CERPEN KE-20^^^ EINSTEINKU

CERPEN KE-20 : EINSTEINKU
Usiaku lebih tua 5 tahun dari suamiku kala ia menikahiku.Entah apa yang membuatnya menyukaiku.Perasaan aku biasa saja.Aku tuh bukan tipe wanita suka dandan.Lagian profesiku sebagai perawat juga ga cocok kalau dandan menor.Awal jumpa pertama kala ada sebuah insiden terjadi di acara peringatan dirgantara.Ada atraksi pesawat tapi malah terjadi tragedi.Mas Sahid demikian nama suamiku,waktu itu dia adalah anggota Angkatan Udara RI.Aku waktu itu jadi perawat di RS dimana korban tragedi di rawat.Waktu itu kita satu lift.Ia bertanya mengenai ruangan yang ia cari.Tak dinyana kami sering jumpa.Entah jodoh entah apa yang pasti kemudian aku kerap digodain sama temen2ku,"Dicari tuh sama militernya lho Emi.Sikat saja deh Em,ga masalah lebih muda.Tentara lho." Aku cuma tersenyum saja menanggapi mereka,emang sih secara usia Mas Sahid lebih muda 5 tahun.Makanya aku heran dia lihat apa dari aku.Namun dia bilang,"Aku suka cara kamu memperlakukan orang.Lembut dan telaten.Emang pantas kamu jadi perawat.Dan aku mau jadi pasien abadi kamu he..he..Mau ya jadi perawat abadiku?" Walah melamar ala tentara apa ala RS nih ya?Tapi aku juga mencintainya.Aku akhirnya menikah dengan tentaraku itu.He..he.. Namun hidup memiliki misterinya sendiri.Lama aku tak dikarunia seorang anak.Padahal suamiku anak sulung di keluarganya.Semua berharap aku akan melahirkan anak laki2 segagah suamiku.Namun aku justru belum hamil juga sampai lama.Suamiku tetap ga meninggalkanku.Ia yakin aku pasti hamil.Keyakinannya memang terjadi.Betapa aku mencintainya dan berharap membuatnya bahagia dengan melahirkan seorang putra baginya.Namun putra impian kami sungguh diluar dugaan kami.Ia lahir prematur dan yang lebih mengejutkan lagi adalah ia hanya sebesar botol minuman pocari sweat ukuran tanggung.Ya Tuhan,kataku kala melihat betapa kecilnya putraku.Ia didalam inkubator nampak begitu kecilnya namun aku ga peduli mau dia kayak gimana yang penting dia hidup.Itu sudah mukjizat bagi kami.Kami beri nama Rafly.Merawat Rafly adalah masa2 penuh tetesan air mata bagiku.Ia harus mendapat berbagai terapi.Banyak organnya yang tak berfungsi secara normal.Terutama organ tangan dan kaki.Ia begitu rentan dan lemah.Untuk berdiri saja ia tak tegak.Kakinya lemah sekali dan tangannya kerap tremor.Betapa aku menyayanginya meski semua mata mencibir padanya.Putraku akan terus kujaga.Meski hinaan dan cemoohan datang menerpa seiring usianya.Kehadiran Rafly membuatku trauma hamil lagi.Aku takut akan melahirkan anak yang sama kondisinya.Kutolak berkali2 keinginan suamiku untuk punya anak lagi,"Aku masih takut Mas.Nanti kayak Rafly.Maaf ya Mas..." Hingga Rafly masuk SD inklusi,aku berkenalan dengan seorang wanita yang juga punya anak berkebutuhan khusus.Namun ia jauh lebih beruntung,putranya normal secara fisik bahkan sangat putih dan ganteng.Namun ia terus menghiburku,"Anak mb juga punya kelebihan kok.IQnya tinggi kayak Einstein aja.Pinter banget.Itu jenius namanya mb." Aku lihat putraku memang fisik dia ga normal.Kalau panik atau stress dia pasti ngewel dan tremor lalu jatuh.Aku kasihan sama dia tapi aku juga bangga padanya.Dia rangking 1 di kelasnya.Hingga naik kelas terus.Namun kasihan dia jadi ga punya teman.Lalu aku lihat wanita yang punya anak inklusi tadi.Ia selalu mengantar putranya bersama anak keduanya.Anaknya ipel2 lucu banget gemesin nian.Aku tanya padanya,"Mb ga takut pas hamil anak keduanya ini?" Ia tersenyum,"Saya hanya ingin anak pertama saya punya teman mb.Kasihan ga punya teman dia mb.Buktinya adiknya normal.Lihat itu gemesin kan?" Aku memandang mereka,berlarian di halaman sekolah dengan riangnya.Iya ya...kenapa aku ga kasih teman buat Rafly.Biar dia punya teman nantinya.Akhirnya aku bilang sama Mas Sahid,"Mas aku pingin punya anak lagi.Buat teman Rafly." Dia heran sekaligus gembira,"Beneran?Sudah ga takut lagi?Apa yang mengubah pendirianmu?" Aku lalu cerita,"Di sekolah ada ibu2 juga yang punya anak inklusi Mas tapi anak keduanya lahir normal.Gemesin banget anaknya.Aku pingin kayak gitu Mas...kasihan Rafly ga punya temen..Maafkan aku ya Mas selama ini aku telah membuatmu menunggu." Mas Sahid emang suami yang baik,ia ga marah dan malah memelukku,"Gpp.Aku ngerti kamu masih trauma.Tapi aku akan tetap menyayangi anak2 kita meski bagaimanapun keadaannya.Kamu jangan takut,aku akan tetap mencintaimu.Hanya kamu." Akhirnya kami berusaha mendapat anak lagi.Aku sudah ga takut lagi.Aku bersyukur pada Tuhan dipertemukan dengan ibu teman Rafly tadi.Karena usai aku melahirkan anak keduaku,suamiku tiba2 sakit parah dan akhirnya pergi menghadap Tuhan mendahuluiku.Aku menangis di pemakamannya hingga aku tak kuat lagi,aku pingsan.Seseorang menghiburku,"Bangkit Em,kamu punya anak dua sekarang.Titipan suamimu.Peninggalan suamimu.Kamu harus hidup dan bangkit demi mereka.Lihat anak keduamu,masih bayi dia.Ayo bangkit Em!" Akhirnya aku meraih putra keduaku,terkenang aku kala dia lahir Mas Sahid tampak sangat bahagia,"Dia normal Em!Anak kita normal!Terima kasih ya Sayang.Sudah melahirkan anak2ku.Bagaimana jika kali ini kau yang kasih nama?" Aku memandang suamiku kala itu,"Aku ingin dia seperti kamu Mas." Akhirnya diberi nama Hafid Putra Syahid.Tapi aku suka manggil dia dengan nama suamiku,Syahid.Apalagi setelah suamiku tiada,makin terpatri nama itu buat nama putra keduaku.Tiap kali menggendongnya aku seakan sedang memandang Mas Sahid.Terima kasih Tuhan,setidaknya sebelum suamiku meninggal aku telah membuatnya bahagia melahirkan anak2 yang menyukakan hatinya.Rafly dengan kejeniusannya dan Syahid yang merupakan image ayahnya.Merekalah kini yang menjadi semangat kehidupanku.Aku bahkan mengabdikan hidupku menjadi perawat untuk kejadian khusus.Merawat anak2 berkebutuhan khusus,merawat mereka yang alami trauma atau tragedi dan sejenis itu.Benar kata suamiku,aku emang cocok jadi perawat.Dan tugas utamaku kini adalah merawat buah hati kami.Eisnteinku dan adiknya.Buah cintaku dengan mendiang suamiku.Selamat jalan Mas Sahid,aku akan selalu merawat mereka dengan baik dengan sepenuh hatiku.Aku mencintaimu Mas Sahid.Selamanya.***The End***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar