》 Cerpen ke-5 : MEMILIH
SETIA
Aku meraba kalung mutiara di leherku.Kalung dengan jumlah mutiara
sebanyak 100 butir itu hadiah pernikahan dari suamiku,Iswan.Dia lebih muda 2
tahun dariku.Di hari jadi pernikahan kami yang ke-3 dia memberiku kalung itu.Dia berkata sambil memakaikannya di
leherku,"Kalung ini aku pesan khusus lho dari luar kota.Walau sederhana
tapi bermakna bagiku.Kau tahu jumlah mutiara ini ada artinya lho."
Aku
memang suka perhiasan tapi baru kali ini punya kalung dari mutiara,"Oh
ya?Apa artinya?" Iswan menyibakkan rambutku,"Angka 100 ini artinya
100 tahun.Aku ingin selalu bersamamu kalau bisa sampai 100 tahun lagi.Atau 100
abad lagi.He..he.." Aku tak berani memandangnya,"Ini indah
sekali.Akan selalu kupakai." Ia senang dan meraihku dalam
pelukannya,"Aku sangat mencintaimu meski kutahu kau masih belum bisa
membalas cintaku.Tapi aku akan setia menantimu." Kasihan suamiku,dulu dia
adalah temanku di kantor.Kami bekerja di perusahaan yang sama.Aku mengenalnya
sebagai karyawan yang rajin dan ga neko2.Dia bekerja di akunting.Sedang aku di
bagian audit.Ruangan kami sama.Kerap aku lembur sampai malam dan dia yang
menemaniku.Disitulah kami kian akrab.Hingga aku bertemu dengan Ivan.Seorang
konsultan sistem.Ia sungguh mempesona hatiku.Dia setinggi Iswan tapi yang
kusuka adalah dia lebih tua usianya dariku.Lebih dewasalah.Karena terpikat pada
Ivan aku jadi menjauh dari Iswan.Kami cuma say halo aja di kantor.ternyata
juga suka sama aku.Wah bahagia banget aku.Saking bahagianya sampai aku pamer ke
Iswan kala Ivan memberiku cincin,"Lihat nih Wan!Bagus kan?Ivan perhatian
banget tahu aja aku suka perhiasan.Cantik kan di jariku.Dia bilang mau melamar
aku.Kamu datang ya di pernikahan aku?Harus!Awas kalau ga!" Iswan
memandangku dengan aneh kala itu seperti tak suka,"Yakin dia orangnya baik
Vi?Gimana keluarganya dah kamu kepoin belum?" Aku ngekek,"Dia itu
anak baik.Penurut dan sayang sama orang tuanya.Besok aku akan dikenalkan sama
mereka." Namun benar kata Iswan ternyata Ivan menyembunyikan sesuatu
dariku,dia memang mempertemukanku dengan orang tuanya tapi mereka ga respon
baik sama aku.Mereka diam saja.Aneh.Aku pulang dengan tanda tanya besar.Tapi
Ivan terus meyakinkanku bahwa ia akan membuat orang tuanya menerima aku.Apa
karena dia dari keluarga berada ya sedang aku cuma kelas menengah saja?Aku
hanya berpikir simple:Aku kan menikahi Ivan bukan mereka.Yang penting Ivan
sayang sama aku.Keanehan kian merebak di hatiku kala yang datang melamar bukan
orang tuanya tapi kakaknya,"Lho ayah ibumu kemana?" Ivan bilang
ayahnya sedang sakit.Jadi diwakilin ke kakak.Aku agak kecewa juga sih.Namun
saat aku ingin nengok dia bilang mereka berobat di Singapore.Oh...jauh
sekali.Akhirnya aku siapin undangan dan segala macam.Iswan bahkan kuminta bantu
nyebar undangannya.Ga sangka mendekati hari H,tiba2 Ivan datang bersama
kakaknya.Menemuiku dan berkata bahwa ia harus terbang ke Singapore karena
ayahnya kritis.Kenapa dia ga bilang sebelumnya ya?Kan undangan dah terlanjur
disebar.Aku memohon padanya untuk menyelesaikan resepsi dulu baru berangkat
tapi dia ga bisa,"Maaf Vi.Aku harus pergi sekarang.Ini menyangkut nyawa
ayah aku." Aku marah sekali,"Jadi aku ga penting ya?Pernikahan ini
semua ini ga ada artinya ya?Kenapa sih kayaknya kamu sembunyiin sesuatu dari
aku?" Akhirnya ia ngaku kalau orang tuanya ga restu sebenarnya dia nikah
sama aku.Bahkan mereka ngancam ga akan kasih bagian warisan kalau nekad nikah
sama aku.Mereka sudah punya calon anak pejabat tinggi katanya.Aku terluka
mendengarnya.Ivan pergi dengan wajah sangat menyesal,aku hanya bisa terduduk
lemas di lantai.Pernikahanku kandas.Saat itulah Iswan datang dan meraihku dalam
pelukannya,"Sabar ya Vi.Kamu harus sabar." Orang tuaku shock
mendengarnya.Ayah bahkan langsung dilarikan ke RS.Berkali2 ayah berkata,"Ayah
malu Vi!Malu banget kalau besok kamu batal nikah.Undangan dah disebar tapi
mempelainya malah kabur." Iswan yang menemaniku akhirnya memberi
solusi,"Om ijinkan saya menjadi pengganti mempelai prianya.Saya sudah
mencintai putri Om sejak lama.Tapi tak punya kesempatan mengatakannya.Saya
janji akan menjaga putri Om dengan baik.Sepenuh hati saya." Aku
terperangah,"Iswan kau gila?" Iswan malah meraih tanganku,"Iya
aku sudah tergila2 sama kamu Vi.Daripada besok kamu batal nikah dan seluruh
keluarga kamu malu.Bayangkan efeknya buat ayah ibumu.Kumohon biarkan aku
menikahimu.Menghindarkanmu orang tuamu dari dipermalukan didepan banyak
orang.Kumohon..." Aku melihat harapan di mata kedua orang tuaku,"Tapi
Wan aku tidak mencintaimu...bagiku kau sahabat saja..." Ibu
mendekatiku,"Cinta akan hadir dengan terbiasa.Itu pepatah ampuh Vi."
Iswan tersenyum mendapat restu ibuku bahkan ayah meraihnya dalam dekapan dengan
penuh rasa terima kasih,"Kamu anak baik.Om restu kamu dapat putri
Om." Aku tak bisa menolak lagi.Meski pernikahanku tetap menjadi
perbincangan karena mempelai prianya ganti tapi setidaknya ayah dan ibu tak
perlu jatuh harga dirinya karena pembatalan pernikahan.Akupun menikah dengan
Iswan.Semua tamu undangan diberi pengertian kalau undangannya salah cetak huruf.Teman2 kantorku juga ga begitu mempermasalahkan karena dengan Iswan
aku juga terlihat akrab.Namun akhirnya aku memilih keluar dari kerjaan
itu.Aturan perusahaan juga.Ga boleh suami isteri satu kerjaan.Aku lalu kerja di
sebuah butik.Pernikahanku belum dikaruniai anak karena aku memang minum pil KB
agar jangan punya anak dulu selama aku masih belum bisa melupakan Ivan.Kasihan
Iswan dia menahan keinginannya punya anak dalam hatinya.Aku membelai wajahnya
yang sedang tidur,'Maafkan aku.Aku berharap aku bisa mencintaimu.Kau sangat
baik menjagaku selama ini.' Namun suatu hari aku terpaku kala seseorang
memasuki butik dimana aku kerja,"Ivan?" Ivan datang dengan harapan
ingin mendapatkan aku kembali katanya,"Ayahku sudah tiada Vi.Warisan juga sudah
kudapatkan.Aku juga sudah bercerai dari isteriku.Dia juga sebenarnya ga suka
sama aku.Kumohon kamu terima aku lagi.Ya Vi?Kita mulai dari awal lagi.Kali ini
sudah tak ada penghalang lagi." Aku menunjukkan cincin
pernikahanku,"Aku sudah menikah.Kau terlambat Van." Namun dia tak
menyerah,"Apa kau mencintainya Vi?Aku tahu siapa suamimu dia Iswan
kan?Kalian kan hanya sahabat saja." Ivan tampaknya tak ingin
memaksaku,"Dalam waktu dekat aku akan ke Kanada.Aku akan tinggal di sana
untuk waktu yang lama.Besok aku akan datang lagi.Aku tunggu jawabanmu."
Malamnya aku resah.Irwan heran,"Kau kenapa sayang?Tak bisa tidur ya.Sini
biar kupijat lehermu.Mungkin kau kecapekan." Aku terdiam memandang
Irwan,'Meninggalkan Iswan dan pergi dengan Ivan.Aku bingung.Aku masih belum
bisa menerima Iswan tapi meninggalkan dia apakah aku juga bisa?Ayahku sudah
tiada.Irwanlah yang selama ini menemaniku dimasa sulit itu.Apalagi tak lama ibu
juga menyusul ayah.Hatiku kian hancur.Namun Iswan juga yang membangkitkan aku
lagi.Kini aku malah meninggalkannya?Tega nian aku.Tapi bukankah Iswan selalu
berkata bahwa ia hanya ingin melihat aku bahagia?Dia juga tahu aku tak
mencintainya saat kami menikah.Aku bingung sekali.' Esok hari Iswan bersikap
berbeda saat pamit mau kerja,dia menciumku dan memelukku lama,"Aku kerja
dulu ya.Aku mencintaimu." Aku tiba di butik agak siang karena aku harus
mengantar pesanan dulu.Tampak sebuah mobil mewah sudah menunggu,Ivan.Kami
bicara di teras butik,"Bagaimana Vi?" Aku menggeleng,"Maaf aku
tak bisa...aku mungkin belum mencintai Iswan tapi aku takkan meninggalkan orang
yang setia padaku dan berada bersamaku lewati masa2 sukar." Ivan kaget
dan mencoba membujukku,"Vi,lihat aku!Lihat mataku!Aku serius kali
ini." Aku tepiskan tangannya yang mencoba memegang leherku,saat itulah
kalung mutiara di leherku putus.Mutiaranya bertaburan di lantai.Entah kenapa
aku langsung teringat pada Iswan,hatiku berdebar penuh kecemasan.Yang kuingat
adalah segera mengumpulkan tiap butirnya.Ivan tak kuhiraukan,"Vi
sudahlah!Untuk apa kaupunguti barang murahan kayak gitu?Aku bisa membelikanmu
kalung berlian kalau kau ikut denganku.Ayo Vi ikut aku kita ke Kanada dan hidup
bahagia di sana." Aku memandang marah pada Ivan,"Kau bilang apa
?!Kalung ini bukan barang murahan yang kecil nilainya.Ini sangat berarti
bagiku.Ini melebihi apapun yang bisa kau berikan padaku.Kau tahu kenapa?Karena
yang memberikan kalung ini adalah orang yang sangat berharga bagiku!Sebaiknya
kau pergi sebelum aku minta satpam mengusirmu!" Ivan terpana memandangku,"Kau
mencintai Iswan Vi...kau sudah jatuh cinta padanya tanpa kau sadari..."
Aku tertegun mendengarnya dan kulanjutkan mengumpulkan butiran mutiara yang
bertebaran di lantai.Sambil memunguti tanganku gemetar,entah kenapa.Kata2 Ivan
barusan membuatku bertanya,'Aku telah jatuh cinta pada Iswan?' Ivan sudah
pergi.Kalungnya juga sudah kukumpulkan semua butirannya.Kumasukkan dalam tasku
karena tiba2 hpku bunyi,"Ini mb Evi?" Aku kenal suara itu itu suara
teman kerjaku dulu di perusahaan,"Ya Mas Reno?Ada apa ya?" Mas
Reno memberitahuku bahwa Iswan kecelakaan saat dalam perjalanan ke
bank,"Apa???!!Bagaimana keadaannya?Dimana dia sekarang?" Aku panik
mendengarnya dan segera menuju ke RS dimana Iswan di rawat.Dia kritis.Disitulah
air mataku menetes dan kusadari betapa aku sangat takut kehilangan dia.Aku
bersimpuh di dekat ranjangnya,'Tuhan,jangan ambil dia dariku.Berikan dia umur
panjang agar aku bisa membalas cintanya padaku.Aku mencintainya Tuhan.Ampuni
aku yang tak menghargai kehadirannya di sisiku selama ini.Aku janji aku akan
berubah.Aku akan menghargainya.Aku janji.' Tiap malam kukatakan di telinganya
bahwa aku mencintainya.Tiap jam malah aku selalu membisikkannya,"Aku
mencintaimu.Bangunlah.Sadarlah kumohon.Bukankah kau mau hidup bersamaku 100
tahun lagi?Kau ingat kalung ini?Kau harus penuhi janjimu menemaniku hingga aku
tua.Iswan kau harus hidup.Demi aku.Aku mohon." Akhirnya doaku
dijawab,Iswan siuman dan lepas dari masa kritis.Ia tersenyum
padaku,"Selama aku tidak sadar aku mendengar bisikan suara berkata,"Aku
mencintaimu".Benarkah itu kau yang berbisik padaku Vi?" Aku
mengangguk dan memeluknya,"Itu benar Iswan.Aku mencintaimu,aku baru
menyadarinya.Maafkan aku.Aku telah menyakitimu tanpa kusadari." Iswan
memelukku,"Aku bahagia sekali.Akhirnya cinta terbalas juga." Iswan
mendapat dispensasi dari perusahaan agar memulihkan diri dulu.Masa itu bagiku
menjadi masa yang indah dimana aku bisa menunjukkan rasa cintaku pada
suamiku.Bahkan aku tak lagi minum pil KB.Aku ingin melahirkan anak2
Iswan.Setengah tahun kemudian aku hamil.Iswan bahagia sekali.Ia memanjakanku
dan sangat menjagaku.Anak pertama kami lahir di bulan November.Diberi nama
Noval.Bagiku nama itu berarti No Ivan lagi,kini aku milik sah Iswan .***The End***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar