Cerpen
ke-6 : MEMBUKA GERBANG KEMURAHAN
Di
sebuah ruang kelas tampak seorang guru SD sedang mengajar,"Anak2 kalian
tentu sering dinasehati oleh orang tua kalian bukan.Nah coba nasehat apa yang
pernah diberikan oleh mereka pada kalian?Bapak ingin tahu." Seorang anak
mengangkat tangan,"Ayah saya sering bilang Pak,hidup itu yang penting
punya banyak uang Pak." Sang guru menulis di papan jawaban anak
tersebut,"Kalau kamu Yudha,pernah dinasehati apa sama orang tuamu? Anak
yang paling tinggi di kelas itu menjawab,"Hidup itu sebuah permainan Pak
jadi harus menang terus." Sang guru heran,"Wah kok bisa?" Yudha
jawab,"Lha saya jarang ketemu orang tua saya Pak,mereka selalu ngasih saya
game buat nemeni saya.Jadi saya pikir mereka mau saya belajar dari game."
Yang lain ketawa mendengarnya,"Ha..ha..Yudha lucu..." Sang guru
menenangkan kelas,"Sudah!Sudah!Kalau yang lain dinasehati apa sama ayah
ibunya?" Di bangku paling belakang seorang anak mengangkat
tangannya,"Saya Pak Irwan!!" Guru pun menoleh padanya,"Iya
Wardi?" Wardi adalah anak yang paling nakal di kelas,"Tiap hari saya lihat
orang tua saya perang terus Pak,jadi mereka menasehati saya bahwa dalam hidup
harus ada peperangan Pak.Makanya nama saya War-di.He..he..War itu kan perang
Pak.Ga seru kalau ga ada perang Pak.Bener kan teman2?" Anak2 pada
nyorakin,"Huuuu...Pantesan kamu suka nakal.Diajarin sih di rumah."
Irwan,sang guru kembali menenangkan kelas,"Ternyata orang tua kalian
memberi nasehat beda2 ya tapi Bapak akan kasih satu nasehat pada kalian uang
memang kita butuhkan tapi jangan sampai kita mencintai uang karena akar segala
kejahatan adalah cinta uang.Menang memang menyenangkan namun menanglah dengan
cara yang benar.Itulah kemenangan sejati.Dan sedapat mungkin kita harus hidup
dalam damai dengan semua orang.Kalian mengerti?" Wardi
bertanya,"Kenapa begitu Pak?Kata orang tua saya mata ganti mata gigi ganti
gigi." Irwan mendekati anak itu,"Jika mata ganti mata akhirnya nanti
semua orang akan menjadi buta Wardi.Terus kalau gigi ganti gigi bisa2 seluruh
dunia ompong dong?" Anak2 pada ketawa,"Ha..ha...gimana ya kalau Wardi
jadi ompong ha..ha.." Wardi manyun,"Terus kalau ada yang jahat sama
kita gimana dong Pak?Masak ga dilawan?" Irwan tersenyum,"Hanya satu
yang bisa mengalahkan kejahatan.Kalian tahu apa itu?" Semua menggeleng
dengan mata kepo. Irwan melanjutkan,"Kebaikan.Jadi kalau kalian ingin
menang dalam hidup ini lakukan kebaikan setiap hari.Karena hanya kebaikan yang
bisa mengalahkan kejahatan." Ia lalu mendekati Wardi dan mengusap
kepalanya,"Balaslah kejahatan dengan kebaikan.Itulah kemenangan."
Wardi dan anak2 yang lain manggut2.Lalu mereka mencatat di buku masing2.Lonceng
lalu berbunyi,"Theng!Theng!!" Irwan mengakhiri
pelajaran,"Oke,sekarang saatnya kalian istirahat.Ingat jangan melakukan
hal yang jahat tapi lakukan apa?" Semua menjawab serentak,"Kebaikan
Pak!!" Irwan puas mendengarnya,"Bagus!!Sekarang selamat
istirahat." Anak2 berhamburan keluar kelas menuju ke halaman dan ke warung
penjaga sekolah.Sementara Irwan menuju ruang guru.Hpnya bunyi sang isteri
menelpon,"Ya Vi?" Wanita yang telah melahirkan seorang anak baginya
itu menjawab,"Mas,gerbangnya ditutup lagi.Jualan kita mana laku Mas."
Irwan menghela nafas mendengarnya,"Aku akan coba bicara dengan Pak
Dal.Kamu tunggu kabar dari aku ya?Devran mana?" Sang isteri
menjawab,"Lagi tidur Mas.Biasa kalau malam begadang siang tidur."
Irwan lalu melangkah menuju rumah penjaga sekolah yang juga buka
warung,"Selamat siang Pak Dal.Maaf saya bisa bicara dengan Bapak?"
Pak Dal adalah penjaga sekolah sekaligus membuka warung di dalam sekolah.Ia
punya tiga orang anak.Kepala sekolah mempercayakan semua urusan kantin dan
kebersihan sekolah padanya.Ia juga mendapat gaji rutin setiap bulan.Ditambah
usaha warungnya.Semua anak jajan di situ.Ada dua gerbang di sekolah gerbang
depan dan gerbang samping.Gerbang depan memang ditutup kalau jam sekolah.Tapi
gerbang samping biasanya tidak ditutup atasnya jadi para penduduk yang punya
jualan bisa jualan di sana.Lewat rongga2 atau sela2 jeruji gerbangnya.Nah Irwan
adalah guru baru di sana.Kebetulan ia mengontrak rumah dekat sekolah dekat
gerbang samping itu.Evi,isterinya pinter buat makanan kecil jadi lumayanlah
dapat penghasilan tambahan dengan jualan aneka cemilan di dekat gerbang samping
itu.Namun sudah beberapa hari ini gerbang itu atasnya ditutup dengan papan
sehingga anak2 susah jajan lewat gerbang samping. Irwan menemui Pak Dal namun
jawabannya selalu ketus,"Itu hak saya mau nutup apa ga gerbangnya.Ga usah
protes!Guru baru aja belagu!" Irwan juga sudah mencoba membicarakan dengan
kepala sekolah tapi orangnya ga mau turut campur dan malah seperti menghindar
kalau ketemu dia.Irwan hanya bisa mengelus dada,"Saya tidak minta
gerbangnya dibuka Pak.Hanya jangan diberi papan atasnya.Jadi biar bisa ada
akses buat jualan Pak.Isteri saya menjual makanan sehat Pak.Kami ga pakai bahan
aneh2 yang berbahaya." Isterinya Pak Dal juga membujuk suaminya,"Ya
udah Pak ngapain sih ditutup juga bagian atas gerbangnya.Toh mereka jualannya
kan beda sama kita.Biarin aja kenapa sih?Anggap aja bagi rejeki Pak."
Namun tetep aja kekeh si Pak Dalnya,"Ini itu wilayah kekuasaan saya!Semua
harus nurut pada pakem saya.Udah sana!Saya banyak pembeli!Ganggu aja!"
Irwan melangkah dengan gontai ke ruang guru.Saat di jalan ia dicegat oleh
Wardi,"Pak,saya rusak saja gerbangnya gimana?Saya suka jajanan bikinan
isteri Bapak.Enak dan murah.Ga kayak di tempatnya Pak Dal.Dah mahal juga kadang
dah basi." Irwan jongkok dan menggeleng,"Jangan Wardi.Itu ga
baik.Mungkin pintu hati Pak Dal belum terbuka saat ini tapi pasti akan terbuka
suatu saat nanti.Terima kasih sudah perhatian pada Bapak.Sudah tanda masuk
tuh!Ayo kembali ke kelas." Wardi manggut2 dan lari ke kelas.Irwan menelpon
isterinya,"Kita jualan di sekolah lain saja Vi.Kalau ga ya kita usaha lain
saja ya?" Evi mengerti,"Ya udah Mas.Rejeki udah ada yang ngatur.Ga
cuma di sini aja.Aku akan coba jualan di sekolah lain tapi kasihan Devran kalau
gitu Mas.Mending aku jualan seadanya saja di rumah.Yang penting Devran terawat
dengan baik.Gpp kan Mas?" Irwan lega isterinya begitu
pengertian,"Iya.Nanti kalau libur aku yang jualan.Akan aku titipkan ke
warung2 gitu.Gimana?" Evi seneng dengernya,"Iya Mas.Ide bagus itu.Aku
setuju.Ga bisa jualan di sini ya bisa jualan lewat nitip di warung2 lain.Ya
udah aku urus Devran dulu dia bangun." Irwan bersyukur punya isteri mau
hidup susah seneng sama dia.Evi dan dia memang dari keluarga sederhana.Gaji
sebagai guru ia cukupkan buat menghidupi keluarganya.Namun biaya hidup makin
lama makin tinggi,jadi ia mencoba mencari tambahan penghasilan. Sebenarnya ada
peluang tapi ditutup oleh kelakuan penjaga sekolah. Sementara itu sejak menutup
gerbang samping dengan papan atasnya,banyak hal terjadi di keluarga Pak
Dal.Anak pertamanya diphk dari kerjaannya.Anak keduanya nyari kerja ga
dapat2.Anak ke-3nya tiba2 jatuh sakit dan harus opname di RS.Semua membuat Pak
Dal pusing.Sampai2 ia ga konsent pas di jalan habis dari RS,hampir saja ia
ketabrak mobil kala mengambil dompetnya yang jatuh di jalan.Untunglah Irwan
yang kebetulan lewat habis nitip dagangan ke warung2 segera
menyelamatkannya,"Awas Pak!!" Pak Dal selamat dan Irwan cuma lecet2
dikit,"Bapak gpp?" Pak Dal terpana melihat siapa yang nolong
dia,"Pak Irwan?" Irwan lega Pak Dal gpp,"Hati2 Pak.Di sini
jalannya rame.Mari saya antar pulang Pak." Pak Dal tak bisa ngomong apa2
saking malunya yang nolong dia justru orang yang ia perlakukan dengan tidak
baik.Ia lalu minta maaf pada Irwan,"Maaf ya Pak.Saya sudah jahat sama
Anda.Tapi Anda malah membalas dengan kebaikan.Saya jadi malu." Irwan cuma
tersenyum,"Gpp Pak sudah saya maafkan.Oh ya saya pulang dulu ya Pak.Saya
permisi." Pak Dal berubah sejak itu,dibukanya papan atas di gerbang
samping bahkan ia bersedia menerima titipan dagangan dari isteri Irwan.Evi
gembira sekali.Ia bisa jualan dan menjaga Devran.Irwan juga mendapat tambahan
penghasilan.Namun bukan hanya mereka yang bahagia,Pak Dal juga mengalami
kebaikan.Sejak gerbang samping tak lagi ia segel sehingga bisa terjadi akses
jual beli berbagai kebaikan ia alami.Anaknya dapat kerjaan yang no satu dan
dua.Yang ketiga juga pulih kesehatannya.Tuhan membuka gerbang kemurahan-Nya
kala kita juga membuka gerbang kemurahan pada orang lain.Begitupun kala kita
menutup gerbang kemurahan kita pada orang lain,Dia juga menutup gerbang
Kemurahan-Nya untuk kita.***The End***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar