CERPEN KE-29^^^ AKU SAYANG AYAH

←  CERPEN KE-29 : AKU SAYANG AYAH
           Namaku Ariyani.Aku anak pertama dari lima bersaudara.Ayahku bukan orang kaya yang memanjakan anak2nya dengan kemewahan hidup.Boro2 dimanja,sejak kecil yang kulihat adalah susah payahnya ayah bekerja membanting tulang demi keluarga.Sejak itu aku bertekad untuk menjadi anak yang bisa meringankan beban beliau.Aku ga pernah ngambek meski kerap keinginanku ga dipenuhi Ayah.Biasa kendala keuangan.Aku juga ga milih2 soal makanan.Apa aja yang disiapkan Ibu di rumah kumakan dengan lahap.Biarin aja temen2ku sekolah pada jajan di kantin.Aku bawa bekal.Walau kadang bekalnya cuma telor dadar sama sambel dan nasi.Kunikmati dengan riang.Sampai sahabatku di kelas heran,"Riya,kamu ngapain tadi ke belakang sekolah?"
Aku jawab sambil memamerkan daun pepaya muda di wadah bekalku,"Biasa Hen,cari lalapan.Aku tuh paling ga bisa makan kalau ga ada hijau2nya he..he.."
Heni,sobatku sejak kelas 1 SMU itu menggelengkan kepala,"Riya2...kamu itu paling enjoying life deh...makananmu kelihatannya enak ya.Bagi dong!"
             Aku ganti yang geleng kepala,gimana ga Heni itu anak orang kaya.Ke sekolah aja antar jemput mobil.Ayahnya punya usaha kayu.Bekalnya dia itu wuih makanan yang adanya tuh di tv iklannya.Fried chicken,hamburger,hotdog,hokben,sandwich belum spagetty dan entah apa lagi tuh namanya.Aku ngekek sambil nawarin bekalku,"Nih ambil aja kalau mau.Cuma telor dadar kok.Itupun agak gosong soale ibuku pas kehabisan minyak goreng.He..he..jadi gorengnya pakai minyak jlantah.Kamu yakin mau?"
Heni dengan antusias ngambil sepotong telor dadarnya,"Hmm...enak!Kamu beruntung deh!Ibu kamu sempet masak buatkan bekal buat kamu.Tapi Mamiku mana mau repot begitu.Aku bosan makan makanan resto terus.Aku pingin kayak kamu.Makan masakan sendiri gitu.Ga masalah gosong.Nih kukasih punyaku."
           Wah aku malah jadi makan makanan yang ga kebayang bisa beli.Begitulah aku sampai kuliahpun aku sengaja milih ambil D1 aja biar bisa cepat kerja.Lagian keuangan ga dukung.Ayah sudah sampai kerja dobel.Aku sedih lihat ayah kadang sampai sakit.Aku makin bertekad buat jadi anak yang membahagiakan orang tua.No matters what will people say!
           Seneng banget saat aku bisa kerja di sebuah hotel,walau jadi receptionist aja.Ga masalah.Yang penting kerja.Semangat!Betapa bahagianya aku kala menerima gaji pertama.Segera kuberikan pada Ayah,"Ayah!Gaji Riya nih!Semua buat Ayah!Itu sudah jadi nazar Riya.Diterima ya Ayah walau masih kecil nominalnya.Tapi Riya tulus memberikannya buat bantu keuangan keluarga.Buat bayar biaya sekolah adik2,buat beli beras,bayar listrik ledeng dan yang lain.Mohon terima ya Ayah?"
Ayah malah berkaca2,"Kamu yakin Nak?Ini hasil kerjamu pertama lho.Kamu ga ingin beli apa gitu?"
Aku menggeleng,"Riya ga ingin beli apa2.Riya sudah janji kok dalam hati Riya.Gaji pertama Riya buat Ayah.Semuanya.Itu buah sulung namanya."
Ayah mengusap kepalaku penuh haru,"Ayah ga sangka diberi anugerah seindah ini oleh Tuhan.Memiliki putri yang berbakti.Makasih Tuhan.Makasih."
           Aku kian semangat bekerja.Melihat senyum Ayah hatiku terasa hangat.Aku emang sangat dekat dengan Ayah,banyak yang bilang aku paling mirip sama Ayah.Kalau pergi itu pasti jaketan,rapi gitu.Ibu kadang sampai ketawa lihat Ayah mau kerja bakti aja kayak orang mau kondangan.He..he..
Seneng dan bangga sekali bisa meringankan beban Ayah dan Ibu.Aku malah kian semangat bekerja.Kujaga sikapku di kerjaan.Ga ngomong sembarangan,sopan pada siapa saja,ramah pada pengunjung hotel dan terus belajar.Ada yang kerepotan aku bantu.Lama2 aku bisa tahu banyak hal dan naik jabatan.Ga lagi di front area tapi mulai naik ke level staf.Impianku kini adalah memiliki rumah sendiri.Selama ini kami selalu pindah rumah.Kontraktor sejati.Mending kontraktor beneran lha ini hidup di rumah kontrakan.Aku pingin belike rumah walau kecil.Nyicil juga gpp.Aku sedih lihat Ayah selalu sedih tiap habis masa kontrak rumahnya,"Kapan ya kita punya rumah sendiri?Ada tamannya.Ditanami aneka tanaman warung hidup.Ditanami bunga juga.Ada kolamnya walau kecil.Kapan ya Bu?"
           Aku sempat mencuri dengar pembicaraan mereka suatu hari.Aku mulai mencari info seputar rumah sejak itu.Ada rumah KPR,ada rumah sederhana juga dan macem2.Begitu semangatnya aku mau mewujudkan impian rumah buat Ayah sampai aku ga gagas soal cowok.Aku asyik kerja dan kerja buat beli rumah.Tak terasa adik2ku dah pada lulus sekolah.Hanya tinggal si bungsu yang masih SMU.Adik2ku mendukungku.Mereka memilih cari kerja biar bisa bantu Ayah dan Ibu.Ada yang kerja di pabrik.Ada yang di mall.Ada juga yang kerja di perakitan tv.Kami sepakat ngumpulin uang buat beli rumah impian.Walau porsiku jelas paling besar kontribusinya.Aku kan paling tua.Harus jadi contoh dong.Akhirnya terkumpul deh uangnya.Lumayan bisa buat DP.Cuma rumahnya belum nemu yang sreg nih.Saat itulah aku kenal seorang pria.Di kerja di sebuah mall gitu,dia seorang perantauan asal Blora.Dia deketin aku terus.Kebetulan hotel tempat aku kerja punya urusan bisnis dengan hypermartnya.Temen2ku dukung aku jadian sama dia.Hingga aku diajak main ke rumah dia,disitulah aku tahu kalau kami beda keyakinan.Orang tuanya sangat kuat dengan agama yang dia anut.Malah ngasih syarat sama Ayah,"Kalau mau putrinya nikah sama putra saya,kalian sekeluarga harus pindah agama sama seperti keluarga saya.Kalau ga mau jangan harap kami menyetujui pernikahan terjadi!"
          Aku melihat kesedihan di wajah Ayahku,kesedihan yang teramat dalam.Hatiku berontak,buat apa aku nikah jika membuat seisi rumah berduka?Lagian soal agama itu soal iman.Tak bisa dipaksa.Tuhan aja yang punya kekuasaan atas alam semesta ga makai kekuasaan-Nya buat maksa ciptaan-Nya jadi umat-Nya.Aku malah jadi illfeel sejak itu.Akhirnya aku putuskan pria itu,"Kita berteman saja.Kita memang beda.Aku ga ingin membangun sesuatu dengan dasar yang ga sama.Maaf aku ga akan menjual agamaku.Aku juga ga mau menukarnya dengan apapun juga.Bagiku itu adalah warisan terindah dari ayah dan ibuku.Kita putus saja.Selamat tinggal."
          Aku ga peduli dia merayu kayak apa padaku tekadku dah bulat.Tidak!Aku ga mau mendukakan hati Ayahku.Aku sangat suka menemani Ayah beribadah.Beliau paling rajin soal itu.Kata beliau,"Manusia itu tanpa Tuhan kosong.Kita itu diciptakan untuk bergaul karib dengan Tuhan.Itulah tujuan kita diciptakan."
         Aku merasakan beban besar lenyap kala memutuskan hal itu.Biar usiaku makin tinggi aku ga peduli.Yang kupedulikan adalah kebahagiaan Ayah dan keluargaku.Ayah ga sangka aku memilih putus daripada melihat seisi rumah ganti keyakinan.Ayah heran malah,"Kamu ga sedih Nak?Putus dari Agung?"
Aku malah tertawa,"Ga Ayah.Riya dah pikirkan matang2.Doain Riya ya Ayah biar dapat pasangan yang sepadan.Sehati dan seiman.Yang buat Ayah bangga."
Ayah tersenyum,"Pasti Nak.Itu pasti."
           Aku kembali fokus kerja,adikku malah udah ada yang tunangan.Gpp.Aku ga iri ataupun merasa tersaingi.Hingga suatu hari ada tamu hotel yang nyleneh tingkahnya,dia banyak maunya.Semua dia komplain,sampai pada ga mau meladeninya.Akhirnya aku yang turun tangan.Orangnya ganteng lho tapi sulit sratenannya,"Ini gimana ini masak saya pesan makanan lama sekali dikirimnya?Mana ga sesuai order lagi??!Hotel apa ini?Katanya bintang lima?"
Semua nyerah ngadepi dia,"Mb Riya aja deh yang urus dia.Ngeselin orangnya."
          Aku akhirnya menemui dan mendengarkan komplainnya.Bla...bla...bla...dari meja depan sampai dapur semua dikomplaint.Dari perlengkapan mandi sampai AC semua dianggap ga beres,"AC nya kurang dingin.Petugasnya juga kurang ramah.Etc."
          Aku untungnya dah biasa menghadapi costumer beginian,kujawab dengan senyuman terus tersungging.Dengan hati diluaskan seluas samudera Pasifik.Bahkan kuberikan ganti rugi jika dia mau.Dia malah memandangku dari atas sampai bawah,mencereng lagi.Aduh...grogi aku.Asli.Lalu dia  tersenyum,"Namamu Ariyani ya?Mmh...I will remember you Miss Ariyani."
           Aku makin heran kala dari Management Hotel nyuruh aku buat dampingi tuh tamu nyentrik.Aduh aku mau protes sebenarnya,"Kok saya sih Pak?Saya kan bukan tour guide.Saya staf.Terus kerjaan saya gimana Pak?"
Eh Pak GM malah dah kasih solusi,"Biar dikerjakan staf lain dulu.Kamu yang penting harus buat tuh tamu betah di hotel ini.Ok?"
           Aku nurut deh.Jujur aku kepo juga,siapa tuh tamu eksentrik?Heran deh.Aku jadi bulan2an tuh tamu katanya namanya sih Aken.Namane aja dah aneh.Aku mengikuti dia dan mengantar dia ke mana saja.Dah kayak anjing deket tuannya gitu.Temen2ku yang ga suka sama aku pada nyukurin.Ngekek2 mereka.Bahkan aku pernah sampai telat pulang karena tuh pria aneh.Dia lalu bersikeras mengantarku pulang,"Saya antar kamu ya?Kamu kan wanita masak pulang sendirian malam begini.Lagian semua kan salah saya."
          Aku akhirnya pulang diantar dia,dia mampir dan ngobrol gitu sama Ayah.Wah kayak dah kenal lama aja.Heran aku.Bisa nyambung gitu ya sama Ayah?Ketemu juga baru itu deh kayaknya.Ayah malah melambai2kan tangan saat dia pamitan pulang,"Main lagi Nak Aken.Jangan sungkan ya."
Aku menggeleng2kan kepalaku lihat Ayah senyum2 ke arahku,"Ayah kok senyum2 gitu?"
Ayah malah nyeletuk,"Lho emang senyum dilarang ya?Nak Aken itu pacar kamu ya?Anaknya baik.Ayah suka."
Aku mengangkat tanganku,"Astaga Ayah...dia itu tamu hotel tersulit yang pernah Riya hadapi.Syukur deh besok dia dah cabut dari hotel."
           Ayah malah nampak kecewa mendengarnya.Aken memang check out keesokkan harinya.Dan aku baru menyadari kala lewat kamar yang biasa dia tempati bahwa aku kangen sama dia.Kangen susahnya dia dihadapi dan ngomel2nya juga.Walah...
          Hingga sebulan kemudian GM mengumumkan bahwa Putra Pemilik Hotel akan mengambil alih jabatannya.Dia mau pensiun dah tua.Mau istirahat.Aku kaget kala kami diperkenalkan dengan pengganti beliau.Astaga!!Aku tak percaya dengan yang kulihat,"Mr.Aken?"
          Aken masuk dengan penampilan beda banget,pakai jas Armani.Waduh ganteng banget lagi.Silau man!!
Dia nampak berwibawa dan tersenyum pada semua staf,"Nama saya Aken Sutedja.The New General Manager.Selamat pagi semuanya."
         Aku tak berani menatapnya,apalagi teman2 aku yang suka ngatai dia.Aduh mereka nunduk semua.Briefing pagi akhirnya selesai.Semua disuruh kembali bekerja.Aku bergegas melangkahkan kaki ke arah pintu tapi kemudian kudengar sebuah suara yang sudah tak asing lagi dan jujur juga kurindukan menghentikan langkahku,"Miss Ariyani!Please stay."
          Aduh...apa aku akan dipecat ya?Aku pun berdiri kaku didepan mejanya.Dia mendekatiku,"Halo Riya!Nice to see you again!"
What??Dia tersenyum padaku,"Kamu kaget ya?Mukamu sampai begitu.Hey...I am Aken yang kamu kenal dulu.Tamu ngeselin waktu itu.Kamu ga kangen sama aku?"
          Mataku besar2 lihat dia.Aduh...aku jawab apa nih?Grogi tingkat kecamatan nih.Untung Papanya masuk,"Aken...oh...aku pikir kamu sendirian putraku.Oh..ini pasti gadis yang kamu ceritain itu ya?"
         Waduh...aku makin merah kayak tomat rebus.Apalagi kala papanya Aken,Owner of The Hotel menjabat tanganku,"Terima kasih ya sudah membuat putra saya ga jadi pergi ke luar negeri.Dia pilih membantu saya di sini.Kamu pasti sangat spesial sampai bisa mengubah pendiriannya."
Aku memandang Aken dengan sorotan ga ngeh dan minta penjelasan.Akhirnya dia memintaku nemeni dia makan siang,temen2ku pada ngeledekin semua,"Sweet2!Bu GM nih ye..."
          Dasar mereka.Ini kan juga gara2 mereka sampai aku jadi dekat sama Aken.Dan emang akhirnya aku dan Aken menjalin hubungan.Aku bahagia banget kala kutahu kami seiman.Bahkan Aken akrab gitu sama Ayah.Udah kayak ayah dan anak gitu.Aken lalu melamarku dan mas kawinnya adalah rumah.Wow!Rumah buat kami pakai.Besar banget.Ayah Ibu sampai melongo.Ayah sampai gemeter,"Beneran nih Nak Aken?Ini rumah buat kita tempati?"
Aken memeluk pinggangku,"Tentu Ayah.Kalian semua akan tinggal di sini.Rumah Aken dan Riya juga ga jauh kok dari sini."
Aku yang ganti melongo,"Rumah lagi?Tapi.."
Aken malah tersenyum,"Rumah ini buat orang tuamu.Rumah kita beda lagi sayang."
Aku keder saat lihat rumah yang akan kutempati dengan Aken,"Wow....ini rumah apa hotel?Aken apa kamu ga buang uang dengan semua ini?"
Ia malah meraihku dalam dekapannya,"Ini belum apa2 dibanding rumah Papaku Riya.You like it?"
Aku malah berkaca2 memandangnya,"I love it.Thank you."
           Kami menikah dengan tata cara agama kami.Satu pernikahan impianku.Pesta selanjutnya di hotel.Di ballroomnya.Gila tamunya orang2 papan atas.Aku sampai kikuk menyalami mereka.Akhirnya aku bisa mewujudkan impian Ayah.Ayah mengecup keningku dengan haru,"Ayah sayang Riya.Berbahagialah Nak."
Aku menangis bahagia,"Aku sayang Ayah."
***The End***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar