CERPEN KE-23 ^^^ ALLAH ITU ADIL

 CERPEN KE-23 : ALLAH ITU ADIL
             Aku suka sekali update berita di tv terutama seputar perkembangan ekonomi,kejahatan dan politik.Aku selalu ingin tahu bagaimana dunia di luar sana.Makhlum sebagai ibu rumah tangga hanya itu hiburanku selain lihat film tentunya.Aku suka sekali film Barat karena selalu ada nilai2 yang kudapat dan wawasan baru seputar kehidupan di luar negeri yang konon jauh lebih baik daripada di negeri sendiri.Aku berharap Indonesia bisa sebagus negara Jerman dalam pengaturan jam kerja warga negaranya.Disana jam kerja katanya cuma 5 jam sehari dan itupun dengan gaji seminggu aja bisa menghidupi selama satu bulan.Wow!Andai saja itu terjadi di sini,pikirku sambil menidurkan anak bungsuku yang akhir2 sering rewel.Makhlum dia punya ikatan batin sama ayahnya kuat sekali jadi jika hati ayahnya sedang sedih,ia pasti rewel.Suka nangis sendiri saat tidur.Aku tak berani mematikan tv karena jika kulakukan kedua buah hatiku pasti bangun semua.Kupandang mereka penuh sayang.Terkenang aku kala putra sulungku masih kecil,kala itu aku dan suamiku,Mas Ebed memutuskan keluar dari rumah mertua.Aku tersiksa dengan sikap mertuaku sejak ia tahu bahwa aku beda agama dengan suamiku.Inilah susahnya hidup berumah tangga beda keyakinan.Didalam truk yang mengangkut barang2 kami,aku duduk di depan karena anakku masih kecil.Ibu mertuaku ga sudi duduk sebelahku ia memilih duduk di belakang campur dengan barang2.Aku juga heran kenapa dia mau kekeh nganter kami pindahan.Rupanya dia membuangi peralatan kami seperti perkakas makan dan banyak lagi.Sebegitu bencinya dia sama aku sampai tega melakukan itu.Aku tahunya kala mau memberi makan anakku.Kok sendok ga ada.Padahal aku yakin dah naikkin semua ke atas truk pengangkut.Apa salahku hingga dia lakukan itu semua padaku ?Aku dah buatin rumah buat dia.Bahkan aku juga sudah beliin tanah juga buat dia tanami pohon sengon.Bahkan aku ga protes kala suamiku jauh memberi lebih besar pada ibunya daripada ke ibuku.Kehidupan keseharian juga kami yang menopang.Tapi sejak dia tahu bahwa aku aslinya ga seiman sama anaknya,ia berubah drastis.Megangke anakku saja dia jijik.Anakku sakit dia ga peduli.Betapa aku kerap menangis dalam hati melihat sikapnya.Hingga aku tak tahan dan ngebel suamiku,"Mas kalau masih ingin lihat aku dan anakmu,segera bawa aku pindah dari rumah ini.Jika tidak,aku akan pulang ke rumah ibuku di luar kota dan jangan harap aku akan kembali lagi."
              Benar kata ayahku sebelum beliau tiada bahwa kalau bisa suami isteri satu keyakinan.Aku sedih bila ingat masa itu.Untunglah putra keduaku lahir di rumah ibuku.Jelas beda sekali perlakuan yang kuterima.Di rumah ibuku aku dibantu dalam banyak hal.Memang kesulitan perekonomian yang membawa aku dan suamiku akhirnya mencari asa di kota kelahiranku.Setelah selama dua tahun nganggur ngelamar kerja ga dapat2 malah ijazah melayang demi minjem uang di bank.Aku miris membayangkan hutang 30 juta dapatnya cuma 25 juta tapi bayarnya sampai 41 juta.Gila!Aku kapok pinjam bank sejak itu.Ga lagi!Dah cukup.Biarlah kuiklaskan rumah yang kubangun dengan susah payah.Kuiklaskan buat mertuaku.Bagaimana tidak sakit hati kala mertuaku lebih memilih anak bungsunya yang nemeni dia daripada memilih aku dan suamiku.Sama seperti dia membuangi barang2ku dulu maka saat di perjalanan ke kota asalku kubuangi air minum dalam kemasan yang ia wanti2 untuk aku dan suamiku minum.Katanya,"Minuman ini sudah di diberi japu2 jadi jangan lupa diminum.Biar beruntung di sana.Biar cepet dapat kerja dan jangan lupa kirim uang ke mari!"
           Aku heran dia masih berharap bantuan keuangan.Kenapa ga minta sama anak2nya yang lain yang ia bangga2in.Aku janji dalam hati aku takkan pernah aku kembali ke sana.Kukebaskan debu di ujung celana panjangku kala itu,"Ini terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di sini.Selamat tinggal!"
            Tuhan memang adil.Bila aku terusir dari rumahku sendiri maka di kota asalku aku malah mendapat mandat menjaga rumah peninggalan keluarga.Aku tinggal di sana bersama adik2ku dan ibuku untuk menjaga mereka.Kakak yang biasa nempati ga suka lingkungan di sana dan milih beli rumah sendiri.Aku berkata pada Tuhan suatu malam,"Aku tahu Engkau melihat kesusahan hambamu ini.Bagaimana kebaikanku dibalas dengan keburukan.Tapi aku percaya Kau akan memberi keadilan.Bukankah Kau Maha Adil?Berikanlah kemudahan bagi suami hamba dalam mencari kerja dan lindungilah keluarga hamba senantiasa.Aku tahu aku telah mendukakan hati-Mu dengan status agamaku tapi dihatiku hanyalah Kau yang kupercaya sampai kapanpun."
           Doaku dijawab,saat suamiku jalan2 ke mall eh dia ketemu dengan temannya dan dapat kerjaan.Lalu kudengar ibu mertuaku jatuh sakit,suamiku jelas panik dan ingin nengok ke sana.Aku ga melarang,"Pergilah Mas.Tapi aku ga bisa sebab aku sedang hamil tua.Kamu aja."
            Iya waktu itu aku sedang hamil anak keduaku.Ibu mertuaku akhirnya meninggal.Kata suamiku sambil nangis,"Ibu ga dirawat di sana Dik.Beliau ga diperhatiin makannya.Ga kayak pas ada kamu dulu.Adik aku ga ngurus ibu dengan baik.Malas masak lagi.Beda dengan pas ada kita dulu.Anehnya kenapa saudara2 aku malah nyalahin kita.Bukannya kita ya yang diusir dari rumah kita sendiri?Aku sedih banget Dik.Untung kamu ga ikut.Masak aku sampai sana ibu belum dibawa ke RS.Tega ya mereka sama ibunya."
           Aku hanya bisa mendengarkan jerit hati suamiku,dia memang pria yang baik dan anak yang berbakti.Dia juga pekerja keras.Akhirnya ibu mertuaku menyadari bahwa selama ini kamilah yang telah susah payah menjaga agar asap dapur terus mengepul.Tapi inilah jalan kehidupan.Penuh misteri karena keadilan Tuhan akan datang tak terduga.***The End*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar