!Jadi selama ini Ibu masih tinggal di
rumah lama?Rumah itu sudah retak2 kak dindingnya.Dan ibu tinggal sendirian di
sana?Kakak tega ya bohongi aku!Mulai kini aku akan ambil alih perawatan ibu.Aku
sudah minta dimutasi ke cabang kota di sini.Aku kecewa sama kakak.Uang yang
kukirim setiap bulan untuk ibu ternyata hanya sedikit sekali yang sampai ke
ibu.Kasihan Ibu.Aku kecewa punya kakak seperti kak Hasto!" Rupanya
begitu ceritanya.Pantas rumah anak pertama Bu Halimah bagus nian ternyata
membangunnya pakai uang kiriman adiknya yang sebenarnya uang itu buat
ibunya.Kulihat Irwan berkaca2 saat meninggalkan kakaknya.Ternyata bukan hanya
di keluargaku saja anak yang ga peduli dengan orang tuanya.Di keluarga Bu
Halimah juga sama.Sejak itu Irwan memintaku merawat ibunya selama dia mengurus
kepindahannya.Aku jelas melakukan dengan senang hati.Bahkan ia bersikeras
menggajiku namun aku menolaknya karena aku sudah menganggap ibu Halimah seperti
ibu kandungku sendiri.Aku berjualan makanan ringan di warung Bu Halimah dan
hasilnya kukirim ke ibuku.Buat bantu biaya sekolah kedua adikku.Irwan dan aku
kian dekat.Bahkan kami kemudian jadi kekasih.Aku jelas sangat bahagia,bagaimana
tidak bahagia Irwan pria yang kuidam2kan.Akhirnya Irwan membawa Ibu Halimah
pindah rumah.Aku terkejut melihat rumahnya,"Bagus banget Wan!Ini lebih
bagus dari punya kakakmu." Irwan meraih tanganku,"Aku ingin kau
menjadi Nyonya Rumah di sini.Merawat ibuku dan pastinya mencintaiku dan menjadi
ibu bagi anak2ku kelak.Kau mau kan?"
Aku terharu dan mengangguk,"Iya
aku mau."
Tak lama kemudian aku menikah dengan Irwan.Ia sungguh sangat
baik.Ia memperbesar warung ibunya dan mempercayaiku mengelolanya.Ia juga
memberikan kepada ibuku uang setiap bulan untuk membantu meringankan biaya
sekolah adik2ku.Sungguh aku tak nyana mimpiku menjadi kenyataan.Kebahagiaanku
kian lengkap kala aku melahirkan seorang bayi laki2 untuk Irwan.Ibuku juga Ibu
mertuaku bahagia sekali dengan kelahiran anakku.Merekalah yang memberi
nama.Namanya Ivan Prambudi artinya Inilah anak Evi dan Irwan anak pertama dan
pria yang berbudi.***The End***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar