Seorang gadis nampak lesu pulang ke rumahnya.Rambut sebatas pundak nampak terikat rapi bak kucir kuda.Ia menghembuskan nafas sebelum memasuki rumah,"Niki pulang!"
Seorang anak kecil usia 4 tahun nampak menyambutnya,"Tante!!Ada susu?"
Nikita segera meraih keponakannya itu,"Tentu sayang...rasa coklat kan?Ini."
Saat Nikita sibuk mengeluarkan susu kotak dari tasnya,kakaknya keluar.Kakaknya berkata pada putranya,"Hayo bilang apa sama Tante ?"
Keponakan Nikita segera menjawab,"Makacih..."
Kakak Nikita tampak membawa piring kotor,"Gimana dapat kerjaan ga?"
Nikita menggeleng,"Belum kak.Baru nyebar lamaran aja.Ibu bagaimana kak?Sudah makan?"
Sang kakak mengangguk,"Sudah.Pakai bubur bayi.Yang rasa beras merah.Sekarang sedang nonton tv."
Nikita segera menuju kamarnya,tampak di ranjang model RS seorang wanita tua terbaring dan tersenyum padanya,Nikita meraih tangannya.Ibunya memang tak bisa bicara jelas sejak terkena stroke.Itu pula kenapa Nikita sangat menyayangi kakaknya.Dari sekian saudaranya hanya kakaknya itu yang mau menjaga ibunya.Kakak2nya yang lain malah kalau berkunjung malah buat sedih hati ibunya.Ia pernah dengar kakak sulungnya berkata pada ibunya,"Bu...bu...mending ibu tiada saja.Hanya bisa nyusahin aja.Kasihan tuh adik2 aku bertahun2 merawat ibu tapi ga ada perkembangan."
Nikita ga suka dengar perkataan kakaknya itu,"Kami ga merasa repot kak merawat ibu.Jangan dengerin Bu!Kakak ga boleh bilang gitu sama ibu.Kena karma nanti."
Eh bener ga lama kemudian kakak sulungnya kena penyakit aneh tumbuh jalu di kakinya sehingga sulit sekali berjalan.Nikita mengambil remote tv,"Ibu mau lihat tinju ya?Ini Niki cariin channelnya.Niki mandi dulu ya...sambil masak air buat sibin ibu."
Memang kalau sore ibunya hanya disibin karena kalau dimandikan nanti malah masuk angin.Niki ingat bagaimana salah satu kakaknya milih pergi dari rumah cari rumah sendiri karena ga mau bantu ngurus ibu mereka.Malah ada yang minta bayaran juga.Niki sedih bila ingat semua itu,tega banget mereka merawat ibu sendiri minta bayaran.Akhirnya Niki terpaksa keluar dari kerjaannya demi bisa jaga ibunya.Lalu kakaknya yang kini tinggal bersamanya kembali dari perantauan bersama suami dan anaknya.Iapun senang dan mulai bisa mencari kerja lagi.Usianya sudah 31 tahun kini dan kebanyakan lowongan yang ada memperhatikan usia dan lulusan baru.Tapi Niki ga pernah memperlihatkan kesedihannya pada sang bunda,"Tadi Niki cari kerja Bu.Doain ya Bu biar ada panggilan."
Sang bunda mengangguk dan tersenyum pada putri bungsunya itu.Niki yakin Tuhan pasti akan membukakan pintu rejeki buat dia.Ia bekerja agar bisa membiayai rumah dan perawatan ibunya.Ia ga pernah foya2.Beli baju saja jarang apalagi perhiasan.Bahkan dompet yang ia pakai adalah pemberian orang.Tuhan mencukupi kebutuhannya lewat orang lain.Ada saja yang tiba2 tergerak memberi sesuatu padanya.Entah dompet,baju atau yang lain.Malam telah tiba Niki melihat ibunya sudah tidur dan mematikan tv.Ia betulkan selimut ibunya.Ia sudah bertekad akan mengabdikan hidupnya demi sang bunda.Berkali2 kakak2nya menanyai dia soal pria namun waktunya ga ada buat itu.Fokusnya kini adalah ibunya.Mencari uang buat biaya perawatan ibunya.Kakak2nya yang lain sudah punya keluarga dan sibuk dengan urusan keluarga masing2.
Uang pesangon dari kerjaannya yang lama sudah ia habiskan buat biaya hidup dan medis selama ini.Andai saja ada pria yang mau dengan Nikita mungkin Nikita juga akan mencari yang mau membantu dia merawat ibunya. Selang dua bulan ada panggilan kerja buat Nikita.Ia awalnya minder karena usianya sudah kepala 3.Namun ia pasrah dan menjawab semua seperti apa adanya.Akhirnya ia ketrima.Kerja menjadi staff.Pendidikan D3nya berguna.Namun tidak mudah juga bekerja di perusahaan itu. Ia pernah dihina karena orang baru ga akan bisa katanya selevel dengan orang lama.Namun ia terus bertahan.Hingga suatu ketika Presdir sendiri memuji pekerjaannya.Semua baru mulai mengakui bahwa ia juga bisa menyamai orang lama. Tak hanya soal pekerjaan ia dihina tapi juga soal kehidupan pribadi.
Usianya yang tak muda lagi kerap jadi bahan ejekan dan ledekan.Pernah di parkiran ia mendengar dua orang karyawan yang menyindirnya sambil teriak2.Ia tahu mereka mengejeknya.Namun ia hanya menyimpannya di dalam hatinya.Hingga kembali Tuhan sendiri yang bertindak.Saat perayaan ultah perusahaan,orang yang menghina Nikita di parkiran itu dipermalukan di depan seluruh karyawan.Ia juga dipindahkan ke bagian yang membuatnya stress berat dan ga bisa teriak2 lagi seperti biasanya.Nikita bahkan pernah diledek oleh temannya yang mau menikah.Dibilang ga lakulah,perawan tualah dsb.Namun Tuhan menempelak orang itu karena pada hajatan pernikahannya malah kasus keracunan makanan.Membuat ia jadi bahan gunjingan di pabrik.Membahayakan nyawa orang dan jadi trending topik.Nikita kini belajar mengabaikan cemooh terhadap dirinya.Ia percaya bahwa Tuhan takkan mempermalukan umat-Nya yang hidup dalam petunjuk-Nya.Keyakinannya terbukti kala ibunya tiba2 drop dan harus dirawat cukup lama di RS.Hampir semua saudaranya menyalahkannya dan membuatnya down.Ia bahkan harus tidur di RS hampir selama 1 bulan.Tapi Tuhan memang tak terduga,disanalah Nikita bertemu teman lamanya,"Lucky?Kamu kerja di sini?Wah sudah jadi dokter ya?Keren!"
Dialah Lucky yang adalah teman kala SMU.Ganteng banget dia.Pakai jas lab dokter dan kaca mata minus yang membuatnya sungguh beda dengan saat masih SMU dulu.Lucky rupanya dulu naksir sama dia namun karena ga pede dia hanya memendamnya saja.Lucky rupanya dokter penyakit dalam.Cinta lama bersemi kembali.Rumah Sakit menjadi saksi romansa keduanya.Kondisi ibu Nikita membaik dan boleh pulang.Namun hubungan Nikita dengan Lucky kian erat dan akhirnya Lucky melamar Nikita.Wah semua teman kerja Nikita kaget kala diundang ke pesta pernikahannya,"Wow dapat dokter dia!Gila nikahnya di gedung terkenal pula.Aku jadi malu karena dulu sering ngolok2 dia."
Nikita tetap mengundang semua baik yang ramah atau yang jutek sama dia.Bahkan yang menghina dia sekalipun,bagi dia semua pembalasan adalah hak Tuhan. ***The End***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar